
Aku hanya memperhatikan saat pak Hotlan dan beberapa orang teknisi menyusun infocus. Aku juga penasaran kira-kira bukti apa yang akan ditampilkan oleh pak Hotlan dipersidangan ini.
Aku menarik nafas dalam dan melirik kearah hadirin yang memenuhi ruangan sidang ini.
Tapi mataku jadi terpaku pada rombongan teman-temanku sesama pendidik. Hampir semua guru didua sekolah tempatku mengabdi hadir.
Bu Murni, bu Ani, yuk Yaya dan yang lain tampak melambaikan tangan mereka padaku. Aku membalas dengan senyuman kearah mereka.
Aku juga melihat ada mbak Ningsih di sana. Dia bersama dengan orangtua dan saudaranya yang lain. Tapi aku tidak melihat mas Indra dan Dimas, mungkin mereka ada di luar. Aku melihat beliau menatapku dengan mata sembab. Aku menganggukkan kepalaku padanya.
"Ini hasil dari cctv di hotel Bengkulu, tiga tahun yang lalu. Bukti ini kami kumpulkan tiga tahun yang lalu bapak hakim, jadi bukti ini sudah lama"
Wajah Andi terkesiap. Dilayar terlihat dia keluar dari dalam mobil bersama dengan Tina.
"Keberatan bapak hakim!" teriak kuasa hukum Andi
"Gambar ini hanya menampilkan klien saya yang keluar dari mobil. Bukan berarti klien saya selingkuh" ucapnya
"Anda tenang, santai dulu. Ini belum selesai" ucap pak Hotlan tenang
Kuasa hukum Andi duduk kembali.
"Disini sama-sama bisa kita lihat bapak hakim, jika saudara penggugat masuk kedalam kamar yang sama sejak pukul 14.03 dan mereka keluar lagi pukul 19.38"
Aku menatap kearah wajah Andi yang berubah pucat. Mataku makin menunjukkan kebencian padanya.
"Dan ini cctv dari cafe tempat saudara penggugat dan selingkuhannya sering kunjungi"
"Dan ini yang buat saya trenyuh bapak hakim" pak Hotlan mempause slide.
Beliau tampak menatap kearahku. Air mukanya berubah iba. Aku yang juga melihat kearah beliau hanya bisa diam
Pak Hotlan menekan tombol lalu slide tampil kembali.
Airmataku jatuh berderai saat di layar tampil tubuhku yang ambruk basah kuyup dengan banyak bekas cambukan ditubuhku.
"Andiiiiiii" teriak kedua kakakku
Tanpa bisa dihalangi kedua kakakku melompati barisan kursi seperti kesetanan.
Dengan cepat kak Andri melompati meja di depan Andi, kuasa hukum Andi yang kaget segera berkelit hingga dia bisa menghindar ketika kakakku menerkam Andi.
Tinju besar kakakku segera melayang kewajah Andi. Kak Angga menyusul pula dengan menghantamkan tendangannya.
"Mati kamu Andiiiii!" teriak kak Andri
"Anjing kamu, hah!! ayo lawan aku! lawan aku!" teriak kak Angga sambil kaki dan tangannya tak berhenti menghajar Andi
Hakim mengetok palu berkali-kali agar kedua kakakku menghentikan aksi brutal mereka.
Ruangan sangat gaduh. Beberapa lelaki yang ada diruangan itu segera menarik kedua kakakku yang sedang menghajar Andi. Tetapi kedua kakakku tak menghentikan aksi marah mereka.
Aku yang melihat kedua kakakku menghajar Andi tak tinggal diam, aku berteriak menghentikan mereka.
Sampai akhirnya kedua kakakku berhenti ketika beberapa polisi masuk dan membentak mereka berdua.
Dengan wajah penuh amarah kedua kakakku menoleh pada tiga polisi yang ada di belakang mereka
Salah satu polisi tampak memberi hormat pada kak Andri
"Kami akan membawa bapak berdua keluar, karena bapak berdua telah mengacaukan sidang"
Kedua kakakku mendengus kesal.
"Come on bapak Andri, anda faham hukum. Jadi jangan pakai cara seperti ini" kata salah seorang polisi
Kedua kakakku menurut saat ketiga polisi membawa mereka keluar. Sebelum keluar keduanya memandang kearahku. Aku segera menghapus airmataku. Aku tidak ingin kedua kakakku makin kalap jika melihatku menangis.
Ruangan masih gaduh. Andi yang hidungnya berdarah dan wajahnya bengkak segera dibantu beberapa orang untuk duduk kembali.
"Sidang kita skors hingga dua jam" ucap bapak hakim
"Kita lanjutkan lagi jam satu siang" lanjutnya sambil mengetuk palu tiga kali.
Aku terhenyak duduk di kursi. Pak Hotlan tampak memandang iba. Teman sekantorku segera berjalan terburu-buru ketempatku. Mereka segera merangkulku dan ikut meneteskan airmata.
"Saya tunggu diluar mbak Indah" ucap pak Hotlan meninggalkanku yang terisak dipelukan bu Kris.
Aku tidak menjawab, aku terus terisak.
"Dia yang selingkuh yuk, bukan aku" isakku
Bu Kris menganggukkan kepalanya dan mengelus pundakku.
Setelah cukup tenang akhirnya kami keluar ruangan. Di luar ruangan ternyata pak Hotlan kembali dikerubungi beberapa wartawan. Aku memilih untuk tidak mendekati beliau, aku takut jika para wartawan itu akan mewawancaraiku.
Aku dan delapan temanku memilih duduk.
__ADS_1
"Te" sebuah suara membuatku mendongak
Mbak Ningsih. Aku segera berdiri dan memeluknya dengan erat. Berdua kami saling bertangisan.
"Jangan benci sama mbak ya Te walau tante tidak lagi sama Andi" ucapnya setelah kami sedikit tenang dan melepas pelukan.
Lalu kami berdua duduk berdampingan. Aku memaksa mengangguk sambil kembali berlinang airmata.
"Tolong jaga anak-anak, tante yang kuat. Mohon maafkan Andi" lirihnya sambil menangis pula
Aku makin terisak saat dia menyebut anak-anakku.
"Sejujurnya mbak tidak ingin ini terjadi, mbak sayang banget sama kamu seperti adik mbak sendiri. Tapi melihat bukti tadi, mbak jadi malu sama kamu"
Aku menghembus nafas kasar dengan mata menerawang.
"Kami tidak mungkin bisa bersatu lagi mbak. Masing-masing kami sudah tidak saling cinta lagi" jawabku
Tampak mbak Ningsih menarik nafas dalam.
Aku tersadar begitu melihat perutnya sudah rata
"Mbak sudah lahiran?" tanyaku sambil mengusap wajahku
Mbak Ningsih tersenyum, dan dia melakukan hal yang sama, mengusap wajahnya dan mengangguk.
"Alhamdulillah, cowok cewek mbak?" tanyaku antusias
"Cewek"
"Oh, selamat ya mbak" ucapku sambil memeluknya.
"Ayo Indah kita makan siang dulu" ucap pak Hotlan yang telah berdiri di depan kami
"Ah iya pak" jawabku gugup
"Ehm, maaf pak, kenalkan ini mbak saya, mbak Ningsih, tepatnya beliau ini kakak perempuannya Andi" ucapku memperkenalkan pak Hotlan dengan mbak Ningsih.
Mbak Ningsih dengan gugup mengulurkan tangannya yang disambut dengan ramah oleh pak Hotlan.
"Ayo Indah kita makan siang dulu. Tempat sudah direservasi" ucapnya
"Mbak ikut ya" ajakku pada mbak Ningsih
Mbak Ningsih menggelengkan kepalanya
Kami berpelukan sebentar lalu mbak Ningsih berjalan kearah keluarganya yang sedari tadi melihat kearah kami.
"Teman-teman saya pak?" tanyaku pada pak Hotlan
"Seluruhnya, berangkat" ucap pak Hotlan
Teman-temanku yang sedari melihat pak Hotlan mendekat dan berbicara padaku hanya mengangakan mulut mereka dengan pandangan yang takjub
"Ayo!" ucap pak Hotlan yang menyadarkan mereka dari kekagumannya.
Segera mereka semua berdiri dan saling sikut. Kami berjalan beramai-ramai, melewati keluarga Andi yang sedang mengobati luka diwajah Andi yang babak belur dengan cuek.
Sedikitpun aku tidak menoleh pada mereka. Aku seakan tidak melihat dan terus saja berjalan mengikuti pak Hotlan dan pak Abraham yang berjalan kearah dua mobil yang terparkir di parkiran
...****************...
"Sidang kembali dibuka untuk umum" pak hakim mengetok palu tiga kali setelah skor sidang tadi.
Mataku fokus menatap layar kembali. Kali ini kedua kakakku tidak ada, mereka berdua dilarang masuk kedalam ruang sidang.
"Kuasa hukum silahkan dilanjutkan" ucap hakim ketua
Pak Hotlan berdiri dan kembali ketengah ruang persidangan.
"Saya kembali dengan bukti empat bulan yang lalu bapak hakim, disini sama-sama bisa kita saksikan bagaimana saudara penggugat melakukan KDRT terhadap klien kami ketika mereka menghadiri acara di Pekanbaru yang diadakan oleh kantor tempat penggugat bekerja" ucap pak Hotlan memulai pembuktiannya
"Keberatan bapak hakim!" kembali kuasa hukum Andi berteriak
"Jika hanya bukti foto dan hasil rekaman, bisa jadi itu hanya rekayasa dan hasil editan, kita perlu bukti visum dari pihak kepolisian" ucapnya
Pak Hotlan tersenyum.
"Nah, sayangnya bukti itu yang kami tidak punya yanh mulia" jawab pak Hotlan
"Itu artinya bukti ini tidak kuat bapak hakim" jawab kuasa hukum Andi.
Andi yang hidung dan wajahnya bengkak tampak tersenyum menang mendengar bahwa kami tidak punya bukti yang cukup kuat.
"Tapi kami memiliki saksi yang melihat klien kami pingsan dan juga kesaksian seorang dokter yang menolong klien kami" jawab pak Hotlan
Aku kaget, begitu juga Andi. Karena seingatku begitu aku habis dianiaya Andi aku tidak ingat apa-apa lagi selain ketika membuka mata ada kak Jennifer yang menungguiku
__ADS_1
"Saksi dipersilahkan hadir" ucap hakim ketua
Terdengar suara keletak keletok heels di lantai tapi wajah si pemakai heels itu belum kelihatan.
Pintu ruang sidang terbuka, mulutku nyaris berteriak ketika kulihat kak Jennifer dengan anggunnya berdiri di depan pintu membetulkan syal, kacamata dan tas brandednya sebelum dia melangkah masuk
Semua mata memandang kearahnya yang berjalan dengan gemulai mengalahkan peragawati papan atas.
Matakupun ikut mengiringi langkah anggunnya hingga kak Jen sampai di depan panitera yang akan mengambil sumpahnya
"Benarkah anda menyaksikan saudari Indah yang mengalami KDRT ketika di Pekanbaru 30 Desember 2006 lalu?" tanya bapak hakim
"Benar yang mulia, saya menyaksikannya sendiri" jawab kak Jen
"Bisa anda jelaskan kronologinya?"
"Pagi itu sekitar jam enam kurang saya mendapat kabar dari seseorang yang menelpon saya jika Indah pingsan setelah dianiaya dengan dia" tunjuk kak Jen kearah Andi dengan benci
"Apakah anda mengenal saudara penggugat?"
"Ihh amit-amit kenal sama laki model dia" jawab kak Jen geli
Yang hadir mengulum senyum melihat gaya centilnya
"Saya itu tidak kenal sama dia bapak hakim. Saya ketemu sama dia waktu saya dandani Indah, waktu saya dandani Indah memang dia terlihat benci sama Indah. Menghina Indah dengan mengatakan jika Indah itu tidak cantik"
"Bisa anda katakan siapa yang menyuruh Anda mendandani mantan istri klien kami" tanya kuasa hukum Andi
"Keberatan yang mulia, disini bukan hak kuasa hukum penggugat untuk mengetahui apa dan siapa. Disini kita cuma mendengarkan kesaksian tentang bukti kami ini" pak Hotlan memotong
"Keberatan di terima"
Wajah kuasa hukum Andi kelihatan kesal. Kak Jen meneruskan kalimatnya
"Sewaktu saya masuk kedalam hotel, saya mendapati Indah dalam keadaan pingsan, wajah lebam dan badan dia merah lebam semua bekas cambukan, dan satu lagi bapak hakim, saat itu tubuh Indah basah karena semalaman Indah dikurung di kamar mandi yang sebelumnya disiram oleh lelaki bejat itu"
Wajah Andi terlihat marah melihat kearah Jennifer. Jennifer membalas dengan balik menatap sinis.
Yang mendengar keterangan kak Jen mengucap istighfar.
"Selanjutnya apa yang anda lakukan?"
"Saya segera menolong Indah dan menelpon dokter, selanjutnya dokter datang dan mengobatinya. Ini bapak hakim, di dalam hp saya ada video saat dokter datang, mengobati dan juga pernyataan langsung dokter untuk menguatkan bukti dari kami" ucap kak Jen menyerahkan hp pada panitera yang segera di serahkan kepada hakim ketua
"Saya ingin, lelaki bejat ini di hukum bapak hakim. Dia tidak pantas hanya dihukum secara sosial, dia harus dihukum penjara yang seberat-beratnya. Dia yang berselingkuh tetapi menuduh Indah yang selingkuh. Bahkan dengan teganya, dia mengusir Indah dan ketiga anaknya. Lelaki macam apa itu. Biadab!!" nafas kak Jen turun naik karena emosi
"Saya memang baru mengenal Indah bapak hakim. Tapi saya tahu dia orang baik, semua yang dituduhkan lelaki durjana ini semuanya bohong!!"
"Apa kamu mau aku memutar semua video mesummu di pengadilan ini, hah??" lanjut kak Jen kearah Andi yang gelisah
"Bukti itu biar kami secara pribadi yang menyampaikan pada bapak hakim, Madam" ucap pak Hotlan yang membuat kak Jen sedikit tenang
Berbeda dengan Andi, dia makin terlihat tegang saat kak Jen menyebut tentang video mesumnya.
"Saksi bisa bergabung dengan yang lain, terima kasih" ucap hakim ketua
Kembali kak Jen berjalan dengan anggun dan semua mata terpaku melihatnya berjalan dengan gaya centilnya.
"Heiii, dunia kok sempit banget sih. Tidak di Pekanbaru tidak disini, eyke kok ketemu lagi sih dengan yeay lelaki siap siaga" ucapnya kak Jen ketika melihat pak Abraham
Pak Abraham langsung melototkan matanya. Kak Jen dengan terburu langsung duduk dengan ketakutan
"Ini bukti terakhir kami bapak hakim" ucap pak Hotlan.
Aku menarik nafas dalam saat awal video itu menunjukkan ruang kerja Andi.
Aku faham sekali video itu. Karena ketika melihat video itu membuatku makin hancur. Pak Hotlan melihat kearahku, aku menggelengkan kepalaku padanya.
Pak Hotlan langsung mempause video itu.
"Video ini tidak pantas untuk saya perlihatkan dengan khalayak" ucapnya.
Pak Hotlan segera membawa laptopnya dan menyerahkan pada pak Hakim
"Saudara kuasa hukum, anda silahkan melihat video ini bersama dengan bapak hakim dan hakim anggota" lanjut pak Hotlan
Kuasa hukum Andi segera berjalan kearah hakim ketua. Dan pak Hotlan langsung menekan enter maka video itu langsung berputar.
Mata keempatnya terbelalak melihat video itu. Mereka bergantian saling tatap dan melihat kearah Andi yang duduk dengan tegang dan gelisah.
Aku yang melihat bagaimana reaksi mereka menundukkan kepalaku. Kembali video mesum itu melintas di kepalaku.
"Sidang kita lanjutkan dua minggu yang akan datang untuk membacakan keputusan" ucap bapak hakim sambil mengetok palu tiga kali setelah selesai menyaksikan video itu.
Kuasa hukum Andi yang begitu selesai melihat video itu langsung terduduk lemas di sebelah Andi
...****************...
__ADS_1