Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Kak Jen Yang Ambil Alih


__ADS_3

Aku menatap kak Jen dengan mata berbinar. Sungguh, rindu padanya terbayarkan sudah


Kak Jen sampai mencubitku gemas


"Sumpah, yeay kok jadi cantik sih?" ucapnya tak percaya


Aku memanyunkan bibirku mendengar omongannya.


"Ihh kakak apaan sih"


"Dulukan kamu burik" lanjutnya masih terkekeh


Aku makin memajukan bibirku, cemberut


Dia terkekeh. Adam mencolek tanganku, barulah aku sadar jika ada mereka yang sedari tadi bengong


"Astaghfirullah, bunda sampai lupa" ucapku sambil menepuk keningku


"Kak, kenalin ini ketiga anakku"


Ketiga anakku dengan ragu mengulurkan tangan kearah kak Jen. Dengan sumringah kak Jen menyambut tangan ketiga anakku.


"Cakep-cakep banget sih kalian" ucap kak Jen gemas


Kedua jagoanku menghindar saat kak Jen mau nyubit pipi mereka.


"Kok dia aneh ya kak?" bisik Adam


Naura melototkan matanya.


"Kakak kok makin cantik" pujiku



Kak Jen dengan genit kembali mengibaskan rambutnya.


"Yeay kapan datang, ihh tak syuka deh eyke, yeay kaya gini" ucapnya sambil menarik koper kami


Tanpa komentar kami mengikuti langkah kak Jen naik kelantai atas. Sampai di atas, ketiga anakku langsung duduk santai di kursi empuk.


"Yeay kapan pulang dari Arab?" tanyanya sambil meletakkan minuman dingin di meja


"Sudah tiga bulan kak" jawabku sambil mengambil minuman tersebut dan memberikannya pada ketiga anakku


"Tiga bulan?, ihhh jahara deh sama kakak"


Aku terkekeh


"Maaf oom tante, toiletnya dimana ya?" tanya Naura


Aku langsung menahan tawa saat Naura menyebut kak Jen dengan sebutan "oom tante"


"Call me aunty, okay?!" ucap kak Jen lembut


Kembali kedua jagoanku cekikikan, aku sampai melototkan mataku pada mereka


"Tidak sopan sayang" ucapku


Mereka lalu membekap mulut mereka menahan tawa, sedang Naura yang sudah berdiri makin ngempetkan kakinya


"Disana sayang" tunjuk kak Jen


Naura tanpa babibu langsung melesat berlari.


Kedua jagoanku segera pergi kearah balkon dan mereka memandang jalanan kota dari ketinggian. Melihat kedua adiknya berdiri di pinggir balkon, Naura yang keluar dari toilet segera bergabung


"Sebenarnya aku kesini mau minta bantuan kakak" ucapku sambil menatap ketiga anakku yang sedang menunjuk-nunjuk


"Ada apa? jawab kak Jen dengan wajah penasaran


Lalu aku menceritakan semuanya pada beliau. Wajah kak Jen berubah tak senang ketika aku bercerita, berkali-kali dia memukul pahanya, kesal.


"Tolong bantu aku kak, mungkin omongan kakak akan didengar oleh Naura" ucapku mengakhiri ceritaku

__ADS_1


Kak Jen menggenggam tanganku sambil mengangguk dalam.


"Insha Alloh kakak bantu, serahkan sama kakak" ucapnya


...****************...


"Serius kalian nggak mau di tempat aunty?" tanya kak Jen ketika kami masuk kedalam mobilnya


"Kami mau tidur di hotel aunty, kata bunda hotel disini bagus-bagus" jawab Naura


Kak Jen melirik kearahku, mungkin beliau faham rencanaku


"Ke Jatra?" tanyanya. Aku mengangguk


Hanya beberapa menit saja mobil yang dikemudikan kak Jen sampai di depan hotel Jatra, hotel dulu yang pernah aku dan rombongan dari Lubuklinggau menginap


Kami segera menuju resepsionis lalu setelah mendapat kunci kami segera naik menggunakan lift.


Sampai di kamar, ketiga anakku langsung merebahkan tubuh mereka kekasur empuk


Aku dan kak Jen duduk di balkon


"Besok apa rencana kamu?" tanya kak Jen


"Jalan mungkin kak" jawabku


"Kakak siap ngantar kemana saja" jawab kak Jen


Aku tersenyum sumringah kearahnya.


Lalu kami melanjutkan obrolan hangat kami. Sedangkan ketiga anakku makan, karena tadi ada pelayan yang mengantarkan pesanan kami.


"Bagaimana dengan bos ganteng?" goda kak Jen


Aku tersenyum malu. Lalu aku mengambil handphone mengambil foto kami berdua


"Kirim sama abang" ucapku menggoda kak Jen


"Abang" ucapku lirih memamerkan smartphone kepada kak Jen


Dengan cepat kak Jen langsung merebut handphone di tanganku


"Hai bos ganteng..." buka kak Jen genit


"Awas kalau kamu macam-macam sama kekasih saya" geram abang


"Ihhh, tenang aja kali bos" jawab kak Jen cekikikan


Lalu dia memberikan handphone ketanganku


"Apa perlu abang kirim Abraham untuk menjaga kalian?" tanya abang setelah mendengar suaraku.


"Tidak usah, aku ingin liburan kali ini hanya kami bertiga"


Setelah mengobrol ringan, akhirnya obrolan kami berakhir.


"Kapan kalian menikah?" tanya kak Jen


Aku menggeleng


"Naura terus memaksaku untuk balikan dengan Andi. Padahal kakak tahu sampai mati aku tidak akan pernah mau rujuk sama dia"


"Tenang saja, kakak akan jelaskan semuanya pada Naura"


...****************...


"Kamu lihat semua foto ini!" ucap kak Jen pada Naura.


Saat itu aku dan kedua jagoanku pergi ke mall meninggalkan mereka. Saat itu Naura di kamar mandi, aku sengaja meninggalkannya agar kak Jen bisa ngomong dari hati kehati sama dia


"Ini gambar apa?" kata Naura sambil mengambil foto yang diletakkan kak Jen


"Ini semua foto bunda aku kan?" kata Naura ketika melihat foto Indah

__ADS_1


"Iya" jawab Kak Jen singkat


"Kok ada sama aunty?"


"Karena dulu waktu dia kesini, teman bundamu cuma Aunty"


Naura tersenyum melihat jika ternyata bundanya bisa cantik


"Dan ini juga bundamu!" ucap kak Jen meletakkan beberapa foto lagi


Naura mengambilnya dan matanya terbelalak tak percaya


"Ini bukan bunda saya" ucapnya sinis sambil meletakkan foto itu


Kak Jen mengambil foto yang Naura letakkan lalu melihatnya


"Perhatikan baik-baik. Aunty yakin mata kamu tidak kabur dan aunty juga yakin kalau kamu tahu, jika itu bunda kamu"


Naura menggeleng


"Foto ini aunty ambil ketika aunty menemukan bunda kamu tergeletak pingsan habis disiksa oleh ayah kamu"


Naura menggeleng lagi dengan cepat


"Ini!! kamu lihat bekas lebam di tubuh dan kaki bunda kamu, itu bekas cambukan ayah kamu. Dan kamu juga lihat kan jika bajunya basah"


"Lihat Naura!! Lihat!!!"


"Kamu jangan berfikir jika aunty membohongi kamu!"


"Tidak ada untungnya untuk aunty bohong sama kamu, aunty mengatakan yang sebenarnya jika ayah yang kamu sayangi itu, memperlakukan bunda kamu dengan sangat keji!"


"Kamu lihat ini Naura!!! Lebam di wajahnya bekas tamparan ayahmu, lihat!!! ucap kak Jen berteriak


"Kamu tidak tahu, jika seminggu disini bundamu itu disiksa, dia tidak dihargai sama sekali dengan suami yang seharusnya menjaganya"


"Dan apakah kamu tahu, perlakuan ini jauh lebih buruk lagi karena embah dan bukde kamu itu sangat membenci bunda kamu, mereka mencaci dan menghina bundamu"


"Bahkan ayahmu itu berselingkuh!!!"


"Stop aunty! stopp!!! teriak Naura


"Aunty tidak akan stop sampai kamu menyadari jika memang pilihan bundamu untuk berpisah dengan ayahmu yang bajingan itu adalah keputusan yang benar!"


"Aunty jangan bicara ngawur. Ayah saya tidak akan melakukan itu pada bunda saya!!!"


"Tidak mungkin kata kamu, hah???, apakah kamu pernah bertemu dengan istri ayahmu setelah kalian terusir dari rumah? perlu kamu ketahui Naura, ayahmu yang bajingan itu mengusir kalian dan dia memasukkan selingkuhannya kedalam rumah kalian. Kamu pasti masih ingat Naura ketika adikmu terjatuh mengejar ayahmu. Apa? apa yang dia bilang, hah, ingat kamu?"


"Jangan anggap aku ayah kalian lagi!" ingat kamu Naura??!


Naura menutup telinganya, sementara airmatanya deras mengalir


"Seluruh penghinaan yang bundamu terima menjadikannya nekad pergi menjadi tkw. Apakah berhenti sampai disitu penderitaannya?? tidak Naura. Bahkan keluarga ayahmu itu menganggap ibumu jual diri di Arab sana"


"Dan sekarang kamu memaksakan kehendakmu agar kedua orang tuamu bersatu kembali? iya??, kamu jangan egois Naura. Kamu bisa bahagia jika mereka bersatu lagi, tapi bagaimana dengan hidup bundamu??, saya tidak akan pernah menyetujui untuk bundamu kembali pada Andi"


"Apa hak aunty menghalangi niat baik saya?" Naura berteriak


"Karena saya memahami rasa sakit yang bundamu rasakan yang tidak satu orangpun mengetahuinya!


"Jika kamu terus bersikeras memaksakan kehendakmu, saya adalah orang pertama yang akan menentang itu!!"


"Aunty siapa kami? aunty bukan siapa-siapa, jadi aunty tidak ada hak melarang saya mempersatukan ayah dan bunda saya!"


"Saya memang bukan siapa-siapa kalian, tapi apakah kamu pernah tahu jika di sidang perceraian bundamu dulu, saya bahkan rela terbang dari sini ke Lubuklinggau hanya demi memberi keterangan di pengadilan bahwa saya adalah saksi mata bagaimana Andi bajingan tengik itu menyiksa Indah"


"Kamu sudah besar Naura, jangan hanya karena Andi bersikap baik lagi sama kamu, kamu lantas melupakan bagaimana jahatnya dia sama kalian"


"Kamu jangan lupa Naura, siapa selama ini yang berjuang untukmu, ayahmu apa bundamu?"


Naura tertunduk dengan air mata yang makin deras


"Ingat Naura, surga di bawah telapak kaki ibu, bukan ayah!"

__ADS_1


__ADS_2