Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Aku mengambil hp lalu mengirim pesan untuk mbak Dian


"Assalamualiakum mbak, mbak maaf ya, mulai hari ini mbak off dulu kerjanya. Nanti setelah aku ada uang lagi, aku panggil lagi mbak. Maaf jika hanya lewat sms, nanti suatu saat akan aku jelaskan alasannya"


Terkirim.


Aku masih larut dalam tangisku.


"Cepat kamu kemasi pakaian kamu dan anak-anak. Kamu pergi hari ini juga! yang tahu aku, aku pulang kerja kamu tidak ada lagi di rumahku" ucap Andi sinis saat masuk kedalam kamar


Aku hanya menundukkan kepalaku. Setelah selesai dengan ucapannya Andi keluar dari kamar


Aku mengelus kepala si bungsu. Naura tampak menggeliat dan membuka matanya.


"Bunda..." panggilnya dengan suara khas bangun tidur


"Iya nak" jawabku sambil terburu menghapus airmata di wajahku


"Bunda kok nangis?" tanyanya sambil duduk


Aku menggeleng dan berusaha untuk tersenyum


"Ayaaahhhhh" teriaknya


Tidak ada sahutan. Aku berusaha mengambil tubuhnya yang sudah turun dari ranjang. Tapi aku kalah cepat dengan gerakan lincahnya.


Mikail terbangun karena teriakan Naura. Dia segera merangkak kearahku dan aku segera memeluk dan menciumnya


"Bunda sedih?" tanyanya polos


Aku menggeleng. Sekuat tenaga aku menahan airmata yang sudah menggenang di mataku.


Aku harus kuat. Aku tidak ingin rapuh di depan anak-anakku.


Tak lama Naura kembali lagi ke kamar. Wajahnya sudah murung.


"Ayah sudah pergi" ucapnya sendu


Aku memeluk kedua anakku. Airmata yang sejak tadi aku tahan tumpah semua. Aku menangis dengan tercekat. Bahuku sampai terguncang karena menahan kesedihan di hatiku.


Naura dan Mikail ikut menangis melihatku menangis.


"Bunda kenapa sedih?" tanya Naura yang juga terisak


"Bunda nangis yuk, bunda sedih" ucap Mikail mengadu pada ayuknya


Aku makin memeluk erat mereka. Kutumpahkan semua kesedihanku pada mereka. Cukup lama kami bertiga menangis. Sampai kedua anakku seperti cegukan.


Aku segera merapikan wajah kedua anakku yang murung. Aku menciumi mereka dengan penuh kasih sayang.


"Ayo nak mandi, sudah siang" ajakku pada mereka berdua


"Ayuk, mandikan adek nak ya, bunda mau beres-beres" lanjutku


Naura mengangguk dan menuntun adiknya masuk kedalam kamar mandi.


Aku segera mengambil hp dan menelpon bu Tifa, pemilik kontrakan ketika dulu kami kontrakannya pernah kami tempati


"Assalamualaikum Ndah" jawab suara di seberang


"Ibu, apa kabar?" tanyaku berbasa-basi


"Baik, Indah sehat kan?"


"Alhamdulillah buk" jawabku


"Ada apa Ndah, ada yang bisa ibu bantu?" tanya bu Tifa


"Kontrakan ada yang kosong nggak buk?" tanyaku


"Ada, tinggal satu lagi..Kenapa Ndah?"


"Alhamdulillah" jawabku sedikit lega


"Apa ada yang mau nyewanya Ndah?"


"Iya bu, nanti aku kesana, terima kasih ya Bu" jawabku


"Iya sama-sama"

__ADS_1


Lalu obrolan kami terputus. Aku segera kedapur, membersihkan sisa aku mengupas bumbu-bumbu tadi. Lalu ikan yang telah aku siapkan aku baluri dengan bumbu yang telah aku haluskan.


Setelah itu aku mengukusnya. Setelah pepes aku letakkan di atas kompor, aku kembali kekamar menyiapkan baju untuk Naura dan Mikail.


Naura dan Mikail selesai mandi, setelah tubuh mereka aku keringkan, aku membaluri tubuh mereka dengan minyak telon, memberi bedak dan memakaikan mereka baju.


"Yuk, bangunkan adek" ucapku pada Naura yang telah rapih


"Kakak, susunya sudah bunda buat. Ambil di atas meja kak ya" ucapku pada Mikail yang segera berlari keluar kamar.


Adam telah bangun. Dia turun dari ranjang dan keluar mengikuti Naura.


Aku sibuk mengeluarkan seluruh pakaianku dalam lemari, lalu berpindah mengeluarkan pakaian anak-anakku.


Aku mencari kardus lalu mengemasi pakaian kami kedalamnya.


Ketiga anakku aku beri sarapan. Setelah itu aku merapikan tempat tidur lalu mandi.


Ketiga anakku sedang duduk depan tivi saat aku keluar kamar. Aku segera kedapur mengisi kotak makan untuk bekal kami siang ini.


Aku mengangkut kardus-kardus yang berisi pakaian kami lalu meletakkannya di ruang tamu.


Setelah itu aku mengambil kunci motor dan berpamitan pada Naura agar dia menjaga kedua adiknya.


Aku melajukan motorku menuju ketempat kami ngontrak dulu. Setelah sampai di sana, aku segera memarkirkan motor dan berjalan menuju rumah bu Tifa yang tidak jauh dari kontrakan


"Assalamualaikum" ucapku di depan pintu rumah bu Tifa


"Waalaikumsalam" jawab dari dalam yang kukenal dengan suara Bu Tifa


Beliau langsung membuka pintu dan kami lalu berpelukan dan cipika cipiki


"Masuk Ndah, Maa sya Alloh kangennya ibu sama kamu" ucapnya begitu kami berdua sudah duduk di kursi


"Sama bu, aku juga kangen" balasku


"Ngomong-ngomong siapa yang mau ngontrak Ndah?" tanya bu Tifa yang membuatku harus menelan ludah


Aku tertunduk dan menghembus nafas dalam sampai akhirnya aku menjawab dengan lirih


"Aku bu"


"Kalian sudah punya rumah kan?" tanyanya bingung


Aku mengangguk


"Lah terus?"


"Aku sama anak-anak saja bu yang di sini, suamiku di rumah" jawabku pelan


"Kok bisa?" ucapnya kaget sambil merubah posisi duduknya pindah ke sebelahku


"Ceritanya panjang bu, kalau ibu tidak keberatan aku langsung mau kekontrakan. Mau membersihkannya sebelum mengajak anak-anak" jawabku mengelak


Bu Tifa berdiri dan masuk kedalam, tak lama keluar lagi membawa sebuah kunci


"Ini kuncinya, kontrakan yang paling ujung yang berwarna hijau yang kosong, kamu bisa kesana" ucapnya sambil memberikan kunci ketanganku


Setelah kunci di tanganku, aku segera berpamitan pada bu Tifa berjalan keluar menuju kontrakan yang dimaksud beliau tadi.


Aku menganggukkan kepalaku saat berpapasan dengan penghuni kontrakan yang lain.


Aku segera membuka pintu. Bau pengap langsung menyergap karena kontrakan sudah lama kosong. Lantainya berdebu dan bak di kamar mandinya kosong. Aku mencari-cari sapu dan kain pel. Tetapi tidak kutemukan.


Dengan sedikit canggung aku pergi kekontrakan yang pas bersebelahan dengan kontrakanku berniat hendak meminjam sapu dan kain pel


"Maaf mbak, bisa aku pinjam sapu lantai dan kain pelnya? ucapku ragu


"Oh, mbak mau ngontrak di sebelah ya?" tanyanya ramah


Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Saya Mila" ucapnya mengulurkan tangan.


"Saya Indah" jawabku menyambut tangannya


"Oh, mbak Indah tadi mau minjam sapu ya?, sebentar ya" ucapnya sambil masuk kedalam kontrakan dan keluar dengan membawa sapu dan kain pel


"Ini" ucapnya sambil menyerahkan kedua benda itu padaku

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya mbak Mila, maaf loh sudah merepotkan" ucapku tak enak hati


"Biasa saja" jawabnya sambil tertawa


Aku segera berbalik dan masuk kedalam kontrakan. Aku melilitkan hijabku ke leher, menaikkan lengan baju, dan menggulung celana kulot sampai kelutut.


Setelah itu aku mulai menyapu ruangan sederhana yang hanya berupa ruang tamu, kamar dan dapur.


Selesai dengan menyapu aku mengepel lantai. Aku mengepel sampai kuulangi tiga kali agar bau apeknya hilang. Setelah itu aku mencuci kain pel lalu menjemurnya dan mengembalikan sapu pada mbak Mila


"Terima kasih banyak mbak, kain pelnya masih aku jemur" ucapku


Mbak Mila mengangguk sambil tersenyum ramah. Setelah itu aku kembali kekontrakan, mengunci pintunya


"Mbak Mila" panggilku


Mbak Mila keluar dari dalam


"Ya Mbak Indah?" tanyanya begitu tiba di teras


"Titip kunci, aku mau kepasar beli tikar sama perabot" ucapku sambil menyerahkan kunci ketangannya


Setelah kunci diterima mbak Mila aku segera berpamitan pergi kepasar.


Setiba di pasar aku langsung masuk ketoko perabotan. Aku membeli seluruh perabotan yang aku dan anakku butuhkan. Tak lupa aku juga membeli tikar dan bantal.


Cukup banyak belanjaanku, dan aku segera memanggil becak untuk mengantarkan belanjaanku ke kontrakanku.


Setelah becak yang membawa belanjaanku berjalan, aku mengambil motor di parkiran dan mendahului becak sebagai penunjuk jalan agar mamang becaknya tidak nyasar.


"Mbak Mila ambil kunci" ucapku setelaj berdiri di depan pintu kontrakannya yang terbuka


Mbak Mila keluar sambil menggendong anaknya, dan memberikan kunci padaku


"Terima kasih ya mbak" ucapku lalu pergi membuka pintu kontrakanku


Mamang becak yang juga telah sampai menolongku membawa masuk barang belanjaanku.


"Mamang bisa bantu aku tidak?" ucapku sambil membawa masuk kardus kompor


"Apa mbak?" tanyanya


"Anak-anakku masih di rumah, bisa tidak mamang jemput anak-anakku sekalian membawa barang-barang kami?"


"Bisa mbak" jawabnya senang


"Kalau begitu aku siap-siap dulu ya mang" kataku dengan cepat membawa semua barang belanjaan lalu mengambil kunci motor.


...****************...


"Ayo nak" ajakku pada ketiga anakku


"Kemana bunda?" tanya Mikail polos sambil menggendong tas kecilnya


Aku tidak menjawab


Mamang becak mulai membawa kardus pakaian dan kardus mainan anakku.


"Selesai mbak?" tanya mamang becak.


Aku memeriksa ruang tamu tempat aku meletakkan kardus-kardus tadi, lalu keluar kehalaman ketempat mamang tadi menunggu


"Sudah semua mang, mamang antar ketempat tadi ya" ucapku


"Siap mbak" jawabnya


Aku menuntun ketiga anakku keluar dari dalam rumah. Ada rasa sedih yang mendera hatiku saat aku berjalan keluar. Aku berusaha tegar, ku tahan air mata yang sudah menggenang di mata.


Aku memandang sekali lagi mengitari ruang tamu sampai akhirnya dengan berat hati aku menutup pintu lalu menguncinya.


Airmataku menetes saat aku menarik kunci agar terlepas dari pintu. Aku memejamkan mataku, meresapi kesedihan yang tak bisa aku gambarkan. Baru setelah itu aku meletakkan kunci kedalam pot bunga yang terletak di teras yang tak jauh dari pintu masuk


Ketiga anakku hanya bengong melihatku. Aku menoleh pada mereka dengan tersenyum.


"Yuk Nak" ajakku menuntun mereka naik keatas motor.


"Kita mau kemana?" Naura bertanya bingung


Kembali pertanyaan anak-anakku tidak aku jawab. Aku segera menghidupkan motor dan dengan hati yang hancur berkeping-keping aku mulai menjalankannya menjauhi rumah yang sudah lebih empat tahun kutinggali bersama anak dan suamiku.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju kontrakan airmataku terus mengalir tanpa bisa aku cegah


__ADS_2