
"Janji ya yeay akan nelpon eyke terus" ucap Jennifer sesaat setelah kami masuk kedalam bandara untuk chek-in
"Iya kak, aku janji" jawabku sambil membalas menggenggam tangannya.
"Tuh suami yeay bengep-bengep kenapa?" bisiknya
Aku tersenyum
"Katanya sih kecelakaan" jawabku juga sambil berbisik
"Yeay yakin?"
Aku angkat bahu
"Kalau menurut eyke ya, tuh laki pasti digebukin oleh bodyguard yang ngantar kita waktu jelong-jelong"
Aku tercenung. Iya ya, jangan-jangan yang dikatakan Jennifer benar.
"Kakak kesini sama siapa?" tanyaku
"Tuhhhh" tunjuknya pada dua bodyguard yang berdiri di arah pintu masuk
Mataku mengikuti telunjuk lentiknya. Aku menganggukkan kepalaku pada mereka.
Walau aku tidak tahu nama mereka, tapi sejak mereka mengawalku aku jadi mulai mengenali wajah mereka.
Mereka tetap memasang wajah datar walau aku memasang senyum manis pada mereka.
"Segala pemberian bos yeay bawakan?" bisiknya lagi
Aku mengangguk
"Bagus deh, karena kalau yeay nggak mau, eyke siap menerima" jawabnya sambil cekikikan
"Maunyaaa" jawabku sambil menyenggol pundaknya dengan pundakku.
Cukup lama kami di waiting room, sambil menunggu pesawat take off aku, Jennifer dan bu Suryati mengobrol akrab
"Indahhhh" teriak sebuah suara
Aku menoleh kearah pintu masuk. Tampak olehku pak Michael berjalan terburu-buru.
Aku langsung berdiri menyambutnya. Senyumku terkembang ketika dia makin dekat.
"Puji Tuhan, untung belum take off" ucapnya dengan sedikit ngos-ngosan
"Ada apa pak, ada yang bisa saya bantu?" ucapku setelah dia ikut duduk bergabung bersama kami.
Wajah Andi langsung berubah tak senang ketika Michael datang mendekati istrinya, apalagi dia langsung duduk di sebelah Indah.
"Exactly" jawab pak Michael.
"Tapi saya sudah mau pulang pak" jawabku
"I know" lanjutnya
"So?" tanyaku heran
"Jokes" jawabnya sambil tertawa
"Bapak kesini cuma mau ngasih ini" sambungnya sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam saku jasnya lalu meletakkan amplop tersebut ketanganku.
"Ini apa pak?" tanyaku heran sambil menatap amplop coklat tersebut
"Honor kamu karena sudah bantu saya"
"Nggak usah pak" tolakku sambil mengembalikan amplop tersebut ketangan beliau
"Ini bukan dari bapak Ndah. Ini dari ceo"
Mulutku ternganga.
"Seriusan pak?" tanyaku tak percaya
"Iya serius. Dia titip salam untuk kamu"
"Waakaikumussalam" jawabku sambil tersenyum bahagia.
"Bapak tidak bisa lama Ndah, pekerjaan sudah menanti. Semoga umur panjang bisa mempertemukan kita kembali" ucapnya sambil berdiri dan menyalamiku
__ADS_1
"Sama-sama pak. Terima kasih banyak buat ini" jawabku sambil mengangkat amplop di tanganku
Dia membalas dengan mengacungkam kedua jempolnya. Setelah menyalami kami semua, beliau pergi.
Aku kembali duduk dengan masih memandang tak percaya pada amplop coklat yang ada di tanganku saat ini.
"Cuss dihitung berapa?" colek Jennifer
Aku memandang terkejut padanya lalu terkekeh
"Norak ah kak"
"Alhamdulillah ada rezeki buat anak-anak ya Ndah" ucap bu Suryati turut berbahagia
"Iya bu, akhirnya aku bisa membelikan oleh-oleh buat ketiga anakku"
"Mainan yang kamu lihat kemarin nggak jadi kamu beli?" tanya Jennifer heran
Aku menggeleng. Mana ada uang aku buat beli mainan untuk anak-anakku. Aku kemarin cuma mendem rasa saja.
"Dasar pelit!" sungut Jennifer kearah Andi
Andi balas dengan melototkan matanya. Afdal cuma terkekeh melihat Andi tertohok oleh seorang Jennifer
Tak lama Announcement yang menyatakan bahwa pesawat akan take off terdengar.
Kami semua berdiri dan bersiap dengan koper serta tas masing-masing.
Aku tiba-tiba melow saat akan meninggalkan Jennifer. Jujur aku sedih meninggalkan dia. Sebelum meninggalkan waiting room, aku menggenggam tangannya dengan menahan air mata
"Makasih ya kak" ucapku dengan suara bergetar
Sama sepertiku, mata Jenniferpun berkaca-kaca dan diapun erat menggenggam tanganku
"Terima kasih karena telah baik sama aku, telah menjaga aku, telah merias aku dari si upik abu hingga jadi cantik, telah jadi guide aku" lanjutku yang tak tahan menahan airmata hingga airmata yang sedari tadi kutahan, akhirnya luruh juga
"Yeay jangan melow gituu. Eyke ikutan mewek" Jennifer menghapus airmatanya
"Makasih ya kak" kataku lagi dengan suara yang hampir hilang
"Eyke bantu yeay karena yeay atm berjalan eyke, bukan karena eyke baik" jawabnya berusaha untuk membuatku tersenyum
Aku segera memeluk erat Jennifer. Menangis. Begitupun Jennifer, diapun menangis.
Lalu aku melepaskan pelukanku padanya dan berbalik menyusul yang lain yang telah berjalan
"Dadagh kak" ucapku sambil melambaikan tangan kearahnya.
Lalu aku mulai masuk ke dalam, dan kami berjalan kearah pesawat yang akan membawa kami pulang
Setelah Indah tidak terlihat lagi, Jennifer yang masih termangu menghembuskan nafasnya dengan dalam. Dia masih berdiri ditempatnya. Hatinya merasakan hampa, baru disadarinya jika Indah bukan hanya atm berjalannya tapi juga seperti saudara sendiri
Ponsel di saku celana ketatnya tiba-tiba berdering yang membuatnya kaget.
Diambilnya ponsel lalu diangkatnya panggilan masuk
"*Iya bos"
"Indah sudah berangkat?"
"Iya barusan"
"Cepat kamu keluar!"
"Siap bos*"
Panggilan terputus. Jennifer berjalan anggun kearah kedua bodyguard yang dari tadi berdiri ditempatnya
"Yuk cuss" ucapnya sambil melentikkan jari telunjuknya
Kedua bodyguard menurut dan berjalan mengikutinya.
Jennifer berjalan kearah SUV Land Cruiser hitam yang terparkir.
Pintu kaca terbuka
"Masuk!"
Jennifer dengan anggunnya membuka pintu mobil lalu duduk di sebelah si bos yang tadi menyuruhnya masuk
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh kamu memeluk Indah, hah?" bentak si bos
Tubuh Jennifer terlonjak kaget. Spontan dia memundurkan tubuhnya hingga menyentuh jok mobil. Dia menelan ludah, ketakutan
"Kenapa kamu memeluknya?!!" kembali si bos membentak
"Bukan aku bos..Indah yang meluk duluan" jawabnya cepat dengan suara ketakutan
Tangan si bos tergenggam kuat, menahan marah
"Suerr" lanjut Jennifer takut-takut sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya.
Si bos mendengus
"Dia itu milikku!" ucapnya sambil melotot marah
"Iya-iya" Jennifer mengangguk cepat dengan ketakutan
"Mana foto-foto Indah?"
Dengan gugup Jennifer membuka tas yang sedari dibawanya. Memberikan segepok foto ketangan si bos
Si bos mengamati seluruh foto itu dan tanpa sadar dia tersenyum manis.
"Good job" ucapnya masih dengan nada dingin
"Ini check untuk kamu" lanjutnya mengeluarkan selembar check dari saku jasnya.
Dengan takut-takut Jennifer mengambilnya dengan cepat. Begitu check tersebut telah di tangannya, matanya terbelalak
"Ini serius bos seratus juta???" ucapnya ternganga
"Kurang?"
"Banyak bangeeett" jawab Jennifer kegirangan
"Ini sih bisa lebih setahun aku kerja baru dapat segini bos, lah ini cuma empat hari jagain Indah dibayar semahal ini. uhhhhh" lanjutnya nyerocos
Jennifer segera membuka pintu mobil dan hendak turun. Tapi belum sampai kakinya menginjak tanah, sudah dihentikan oleh si bos
"Mau kemana kamu?"
"Ngejar Indah, bawa dia ke rumahku, nggak usah pulang dia. Biar dia di sini aja biar bos bayar mahal aku terus" lanjutnya
"Dasar be****g matre!" bentak si bos
Jennifer cekikikan
"Ya sudah, kamu pulanglah naik taksi. Terima kasih untuk semuanya" lanjutnya dengan nada sedikit melunak
Jennifer tersenyum lalu turun dari mobil mewah itu dan berjalan menaiki taksi yang sudah menunggunya
"Aku pasti akan merindukanmu Indah" bisik si bos sambil menatap dalam foto Indah
...****************...
Jam sebelas malam kami sampai di Merasi. Travel yang kami naiki berhenti tepat di depan rumah kami.
Aku dan suamiku turun, setelah mengucapkan rasa terima kasih pada supir, kami berjalan kearah rumah.
Aku mengetuk pintu. Tak lama terdengar suara kunci dibuka dan wajah ibuku muncul.
Aku segera mencium punggung tangan ibuku lalu kami masuk.
Sesampainya dalam rumah, aku langsung menuju ketempat ketiga anakku tertidur. Aku mencium mereka bergantian.
"Rindunya nak bunda sama kalian" bisikku.
Lalu aku memasakkan air hangat. Sedang ibuku aku suruh kembali tidur menemani ketiga anakku.
Setelah air masak, aku membawanya kekamar mandi dan menyuruh suamiku untuk mandi. Selagi suamiku mandi di kamar mandi depan, aku mandi di kamar belakang. Setelah selesai mandi dan berganti baju aku segera mengambil hp dan mengetik pesan
"Assalamualaikum kak, alhamdulillah aku sudah sampai rumah. terima kasih untuk semuanya"
Aku mengirimkan pesan yang tadi aku ketik lalu menuju kamar depan tempat suamiku tidur. Sebelum masuk selimut, aku mengoleskan salep keluka di pinggir mata suamiku. Memberinya obat, setelah selesai semua baru aku tidur di sampingnya.
Sebelum mataku benar-benar terpejam, melintas wajah bang Ariadi di pelupuk mataku. Kenangan malam tahun baru bersamanya kembali melintas, aku tersenyum. Terlebih ketika terlintas momen dia memelukku.
__ADS_1
"Ya Alloh" bisik hatiku yang tiba-tiba berdebar