
Bapakku terus memelukku dan aku melihat air mata membasahi pipinya.
Lalu aku di bimbing bapakku duduk di sebelah abang yang tak berkedip menatapku.
Saat aku telah duduk di sebelah abang, aku menoleh padanya sambil tersenyum
Abang mengulurkan tangannya dan menghapus sisa air mata di pipiku. Lalu aku dan abang menanda tangani beberapa berkas, setelah selesai dapatlah kami buku nikah
Ozkan memamerkan buku nikah pada keluarganya yang duduk tak jauh dari tempat kami
Kulihat anne tampak mengusap pipinya, aku yakin anne menangis. Canan merengkuh bahu anne dan mengelusnya. Tuan Yilmaz tampak tersenyum bahagia begitu juga dengan Ozkan. Dia menyatukan jari telunjuknya dengan ibu jari membentuk lingkaran dan mengarahkannya kepada abang
Selesai sudah acara sakral kami, lalu para tamu undangan menyalami kami. Ummi dan nona Alima memelukku erat
"I am happy for you Indah" ucap nona Alima sambil menitikkan air mata
"Jaga dia, jika kamu melanggar janjimu, ummi yang akan menghukummu" ucap ummi ketika abang memeluknya
"Resepsinya malam nanti, jadi siang ini kalian istirahatlah dulu" sambung nona Alima yang membuatku tercengang
Para tamu yang hanya terdiri dari keluarga inti, para bodyguard abang dan ummi serta seluruh pelayan rumah ini makan bersama, begitu juga denganku dan bapak serta kakakku. Aku dan abang makan dalam satu meja dengan mereka
Selesai makan, tuan Yilmaz dan keluarganya mendekati meja makan kami dan menyalami bapak dan kakak-kakakku
Tampak tuan Yilmaz berbicara menggunakan bahasa Turki yang diterjemahkan oleh abang kepada bapakku
Abang berkata bahwa tuan Yilmaz senang bisa bertemu bapakku dan berterima kasih karena telah merestui ku menjadi istri abang
"Kata nona Alima, malam nanti resepsinya bang" bisikku
Abang tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Kak Jen mendekati kami, aku segera menariknya untuk duduk bergabung bersama kami
Kak Jen ikut bergabung, dan para pelayan yang lalu lalang membawa cemilan dan minuman tampak hilir mudik
"Eh hemm" sebuah suara berat berdehem di belakang kami
Aku dan kak Jen menoleh, pak Abraham berdiri tepat di belakang kursiku
Spontan aku segera berdiri dan memandang tak percaya padanya
"Serius bapak juga di sini?" tanyaku dengan mata berbinar
Pak Abraham membungkukkan badannya memberi hormat padaku
"Orang baik yang pernah menjagaku" ucapku kearah anne yang tampak menatap ke arahku
Kak Jen mencibir dan segera meraih gelas lalu meminum isinya
"Heran deh eyke, nggak di Pekanbaru, nggak di Linggau, nggak di sini, selalu ketemu kamu, heeehhhh cape deehhh"
Pak Abraham langsung melototkan matanya kearah kak Jen
"Jodoh mungkin" seloroh kak Andri yang membuat kami tertawa
"Hiii amit-amit" jawab pak Abraham geli
"Heh, eyke harusnya yang bilang amit-amit" jawab kak Jen sewot
__ADS_1
Kami makin terkekeh
Setelah kami mengobrol ringan akhirnya keluarga abang kembali ke Al Mursalat Hotel, begitu juga dengan bapak dan dua kakakku serta kak Jen, mereka juga ke hotel, karena malam nanti resepsi akan diadakan di sana.
Tinggallah aku dan abang bersama keluarga ummi, Ummi memberi banyak sekali kami wejangan dan kami mendengarkan seluruh nasihat ummi.
Jam dua siang, saat aku dan abang akan beristirahat di kamarku, langkah kami terhenti oleh panggilan tuan Malik
Beliau menyalami abang dengan hangat dan tersenyum tulus ke arahku
"Selamat ya untuk kalian berdua"
Aku dan abang tersenyum sambil menganggukkan kepala kami pada beliau
"Oh iya, saya ada hadiah kecil untuk kalian" tambah beliau sambil memberikan dua buah tiket hotel
Mataku terbelalak menerima tiket dengan tulisan "Burj Khalifa Hotel"
Aku melirik kearah abang yang tampak biasa saja, sedikitpun tidak ada antusiasnya dibanding aku yang melotot kan mataku
"Satu minggu untuk kalian menginap di sana, free dari saya sebagai kado pernikahan kalian"
"Terima kasih tuan" jawabku dengan mata berbinar
Abang tersenyum dan kembali menyalami tuan Malik, lalu menggenggam tanganku, mengajakku menaiki tangga
Aku merasa canggung saat abang masuk ke dalam kamarku. Apalagi melihatnya langsung merebahkan tubuh di atas kasur
Aku duduk di kursi, melepas mahkota kecil yang tadi hias kan kak Jen di kepalaku, lalu melepas hijab ku
Dari pantulan cermin, aku bisa melihat jika abang terus memperhatikan gerak gerik ku.
Dan abang masih terus memperhatikanku yang membuatku makin kikuk
Aku berdiri dan menatap kearah abang
"Abang pejamkan mata atau balik kemana gitu, aku mau buka gaun ini" pintaku
Abang bergeming, dia terus menatapku
Aku berdecak kesal, lalu aku mengambil baju biasa dalam lemari, lalu mengangkat gaun pengantinku dengan susah payah, masuk ke dalam kamar mandi
Berkali-kali tanganku melintir ingin melepas resletingnya, tapi terus gagal. Dengan cemberut aku membuka pintu kamar mandi dan menatap kearah abang yang masih dalam posisi seperti tadi
"Nggak bisa dilepas? butuh bantuan?" tanya abang begitu aku berdiri di pinggir ranjang
Aku mengangguk dan membalikkan badanku. Dengan cepat Ozkan bangkit dan menyibakkan rambut hitam Indah, dengan nakal dia mencium tengkuk Indah
Aku yang kaget dengan kelakuan abang langsung memutar tubuhku menghadap kearahnya. Abang menundukkan wajahnya, sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa centi saja
Aku menghindari bibirnya yang telah siap ******* bibirku dengan memundurkan tubuh sedikit kebelakang. Tapi abang tampaknya telah menyadari hal itu, secepat kilat dia menangkap tubuhku dan dengan rakusnya dia ******* bibirku
Aku cukup kewalahan menerima ciuman panasnya, tak pernah aku rasakan ciumannya seganas dan serakus ini.
Dan aku juga bisa mendengar nafasnya memburu dan tangannya mulai menjalar ke resleting bajuku.
Tanganku yang saat itu memegang wajahnya berpindah menahan tangannya yang siap menarik gaunku
Abang benar-benar seperti kesurupan, dia tak melepaskan bibirku sedetikpun dan tangannya kian menekanku kuat kedalam dekapannya
__ADS_1
Aku mendorong tubuh abang karena aku kehabisan nafas, aku ngos-ngosan, dan abang kembali menarik ku dan kembali ******* bibirku
Aku tak bisa berbuat banyak selain membiarkannya melakukan semua itu padaku, karena jiwa ragaku saat ini adalah miliknya, haknya.
Saat gaunku berhasil dilepas oleh abang, dia membawaku naik ke ranjang tapi dengan ciuman yang tak juga lepas.
"Sabar, tunggu malam nanti" lirihku di sela-sela ciuman panasnya
Abang tidak perduli, dia semakin menekan ku dan ciumannya pindah ke leherku. Aku mulai belingsatan saat bibirnya menjalari leherku
"Tolong, malam nanti" lirihku sekuat tenaga menahan hasrat yang juga menggelora di dadaku
Ozkan menghentikan ciumannya lalu menatap Indah yang ada di bawah kungkungannya
"Malam nanti" lirihku dengan dada naik turun
Ozkan memejamkan matanya dan tampak membuang nafas dengan kasar
"Huffff, aku tak tahan jika menunggu malam nanti" jawabnya frustasi
Aku bangun dari posisiku yang telentang, menyandarkan tubuhku di sandaran ranjang
"Tinggal beberapa jam lagi" lirihku sambil memeluknya
Ozkan kembali membuang nafas dengan kasar, sejujurnya aku kasihan melihatnya, tapi tidak mungkinkan kami bercinta sore hari seperti ini??
...****************...
Aku sudah menguap berkali-kali ketika sudah larut tapi acara resepsi belum juga selesai.
Seluruh kolega ummi dari berbagai dunia hadir pada malam ini. Semuanya tampak bahagia dan memberikan doa restunya pada kami.
Tanganku yang tak henti-hentinya menyalami para tamu serasa kaku, apalagi kakiku. Aku duduk hanya sesekali, selebihnya terus berdiri dan menyunggingkan senyum pada seluruh tamu undangan
Dan Ozkan sudah sejak tadi gelisah, berkali-kali dia melirik pada Indah dan berkali-kali pula kelihatan menggerakkan kakinya
"Kapan ini selesai" lirihnya
Jam 01.00 acara selesai, para tamu sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
Khusus untuk seluruh koleganya ummi sampai menyiapkan dua lantai untuk mereka menginap malam ini
Aku terduduk di kursi begitu acara selesai, kak Jen yang sejak tadi tak jauh dariku langsung berjongkok dan melepas heels yang kupakai
"Capeknya kak" keluhku
Ozlem mendekati kami dan tampak dia memberikan sesuatu pada abang
"Biar kuat" ucapnya sambil segera berlari meninggalkan abang yang sudah siap memukulnya
Aku segera meletakkan tanganku di kening sambil menggeleng-geleng
"Ayo!" ajak abang sambil mengulurkan tangannya ke arahku
Aku mendongak dan Ozkan melihat tampak sekali letih di wajah istrinya
Tanpa pikir panjang, Ozkan segera menggendong Indah yang membuat kak Jen sampai harus menutup mulutnya karena kaget
Dengan cepat Ozkan segera membawa Indah masuk lift dan berjalan cepat kearah kamarnya
__ADS_1
"Oh my god!!" ucap Canan yang kebetulan keluar dari kamarnya tercengang melihat Ozkan yang menggendong istrinya