
"Andi, bisa suruh diam tidak sih anak kamu, tiap hari kerjanya nyeracau baca Qur'an, pusing ibuk dengarnya"
"Dia kan hafidzah buk, wajarlah jika Naura selalu menghafal Qur'an. Apalagi selama libur dua pekan ini, Naura dituntut harus hafal dua juz"
Bu Mira bersungut-sungut mendengar jawaban Andi
"Kamu bawa kemana kek anak kamu, jangan suruh di rumah terus, masa di rumah nggak ada bantu-bantunya sama sekali, pemalas"
"Loh, wajar buk, dia kan memang tidak terbiasa kerja. Dari kecil dia tinggal dengan neneknya, di rumah neneknya ada mbak Dian yang kerja, terus besar dikit dia di asrama, jadi kerja Naura itu hanya belajar dan belajar"
"Masa bantu nyuci baju saja ngga mau. Cuma baju dia aja yang di cucinya" Laras menambahi
"Di rumah neneknya pakai mesin cuci, cuma di asrama Naura bisa mandiri. Syukuri saja buk, mbak dia mau kesini. Coba kalian perhatikan, aku itu ada anak tiga, tapi cuma Naura yang masih mau dekat dengan aku. Dua anak lelakiku mana mau ikut aku terlebih Adam, aku tidak tahu doktrin apa yang keluarga mantan mertuaku berikan sama dia sehingga dia sangat membenciku"
"Kamu yakin Adam itu anak kamu?"
"Maksud ibuk apa?, jelas Adam anakku"
Bu Mira tersenyum sinis
"Kamu tidak lihat apa, diantara dua anakmu yang lain, dia yang paling hitam"
"Dia ikut gen Indah buk, Indah kan sebelum kaya seperti sekarangkan dulunya burik"
Laras dan bu Mira terkekeh
"Benar kata orang ya Ndi, kalau beruang, jelek saja bisa jadi cantik"
Andi ikut tertawa.
"By the way, kamu kan masih kerja tuh di perkebunannya Indah, bagaimana, apa kakaknya terus yang ngontrol?"
"Jelas buk, kak Angga dan kak Andri bergantian yang ngontrol, terus pak kades kan anak buah mereka, orang kepercayaan mereka, jadi aku tidak bisa berkutik"
"Kamu sih kurang lihai, belajar tuh dari adikmu Joni bagaimana caranya bermain cantik"
"Ibu tenang saja, sedikit demi sedikit Naura sudah bisa aku taklukkan, bukan tidak mungkin jika nanti Naura lah yang akan memuluskan jalanku untuk kembali pada Indah"
Bu Mira dan Laras saling toleh dan tersenyum penuh arti.
"Oleh karena itulah, kita harus terus bersikap baik sama Naura"
"Sebenarnya sih ibuk malas bersikap baik sama anak itu. Tapi ya mau gimana lagi, tidak ada cara lain"
"Jangan begitulah buk, bagaimanapun juga kan dia cucu ibuk, anakku"
"Kamu juga tahukan Ndi, jika dari dulu ibu tidak suka sama ketiga anakmu dan sangat membenci mantan istrimu itu. Apalagi sejak dia memecat ayahmu, kebencian ibuk sama Indah semakin menjadi"
"Jadi lon***e saja belagu itu perempuan" Laras menjawab emosi
"Jangan bilang begitu mbak, kita tidak punya bukti jika di Arab sana Indah jual diri. Lagian, tujuh tahun berumah tangga sama aku, Indah tidak pernah menunjukkan tingkah jika dia selingkuh. Kan kalian tahu sendiri, aku lah yang selingkuh hingga bertahun-tahun aku membohongi Indah"
Andi lalu tertawa
"Indah memang bodoh, kok ya percaya-percayanya sama aku, mau saja dia aku bohongi dengan selalu mengirim laporan ke Bengkulu, padahal aku senang-senang dengan Tina"
Kembali Andi terkekeh
"Terus yang membuat kamu mentalak dia itu karena apa Ndi?, kan kamu tahu, dia perempuan yang gampang dibodohi" tanya Laras
"Aku marah saat dia mendatangi Tina dan menyuruh Tina menjauhiku, terus aku lagi enak-enak tidur dia malah memaksaku untuk shalat subuh, jadi habis shalat Subuh itulah aku talak dia. Tak tanggung-tanggung, aku talak seribu dia"
"Seribu??" mulut bu Mira dan Laras ternganga
"Iya, ku talak seribu dan aku usir dia dari rumah. Itukan rumah buatanku, pakai uangku, bukan uang dia!"
Lalu mereka bertiga terkekeh
"Ststst.... jangan keras-keras nanti Naura mendengar pembicaraan kita"
...****************...
Subuh aku telah bangun, seperti biasa setelah shalat aku mulai membereskan dapur. Mencuci piring kotor dan memutar pakaian.
__ADS_1
Ozkan yang selesai shalat segera ke dapur demi mendengar Indah bersenandung
Di peluknya istinya dari belakang, menciumi tengkuknya, sementara tangannya mengelus perut besar Indah
"Abang sudah ah, nanti ada anne, malu"
"Anne disini"
Refleks Ozkan langsung menegakkan kepalanya yang tadi asyik menciumi tengkuk istrinya demi mendengar suara nyonya Aylin yang telah berdiri tak jauh darinya
Aku langsung menghentikan tanganku yang sedang menggosok piring, memutar cepat tubuhku
"Kalau begitu nanti siang anne pulang"
"Anne jangan!" cegahku
Aku langsung mencuci tanganku dan mendekati anne, sementara Ozkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Anne juga merindukan babamu, hampir lima bulan anne meninggalkannya, kasihan babamu sendiri"
Aku menatap abang yang diam tak merespon. Aku yakin abang malu, oleh karena itulah makanya dia diam.
"Anne marah?" tanya abang
"Marah kenapa?, Indah sudah di trimester kedua, Insha Alloh janinnya sudah kuat, dan lagian memang anne kangen dengan babamu, tiap hari babamu menelpon menanyakan kapan anne pulang"
Aku diam, aku langsung memeluk ibu mertua yang sudah seperti ibu kandungku itu
"Bagaimana? bodyguard Ozkan semalam bersedia mencari makanan yang kamu inginkan?"
"Katanya sih iya anne, tapi nggak tahu" jawabku menoleh pada abang
"Kamu tahu Ozkan, dulu ketika mengandung mu, anne ngidam makan daging burung unta dari Afrika. Besoknya babamu langsung terbang ke Afrika demi memenuhi rasa ngidam anne"
"Maksud anne aku terbang ke Indonesia gitu?"
Wajahku langsung muram. Dan Ozkan seperti menyadari kesalahannya langsung mendekati istrinya meminta maaf
"Iya sayang, iya, abang telpon Abraham lagi ya. Bila perlu abang juga telpon pak Tobias biar beliau yang ke Curup cari buah di sana"
"Anne pulang sore nanti, jadi kalian jangan sore-sore pulangnya, bila perlu Indah nggak usah kerja, seharian ini kita di rumah saja, kita nonton, kita main games, kita ngobrol-ngobrol, karena jika anne sudah di Turki, lama anne baru kesini"
Aku mendongak menatap abang, dan abang menganggukkan kepalanya.
...****************...
"Ayah, kita jalan-jalan yuk, ayuk pengen keliling seluruh trans"
Andi yang masih mengobrol dengan ibu dan Laras segera menoleh pada Naura yang sudah berdiri di dekat pintu ruang tengah
"Ajak kak Dimas sama Raffa saja nak ya, hari ini ayah capek karena kerja terus. Mumpung minggu jadi ayah mau istirahat"
"Tapikan Kakak Mas sama kak Raffa apa mau?"
"Yuk La kita jalan-jalan, kakak ajak kamu naik motor, kita keliling seluruh SP" Raffa yang muncul dari luar segera menjawab
Naura tersenyum sumringah
"Kami boleh ikut?" tanya Reva bersama ketiga adiknya yang masih kecil
Raffa mendecak mendengar permintaan Reva
"Motornya cuma satu, mana muat kita berenam"
"Ajak kakak Dimas juga kak"
"Kalian masih kecil, di rumah saja!"
Reva dan ketiga adiknya menurut dan melanjutkan permainan mereka. Sementara Raffa sudah mengeluarkan motor matic dan telah duduk di depan menunggu Naura yang sedang berpamitan
"Kakak Mas nya mana kak?"
"Ah, kelamaan nunggu kakak mas, kita pergi saja"
__ADS_1
Naura menurut dan naik berboncengan. Setelah Naura naik, Raffa mulai mengegas motor.
Mereka berkeliling kampung bahkan hingga ke kampung sebelah. Saat mereka berada di SP 1, dus orang perempuan menghentikan laju motor mereka
"Kamu anak Laras, kan?" tanya seorang perempuan
Raffa mengangguk.
"Dan ini siapa?" tunjuknya pada Naura
Naura mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan perempuan itu
"Saya Naura"
"Naura?" perempuan itu berusaha mengingat
"Anaknya oom Andi" jawab Raffa
"Astaghfirullah... jadi kamu Naura anaknya Indah?"
Naura mengangguk dan tersenyum melihat kekagetan di wajah perempuan itu.
"Ini anak Andi?" tanya teman perempuan yang kaget itu
"Kenalkan tante, Mia. Teman orang tuamu, tepatnya teman bundamu, Indah"
Wajah Naura makin mengembangkan senyum mendengar jika perempuan itu adalah teman bundanya
"Jadi, Andi ada anak perempuan?" tanya teman Mia lagi sambil menatap tajam Naura
Mia menoleh dan menggelengkan kepalanya kearah temannya yang menatap sinis Naura
"Jaga diri kamu baik-baik ya, jika tidak, maka kamu akan menerima karma atas perbuatan terkutuk ayahmu padaku!"
Naura menatap takut kearah perempuan berambut pirang yang berkata kasar padanya
"Lena, kamu jangan kaya gitu. Anak ini tidak tahu apa-apa" bentak Mia
Lena melengos dan membuang ludah ketanah
Naura meremas baju Raffa, ketakutan
"Naura, maafkan tante Lena ya, dia baik kok orangnya"
"Saya tidak baik, saya jahat. Dan karena itulah makanya saya bersumpah akan menghancurkan Andi dan keturunannya. Saya yakin karma akan menurun sama kamu!" ucap Lena sambil menunjuk kearah Naura
Mata Naura langsung berkaca-kaca. Dengan cepat, Raffa menghidupkan motor dan meninggalkan tempat itu
"Naura hati-hati nak!" teriak Mia
"Keterlaluan kamu Lena. Kamu tidak lihat apa jika Naura ketakutan" bentak Mia
"Bodo amat, aku sudah menyumpahi Andi, Mia. Aku menyumpahinya bila dia juga akan merasakan sakitnya diabaikan dan dicampakkan. Aku sumpahi dia biar anak perempuan atau adik atau saudara perempuannya merasakan jadi lon***e juga!"
"Astaghfirullah Lena, saya kan sudah cerita sama kamu, Indah itu sama kaya kamu, korban Andi juga!"
Naura menangis, sementara Raffa yang terus melajukan motornya dengan ngebut.
Sampai di depan rumah, Raffa segera mematikan mesin motor dan Naura segera turun, dia langsung melesat masuk kedalam rumah sambil menangis
"Naura, kamu kenapa nak?" Andi yang melihat Naura masuk sambil menangis langsung terlihat panik
Naura tidak menjawab, dia langsung masuk ke kamar mengunci pintu
"Naura kenapa, Fa?" tanya Andi pada Raffa yang baru masuk
"Nggak tahu, tadi ada perempuan marah-marah sama dia di SP.1. Dia bilang kalau Naura akan menerima karma dari perbuatan oom dimasa lalu"
Wajah Andi menegang
"Siapa perempuan itu?" tanyanya dengan nada panik
"Kalau nggak salah dengar tadi sih namanya Lena"
__ADS_1
Mata Andi terbelalak. Jantungnya berdegup kencang.