
Ozkan berdiri di sebelah Indah, ditatapnya pria Arab itu dengan tajam. Pria Arab itu tidak perduli, dia masih memperhatikan wajah pucat Indah.
"Hal ant muta'akid ank bikhayr?" tanyanya dengan wajah tak yakin
Aku menganggukkan kepalaku. Ozkan menoleh tak percaya pada Indah, aku tak memperdulikannya.
"Saqayk la tazal tahtazu" (tapi kaki anda masih gemetar) sambung pria itu lagi sambil melihat kearah kaki Indah yang memang masih tampak gemetar
Aku tersenyum kaku
"'Ana bikhayr shukran ealaa lutfik" (saya baik-baik saja, terima kasih untuk kebaikan anda)
Lalu aku memutar tubuhku lalu berjalan meninggalkan orang Arab tersebut dan abang
Ozkan hanya bergeming melihat Indah berjalan meninggalkannya. Lalu dia menatap kearah pria Arab itu
"Don't distrub her. She is mine" ucapnya dengan suara ditekan menahan marah
Pria Arab itu tersenyum
"I'm not sure if yours. If she's yours, you can't possibly do this to her" jawabnya tenang
"What you means?" balas Ozkan dengan nada sinis
"You know if she has phobia. But, you leave her alone, you laugh at her scared. You say that is love?" balas pria tersebut dingin
Rahang Ozkan mengeras, tak disangkanya dia akan dipatahkan oleh lelaki yang tak dikenalnya
Dia segera berpaling meninggalkan pria itu, bergegas menyusul Indah.
Aku berjalan tergesa masuk kedalam lift lalu menekan angka 75, tak lama lift terbuka dan aku kembali pindah lift menekan lantai 66, tempat aku menginap.
Sambil melepas heels karena kakiku masih gemetar aku segera berjalan menuju kamarku. Sampai di depan pintu kamar, aku segera mengeluarkan card, memasukkan ketempatnya lalu pintu terbuka.
Aku segera masuk begitu pintu terbuka, duduk di sofa dengan memeluk kedua kakiku.
"Kamu sudah aman Indah, kamu aman sekarang, oke" ucapku gemetar menyemangati diriku sendiri
Ozkan yang menyusul Indahpun sampai di kamar mereka, dilihatnya Indah yang duduk sambil memeluk kedua kakinya, wajah pucat dan mata berair
Segera didekatinya Indah, berlutut di dekat kursi
"Sayang, aku minta maaf, sumpah aku tidak bermaksud buat kamu begini. Aku hanya iseng" ucapnya sambil menyentuh tangan Indah
Aku diam tidak menjawab, tatapanku kosong, airmataku terus mengalir dan degup jantungku masih berdetak kencang.
Di atas ketinggian lebih dari tiga ribu meter, lantai dan dinding dari kaca, hiiii aku bergidik ketika mengingat itu kembali
Ozkan segera memeluk tubuh Indah ketika dilihatnya wanita yang sangat dikasihinya itu menggigil
"Maafkan aku, maafkan aku" ucapnya berulang kali penuh penyesalan
Aku terus diam dan tak memperdulikan abang yang memelukku.
Cukup lama Ozkan memeluk Indah, harapannya ingin memberikan wanita itu rasa aman, menghilangkan ketakutannya tadi.
Aku melepas tangan abang yang memelukku, menurunkan lututku lalu berjalan kearah lemari, mengambil piyama yang sudah tersedia, lalu membawanya kekamar mandi dan berganti baju disana.
Ozkan tertegun ketika melihat Indah yang keluar dari dalam kamar mandi sudah memakai piyama, rambut hitamnya dibiarkannya tergerai. Sejak tadi wanita itu sedikitpun tidak berbicara padanya.
Aku segera naik keatas ranjang, meraih selimut lalu menutupkan keseluruh tubuhku, lalu aku memiringkan tubuhku membelakangi abang
Dapat Ozkan dengar jika Indah masih terisak, hatinya benar-benar menyesal, niat hati ingin membuat kenangan manis di sky bridge malah berujung accident yang membuat Indah menangis.
Ozkan mengusap kasar wajahnya dan berkali-kali menghembus nafas kasar. Dia bingung harus dengan cara apalagi dia meminta maaf dan membuat wanita itu berhenti menangis
Aku yang terisak akhirnya terlelap. Ozkan yang yakin jika Indah telah nyenyak memberanikan diri mendekati wanita itu.
Dilihatnya dengan tatapan dalam wanita yang saat itu tidur dengan memeluk lutut
__ADS_1
"Ya Alloh, sebegitu takutnya kamu Indah..." lirihnya
Dibenarkannya rambut Indah yang menutupi wajahnya, lalu dengan lembut dibelainya rambut hitam Indah.
Bekas tangis di wajah mulus Indah membuat hatinya kembali menyesali kekonyolannya.
Terlebih ketika dilihatnya mata yang terpejam itu terlihat merah di kelopaknya.
"Maafkan aku sayang" kembali Ozkan berbisik lirih
Dikecupnya kening Indah lalu dia mengambil bantal dan selimut lalu tidur di sofa
Matanya ingin sekali terpejam, terlebih saat itu sudah pukul satu malam. Tapi kantuknya seakan sirna, dia hanya berbaring sambil memperhatikan Indah yang sudah nyenyak.
"Aku takut, aku takut, tolong, tolong aku"
Seperti disengat kalajengking, Ozkan langsung berlari ketempat Indah. Dilihatnya wanita itu bergumam ketakutan sedangkan matanya masih terpejam.
"Aku takut..."
Kembali Ozkan mendengar Indah mengigau.
Tanpa pikir panjang dia segera berbaring di sebelah Indah dan memeluk wanita itu dari belakang
"Tenang sayang, tenang. Abang disini" ucapnya panik sambil terus memeluk Indah
Diciuminya pundak Indah dan dielusnya dengan pelan lengan wanita itu.
Dengan sedih dia terus memeluk wanita itu
"Kau masih ketakutan bahkan disaat kau sudah terlelap" lirihnya sedih
Ditariknya selimut lalu kembali dia mengeratkan pelukannya keperut Indah
"Tidurlah sayang, abang ada disini" ucapnya sambil kembali menciumi pundak Indah.
...****************...
Aku membuka mataku, dan mengerjap-ngerjapkan mata. Mataku langsung terbelalak ketika aku menyadari jika aku tidur sambil memeluk abang. Kepalaku berada di atas dadanya.
Aku segera duduk dan terburu menyibakkan selimut, aku menarik nafas lega ketika pakaianku masih utuh.
"Sudah bangun sayang?" Ozkan yang juga membuka mata segera bertanya pada Indah dengan suara khas orang bangun tidur
"Abang kok bisa tidur disini?" tanyaku gugup
Ozkan segera mengulurkan tangannya hendak meraih tubuh Indah, tapi ditepis oleh wanita itu.
Ozkan kemudian ikut duduk, sambil mengucek matanya.
"Semalam kamu mengigau, itulah sebabnya abang tidur disini, memeluk kamu"
Mulutku ternganga mendengar jawabannya
"Jadi semalaman abang meluk aku?"
Ozkan mengangkat bahunya
"Yang duluan bangunkan kamu, jadi kamu bisa lihat abang lagi meluk kamu atau kamu yang meluk abang?"
Aku diam, malu untuk menjawab
"Ayo, jawab" kejar Ozkan
Aku memutar malas mataku mendengar tuntutannya
"Tapi kamu begitu abang peluk, langsung tenang dan nyenyak nggak bangun-bangun, kamu tidak tahu bahwa semalaman abang tersiksa menahan...." ucapnya menggantung
Aku segera melototkan mataku kearah abang, dan Ozkan terkekeh melihat Indah melotot kearahnya
__ADS_1
"Abang apaan sih" sergahku cepat
Ozkan masih terkekeh
"Enakkan tidur sama abang" godanya kembali
Wajahku memanas, aku segera berniat kabur dari hadapannya, kalau tidak bisa bahaya, pikirku
Secepat kilat Ozkan menarik tangan Indah yang sudah siap lari darinya, mendapat tarikan mendadak membuatku menubruk tubuh abang dan tak sengaja aku mencium pipinya.
Aku diam tak berani menarik bibirku yang mencium pipinya, tapi hal tersebut justru menguntungkan bagi Ozkan
Dia segera memegang kepala Indah dan menekannya perlahan, maka terjadilah hal yang tak kuingin pagi ini. Kami kembali berciuman
Aku yang sejak kemarin berciuman sama abang mulai berani membalas setiap pagutannya. Bahkan aku yang banyak menuntut.
Aku menggerakkan tubuhku berpindah kepangkuannya, dan Ozkan semakin menyesap dalam
"Maafkan aku" ucap Ozkan sambil terus menyesap bibir tipis Indah. Aku hanya bisa mengangguk tanpa berniat melepaskan pagutan kami
...****************...
"Bagaimana proyeknya?" tanya ummi ketika kami di kantor
"Baik ummi, semuanya berjalan lancar" jawabku
Ummi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kemungkinan akhir tahun, hotel baru kita sudah bisa grand opening" lanjut ummi
"Sepertinya bisa ummi, karena semua bangunan hampir selesai, taman dan segalanya juga selesai, tinggal finishing" jawabku antusias
"Kamu semangat sekali ya mengerjakan proyek ini, tidak sia-sia investor meminta kamu terjun langsung" puji ummi
"Semua ini berkat ummi" jawabku sambil tersenyum kearah beliau
"Ummi yang telah banyak mengajari dan menuntunku" lanjutku
Ummipun tersenyum kearahku
"Oh iya ummi, dua minggu lagi kontrak kerjaku sama ummi habis" ucapku
Wajah ummi Afsha berubah kaget
"Serius? secepat ini?" jawabnya
Aku menganggukkan kepalaku
"Sudah lama ummi, sudah tujuh tahun" jawabku
Ummi menggeleng-gelengkan kepalanya
"Kamu tidak berniat ingin kembali kenegara kamu kan?" tanya ummi Afsha pelan
Aku mengernyitkan keningku mendengar ucapan ummi. Tentu saja aku ingin pulang, aku ingin bertemu ketiga anakku, orang tuaku, saudaraku, semuanya. Jadi mana mungkin aku tidak pulang
"Ya kan Ndah?" tanya ummi lagi sambil menatap mata Indah
Aku diam beberapa saat, memikirkan kata apa yang akan aku sampaikan pada ummi. Aku tidak ingin jawabanku salah dan membuatnya kecewa
"Tentu saja aku ingin pulang ummi" jawabku pelan
Ummi diam mendengar jawaban Indah. Dia menarik nafas dalam lalu menyandarkan tubuhnya di kursi, ditatapnya Indah yang saat ini menundukkan kepalanya
"Tapi ummi masih butuh kamu" jawab ummi lirih
Aku segera mengangkat kepalaku, menatap kewajah ummi yang berubah mendung. Aku makin tak berani bersuara
"Siapa yang akan bantu ummi jika kamu pulang, siapa yang meneruskan proyek yang belum selesai ini, hemm?" lanjut ummi dengan sedih
__ADS_1