
Mikail terus menggenggam tangan bundanya sambil tak hentinya melafalkan surah Al-Waqiah
Serkan telah duduk di pangkuan pak Abraham, sedangkan Defne sama seperti awal berangkat, selalu nempel sama Daddy nya
Pak Binsar dan pak Tomo duduk di barisan depan dekat dengan dua bodyguard yang kami bawa dari Jeddah
Sedangkan keempat sahabat anakku, duduk di sisi lainnya
"Tadi bunda bermimpi tentang ayahmu nak..." lirihku
Yang langsung membuat Mikail menghentikan suaranya lalu menatapku dalam
"Ayahmu terbakar" lanjutku lirih
Mikail langsung beristighfar, dapat kutangkap raut kesedihan di wajahnya
"Yang sabar ya nak..."
Mikail menempelkan kepalanya di pundakku
"Di dunia saja ayah sudah merasakan murka Alloh, bagaimana nanti di akhirat" lirihnya nyaris tak terdengar
"Kalian anak sholeh dan shalihah, doa kalian akan menyelamatkan ayah kalian"
Lalu aku menceritakan bagaimana api yang membakar Andi mati ketika ada suara Adam yang melantunkan ayat Al-Qur'an
"Sepertinya dibanding kakak dan ayuk, doa adek lah yang didengar Alloh"
Aku tersenyum samar
"Karena hanya adek, anak yang dizolimi oleh ayah kalian" jawabku sambil menggigit bibirku
Mikail kembali menggenggam tangan bundanya demi didengarnya suara sang bunda bergetar
_Di rumah Sakit ARB Lubuklinggau_
Naura dan Adam tak henti-hentinya membaca surah Yasiin dan surah Al-Rad di atas kepala ayah mereka, tetapi kondisi Andi kian parah
Air mata Naura rasanya sudah kering, matanya tak terhingga bagaimana sembabnya
Seharian sebiji nasi belum masuk kedalam perutnya. Tak sedetikpun dia meninggalkan sang ayah.
Selain membacakan Al-Qur'an, Naura juga terus membimbing ayahnya mengucapkan kalimat syahadat
Mbak Ningsih dan Nina telah duduk pasrah, seluruh keluarga juga telah meminta maaf pada Andi, dan semuanya juga tadi berkata telah ikhlas jika Andi akan pergi meninggalkan mereka
Hanya Naura yang masih terus berharap adanya keajaiban untuk sang ayah
Layar yang merekam detak jantung Andi kian lemah, dan Naura kian merasa dunianya hancur ketika melihat itu
_Di Bandara Silampari Lubuklinggau_
Pesawat jet yang membawa rombongan Ozkan akhirnya landing dengan selamat
Setelah cukup lama pesawat berputar-putar di landasan, akhirnya pesawat benar-benar berhenti
Segera kami semua turun. Jika tidak karena urgent, ingin sekali rasanya aku menghirup dalam-dalam udara tengah malam kotaku tercinta yang kembali ku datangi
Mikail kembali menggenggam tanganku ketika kami menuruni tangga
Kulihat kak Andri berjalan kearah pesawat, setelah sampai landasan aku segera memeluknya erat. Berganti dengan memeluk kak Angga.
Mikail juga memeluk erat kedua uwaknya, lalu menyusul teman-teman Mikail menyalami kedua kakakku
Ozkan juga bersalaman hangat dengan kedua kakak iparnya
Serkan dan Defne tak mau ketinggalan
"Uwak jemput kami yo, apo idak katek gawe laen?" (uwak jemput kami ya, apa tidak ada kerja lain?) tanya Serkan yang membuatku dan Mikail terpaksa tertawa
"Not like this sweet heart, you must say terimo kasih wak karno dem jemput kami" ( bukan begitu sayang kamu harusnya bilang, terima kasih wak karena telah jemput kami)
Serkan langsung membekap mulutnya
"Pardon me uwak..."
Kak Angga dan kak Andri tersenyum
"Ayo kita nggak punya banyak waktu" lanjut kak Andri yang segera menarik koper yang ku pegang
Kami masuk kedalam mobil kak Andri, keempat teman Mikail masuk ke mobil bapakku yang dikemudikan kak Angga
Dan kelima bodyguard masuk ke dalam mobil travel yang telah disediakan kak Andri
Dan lima copilot dan pilot masuk mobil travel lainnya
"Antarkan mereka ke hotel terbaik di kota ini" ucap abang pada supir travel yang akan membawa copilot dan pilot itu
__ADS_1
"ikiniz yarın şafak vakti oğlumu ve arkadaşını Jakarta'ya götürmek için havaalanına geri döneceksiniz!"
(dua dari kalian besok subuh segera kembali lagi kebandara, mengantarkan anakku dan temannya kembali ke Jakarta!)
"Hazır efendim" (Siap tuan)
Setelah berkata begitu, Ozkan langsung masuk kedalam mobil kak Andri yang sudah menyala
Segera kak Andri melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, karena jalanan sudah tampak lengang. Karena saat itu memang sudah hampir pukul 01.00 dini hari
Tak butuh waktu lama, tiga mobil telah masuk ke area rumah sakit. Pak Abraham dan kedua temannya saling toleh ketika mobil berhenti
"Ada yang tahu siapa yang sakit?" gumam pak Binsar
Pak Abraham dan pak Tomo menggeleng
"Do you know who was ill?" tanya pak Tomo pada dua bodyguard yang bertubuh tinggi dan bermata terang
Keduanya mengangkat bahu.
Mikail segera mengeluarkan handphonenya
"Dek, kakak dan bunda sudah sampai di parkiran, kamu turun ya!"
Adam langsung terlonjak kaget begitu mendengar kabar dari Mikail. Tanpa permisi, dia segera keluar dari ruangan ICU
"Kamu mau kemana?" bentak pak Hermawan ketika melihat Adam melewatinya yang sedang terduduk lemas di kursi tunggu depan ruang ICU
"Turun, bunda saya telah sampai" jawab Adam dingin
Bola mata Mbak Ningsih dan Nina langsung membesar begitu mendengar jawaban Adam. Sedangkan pak Hermawan langsung terdiam
Mikail langsung berlari dan memeluk erat Adam ketika di koridor dia melihat Adam yang juga berlari kearahnya
Air mataku langsung mengalir melihat mereka berpelukan
Adam segera melepas pelukannya pada Mikail begitu melihatku
"Bundaaaa..." ucapnya langsung terisak sambil memelukku erat
Ku elus kepalanya yang menempel di bahuku sambil berurai air mata.
"Ayo nak, nanti lagi. Kita harus cepat" ucapku sambil menggandeng tangannya
Kami semua naik keatas dengan langkah cepat. Kelima bodyguard langsung bersiaga begitu kami berjalan naik
Begitu aku sampai keduanya langsung memelukku erat dan langsung menangis
"Dokteeerrrr.....!!!" pekik Naura yang membuatku cepat melepas pelukan Mbak Ningsih dan Nina
Aku langsung melesat masuk diikuti Adam dan Mikail
Kulihat Andi mengejang dan matanya melotot nyaris keluar. Aku langsung teringat dengan mimpiku tadi. Apakah mimpiku tadi adalah yang dirasakan Andi saat ini?, batinku tercekat
Naura begitu melihat bundanya masuk kian menangis histeris
"Ayuk mohon bunda, maafkanlah ayah..." ucapnya histeris sambil memeluk kakiku
Air mataku langsung mengalir deras melihat Naura memeluk kakiku
Mikail dan Adam segera menggenggam tangan ayah mereka. Dan keduanya terlihat meneteskan air mata
Adam dan Mikail mengucap syahadat membimbing ayahnya
"Ayo ayah ucapkan Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" bimbing Mikail
Aku hanya bisa berdiri mematung melihat kondisi Andi yang sangat mengenaskan
"Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" ucap Adam
Mulut Andi bergerak dan mengeluarkan gumaman tak jelas
Mikail berjongkok mendekatkan telinganya ke mulut sang ayah
"Ndah..... Ndah...."
Mikail menoleh ke arah bundanya
"Ayah manggil bunda"
Aku masih bergeming, kembali Naura memeluk kakiku dengan erat sambil terus menangis meraung
"Tolong bunda, tolooonggg..." teriak Naura putus asa
Aku menoleh ketika kurasakan sebuah sentuhan pelan di pundakku
"Abang...." lirihku
__ADS_1
Ozkan mengangguk kearah istrinya. Dengan pelan Ozkan mengangkat tubuh Naura yang sejak tadi memeluk kaki bundanya
Naura mengangkat wajahnya begitu ada tarikan di pundaknya. Segera Naura berdiri dan menangkupkan kedua tangannya ke arah Ozkan
"Papa, tolong kami. Tolong bujuk bunda agar mau memaafkan ayah kami pa, aku mohon pa" isaknya
Ozkan mengangguk lalu dia melepaskan tangannya dari pundak Naura dan membimbing istrinya mendekati Andi
"Andi....ini aku bawa Indah kehadapan kamu..." ucap abang
Andi masih kejang. Mikail dan Adam begitu melihat bundanya mendekat langsung bergeser agak naik kearah kepala ayahnya.
Secara berbarengan keduanya membaca surah Yasiin
Air mataku yang sejak tadi mengalir deras kian bertambah deras ketika aku menatap bagaimana susahnya Andi menarik nafasnya
Nafasnya sudah bisa dihitung satu-satu saking sudah lemahnya
"Ayo sayang, bicaralah sama Andi" ucap Ozkan lagi sambil menyentuh pundak istrinya, membawa istrinya duduk di sebelah Andi
"Andi... aku sudah datang, kamu dengarkan suaraku?" ucapku terbata-bata
Tangan Andi bergerak dan terangkat sedikit. Dengan pelan Ozkan meraih tangan Andi lalu menarik pelan tangan Indah
Ozkan menyatukan tangan mereka di dalam genggamannya.
Tangisku kian pecah, hatiku terasa sangat sakit
Ku haramkan tanganku menyentuhmu walaupun itu hanya ujung kukuku
Kata-kata itu langsung terngiang di telingaku, dengan cepat aku menggerakkan tanganku untuk kutarik
Tapi Ozkan yang mengetahui semua luka dan dendam Indah dengan cepat mengeratkan genggamannya pada kedua tangan yang masih ada dalam genggamannya saat ini
"In.... daaaahhh..." gumam Andi pelan
"Iya Andi, aku disini" jawabku terisak
"Mmm aaa mmaaa.... aaaaafff...."
Aku langsung menundukkan kepalaku hingga menyentuh tempat tidur Andi sambil menangis pilu
Ketiga anakku sekarang semuanya telah membaca surah Yasiin dan surah Al-Rad secara terus menerus tanpa henti
"Mmm aaa mmaaa.... aaaaafff...." kembali terdengar suara Andi
Tangisku kian pecah
"Andi.... jujur aku sangat terluka dengan pengkhianatan dan hinaanmu" ucapku pilu
"Kau selingkuhi aku, kau maki-maki aku, tidak ada luka seorang istri yang begitu menyakitkan selain dibanding-bandingkan dengan selingkuhan suaminya"
"Kau bawa selingkuhanmu ke rumah, kami kau usir"
Air mata mengalir dari mata Andi mendengar suara pilu Indah yang terisak
"Mahar yang menjadi hakku kau ambil, hingga aku bersumpah Andi aku akan membalas semua sakit ku ini padamu"
Ozkan mendongakkan kepalanya melihat istrinya yang terisak pilu kembali mengingat luka masa lalunya
"Jika tidak karena ketiga anakku, aku tidak mau Andi menemui mu"
"Jika bukan karena kebesaran hati suamiku yang sangat menyayangiku, sampai kamu mati aku tidak akan memaafkan mu Andi"
Tangisku kian pecah saat aku mengucapkan kalimat itu
"Terlalu Andi, terlalu kau menyakitiku dan anak-anakku"
"Satu dosamu yang sulit aku maafkan adalah kau meragukan Adam...." ucapku sambil berjongkok menatap wajahnya
Adam mendekat, dan segera memeluk bundanya
"Adek mohon bunda, ampunilah ayah. Jika bunda belum bisa memaafkan ayah, bagaimana adek bisa memaafkan ayah" lirihnya
Kupeluk erat Adam yang menangis sesenggukan. Air mata kian deras mengalir dari mata Andi
Naura dan Mikail terus membaca surah Yasiin tanpa henti sambil keduanya menangis sesenggukan.
Sakit sekali rasanya hatiku melihat ketiga anakku menangis.
Aku kembali terduduk di kursi, menutup wajahku. Kenangan ketika pertama kali kami bertemu melintas di kepalaku, ketika kami menikah, pahit manis hidup yang kami lewati, kenangan ketika kami jalan-jalan, bagaimana bahagianya Andi ketika aku melahirkan ketiga anakku, semuanya serasa berebutan melompat keluar dari memori otakku
"Andiiii....." pekikku sambil memeluknya dan menangis sesenggukan
"Aku memaafkan mu Andi, aku memaafkan mu" ucapku dengan badan berguncang
Air mata ketiga anak Indah kian mengalir deras mendengar kata maaf dari mulut sang bunda
__ADS_1
"Aku memaafkan segala dosa dan khilaf mu padaku Andi. Aku maafkan"