Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bimbang Ragu


__ADS_3

Andi segera kerumah sepupunya Hendri. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk dan berpapasan dengan bibinya.


"Sepertinya ibu kamu datang ya Ndi?, kok belum kerumah bibi? tanyanya


"Nanti paling bi" sahut Andi sambil nyelonong ke kamar Hendri.


Setiba di kamar Hendri, Andi segera merebahkan tubuhnya di sebelah sepupunya yang belum bangun tidur. Dirasa ada orang disebelahnya, Hendri membuka mata dan memukul paha Andi.


"Woy, ngangetin aja lu"


Andi diam saja tak bergeming malah dia menyilangkan tangannya di bawah kepala untuk dijadikan bantal.


"Napa lu, kusut banget tu wajah, marahan sama Indah?" Hendri mulai duduk menghadap sepupunya.


"Ini lebih dari ribut Hen. Bisa-bisa saya putus sama Indah" Andi menjawab tanpa menoleh pada sepupunya itu.


"What? serius?, wahhh ini kesempatan buat gue berarti" Hendri penuh semangat sekarang.


"Maksud lo apa? Andi menoleh pada Hendri penuh selidik


"Ya maksud gue, kalo lu putus sama Indah, berarti gue ada kesempatan buat dekatin dia. Kan dia bukan pacar lu lagi.


Andi meraih bantal dan menimpuk kepala Hendri. Hendri terbahak dengan perlakuan sepupunya itu. Karena kesal, akhirnya Andi pergi meninggalkan kamar Hendri.


"Woy mau kemana? gue belum selesai nih. Benaran kan kalian putus?" teriaknya


Andi segera putar balik badan dan membuka pintu seraya menjawab "Ga akan"


Hendri makin terpingkal.


Andi duduk di sofa ruang tamu rumah bibinya. Disana ada pamannya yang sedang menghisap rokoknya dengan nikmat


"Ono opo toh, isuk-isuk uwis koyo ngono rupa ne"


(ada apa sih, pagi-pagi sudah seperti itu wajahnya)


"Ga ada apa-apa paman"


Tak lama sang bibi juga ikutan duduk.

__ADS_1


"Heh, kepiye kowe karo cewek mu kae. Kapan sido ne mbojo?"


"bagaimana kamu sama pacar mu itu. Kapan kalian menikah?"


"mbuh bulek, mamak karo bapak ki gak setuju karo cewekku. Jarene Indah ki wong dusun, bedo karo dewe"


"ga tahu bi, ibu sama bapak tidak setuju dengan pacarku. Katanya karena Indah ini orang dusun, beda sama kita"


Paman dan bibinya saling tatap. Ada rasa iba di hati bibinya melihat keponakannya.


"Yo uwis, seng sabar"


"Ya sudah, yang sabar" Pamannya menimpali.


Terdengar suara salam dari luar, Andi tahu itu adalah ayah ibunya beserta anggota keluarganya yang lain. Segera Andi beranjak kembali ke kamar Hendri. Dia mau menghindari keluarganya sebentar. Dia tidak ingin nanti keceplosan lagi menjawab omongan ibunya.


Setelah saling sungkeman, bibi dan ibunya Andi mulai bercerita. Lamat-lamat dari kamar Andi mendengar kalau ada nama Indah disebut-sebut oleh sang ibu. Dia menghela nafas dalam. Dia bingung, akankah mempertahankan hubungannya dengan Indah tanpa restu kedua orangtuanya ataukah dia harus mendengarkan omongan keluarganya?


Ah, Indah. Kenapa disaat saya sudah memantapkan hatiku padamu, malah terhalang restu kedua orang tua ku. Kenapa di saat kita sudah saling memantapkan hati untuk bersatu malah jadi pelik begini. Aku harus bagaimana Ndah? bisik hati Andi kalut.


Hendri menepuk pundak sepupunya menyemangati.


Masih pagi sekira jam tujuh pagi, tapi Andi telah rapih dengan pakaian kerjanya. H+4 kantornya telah aktif kembali. Itu artinya tidak ada lagi waktu bagi Andi untuk bersantai.


Setelah sarapan kue bolu yang dibawa ibunya dari kampung, Andi segera berniat mau berangkat. Sepatu telah di semirnya mengkilat, motorpun telah dipanaskan oleh Joni, adiknya.


Bukan tanpa sebab Andi berangkat pagi-pagi seperti ini.Dia berniat hendak mampir kerumah Indah, dia masih khawatir dengan perasaan Indah terhadap sikap ibunya kemarin.


"Tumben sepagi ini sudah berangkat?" tanya sang ibu


"Kantor itu tutup sudah seminggu buk, Andi khawatir kalau-kalau berkas yang Andi tinggalkan diatas meja kemarin dimakan tikus" Andi memberi alasan.


Jika dia menjawab dengan jujur, bisa ngomel ibunya.


Setelah mencium punggung tangan sang ibu, Andi segera naik kemotor dan melajukannya.


Tak butuh waktu lama, sekira sepuluh menit Andi telah sampai di rumah Indah. Saat itu dilihatnya Indah sedang menyapu halaman. Melihat Andi datang pagi-pagi, Indah menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Andi.


"Tumben mampir kak?" sambutnya

__ADS_1


"Kakak cuma khawatir saja sama kamu"


Indah terkikik.


"Malah diketawain"


"Habisnya lucu sih, apa yang harus dikhawatirkan kak, kan baru kemarin kita ga ketemu"


"Kakak khawatir kamu tersinggung dengan ucapan ibuk"


Indah menggeleng cepat.


"Its not a problem. All be okay. Don't be worry"


"Alhamdulillah"


Andi meraih tangan Indah dan menggenggamnya. "Yakin sama kakak ya Ndah, apapun yang terjadi kakak akan mempertahankan hubungan kita"


Indah bengong mendengar ucapan Andi, keningnya berkerut bingung. Hatinya mulai menebak-nebak arah omongan Andi. Pikirannya mulai mengarang bebas mencerna ucapan kekasihnya itu.


"Kita awali dengan Bismillah dan semoga kita akhiri dengan Alhamdulillah" lanjut Andi berteka-teki.


Indah hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia mulai menebak ketidak sukaan ibu Andi terhadapnya, mungkin hal inilah yang membawa Andi sepagi ini menemuinya.


"Ingat kak, Syurga itu ada ditelapak kaki ibu, jika tanpa restunya, mana mungkin hubungan kita akan bersatu" Indah mulai faham arah omongan Andi.


Andi menghela nafas berat. Pikirannya jadi berkecamuk tak karuan.


"Jangan jadi anak durhaka demi perempuan yang baru kakak temui, aku tidak ingin, karena aku kakak jadi durhaka"lanjut Indah.


"Pusing kakak kalo kaya gini"


Indah tersenyum mendengar jawaban Andi.


"Ya sudah, buruan berangkat kerja. Nanti telat loh. Strong ya kak, semangat"


Andi menganggukkan kepalanya lalu berpamitan berangkat kerja.


Sepeninggal Andi, Indah merenung. Dia tahu, hubungannya dengan Andi tidak mendapat lampu hijau dari keluarganya.

__ADS_1


"Ya Rabb, semua aku serahkan kepadaMu, jika terbaik dekatkan lah. jika bukan kuatkan aku untuk menerimanya" bisik hatinya.


__ADS_2