
"Yuk?"
Naura tergagap dan spontan kalung yang sejak tadi dilihatnya langsung disembunyikannya
Adam yang melihat Naura menyembunyikan kalung yang tadi dilihatnya, jadi penasaran
"Dari siapa itu yuk?"
Naura menggeleng cepat. Adam mengangkat alisnya
"Ada tuan muda Emir di depan yuk"
"Hah??!" mata Naura terbelalak
"Ada tuan muda Emir" ulang Adam pelan
"Serius dek?"
"Astaghfirullah, serius ayuk. Adek dengan kakak aja kaget lihat dia di bandara"
"Akmar tahu ada tuan muda?"
Adam menangkap ada nada khawatir dari suara ayuknya. Dengan pelan dia mengangguk
"Akmar bilang apa?"
Adam makin menatap dalam mata khawatir ayuknya
"Nggak bilang apa-apa, mereka cuma bersalaman sambil bilang see you soon"
"Cuma itu?"
"Lah ayuk maunya mereka bilang apa?"
Naura diam dan tampak sekali kegugupan dimatanya.
"Ayuk bingung ya memilih antara mereka berdua?"
Naura refleks meninju lengan adiknya sambil tersenyum malu
"Apaan sih dek, orang teman kok"
"Teman apa temaaann..." goda Adam yang makin membuat Naura gemas dengan terus memukul lengannya
"Ayo ah, turun, nggak enak kalau tuan muda lama nunggu"
Naura menarik nafas panjang lalu meletakkan kalung yang sejak tadi disembunyikannya kedalam kotak yang tergeletak di atas ranjang
Mata Adam menangkap jelas benda yang diambil Naura dengan gerakan cepat
"Kalung?, beli dimana?"
"Ihhh... sejak kapan sih dek, kamu jadi bawel kaya gini" ucap Naura sambil menarik gemas pipi Adam
"Ayo turun, tadi ngajak turun"
Adam tersenyum sekilas lalu bersama Naura dia keluar dari kamar
Degup jantung Naura berdetak kencang ketika makin mendekati arah tangga
"Baca Bismillah..." kembali Adam menggodanya
Naura berdecak kesal dan memukul pundak adiknya yang membuat Adam terkekeh
Aku langsung memandang kearah tangga dimana kulihat Naura turun bersama Adam
Dapat kutangkap jelas jika ada ketegangan diraut wajah Naura
Emir yang serius mengobrol dengan Ozkan tak menyadari jika Naura turun
__ADS_1
"'Emir , laqad nazalat hadhih alnuwra , kunt tabhath eanha mundh waqt sabiq , 'alays kadhalika?" (Emir, ini Naura sudah turun, sejak tadi kamu mencarinya kan?)
ucap Ozkan yang menyadarkan tuan muda Emir hingga menatap ke depan
Matanya langsung tak berkedip begitu melihat Naura telah duduk di sebelah Adam
"Kayf halik Naura?" (Apa kabarmu Naura?)
"Alhamd lilah 'ana mueafaa alsayid alshaabi" (Alhamdulillah saya sehat tuan muda)
Keduanya lalu saling tersenyum canggung
"Karena Emir baru datang, dan yang pasti dia belum makan, apakah kamu bisa menyiapkan makanan untuknya sayang?"
Aku mengangguk kearah abang, dan berdiri yang diikuti Naura
"Loh kamu mau kemana?" tanya Ozkan demi melihat Naura juga ikut berdiri
"Ikut bunda, biar papa sama Adam saja yang menemani tuan muda"
"Loh, tujuannya kesini itu mau ketemu kamu loh nak" goda Ozkan
Naura segera berjalan duluan meninggalkan ruang tamu, karena khawatir papanya akan makin menggodanya
"Ear ealayh" (Malu dia) ucap Ozkan yang disambut senyum oleh Emir
Sesampai di dapur, aku melihat isi kulkas, kira-kira makanan apa yang bisa aku buatkan pagi ini untuk tuan muda
"Masih ada rendang sisa semalam bunda, ayuk rasa tak apalah jika kita panaskan, dan kita jadikan untuk kita sarapan pagi ini"
Aku menimbang sejenak ide anak gadisku
"Tapi tuan muda tidak pernah makan makanan sisa, nak"
"Ya masa kita kasih mie instan, nggak mungkin kan bun, jika nunggu masak selesai bisa siang, nggak apalah toh tidak basi kok"
"Tapi nak?"
"Biar ayuk nanti yang bilang sama tuan muda jika bunda nggak enak hati"
Tak lama semuanya telah siap dan aku langsung memanggil seluruh penghuni rumah
Yang laki-laki semuanya sarapan, tak terkecuali pak Hermawan dan Dimas
"Bunda, aku harus ke klinik" ucap Naura yang segera naik ke kamarnya
"Loh nak, apa tidak libur lagi?"
Naura menghentikan langkahnya dan menoleh padaku
"Ayuk sudah terlalu lama liburnya, kasihan klinik"
Aku mengangguk, entah mengapa aku menangkap sepertinya Naura menghindari tuan muda Emir atau memang dia sungguh-sungguh ingin ke klinik
Selesai dengan sarapan, Ozkan mengajak tuan muda Emir duduk di depan
Emir segera menoleh ketika dilihatnya Naura telah berjalan kearah motor matic dengan berseragam warna hijau yang dipadu oranye
"Mau kemana nak?"
Naura yang telah memutar motornya menoleh pada Ozkan
"Klinik pa, sudah lama Naura tidak ke klinik"
"Tapi Emir bagaimana?"
"Kan ada papa"
Setelah menjawab seperti itu Naura langsung menghidupkan mesin motornya dan segera meninggalkan rumah
Ozkan menoleh kearah Indah yang berdiri terpaku melihat anak gadisnya pergi
__ADS_1
"Tuan muda bisa menyusul setelah ini" ucapku menggunakan bahasa Arab
Emir mengangguk
Kedatangan Naura ke klinik langsung disambut hangat oleh seluruh karyawan dan staf klinik, bahkan dokter Victor dan bidan senior menyambutnya hangat
Begitu juga dengan keluarga pasien, mereka yang tahu jika Naura adalah pemilik klinik tampak mengangguk hormat dan tersenyum ramah
Sementara di rumah, sepeninggal Naura, Adam mengajak Emir naik ke kamarnya untuk beristirahat
"Kam yawman kan 'akmar huna?" (Berapa hari Akmar disini?) tanya tuan muda ketika mereka duduk di balkon
"Ywman" (dua hari)
Emir tampak tersenyum, dan Adam lekat memandang kearahnya
"Apa saja yang dilakukan Akmar selama dua hari disini?"
"Tidak ada, dia ikut membantu kami menyiapkan acara doa dan tahlilan untuk ayah, dan karena melihat ayukku selalu bersedih, Akmar berinisiatif membawanya jalan-jalan"
"Apa mereka hanya berdua?"
Adam mengangguk, dia ingin melihat reaksi Tuan muda Emir ketika mengetahui jika Naura hanya berdua dengan Akmar
Tampak wajah Emir biasa saja, dia hanya tersenyum sekilas
"Tidak mungkinlah mereka hanya berdua, kami berlima, bersama adik kembar kami juga"
Emir kembali tersenyum dan menarik nafas lega
"Ayo istirahat dulu, nanti ba'da Dzuhur, aku akan mengajakmu ke klinik ayukku, kamu harus lihat seperti apa kegiatan ayukku sehari-hari"
"Betulkah?"
Adam mengangguk pasti, dengan cepat Emir meninggalkan balkon dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Perjalanan yang panjang tentulah membuatnya penat
...****************...
Kedatangan Emir ke klinik membuat kehebohan
Seluruh pegawai dan staf bahkan keluarga pasien sibuk mengajaknya berfoto
Emir yang kebingungan hanya menurut saja ketika banyak yang mengajaknya berswafoto
Naura yang berada di ruangannya hanya menggelengkan kepala sambil tergelak ketika diberitahu Adam jika Emir terjebak fans dadakan di bawah
"Semoga dia baik-baik saja" ucap Naura setelah tawanya berhenti
Pintu ruangan Naura diketuk, tak lama muncul seorang security bersama Emir yang tampak kebingungan
"Kasihan dia" batin Naura menahan senyum
Emir duduk dengan segera Naura berjalan ke lemari es, mengambilkan minuman dingin untuknya
"For you" ucap Naura mengulurkan sebotol air mineral
"Thank you" jawab Emir yang langsung menenggak minuman tersebut
"li'anak wasim walihadha kanuu fi halat histiriat eindama ra'awk" (karena anda tampan itulah makanya mereka tadi histeris melihat anda) ucap Naura sambil menahan tawa
Emir tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu memandang sekeliling ruangan
"Kula yawm ant huna Naura?" (Setiap hari kamu disini Naura?)
"Naeam bialtabei. limadha a?" (Iya, tentu. Kenapa?)
"La bas , 'aetaqid faqat 'iidha kunt bihajat 'iilaa tajribat wazifat 'ukhraa 'akthar sueuba" (Tidak apa-apa, aku hanya berfikir jika kamu perlu mencoba pekerjaan lain yang jauh lebih menantang)
"La yujad sayid shabun , fa'ana 'uhibu eamali hqan , wakan hadha hilmi eindama kunt sghyraan" (Tidak tuan muda, saya sangat mencintai pekerjaan saya, ini adalah cita-cita saya ketika saya kecil)
__ADS_1
Kembali Emir tampak mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Naura
"iidha talab mink 'ahaduhum aliantiqal min huna , fahal tafeal dhalika?" (Seandainya ada seseorang yang mengajakmu pindah dari sini, apakah kamu mau?)