
Perlahan dan pasti pesawat jet kami mulai bergerak mengitari bandara Silampari.
Aku dari balik kaca jendela pesawat terus memperhatikan keluargaku yang masih melambaikan tangan mereka. Dengan lekat aku memandangi kedua anakku yang berdiri berdekatan.
Sesak sekali rasanya dadaku, ingin sekali rasanya aku berteriak kencang merutuki nasibku yang harus berpisah dengan anak-anakku
Setelah pesawat berputar mengelilingi bandara baru setelahnya pesawat merangkak naik, perlahan dan pasti akhirnya keluargaku benar-benar hilang dari pandanganku
Aku segera membalikkan tubuhku, menarik nafas panjang dan menatap kearah Serkan dan Defne yang berdiri dengan lutut mereka di kursi, bercanda seakan tak terjadi apa-apa
Ozkan yang mengetahui kesedihan istrinya segera merengkuh pundaknya, dan mengusap kepalanya
"Tak akan lama, nanti kita kesini lagi"
Aku diam tak menjawab. Sementara Emir yang duduk tak jauh dari kami fokus menatap layar kamera yang sejak tadi menggantung di lehernya
Sesekali dia tersenyum, entah gambar apa yang sedang dilihatnya.
Kurang lebih satu setengah jam pesawat kami transit di Jakarta. Kami keluar dulu karena ingin singgah sebentar ke rumah ketiga bodyguard kami.
Pak Abraham telah menunggu kami di pintu vvip, begitu melihat kami beliau langsung mengulurkan tangan kearah Serkan dan Defne yang kegandeng
"Mau ikut uncle?"
Kedua anakku mendongak ke arahku.
"He said that, you want to follow him?"
Serkan mengangguk, dan dengan cepat Serkan mengulurkan tangannya. Lalu secepat kilat pak Abraham mengangkatnya.
"He look like The Rock Mama"
Aku dan abang serta tuan muda Emir tersenyum ketika Emir mengucapkan kata itu
"Me too uncle" teriak Defne
Pak Abraham kembali berjongkok dan mengambil Defne dengan tangan satunya.
Akhirnya Serkan dan Defne digendong pak Abraham kanan kiri. Keduanya sibuk tertawa sambil menekan-nekan otot besar pak Abraham
Akhirnya kami sampai di dekat mobil, Serkan dan Defne tak mau jauh dari pak Abraham, sampai-sampai keduanya mau duduk di depan, bahkan Serkan begitu memaksa ingin duduk dipangkuan pak Abraham
"Nanti uncle nya kesulitan nak" bujuk Abang
"yok daddy, amcanın kucağına oturmak istiyorum" (No daddy, aku maunya duduk dipangkuan uncle)"
"Tidak apa-apa bos, saya bisa mengendarai mobil dengan benar"
"Kamu yakin?"
"Yakin nyonya"
__ADS_1
Aku terkekeh, merasa geli karena pak Abraham memanggilku dengan sebutan "nyonya"
"Panggil Indah saja pak, seperti biasa" protesku setelah selesai tertawa
Pak Abraham tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Jadilah beliau membawa mobil dengan Serkan yang duduk di depannya. Defne terus bertanya tentang apa saja yang dilihatnya pada pak Abraham
"Who is that uncle?"
"Why it look like?"
"Where are we now?"
"How long time we arrived uncle?"
Dan pak Abraham menjawab seadanya dan kami yang mendengar beliau menjawab tertawa karena kacaunya bahasa beliau
Tak lama berselang setelah melewati macet dan drama lalu lintas akhirnya kami sampai juga di rumah pak Abraham.
Saat kami turun Serkan dan Defne kembali di gendong oleh pak Abraham, aku lalu mengulurkan tanganku kearah tuan muda mengajaknya berjalan bersamaku dan abang berjalan pula di sebelahku
Saat kami masuk, ternyata di dalam telah ada anak dan istri pak Tomo dan pak Binsar, melihat kami masuk, Pak Binsar dan pak Tomo segera mengangguk hormat kearah kami. Sementara anak pak Abraham yang besar beserta istri-istri para bodyguard segera menghampiri kami dan menyalami kami
"Who is he uncle?" tunjuk Defne
"I am the second son of Mr. Abraham, my name is Ariadi"
"Ariadi?" ucap kami berbarengan
Pak Abraham tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Saya terinspirasi dari nama bos besar, kan bos besar yang kami kenal namanya Ariadi"
Aku dan abang kompak saling senyum dan saling tatap penuh dalam
"Why mama and daddy smile?"
Kami lalu terkekeh menatap Defne
"This is a secret of your daddy honey"
Twins langsung memasang wajah penasaran dan segera melompat kearah daddynya
Cukup lama kami di kediaman pak Abraham. Abang memberi instruksi kepada ketiga bodyguardnya untuk terus mengawal dan menjaga pengganti abang, dan bahkan abang meminta pada ketiganya untuk sebulan sekali menengok ketiga anak kami di asrama mereka
"Tahun ini anak pertama kami kuliah di Malang, dan tugas menjaga dan melindunginya saya serahkan sama kamu Abraham, jaga anak saya"
Pak Abraham menganggukkan kepalanya. Pak Binsar dan pak Tomo kebagian menjaga dan melihat Adam dan Mikail di asrama
"Tahun depan kedua anak saya In Syaa Alloh berada dalam satu pondok pesantren, jadi kalian berdua bisa bergantian melihatnya. Untuk sekarang kalian harus melihat mereka di kota yang berbeda
__ADS_1
Keduanya menganggukkan kepala
"limadha yajib muraqabat awlad aleamu?" (mengapa anak-anak uncle harus diawasi?)
Wajah tuan muda Emir tampak bingung karena unclenya menyuruh ketiga bodyguard untuk menjaga Naura dan kedua adiknya
"Kita tidak tahu bahaya apa yang mengintai ketiga anak uncle, uncle hanya ingin mereka aman"
Emir diam mendengar jawaban Ozkan. Tapi dalam hati aku berbisik lirih jika bahaya terbesar ketiga anakku adalah ayah mereka. Aku tak ingin Andi kembali membuat ulah sehingga Naura kembali terpengaruh
...****************...
Menjelang pagi kami sampai di mansion. Setelah menidurkan twins di kamar mereka, aku dan abang masuk ke kamar kami. Aku segera masuk ke kamar mandi, menyiram tubuhku lalu setelahnya abang. Setelah kami sama-sama selesai mandi, kami melaksanakan kewajiban kami kepada Sang Pencipta
Baru setelahnya aku merebahkan tubuhku. Tanganku meraih handphone yang aku letakkan di atas meja, mendial nomor Naura mengajaknya video call
"Bunda sudah sampai?"
"Iya nak, Alhamdulilah"
"Kembar mana?"
"Tidur"
Kulihat Naura membawa piring, sedang sarapan sepertinya dia
"Adek mana?"
"Kemarin abis dari bandara langsung dianter ke pesantren. Kan sudah seminggu adek libur, nanti kena marah ustadz kalau libur terus"
Aku tertawa
"Ayuk ke Malangnya nanti diantar uwak sama nenek ya bun"
Aku mengangguk. Lalu kembali aku mewejanginya dengan banyak nasihat. Naura mendengarkan dengan seksama.
Setelah cukup lama mengobrol, aku melambaikan tangan pada Naura lalu memiringkan tubuhku, memeluk abang yang telah pulas
Satu bulan setelahnya, Adam tamat SMP, kali ini yang diberinya mahkota adalah kak Andri. Begitu besarnya cinta ketiga anakku pada kakakku itu, karena kak Andrilah ketiga anakku tidak kekurangan kasih sayang dari sosok ayah, karena kakakku jauh lebih menyayangi mereka ketimbang Andi ayah kandung mereka sendiri
Setelahnya, tepatnya dua minggu setelah itu, kedua orang tuaku dan kak Andri beserta Naura mengantarkan Adam ke pondok pesantren tempat Mikail belajar. Jadilah sekarang mereka belajar di pondok yang sama.
Tahun Ajaran baru kali ini akhirnya Mikail berdua dengan adiknya, dan setelah Adam resmi diterima di pondok pesantren, Naura segera diantar oleh umak bapakku dan Kak Andri ke Malang.
Ke Kampus yang sudah lama diinginkannya. Sebenarnya Naura lulus SMPTN, tapi dia sama sekali tidak berminat untuk kuliah di universitas negeri yang jelas-jelas akan memberinya beasiswa atas prestasi Tahfiz dan renangnya.
"Aku ingin masuk ke kampus swasta yang lebih banyak kegiatan keislamannya" itu kata Naura ketika dia kutanya apa alasannya memilih kampus swasta yang masih dalam satu yayasan dengan tempatku mengajar dulu
Alhamdulillah segala administrasi Naura semuanya berjalan lancar, Naura pun di carikan tempat kos yang tidak jauh dari kampus oleh kedua orang tuaku.
Naura dengan antusias menceritakan tentang kosannya padaku saat video call. Aku sangat terharu melihatnya akan hidup mandiri. Jika selama di asrama dia tinggal makan, tanpa memasak. Tapi sekarang dia harus masak sendiri, dan segala urusan mengerjakan sendiri
__ADS_1
"Ayuk bisa kok bunda, kan ayuk sudah besar" ucapnya saat aku menangis karena dia akan hidup sendiri