
Untunglah atm yang jauh dari tempat kami tadi, dengan segera kak Andri menepikan mobil dan Andi segera membuka pintu mobil, lalu dia dan Naura turun
"Bunda, ayuk janji, setelah ini jika bunda mau, bunda boleh suruh uwak ke bank untuk blokir atm ayuk" ucap Naura sebelum turun
Aku diam tak menjawab. Wajahku masih masam, sedikitpun aku tak menoleh padanya
Kulihat Naura masuk ke dalam atm dan Andi menunggu diluar. Entah berapa uang yang diambil Naura karena aku tak memperhatikannya saat dia menyerahkan uang pada Andi
Andi dan Naura berjalan kembali kearah mobil, Naura masuk, Andi berdiri sambil melongokkan kepalanya kedalam mobil
"Terima kasih Indah, aku janji, aku akan mengembalikan uang Naura yang ku pinjam"
Sedikitpun aku tak menoleh padanya
"Adek..?" sapanya pada Adam yang sejak dari tanpa respon
Adam hanya menoleh dan menganggukkan kepalanya
"Terima kasih kak Andri untuk tumpangannya"
Kak Andri hanya diam
"Jika sudah selesai, jalan kak. Aku tak mau ketinggalan pesawat. Anak dan suamiku sudah menungguku di mansion"
Kak Andri segera menghidupkan mobil, dan Andi mundur. Naura melambaikan tangan kearahnya
Mobil kembali berjalan dan kulihat Naura sangat serba salah
"Maafkan Naura ya bun"
Aku bergeming.
"Nggak apa-apalah sat Naura nolong Andi, toh itu juga bapaknya. Kasihan saja jika mereka sekeluarga jadi gembel di pulau Jawa ini"
Aku menarik nafas dalam mendengar jawaban kakakku
"Atm ayuk boleh uwak yang pegang, biar bunda yakin jika cuma sekali ini saja ayuk nolong ayah"
"Nggak usah, nanti jika kamu butuh apa-apa, uwak yang repot"
"Tapi wak?"
"Bunda pegang omongan kamu nak"
"Ayuk janji bunda"
Aku mengusap dadaku yang masih bergemuruh menahan marah
"Banyak yang tadi kamu berikan?"
"Dua juta bun"
Aku mendecak kesal
"In Syaa Alloh rejeki bunda bakal bertambah lagi karena menolong orang yang membutuhkan"
Aku tersenyum basi mendengar ucapan Adam
"Adek... adek" jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku
...****************...
Perlahan dan pasti mobil yang dikendarai kak Andri masuk kedalam kawasan bandara.
Kami segera turun dan berpamitan dengan kak Andri
"Nitip Mikail ya kak, tolong urusi sampai dia selesai, nanti In Syaa Alloh aku pulang ketika dia pelantikan"
__ADS_1
Kak Andri mengangguk dan mengusap kepalaku
"Salam untuk bule kembarmu"
Aku tertawa sambil menganggukkan kepalaku. Lalu kami semua masuk membeli tiket dan menunggu giliran penerbangan kami
Selama menunggu, aku menikmati detik-detik perpisahan dengan kedua anakku itu.
Naura yang tadinya canggung karena aku mencair jadi kembali manja
"Skripsinya bagaimana nak?"
"Lumayan bunda, sudah bab 3"
Aku menganggukkan kepalaku sambil mengucap hamdallah.
"Akmar atau Emir ada menghubungi?"
Wajah Naura berubah tegang begitu aku menyebut nama dua pria itu. Aku tersenyum sambil mengusap kepalanya
"Kamu masih kecil nak, dulu waktu bunda seumur kamu bunda belum sama sekali mikir nikah, yang ada di benak bunda saat itu, bunda harus kerja dan cari uang sendiri"
Naura diam dan aku lihat wajahnya masih tegang
"Ngomong-ngomong, seandainya ini yaa, di antara mereka berdua, ayuk milih siapa?"
"Bunda..., bunda apaan sih"
Aku terkekeh melihat wajahnya bersemu merah
"Kalau tuan muda Emir, kecil dia bunda tahu, karena bunda dekat dengan mereka bertiga, dia anak tertua, cucu kesayangan ummi"
"Seorang hafidz dan sekarang kuliah jurusan bisnis di Inggris, kota kelahiran daddynya"
"Anaknya sangat manis, ahh sebenarnya mereka bertiga manis semua, sayang keluarga, mencintai ummi dengan segenap jiwa mereka"
Naura tersenyum
Kembali wajah Naura bersemu, aku yakin antara mereka berdua telah terjadi sesuatu
"Kalau kamu mau mengikuti jejak bunda, bersuamikan orang luar" sambungku sambil terkekeh
"Ayuk belum kepikiran itu bunda, ayuk masih fokus kuliah, kan klinik bunda mau dibangun, nanti kalau ayuk menikah dengan Emir bagaimana dengan kliniknya?"
"Menikah?, cie cie yang udah mikir nikah..." goda Adam
Spontan aku dan Adam terkekeh, wajah Naura kembali merah dan dia langsung memukul bahu adiknya berkali-kali dengan gemas
Akhirnya penerbangan kedua anakku tiba, dengan berat hati aku harus melepas keduanya, memeluk mereka dengan erat.
Selang sejam berikutnya, penerbanganku pun akhirnya tiba. Dengan tenang aku duduk di dalam ruang ekonomi. Sebenarnya abang sudah memintaku untuk di first class, tapi untuk apa pikirku, toh tujuannya sama saja mau kelas ekonomi atau first class sama-sama tujuan King Abdul Aziz
...****************...
_Five Months Later"
Bulan Maret 2022
Penerbangan Indonesia telah dibuka seluruhnya, tidak ada lagi sistem isolasi atau sebagainya.
Aku yang diberitahu jika pengumuman anakku akan diadakan tanggal 23 Maret segera pulang ketanah air dua hari sebelumnya
Seluruh keluargaku aku boyong semua ke pulau Jawa untuk menyaksikan pelantikan anakku
Bahkan kak Jen aku datangkan juga. Setelah hampir empat tahun berpisah dengannya akhirnya aku kembali bisa bertemu dengan saudaraku itu
Pagi ini, kami semua telah siap menuju tempat diadakannya pelantikan. Ribuan keluarga calon Bintara memadati lapangan luas ini. Aku hari ini memakai kebaya yang khusus dibawakan kak Jen dari Pekanbaru. Kata Kak Jen sih ini pakaian adat Pekanbaru.
__ADS_1
Aku segera dibawa masuk oleh pihak panitia kedalam tenda khusus orang tua Bintara
Aku duduk bergabung dengan mereka semua, mungkin di dalam tenda ini bukan hanya aku sendiri yang tidak memiliki pendamping, karena abang tak bisa ikut hadir, karena kantor dan urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Lagian juga kami mengkhawatirkan Serkan dan Defne jika di bawa ke tanah air, karena covid masih mengintai
Upacara ceremony pelantikan sedang berlangsung, aku lihat beberapa petinggi TNI AD yang duduk di tempat khusus bagi mereka tampak berdiri ketika seorang prajurit maju
Di depan prajurit itu diletakkan sebuah mikrofon untuknya memberi sebuah sambutan
Prajurit itu memberi hormat
"Lapor, ucapan terima kasih, siap kerjakan!!"
"Yang terhormat kepala staff Angkatan Darat, Yang kami hormati, komandan pelantikan, tamu undangan serta rekan-rekan prajurit yang berbahagia, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua, pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Alloh Subhanahu Wata'ala, atas berkat dan RahmatNya lah kita bisa berkumpul mengikuti pelantikan Calon Bintara hari ini"
"Hadirin yang saya hormati, kami tidak menyangka akan bertemu langsung dengan bapak KASAD, hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami, sekaligus pengalaman yang tidak akan kami lupakan"
"Bapak Kasad, mohon izin bapak, bagi saya pribadi ini adalah kehormatan dalam diri saya mengingat saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana"
"Kedua orang tua saya telah berpisah sejak saya umur empat tahun, kemudian saya melanjutkan hidup dengan bunda dan dua saudara saya"
Air mataku langsung mengalir deras, dari suaranya aku yakin jika itu adalah Mikail.
"Tak lama setelah itu bunda saya pergi jadi TKW ke negeri Arab selama bertahun-tahun, dan saya dengan kedua saudara saya dititipkan dengan nenek dan uwak saya"
"Ketika kecil saya bercita-cita ingin menjadi Tentara, dan itu selalu menjadi motivasi untuk saya"
"Setelah usia sekolah, saya disekolahkan di sekolah madrasah hingga akhirnya saya lulus dari sebuah pesantren. Selama di pesantren saya terus mengasah tahfidz saya, tujuan saya tak lain agar saya bisa bertemu dengan bunda saya di Arab"
"Dalam masa sedih karena ditinggal bunda keluar negeri, saya terus bertekad, saya harus jadi orang yang berguna dan bisa membanggakan bunda saya"
"Saya tak ingin mengecewakannya karena beliau telah membanting tulang menafkahi kami bertiga"
"Terkadang hati saya iri melihat teman-teman saya yang memiliki keluarga lengkap, hati saya sedih karena cuma saya yang tidak pernah dikunjungi orang tua karena selalu nenek dan uwak yang mengunjungi"
"Bunda saya pernah kembali ke tanah air, tapi cuma sebentar, dan itu sudah cukup untuk saya"
"Saya bertekad untuk jadi TNI karena saya ingin membuktikan pada bunda saya, bahwa harapan bunda saya, pada saya, bisa saya wujudkan. Tekad saya bertambah kuat ketika orang-orang mencemooh kami"
"Bahkan ketika ingin mendaftarkan diri jadi tentara, saya sangat takut dan malu, malu jika cemoohan orang-orang pada kami itu benar"
"Tapi saya bertekad untuk membuktikan pada bunda dan keluarga besar saya, bahwa saya bisa. Dan membuktikan pada semua orang bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama untuk sukses"
"Dan mencapai masa depan yang cerah selama ada usaha dan kemauan. Tidak ada hal yang tidak mungkin. Nothing is impossible"
"Pada bunda saya tercinta, tidak ada lagi kata tulus lagi yang dapat saya sampaikan sebagai rasa terima kasih atas perjuangan dan pengorbanan serta doa-doanya selama ini"
Seorang anggota berpakaian TNI persis seperti bapak-bapak yang ada di dalam tenda, menghampiri saya dan membawa saya berjalan kearah anak tersayang ku yang saat ini berdiri tepat di tengah-tengah lapangan.
"Tiada kata lagi yang indah selain surgamu bunda"
Mikail langsung bersujud di kakiku begitu aku berdiri di sampingnya, air mataku yang sejak tadi mengalir, kini makin deras
"Bapak Kasad yang kami muliakan, saya menjadi TNI untuk mewujudkan mimpi dan harapan bunda saya, bagi saya ini adalah suatu berkah dan mukjizat Alloh melalui tangan bapak"
"Bapak ibu yang kami muliakan, perkenankan kami menghaturkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada bapak Kasad, kepala diklat dan seluruh pengasuh yang telah memberikan sumbangsihnya kepada kami semua, hingga kami semua dapat dilantik"
"Hadirin yang kami hormati demikian pesan dan kesan dari kami, semoga Alloh Subhanahuwata'ala memberikan Rahmat dan hidayahNya kepada kita semua dalam melanjutkan pengabdian kita kepada bangsa dan negara, sekian dan terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Kembali Mikail mencium tanganku dan bersujud di kakiku, kulihat Kasad turun dan menghampiri kami.
Mikail memberi hormat padanya, lalu beliau memeluk Mikail dan menyalaminya.
Lalu beliau berpindah menyalamiku. Lalu aku dibimbing Mikail kembali ketempat dudukku.
Selesai acara ceremony itu kami para orang tua prajurit langsung menyerbu lapangan mencari anak kami masing-masing.
__ADS_1
Umak bapakku segera memeluk Mikail, begitupun dengan kedua kakakku, kami semua meneteskan air mata
Momen haru kembali menguras emosiku ketika ketiga anakku berangkulan.