Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Jiwaku Makin Tenang


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak tidur sayang?"


Aku menggeleng dan terus mengeratkan pelukanku pada abang


"Apa masih ada yang mengganggu pikiranmu?"


Aku kembali menggeleng, dan abang menegakkan tubuhku yang tadi didekapnya, memandang tak percaya


"Aku baik-baik saja abang, aku hanya menghitung nikmat yang Alloh berikan padaku hingga detik ini, tapi ternyata aku tak mampu menghitungnya"


Abang tersenyum dan menangkupkan tangannya ke wajahku


"Salah satu yang harus kau syukuri adalah memiliki suami setampan dan sebaik abang"


Aku terkekeh dan melepaskan tangannya dari wajahku, dan abang juga ikut terkekeh dan merengkuh bahuku


Lalu kami berdua bernostalgia bagaimana awal pertemuan kami, tawa lirih berderai dari mulut kami berdua ketika kami mengingat bagaimana dulu kami kencan pertama kali di Peak Hotel Pekanbaru


"Sumpah, abang tidak menyangka jika abang jatuh cinta pada istri orang"


Kembali aku terkekeh, dan aku sontak terdiam ketika abang berkata bagaimana saat itu aku menikmati pelukannya


Abang makin terkekeh ketika disadarinya jika aku malu


"Abang yakin saat itu jika kamu tidak mencintai abang tak mungkin kamu mau dipeluk abang, iya kan?"


Dengan cepat aku memukul lengan abang dengan wajah cemberut


"Ihhh malu dia..." abang makin menggodaku


Aku cemberut lalu abang menarik ku kembali ke pelukannya


"Sebenarnya yang membuat abang iri ketika kita di Pekanbaru adalah Jennifer"


"Loh kenapa dengan kak Jen?"


"Habisnya kamu bisa dekat dengannya dan menjaga jarak pada abang, saat bersama Jennifer kamu bisa tertawa lepas bahkan berani memeluknya, lah ketika dengan abang, jangankan mau memeluk, menatap abang saja kamu tak berani"


Aku kembali merasa malu dan menyembunyikan wajahku di dada abang


"Terima kasih ya bang..." lirihku


Abang terus mengelus kepalaku sambil menciumi puncak kepalaku


"Abang juga berterima kasih karena kamu telah menjadikan abang sebagai suami mu dan terima kasih banyak karena telah memberikan abang kesempatan menjadi seorang Daddy dan juga sekaligus menjadi Papa"


Aku mengangguk dan terus menekan kepalaku di dadanya


"Jika kita ingin menghitung berapa banyak nikmat yang Alloh beri pada kita, niscaya itu tak akan bisa"


وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ


"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. An- Nahl ayat 18)


Aku mengangguk setuju dengan ucapan abang


وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ‏


Wa iz ta azzana Rabbukum la'in shakartum la aziidannakum wa la'in kafartum inn'azaabii lashadiid


"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."


Aku sontak mengangkat kepalaku kearah Serkan dan Defne yang tahu-tahu telah muncul di belakang kami


"Hei, sejak kapan disini?" tanya ku sambil mengulurkan tanganku kearah si kembar


Defne langsung maju, tapi bukan mengambil tanganku melainkan langsung duduk di pangkuan abang


Abang melirikku dan mengangkat alisnya berkali-kali seakan mengejekku, aku langsung memonyongkan bibirku.


Tapi ternyata Serkan ikut maju dan seakan tak mau kalah dengan saudari kembarannya, Serkan duduk di pangkuanku


"Daddy sama mama cerita apa?, kok tidak tidur?"


Aku tersenyum, dan mengusap rambut kecoklatan Serkan


"Cerita bagaimana dulu daddy ketemu sama mama"


"How much love Daddy with mama?" Abang memiringkan bibirnya mendengar pertanyaan Defne


"Daddy doesn't know, what daddy knows is, daddy loves your mom very much and that will continue until tomorrow and the next day again"

__ADS_1


Defne tersenyum dan menggigit tangan abang dengan gemas


Abang refleks menjerit karena keisengan Defne


"Forever you love Mama, Dad?"


Kembali abang mengangguk dan Defne kembali menggigit tangan abang


Aku menggeleng kearah abang karena sepertinya abang tidak peka dengan kecemburuan Defne


"And Daddy love you so much too, my sweety"


Defne terkekeh dan segera membalikkan badannya mencium wajah abang


Abang melirik ke arahku dengan mengerlingkan matanya


Dan Serkan terkekeh sambil ikutan menciumiku


"Your sister, jealous" bisikku ke telinga Serkan yang makin membuat anak lelakiku itu terkekeh


Mendengar suara tawa kami, dua bodyguard yang sedang istirahat terbangun dan kembali berdiri siaga


"astarih maratan 'ukhraa ، 'iidhan ahtajna 'iilaa 'ayi shay' yumkinuni alhusul ealayh binafsi" (Istirahatlah lagi, jika kami butuh sesuatu, saya bisa mengambil sendiri)


"Bikhayr sayidati 'iidha kan hadha hu alhal , lakina sayidati la tataradad fi 'iiqazina 'iidha kunt bihajat 'iilaa 'ayi shay'"


(Baik nyonya jika begitu, tapi nyonya jangan sungkan membangunkan kami jika membutuhkan sesuatu)


Aku mengangguk sementara abang menatap serius ke arahku


"Kenapa kok lihatnya kaya gitu?"


Abang tersenyum


"Teruslah rendah hati ya sayang, karena itu yang makin membuat abang kagum sama kamu"


Aku kembali tersenyum dan sepertinya anak kembar kamu mulai bosan, jadilah mereka berjalan berkeliaran di dalam pesawat


Bahkan teriakan tertawa dan kadang ribut mereka menjadi hiburan tersendiri buat kami


Lamat-lamat mataku meredup, apalagi karena abang terus mengusap-usap kepalaku, hingga akhirnya aku benar-benar terlelap


Melihat istrinya terlelap, Ozkan tanpa sungkan segera mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya kedalam kamar, menyelimuti dan kembali mengusap-usap kepala istrinya


Lalu Ozkan berjalan mencari kedua anaknya yang ternyata sedang bermain di ruang khusus


Karena kedua anaknya masih asyik bermain, Ozkan lebih memilih masuk kedalam kokpit


Melihat Ozkan, kedua pilot dan copilot yang bertugas menoleh dan tersenyum


"Go a head, I just want to see your work"


Kedua pilot dan copilot kembali menganggukkan kepala mereka lalu abang berdiri di belakang mereka, ikut menatap ke depan


"Still a long?"


"Yes sir, about five hours"


Ozkan mengangguk-anggukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan


"If you are sleepy, you can sleep again sir"


"Okay, be careful, because you brought my wife and my childrens"


"Yes sir!"


Ozkan lalu menepuk bahu kedua pilot dan kopilotnya, lalu meninggalkan kokpit dan berjalan kembali keruang tengah pesawat


"Serkan, Defne..." Ozkan memanggil karena tak dilihatnya anaknya di ruang tempat mereka bermain tadi


"Yes Daddy, we are here"


Ozkan berjalan kearah ruangan lain dan mendapati kedua anaknya sedang menonton televisi


"Are you not sleepy?" tanyanya ikut duduk pula di sofa bersama kedua anak kembarnya


"Not yet" jawab keduanya kompak


"Okay, if you are sleepy, go to bed, Daddy will go to bed, do you want to be guarded by bodyguard?


"No, daddy. We saw them sleeping"

__ADS_1


"Ok, See u honey, be careful"


"Bye daddy"


Lalu keduanya kembali fokus menatap layar televisi, bahkan sesekali keduanya berebutan remote


Sedangkan Ozkan yang masuk ke kamar segera masuk kedalam selimut yang sama dengan istrinya


Aku yang merasa ada sesuatu yang menimpa perutku segera membuka mata, dan tersenyum ketika melihat abang melingkarkan tangannya di atas perutku


"Oh, I am so sorry" wajah abang langsung merasa bersalah ketika dilihatnya aku terbangun


Aku memiringkan tubuhku menghadapnya dengan mengedip-ngedipkan mataku


"Abang ngantuk?"


Abang menggeleng


"Kok kesini?"


"Pengin peluk istri abang saja"


Aku terkekeh dan ikut memeluknya erat


"Kenapa abang mencintaiku?"


"Ini pertanyaan konyol apa?"


"Bukan konyol tapi serius"


Abang terkekeh


"Kenapa ya?, mungkin karena abang dulu merasa bahwa Andi manusia bodoh"


Aku langsung bangun dan menyandarkan tubuhku ke pinggir ranjang


"Maksudnya?"


"Iya karena Andi tidak melihat betapa cantik istrinya di mata abang"


Aku terkekeh lalu memukul bahunya


"Makanya jagalah wanitamu baik-baik, mungkin dia tidak cantik lagi di matamu, tapi dia cantik di mata orang lain" jawabku


Abang langsung tertawa kencang dan memelukku dengan gemas


"Benar kan bang?"


"Iya benar" jawab abang masih sambil tertawa


Lalu kami berdua kembali bercerita sambil rebahan


"Sayang?"


"Hem....?"


"Hati kamu sudah benar-benar plong kan sekarang?"


"He em, kenapa, ragu jika aku sudah normal dan tidak depresi lagi?"


Abang tersenyum dan membelai anak rambut yang menjuntai di pelipis ku


"Ada tatu orang lagi yang belum kamu temui ketika kita di Indonesia kemarin?"


"Siapa?" aku menatap bingung pada abang


"Selingkuhannya Andi"


Aku terkekeh


"Aku sudah tak mau melihat dia bang, dan aku tak mau tahu bagaimana kehidupan dia sekarang, aku tak mau kembali merusak mentalku dengan menemui wanita itu"


"Sejak Andi lebih memilih dia ketimbang aku, saat itu aku bersumpah untuk tidak akan melihat wajah perempuan yang telah menghancurkan hidupku dan juga hati ketiga anakku"


"Aku sangat membencinya, mungkin level benci dirasa kurang untuk ku ekspresikan pada wanita itu, karena dia tega merenggut kebahagiaan kami"


"Tapi sepenuhnya bukan kesalahannya tapi juga salah Andi yang tak sadar jika dia tak bisa bermain-main dengan karma"


"Jadi apapun yang terjadi pada Tina bukan urusanku lagi, karena secara tak langsung Tina telah membantuku membalas sakit hati pada Laras"


Lalu aku tertawa terbahak ketika aku mengingat jika mas Rudi direbut Tina dan akhirnya Laras merasakan sakit seperti yang pernah ku alami

__ADS_1


"Sekarang Tina mau hidup, mau mati bukan urusanku lagi, aku cuma berharap jika dia bertobat dan tidak jadi pelakor lagi"


__ADS_2