
Sekarang di kamar tinggal aku dan Linda, sedangkan bu Sumila sudah berangkat ke Arab dan Yanti sudah berangkat ke Malaysia.
Jadi setiap malam, kamar hanya berisikan kami berdua. Kami sering bercerita tentang kehidupan kami, Linda rupanya sama sepertiku, sama-sama meninggalkan anak yang masih balita, tapi bedanya dia bersuami, sedangkan aku janda.
Linda pergi jadi tkw karena himpitan ekonomi, saat menceritakan tentang anak, maka kami berdua akan menangis dan sama-sama menguatkan.
Linda sering menggodaku tentang ketampanan abang, dan itu tentu saja membuatku tersipu malu.
Seperti kemarin saat dia bertanya tentang abang padaku.
"By the way kamu tahu siapa dia? Maksud saya pekerjaannya apa, rumahnya dimana, kayanya dia bukan orang Indonesia deh" ucap Linda yang membuatku sadar jika aku memang tidak tahu siapa abang sebenarnya.
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Dan Linda hanya memperhatikan jika teman sekamarnya ini diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Bukan sok menasehati atau apa, sebaiknya kamu hati-hati, aku tidak mengharapkan kamu terluka untuk kedua kalinya" ucapnya sambil menatap dalam mataku.
Aku menarik nafas dalam, memang benar apa yang dikatakan Linda, aku tidak boleh terburu-buru.
Tapi hatiku berubah sejak minggu lalu, setiap hari adalah hari yang sangat panjang bagiku untuk menantikan week end.
Sama halnya seperti sore ini, jam tujuh aku sudah rapih. Karena memang tiap malam minggu abang akan datang.
Dan tepat sekali dugaanku, lewat lima belas menit pintu kamar kami diketuk, dan ketika aku membuka pintu, abang telah berdiri dengan senyum manisnya.
Dapat aku lihat jika mata Linda terperangah dan itu membuatku menyenggol bahunya.
Linda tergagap begitu menyadari jika dirinya ketahuan melongo takjub memandang abang
"Hai" sapa abang sama Linda
Linda tersenyum canggung, ini adalah kali pertama untuk dirinya melihat abang dari dekat.
"Silahkan masuk" ucap Linda
Abang menoleh kepadaku, aku tersenyum padanya.
"So sorry, kami harus pergi sekarang. Mungkin lain kali" jawab abang pada Linda
"Yuk Ndah" ajak abang
Aku lalu berpamitan dengan Linda. Baru setelahnya aku dan abang bergandengan tangan berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di dalam
Mataku langsung berbinar bahagia saat aku melihat ada pak Abraham yang berdiri dengan posisi sigap di dekat mobil. Refleks pegangan tanganku pada abang aku lepas dan aku berlari kecil kearah pak Abraham.
Ariadi yang melihat ulah Indah hanya bisa mengangkat kedua tangannya.
Melihatku berlari kecil kearahnya, pak Abraham langsung memasang wajah ramah dan tersenyum padaku
"Maa Syaa Alloh akhirnya kita bisa bertemu lagi pak" ucapku bahagia sambil menjabat tangan beliau dan meletakkannya di keningku
"Sayakan sudah pernah bilang mbak, jika diberi Tuhan umur panjang kita pasti bertemu lagi"
"Eh hemm" abang berdehem ketika sampai di dekat kami yang langsung membuat wajah pak Abraham jadi tak enak.
"Akhirnya aku bisa ketemu pak Abraham lagi bang" ucapku sumringah
Ariadi memasang wajah datar, sedangkan wajah pak Abraham menegang
"Aduh, bakal kena masalah ini" batinnya dalam hati
"Buka mobil!" ucap abang dingin
Aku langsung menghentikan senyumku. Dan cemberut menatap abang
Tanpa menunggu perintah dua kali, pak Abraham langsung membukakan pintu mobil lalu kami masuk.
Setelah kami duduk, kembali pak Abraham menutup pintu, dan beliau berjalan memutari mobil, lalu membuka pintu depan, dan segera menjalankan mobil dengan perlahan
"Saya sudah hampir dua bulan di sini, kok bapak tidak pernah nemuin saya" ucapku pada pak Abraham
Wajah Pak Abraham makin menegang. Sedangkan Ariadi hanya mengusap dagunya mendengar Indah berbicara akrab pada bodyguardnya tersebut
__ADS_1
"Saya sibuk mbak" jawab pak Abraham tegang
"Abang juga sibuk, tapi abang bisa nemuin saya, ya kan bang?" tanyaku manja
Abang hanya tersenyum segaris. Dan aku kembali memasang wajah cemberut.
"Jalankan mobil dengan benar, jangan banyak ngomong" ucap abang dingin
Aku memonyongkan bibirku. Melihat itu abang segera meraih tanganku dan menggenggamnya.
Pak Abraham melihat melalui spion, dia tersenyum simpul melihat ulah bosnya yang cemburu padanya
"Lihat apa kamu?!" bentak abang
Dengan tergagap pak Abraham kembali fokus menatap kedepan.
"Abang nggak boleh gitu" ucapku tak suka
"Abang tidak mau ada lelaki lain yang menatap kamu apalagi menyukai kamu, kamu itu milik abang" ucap abang serius sambil memiringkan posisi duduknya dan menghadap kearahku sambil masih dengan menggenggam erat tanganku
Mendengar itu pak Abraham terbatuk sedangkan aku langsung menatapnya dengan sendu. Tentu saja hal ini membuatku melayang, jauuhhhhh sekali hingga keawan, hehehe.
Abang langsung memiringkan kepalanya demi mendengar pak Abraham yang terbatuk
"Maaf bos, tenggorokan saya gatal, sumpah!" jawab pak Abraham takut-takut
Abang mendengus kesal. Sepanjang perjalan abang bersikap sangat manis padaku. Tak henti-hentinya dia menggenggam tanganku bahkan sekali-kali menciumnya.
Akupun jadi manja sama abang, aku meletakkan kepalaku di pundaknya dan menatap wajahnya dengan penuh cinta.
Aroma maskulin dari tubuh abang sangat membuatku nyaman. Hingga aku betah meletakkan kepalaku di pundaknya
...****************...
"Jaga diri baik-baik ya, seminggu lagi abang akan kesini" ucap abang saat mengantarku sampai depan pintu kamar
Aku tersenyum manis kearahnya.
"Aku juga" jawabku lirih
Abang langsung menarikku kedadanya. Aku memeluk erat tubuh abang seakan tak mau berpisah.
"Abang pulang ya" ucapnya sambil melepas pelukan pada tubuhku
Aku mengangguk
"Salam ya bang sama pak Abraham" kataku
Abang langsung memasang wajah datar
Aku langsung berjinjit dan melingkarkan kedua tanganku di lehernya
"Aku sangat sayang sama abang, cuma abang yang ada dalam hati aku" ucapku mendongak menatap matanya
Dapat aku lihat ada pancaran bahagia di matanya saat aku mengucapkan itu.
Melihat gelagat nakal abang yang hendak menarik tengkukku, aku segera melepas tanganku di lehernya.
"Pulanglah, sudah malam. Aku mau masuk, kasihan Linda dari tadi sendirian" ucapku sambil tersenyum menggodanya
Ariadi mengusap dagunya sambil tersenyum
"I love you more" ucapnya
"Me too" jawabku
Lalu abang pergi dan aku segera mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka, Linda dengan sumringah langsung menarik tas belanjaan yang aku tenteng
"Ini buat aku kan?" tanyanya sambil mengeluarkan isi di dalamnya
"He eh" jawabku sambil menutup pintu
"Wah, ini makanan mahal Ndah. Kamu beruntung sekali" ucapnya sambil menyuap makanan yang tadi abang beli di restoran.
__ADS_1
Aku masuk dan membasuh mukaku lalu aku duduk di dekat Linda yang sedang makan dengan lahapnya.
Aku tersenyum-senyum sendiri.
"Woy, kesambet kamu?" kata Linda demi melihat Indah yang tersenyum sendiri
Aku segera meninju lengannya.
"Nggak sopan" jawabku
Linda tidak memperdulikan aku, dia terus saja mengunyah makanan yang memang cukup banyak abang beli. Ada tiga jenis menu makanan yang abang beli tadi, dan semuanya memang menggugah selera
...****************...
Malam Kamis
Pintu kamar kami diketuk saat aku dan Linda bercerita sambil tidur-tiduran. Aku segera berdiri mencari hijab dan berjalan membukakan pintu
Saat pintu terbuka, aku dapati ada seorang lelaki yang berdiri di luar.
"Iya?" ucapku
"Kami ada perlu sebentar dengan anda" jawab lelaki itu
"Sama saya? anda siapa ya?" tanyaku heran karena aku tidak mengenal orang tersebut
"Sapa Ndah?" teriak Linda dari dalam
"Tamu" balasku
"Bisa kita ngobrol sebentar?" ucapnya
Aku menoleh kanan kiri.
"Jangan khawatir, cuma sebentar" ucapnya
Aku mengangguk
"Sebentar, aku pamit dulu dengan teman sekamarku" kataku
Lelaki itu mengangguk. Linda mengikuti langkahku keluar, dan dia melihat dengan sedikit curiga kearah lelaki itu
"Janji cuma sebentar ya" ucapnya pada lelaki itu
"Saya janji"
Lalu aku mengikuti langkah lelaki itu menuruni tangga menuju kehalaman.
Lelaki itu berjalan kearah mobil yang terparkir di halaman. Begitu kami sampai, dia langsung membuka pintu mobil. Dapat kulihat jika di dalam ada seorang perempuan cantik dengan rambut coklat kemerahan. Ciri khas wanita luar begitu kentara dari wajahnya, hidung mancung dan wajah bulenya tidak bisa membohongi jika dia bule tulen
"Silahkan masuk" ucapnya
Dengan ragu aku mengikuti perintahnya.
Aku duduk tepat di sebelah wanita itu. Sedikitpun dia tidak menoleh padaku. Tatapannya tetap lurus kedepan
Lelaki yang tadi menyuruhku masuk, ikut masuk juga dan duduk di belakang kemudi
Tubuhnya dimiringkan kebelakang melihat kearah kami yang saling diam
Dadaku berdetak kencang. Rasa takut menderaku. Bisa jadi kedua orang ini mau mencelakai ku
"Perkenalkan saya Rio, saya seorang detektif" ucapnya
Aku tersenyum kaku kearahnya
"Dan ini Nyonya Hatice Kaderimin" ucapnya lagi sambil menoleh kearah perempuan cantik di sebelahku.
Perempuan cantik yang memakai dress hitam dengan neck v melirik sekilas kearahku
"Saya sudah cukup lama mengikuti anda" ucap Rio
Aku terkaget mendengar pengakuannya. Keningku berkerut. Aku tidak mengenal mereka berdua, dan tiba-tiba mereka bilang jika mereka sudah cukup lama mengikutiku, ini apa maksudnya??
__ADS_1