
Jam tujuh pagi Andi sudah bangun, dilihatnya istrinya, Tina masih terlelap.
Dia menghembus nafas kesal. Jangankan sarapan, jam segini saja dia masih tidur, gerutunya.
Segera disibakkannya selimut dan turun dari ranjang. Masuk kekamar mandi dan menyiramkan air keseluruh tubuhnya.
"Bangun Tin, aku mau kekantor" ucapnya sambil mengganti pakaian
"Hemmm" hanya itu jawaban Tina
"Bangun, siapkan aku kopi dan sarapan" suara Andi mulai meninggi
"Buat sendiri, jangan manja, biasanya juga buat sendiri kan?" jawab Tina sambil menarik selimut lagi
"Tiap hari seperti ini, itu tugas kamu sebagai istri"
"Dalam kulkas masih ada mie instan, masak mie aja lah, aku masih ngantuk"
"Aku hampir tiap pagi sarapan mie, masa mie terus, sekali-kalilah kamu itu bangun pagi, masak"
Dengan mata ngantuk Tina duduk, menguap lebar dan menatap kearah Andi dengan lesu
"Aku masih ngantuk" jawabnya manja
"Kita itu sudah hampir empat bulan menikah, tapi sekalipun kamu itu tidak pernah bangun pagi dan membuatkan sarapan"
Wajah Tina langsung berubah masam, dengan malas dia turun dari ranjang lalu masuk kekamar mandi membasuh mukanya.
Dengan menghentakkan kaki dia berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan telur.
Segera dia menggoreng telur dan melihat isi rice cooker, ada sisa nasi sedikit. Diambilnya piring dan mengisi dengan sisa nasi kemarin.
Andi yang mendengar suara srengg dari kuali panas dan mencium aroma telur goreng, langsung menuju dapur.
Wajahnya langsung ditekuk ketika dilihatnya isi piring.
"Ini yang kamu berikan sama aku?" ucapnya dingin
Dengan malas Tina yang sedang mencuci piring menoleh
"Makanlah dulu itu, aku belum masak" jawabnya
Andi mendengus kesal. Segera diambilnya sepatu di rak, lalu pergi meninggalkan dapur
" Nggak jadi sarapan?" teriak Tina
Andi tidak menjawab, dia ngeloyor pergi. Selesai menyemir sepatu, segera dia mengambil kunci mobil lalu memanaskan mesin
"Yang nggak jadi sarapannya?" tanya Tina
"Makan saja oleh kamu!" jawab Andi dengan suara marah
Tina mencibirkan bibirnya, dengan manja dia menggelayut di pundak Andi.
Andi segera membuang tangan Tina lalu berjalan keluar
"Aku pulang telat, kalau kamu mau tidur, tidur saja duluan nanti" ucap Andi sebelum naik kemobil
"Eh tunggu, nanti aku mau main sama teman-teman aku, bagi duit dong?" ucapnya sambil mengulurkan tangan masih dengan nada manja
Wajah Andi langsung cemberut
"Jangan terlalu boros, gaji saya habis kamu foya-foyakan"
Tina langsung memasang wajah masam. Andi segera masuk kedalam mobil dan meninggalkan istrinya yang menggerutu
"Perempuan borosnya minta ampun, dulu Indah aku kasih enam ratus ribu tidak pernah mengeluh, lah ini aku kasih enam juta sebulan kok masih kurang" gerutu Andi di dalam mobil menuju kekantornya
Hpnya berdering, Andi segera mengambil hp dalam saku celananya.
Pak Tobias
__ADS_1
Kening Andi berkerut, tumben sepagi ini pak Tobias sudah menelpon.
"Ya Pak?" jawab Andi
"Saya sudah ada di kantor, kamu dimana?" ucap suara pak Tobias di seberang
Andi langsung terbelalak kaget
"Jalan pak, iya sebentar lagi saya sampai" jawabnya gugup
Andi langsung melajukan mobilnya dengan kencang. Dua puluh menit kemudian mobilnya sudah terparkir di kantor.
Didapatinya jika memang mobil avanza silver berplat BD sudah terparkir di parkiran.
Jam ditangannya menunjukkan pukul delapan kurang lima menit. Karyawan sudah datang semua. Terlihat mereka sibuk menyusun barang ke dalam mobil box, ada juga yang sibuk mengeluarkan mobil box dari parkiran belakang, bahkan ada yang sibuk mengecek nota penjualan.
Andi segera turun dari dalam mobil, berjalan melewati karyawan yang menatap sekilas kepadanya.
"Tunggu bos" teriak Afdal ketika Andi melewati ruangannya.
Andi berhenti dan menoleh.
"Pak Tobias kemari kira-kira ada apa ya?" tanyanya
"Mana saya tahu, saya saja di jalan waktu beliau menelpon" jawab Andi
"Atau jangan-jangan ada masalah urgent?
Andi mengangkat bahunya lalu berjalan meninggalkan Afdal. Andi mengetuk pintu sebelum dia masuk kedalam ruangannya.
Terdengar suara pak Tobias yang menjawab sebelum dia membuka pintu tersebut.
"Maaf pak, saya telat" ucap Andi
Dia segera menyalami pak Tobias, lalu duduk di kursi saling berhadapan.
Pak Tobias tanpa ekspresi menatap kearah Andi yang tersenyum.
Pak Tobias membetulkan posisi duduknya yang tadi bersandar.
"Cek faksimile" ucapnya
Andi tanpa bertanya lagi langsung berdiri dari kursinya dan segera berjalan menuju mesin faksimile yang terletak tak jauh dari mejanya.
Wajahnya menegang begitu membaca tulisan yang tertera di kertas yang ada di tangannya. Dia mengusap wajahnya lalu memandang kearah kertas dan pak Tobias bergantian
Dengan degup jantung yang berpacu cepat Andi segera kembali kekursi di depan pak Tobias
"Ini maksudnya apa pak?" tanyanya seakan tak percaya
"Kamu sudah bacakan?" jawab Pak Tobias masih dengan ekspresi dingin
"Salah saya apa pak, kenapa perusahaan memecat saya? Andi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap kasar wajahnya
"Apa kamu lupa bapak Andi, jika empat bulan yang lalu saat kami kesini, meminta laporan anda secara langsung, di sana kami menemukan banyak kejanggalan pada laporan bapak"
Andi terhenyak.
"Jumlah barang masuk, barang keluar, barang yang ada, nominal uang dilaporan dengan nominal uang setoran itu jauh sekali perbedaannya. Dan itu sudah anda lalukan selama dua tahun ini"
Wajah Andi memucat
"Anda bisa membuat laporan begitu cantik, tapi anda lupa jika perusahaan jauh lebih pintar dibanding anda"
Selagi pak Tobias berbicara seperti itu, ada suara ketukan pintu
"Masuk" jawab pak Tobias
Wajah Andi kian memucat ketika tiga orang anggota polisi masuk
Salah satu dari mereka memberi hormat kepada pak Tobias sebelum akhirnya mereka bersalaman.
__ADS_1
Ketiga polisi tersebut ikut duduk di kursi. Keringat dingin Andi mulai muncul di keningnya.
"Ini suratnya pak" ucap seorang polisi sambil menyerah amplop putih ketangan pak Tobias
Pak Tobias menerima amplop tersebut, membacanya lalu menyerahkan kembali kertas itu ketangan anggota polisi tadi
Degup jantung Andi kian cepat ketika polisi tersebut menatap kearahnya
"Ini surat penangkapan saudara" ucapnya sambil memberikan amplop tersebut ketangan Andi.
Dengan tangan gemetar Andi menerima amplop tersebut membaca lalu meletakkannya dengan tanpa daya
"Anda kami tangkap sesuai dengan pengaduan atas tindak pidana penggelapan uang"
Andi makin terhenyak. Dia tidak bisa berfikir jernih lagi. Wajahnya kian memucat dan degup jantungnya kian cepat
"Mulai hari ini, pihak perusahaan memberhentikan kamu secara tidak hormat bapak Andi Wijaya, dan semua barang inventaris perusahaan seperti mobil akan pihak perusahaan ambil juga, dan yang paling penting, anda diwajibkan mengembalikan nominal uang sebesar dua ratus juta yang anda gelapkan dan juga anda harus mempertanggungjawabkan perbuatan anda kepada pihak kepolisian" ucap pak Tobias sambil mengulurkan tangan meminta kunci mobil pada Andi
Mata Andi memerah dan berkaca-kaca. Dengan berat hati dikeluarkannya kunci mobil yang ada dalam tas kerjanya lalu memberikannya ketangan pak Tobias.
"Ayo, bapak ikut kami kekantor" ucap polisi tadi
Andi tidak menjawab, dia diam tanpa ekspresi saking shocknya.
Lalu seorang polisi yang sedari tadi diam, segera memegang tangan Andi, memutarnya kebelakang dan memasangkan borgol ketangannya.
"Kami permisi pak Tobias, kami tunggu anda di kantor" ucap polisi tadi
Lalu mereka keluar dengan membawa Andi yang tangannya sudah terborgol.
Rian yang saat itu sedang mengepel di lorong kantor langsung menghentikan aksinya ketika dilihatnya iring-iringan polisi yang membawa Andi.
Andi menundukkan kepalanya saat semua karyawan menatap heran padanya yang saat itu digiring keluar kantor dengan tangan terborgol
Mereka tampak saling berbisik satu sama lain
"Mau dibawa kemana pak Andi pak?" tanya Afdal yang berlari dari ruangannya
Ketiga polisi tersebut tidak menghentikan langkahnya, mereka terus saja berjalan dan membawa masuk Andi kedalam mobil patwal polisi.
Afdal segera memutar tubuhnya, berlari masuk dan menaiki tangga menuju keruangan Andi yang masih ada pak Tobias di dalamnya
Setelah mengetuk pintu, Afdal segera masuk dan mendapati pak Tobias sedang menatap layar monitor laptop yang ada di atas meja
Pak Tobias memberi kode untuk Afdal segera duduk.
Afdal duduk di kursi yang bersebelahan dengan pak Tobias tanpa bersuara.
Matanya melotot tak percaya ketika dilihatnya apa yang sedang pak Tobias saksikan.
"Bersihkan semua ruangan kotor ini!" suara pak Tobias terdengar geram
"Baik pak" Afdal mengangguk cepat.
Dengan geram pak Tobias menutup laptopnya lalu memandang kewajah Afdal
"Kalian dimana saat mereka melakukan hubungan terlarang ini disini, hah?" bentaknya
Wajah Afdal menegang. Dia yang tidak tahu menahu akhirnya kena getah dari ulah Andi yang mesum
"Kami tidak tahu pak kalau mereka melakukan ini di ruangan ini" jawab Afdal takut-takut
"Besok akan ada kepala cabang baru yang memimpin di sini, dan saya minta kalian semua, rombak tata ruang ini. Saya tidak ingin bos besar tahu perbuatan bawahanku"
"Baik pak" jawab Afdal masih dengan rasa takut
"Kamu ikut saya kekantor polisi, kamu juga harus memberikan pernyataan tentang kemana larinya uang perusahaan yang digelapkan oleh Andi"
Afdal terhenyak. Dia tidak menyangka jika Andi, bos sekaligus temannya itu melakukan hal serendah dan sekotor ini. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Yang dilihatnya tadi benar-benar membuatnya tak habis pikir. Pikirannya melayang kepada Indah. Dia menarik nafas dalam begitu sadar jika Indah sangat teraniaya.
__ADS_1
"Penjara rasanya kurang untukmu Andi" lirihnya