Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Rumah Baru


__ADS_3

Kak Andri adalah orang yang paling emosional setelah aku. Dia memeluk erat Mikail sambil tak hentinya meneteskan air mata


"Selesai uwak membimbing mu kak, mulai sekarang kamu telah bisa uwak lepas"


Mikail tak bisa menjawab, dia hanya bisa mengangguk sambil terisak


Kak Jen ikut memeluk Mikail, sebelum memeluknya kak Jen memberi hormat terlebih dahulu, baru setelahnya dia merangkul erat Mikail


"Selamat ya pirang aunty yang sekarang jadi botak" ucap kak Jen sambil mengelus kepala plontos Mikail


Aku tersenyum sambil mengusap punggung Mikail. Setelahnya seluruh prajurit di beri ucapan selamat dan salaman dari Kasad dan jajarannya.


"Coba bacakan ayat Al-Qur'an tentang cinta tanah air" ucap Kasad


"Siap laksanakan!"


"Bismillahirrahmanirrahim


^^^إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ^^^


Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al


Qashash: 85)


"Selanjutnya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).  


^^^عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ....... وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ^^^


Artinya:


"Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.


"Shadaqallahul-'adzim'"


Lalu para petinggi itu menepuk pundak Mikail.


"Besok temui bapak, bawa serta ibumu" ucap seorang petinggi pada Mikail ketika mereka akan pergi


"Siap!!"


Lalu para petinggi itu berlalu dan menyalami prajurit lainnya.


...****************...


Aku dan Mikail telah siap untuk berangkat menemui mayor yang kemarin meminta Mikail untuk datang.


Kami datang diantar kak Andri dengan mobil Mikail.


Sesampainya kami di kantor tersebut, Mikail segera menemui seorang petugas dan menyampaikan tujuan kedatangan kami.


Lalu petugas tersebut membawa kami kesebuah ruangan yang ternyata di dalamnya telah ada bapak Mayor yang kemarin meminta Mikail untuk datang.


Mikail segera memberi hormat kepada mayor tersebut sebelum akhirnya kami duduk


Dadaku berdegup kencang, seumur hidupku baru kali ini aku berhadapan dengan petinggi negara.


Mayor tersebut menangkupkan kedua tangannya di depan dada padaku, lalu beliau duduk berhadap-hadapan dengan kami


"Sebenarnya tujuan saya memanggil Mikail tak lain dan tak bukan adalah saya ingin secara khusus mendengarkan kisah Mikail yang kemarin menyentuh hati saya"


Aku menarik nafas dalam, kembali akan mendengarkan kisah sedih anakku tentu akan membuatku menangis.


Mikail memegang tanganku lalu dengan mantap dia memulai ceritanya


"Seperti yang telah saya katakan kemarin Bapak mayor yang terhormat, bahwa saya adalah anak korban broken home"


Nyuuuuttt, rasanya sudut hatiku terasa perih


"Orang tua saya berpisah sejak saya umur empat tahun, lalu bunda saya pergi jadi TKW dan saya berserta saudara perempuan saya dan adik lelaki saya dititipkan dengan nenek"


"Kami bertiga tumbuh dalam asuhan dan kasih sayang nenek dan uwak saya"


"Bunda kami tiap bulan mengirimi kami uang dan ditabung uwak kami khusus untuk masa depan kami bertiga"


"Sejak kecil saya bercita-cita jadi tentara pak mayor, karena itulah saya terus bertekad dan berjuang untuk mewujudkannya"


Air mataku yang telah mengalir aku susut dengan tissue yang memang sudah aku persiapkan

__ADS_1


"Maaf ibu jika pertanyaan saya sedikit menyinggung perasaan ibu, apakah selama ibu di Arab, ibu sudah menikah?"


Aku tersenyum sambil lagi-lagi menyusut air mataku


"Saya menikah lagi tahun 2015 tadi pak Mayor"


Tampak pak Mayor tersebut tersenyum


"Dengan orang Arab?"


Aku menggeleng


"Dengan orang Turkey"


Kembali bapak itu mengangguk.


"Mikail, kata kamu, kamu mempunyai dua saudara, dimana mereka?"


"Benar bapak, saudara pertama saya perempuan dan sekarang sedang menempuh pendidikan akhirnya di Malang di jurusan kebidanan, dan adik saya sekarang kelas 3 SMA di Pesantren yang sama dengan saya dulu, di Jawa Timur"


"Kalian bertiga hafidz semua?"


Mikail mengangguk sambil menjawab


"Benar bapak"


Kembali bapak itu menganggukkan kepalanya


"Ibu perempuan hebat, bisa mengantarkan ketiga anak ibu menjadi seorang hafidz dan hafidzah, tak banyak orang bisa melakukan hal tersebut"


Aku menarik nafas dalam


"Itu berkat didikan umak bapak dan kakak-kakakku, pak. Tanpa didikan mereka, ketiga anakku bukanlah siapa-siapa"


"Dari kamu kecil, berapa lama kamu berkumpul dengan ibumu Mikail?"


Kembali air mata mengambang di pelupuk mataku mendengar pertanyaan itu. Tentulah sangat sebentar Mikail bersamaku, hanya empat tahun yang penuh, selebihnya hanya hitungan hari


Mikail diam dan pandangannya menerawang


"Dan kami bertemu kembali lima bulan yang lalu, dihari pengumuman tes, dan terakhir kami bertemu kemarin pak"


Bapak mayor tersebut menatap dalam kearah Mikail yang dengan pelan menceritakan semuanya.


"Saya tidak tahu bagaimana rasanya hati ibu, tapi saya tahu bagaimana rasa rindu dan kesedihan ibu berjauhan dengan ketiga anak ibu, saya juga dulu berjauhan dengan ibu saya, bahkan hingga kini saya jarang sekali berkumpul dengannya karena tugas membela negara dan menjaga ibu pertiwi"


"Mikail, sebagai rasa bangga saya karena kamu berbakti kepada ibumu dan juga rasa bangga karena kamu adalah satu-satunya prajurit yang hafidz Al-Qur'an 30 Juz, maka kamu saya beri izin cuti untuk berkumpul dengan ibumu, dan tanggal 29 Maret nanti kamu sudah harus ada di sini lagi"


Mikail melongo tak percaya, begitu juga denganku. Bagaimana bisa prajurit yang baru lulus diberi izin cuti hanya karena dia sejak kecil jarang berkumpul dengan ibunya?


Ini lagi-lagi rahmat dan hidayah Alloh.


Segera Mikail berdiri, memberi hormat dan menyalami mayor yang baik hati itu.


Mikail mencium punggung tangannya dengan takzim sambil menitikkan air mata. Aku yang turut senang juga ikut menitikkan air mata, tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur atas kebaikan mayor ini.


Setelah kami berpamitan dengan bapak mayor, kami langsung keluar dari kantor itu dan segera kembali ke hotel, bersiap untuk pulang ke Merasi.


Aku ingin pulang, melihat rumah baru ketiga anakku yang kata kak Andri telah selesai. Aku sudah tak sabar ingin masuk kesana bersama ketiga anakku


Sampai di hotel kami semua segera bersiap dan segera check out menuju bandara.


Mobil Mikail kami titipkan di parkiran bandara Soekarno Hatta, agar ketika nanti Mikail kembali lagi kesini dia tak perlu repot lagi dengan kendaraan. Dia sudah memiliki kendaraan sendiri untuk berdinas


Karena tujuan kami berbeda, maka aku dan kak Jen berpisah di bandara, karena penerbangan kami jauh lebih dulu ketimbang kak Jen


Aku memeluk erat kak Jen, ucapan terima kasih rasanya tak cukup karena kebaikannya selama ini padaku dan juga keluargaku


Kak Jen selalu ada untukku, selalu bersedia kapanpun aku butuhkan. Dia sudah seperti saudara untukku


Kami semua berjalan masuk kedalam pesawat NAM yang akan membawa kami ke Bandara Silampari Lubuklinggau.


Lambaian tangan kak Jen mengiringi kami yang terus berjalan menjauhinya.


Tak lama pesawat take off, dengan lancar akhirnya kami sampai di Lubuklinggau satu setengah jam berikutnya


Travel yang dipesankan kakakku telah menunggu kami di luar bandara. Kami yang jumlahnya puluhan segera masuk kedalam lima travel yang telah siap mengantar kami ke rumah

__ADS_1


"Langsung ke rumah mu sat, kakak sudah meminta Dian menyiapkan semua masakan. Kata Dian tadi, dia dibantu tetangga masaknya, semoga saja begitu kita sampai semuanya telah beres"


Aku menganggukkan kepalaku dan menuruti apa kata kakakku.


Di dalam travel aku duduk bersama ketiga anakku dan juga umak bapakku. Kakak-kakakku yang lain di mobil lainnya


Entahlah, setiap melihat hamparan sawah, hatiku selalu tentram, mungkin karena ini adalah kampung halamanku.


Aku yang sengaja duduk di pinggir begitu travel berbelok kejalan Merasi segera membuka jendela


"Pelan kan mobilnya mas" pintaku pada supir travel yang masih sangat muda itu


"Baik bu"


Mobil berjalan pelan, dan aku menikmati hembusan angin dan menghirup dalam aroma sawah yang begitu aku rindukan


"Aku sangat rindu suasana seperti ini" gumamku


"Nanti begitu sampai Merasi bunda mau main ke sawah, jalan-jalan di sawah dan mau memamerkan pada twins"


Naura dan Mikail terkekeh


"Adek kembar pasti iri ya bun"


Aku mengangguk sambil ikut terkekeh


Perlahan dan pasti mobil yang kami tumpangi mengiringi mobil travel paling depan yang berisikan kak Andri dan keluarganya


"Kok terus pak?" tanyaku pada bapakku


"Rumah kamu kan jalannya lurus nggak belok seperti tempat bapak"


Aku ber O panjang.


Mobil terus mengikuti mobil kak Andri yang berhenti di sebuah bangunan rumah yang sangat megah. Berhalaman luas, dan masih banyak sisa material yang belum di bereskan.


Aroma semen masih sangat terasa ketika kami keluar. Aku mendongakkan kepalaku menatap rumah berlantai tiga itu


Warnanya putih kombinasi coklat krem, warna kesukaanku. Aku segera melingkarkan tanganku pada lengan umakku, memandangnya dengan mata berkaca-kaca


"Ini rumah anak-anakku mak?"


Umakku menganggukkan kepalanya. Pintu tertutup, kulihat Mbak Dian dan beberapa ibu-ibu muncul dari arah samping, melihatku mbak Dian berlari dengan berurai air mata.


Setelah cukup lama kami berpelukan, mbak Dian memeluk Naura, dan kedua jagoanku mencium punggung tangan mbak Dian.


Pada kedua jagoanku mata mbak Dian kembali berkaca-kaca, Mikail dan Adam merengkuh bahunya


"Terima kasih ya Mak karena selalu ada untuk kami"


Mbak Dian mengangguk sambil menyusut air matanya


"Bismillahirrahmanirrahim


أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ


“A’uudzu Bi Kalimaatillahit Taamaati Min Syarri Maa Khalaq.”


ucap Mikail yang membuat kami menengadahkan tangan. Setelah selesai berdoa, kedua anak lelakiku berdiri disamping kanan kiriku, menggenggam tanganku


"Ayo bunda kita masuk, bunda yang membukanya".


Aku mengangguk dan dengan pelan kami berjalan kearah teras. Sampai di depan pintu, kami berhenti, aku menoleh pada seluruh keluargaku yang berdiri dibelakang kami


Mata umakku berkaca-kaca, begitupun dengan yuk Yana


"Kita buka sama-sama yok nak" ucapku pada ketiga anakku. Ketiga anakku menurut, aku dan Mikail mengulurkan tangan kanan kami, memegang pegangan pintu, Naura dan Adam menggunakan tangan kiri mereka


"Bismillahirrahmanirrahim" ucap kami berempat


Pintu terbuka, refleks aku bersujud syukur diikuti ketiga anakku. Bagaimana tidak, rumah ketiga anakku sangat megah dan mewah.


Setelah kami selesai sujud syukur, keponakanku mulai mengeluarkan handphonenya dan mengambil swafoto mereka bahkan mereka mengajakku dan ketiga anakku berfoto


"Mau aku upload ah" ucap Zahra sambil mengambil swafotonya dengan Naura


Tak butuh waktu lama, postingan Zahra telah banjir like dan komen bahkan ada sepasang mata yang sangat iri melihat postingannya tersebut

__ADS_1


__ADS_2