Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Di Blokir


__ADS_3

"Terus gimana ini?" tanya Joni


"Ya itu, rumah ini dijual" jawab mbak Ningsih


"Emang berapa sih biaya kemarin kok sampe ribut begini?" kali ini Maria yang bersuara


"Lah kamu nggak baca grup apa?"


Maria melengos, dia sebenarnya membaca waktu mas Indra memposting di grup, tapi segera dihapusnya agar Joni tak melihat


"Nggak ada" jawab Joni


"Ada!"


"Sudah diam semuanya, saya ambil dulu bukti pembayaran kemarin, semua berkas dari rumah sakit aku yang simpan" timpal Nina melerai sambil segera berdiri


Wajah pak Hermawan tetap muram melihat Nina masuk, apalagi ketika Nina kembali lagi dengan membawa map plastik


"Ini, total biaya rumah sakit ibuk, 205 juta"


Mulut Joni langsung ternganga, dia benar-benar tidak menyangka jika biayanya semahal itu


"Tuhh, dengar kamu?, kalau tidak percaya juga, nih lihat sendiri" mbak Ningsih memberikan berkas dari rumah sakit pada Joni


Joni langsung mengambil kertas rincian biaya, dan mengangkat kepalanya menatap kearah mbak Ningsih


"Itu uang Naura semua, sepeserpun nggak ada uang kita, bahkan biaya ambulance kemarin pakai uang di dompet Adam"


"Rumah ini di jual pun nggak akan cukup mbak untuk mengganti uang Naura mbak"


Ningsih setuju dengan omongan Joni, karena rumah orang tuanya rumah model lama, dan juga warga mikir-mikir untuk membeli karena terjadi dua kematian dalam waktu yang berdekatan, jadi warga banyak yang takut


"Terus jika rumah ini terjual, kita mencukupinya bagaimana?" tanya Nina


"Kita semua patungan, semuanya, sampai cucu bila perlu"


Raffa dan Dimas mengangguk setuju, Karin dan Hanum saling toleh, karena mereka belum ada penghasilan, terlebih Hanum masih sekolah


"Deal, besok kita telpon Naura kita katakan pada dia bahwa uangnya yang terpakai oleh kita akan kita bayar bagaimanapun caranya"


Setelah diambil kesepakatan walaupun belum terlalu sepakat karena masih ada rasa keberatan dari pak Hermawan dan juga Joni, rembukan malam itu mereka akhiri.


Ningsih kembali kerumahnya, dan perawat yang masih merawatnya telah tidur.


Dan rencananya, besok mereka akan pulang kembali ke rumah sakit, dan mereka akan naik travel


...****************...


Selesai shalat Subuh, Mikail yang sejak siang kemarin selesai bundanya video call terus merasa terbebani karena dia melihat bundanya menangis


"Aku harus video call sama ayuk dan adek, aku mau tanya pada mereka, apa yang telah mereka lalukan sampai bunda menangis"


Mikail segera melipat sajadahnya, sementara Budiman dan Alfath yang menjadi makmumnya sudah sejak tadi melakukan aktifitas lain


Mikail mengambil hp yang diletakkannya dalam lemari, berjalan kearah balkon


Suara hp yang berdering membuat Adam yang sedang berdzikir dan duduk di balkon kamarnya, segera beranjak mengambil hp


"Kakak..." desisnya


Dadanya mulai berdegup kencang, tapi tak urung di sentuhnya juga icon video


Tampil wajah Mikail yang tersenyum sambil mengucap salam. Adam segera menjawab salam Mikail


"Nanti dek, kakak sambungkan dulu dengan ayuk"


"Biar ayuk adek panggil saja kak, nggak usah disambungkan"


Mikail mengangguk. Tak lama Adam berjalan keluar dari kamarnya, dan berjalan kearah kamar Naura


Setelah mengetuk pintu, Adam masuk lalu setelahnya muncul wajah Naura


"Assalamualaikum kak"


Mikail tersenyum sambil menjawab salam ayuknya


"Iya kak? tumben pagi-pagi video call"


Naura berbasa basi, padahal dia sudah bisa menduga mengapa Mikail menelpon mereka sepagi ini

__ADS_1


"Bunda kemarin video call dengan kakak"


Adam dan Naura langsung saling toleh


"Kakak sudah dengar semua dari bunda, tapi belum versi ayuk dan adek, tapi apapun alasannya nanti kakak tetap nggak suka karena perbuatan ayuk dan adek bunda menangis"


Kembali Naura dan Adam saling toleh


"Apa ayuk dan adek mau jadi Alqamah?"


Keduanya menggeleng cepat, dan wajah keduanya langsung murung


"Kami menyesal kak, sungguh" jawab Adam memelas


"Tahukan dek bagaimana ceritanya Alqamah, Alqamah seorang sahabat yang sangat taat. Ia tak pernah lalaikan shalat. Fardhu ataupun sunnah. Amalan puasa dan sedekah tak pernah terlewat. Namun, di penghujung hayat ia susah mengucap syahadat"


Naura sudah terisak, sedangkan wajah Adam mendung


"Bedanya disini, Alqamah lebih mementingkan istrinya dari pada ibunya, sedangkan ayuk dan adek...." Mikail menerawang, mencari kalimat yang tepat agar kedua saudaranya faham


"Tidak minta izin sama bunda yang menyebabkan bunda kecewa dan lebih mementingkan keluarga ayah"


"Tapi ayuk dan adek tidak usah khawatir, bunda tidak marah pada kalian berdua, bunda cuma kecewa, dan bunda tetap mendoakan yang terbaik untuk kita semua, karena bunda tahu bahwa Sesungguhnya ridha Allah berada pada ridha ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.”


Naura kian terisak


"Kami sudah minta maaf kak sama bunda, tapi bunda sepertinya tidak memaafkan kami"


Mikail tersenyum mendengar suara ayuknya yang tersedan-sedan


"Artinya ayuk dan adek harus bersiap menerima murka Alloh"


Tangis Naura makin kencang, sedangkan Adam kian menunduk


"عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ


Dari Abu Hurairah radliallahu `anhu dia berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sambil berkata; "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "kemudian siapa lagi?" beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dia menjawab: "Kemudian ayahmu." (HR. Bukhari) [No. 5971 Fathul Bari] Shahih


"Ibu, ibu, Ibu, baru Ayah. Tiga kali Rasulullah menyebut ibu yuk"


Air mata Naura kian deras mengalir


"Jangan jadi Alqamah yang menyebabkan kakak mengumpulkan kayu bakar untuk membakar kalian berdua agar bunda mau memaafkan kalian"


Naura langsung meraung


"Hei, bercanda. Nggak usah teriak gitu nangisnya, lagian kakak yang akan diamuk bunda jika kakak berniat buruk seperti itu"


Wajah Naura masih diliputi sedih melihat kearah Mikail yang tersenyum-senyum


"Mau kan minta maaf sama bunda?"


Adam dan Naura hanya bisa mengangguk, setelah mengembangkan senyum tulus pada dua saudaranya, Mikail mengakhiri obrolan


...****************...


Naura dan Adam sedang berada di klinik, awalnya sejak dimarahi oleh bundanya dan dikatakan bekerja jika ingin uang, Adam telah berkata pada uwaknya, kak Andri, jika dia ingin bekerja di SPBU milik bundanya, terserah mau di letakkan kak Andri di bagian mana, cleaning service pun dia bersedia


Atau di toko, membantu Zahra dan juga sepupu-sepupunya yang lain, atau di klinik Naura sebagai office boy


Tentu saja niat tulusnya dihargai kak Andri, tapi beliau menimbang-nimbang nya terlebih dahulu, dan berkonsultasi pada Indah


"Biarkan kak, suruh dia kerja di toko, suruh dia angkat-angkat karung, angkat kardus, biar dia tahu, ohh ternyata susah cari uang"


Kak Andri diam mendengar jawaban Indah, dia tak membantah karena adiknya tersebut masih kecewa


Selesai memberi tahu Indah, kak Andri mengirimi Adam pesan


Besok kerja di toko saja ya dek, hitung-hitung belajar angkat beban, jadi nanti ketika kamu pendidikan, sudah terbiasa membawa beban berat


Adam langsung mengucapkan syukur begitu membaca pesan yang dikirimkan uwaknya


"Kenapa dek?"


"Mulai besok aku kerja di toko yuk, jadi aku dapat pekerjaan, nggak nganterin dan jagain ayuk terus"


Naura terkekeh


"Siap buat kita video call sama bunda?"

__ADS_1


Naura mengangguk, dan Adam segera menghubungi bundanya


"Yuk, kayanya aku di blokir bunda deh, coba ayuk lihat, nggak bisa aku menghubungi bunda"


Naura melongokkan kepalanya menatap layar handphone Adam, lalu dia mengambil handphone miliknya dan mencoba mendial nomor bundanya


Sama saja, profil whatsapp bundanya sudah tak ada. Dan diapun tak bisa menghubungi bundanya


Keduanya menarik nafas dalam


"Terus gimana kita sekarang?" tanya Naura dengan wajah sedih


Adam diam.


Handphone Naura berdering.


"Bisa ke trans tidak yuk?, mau ada yang dibicarakan"


Naura menoleh pada Adam, dan Adam mengangguk


"Iya buk Ning bisa, In syaa Alloh satu jam lagi kami sampai"


Lalu Naura menatap Adam


"Kenapa kita harus kesana?"


"Adek yakin mereka mau bahas uang ayuk, dan ini kesempatan kita untuk bilang pada mereka jika bunda marah"


Naura mengangguk, lalu keduanya segera turun, dan Naura langsung mengecek data pasien yang dirawat, adakah yang akan melahirkan atau tidak, Alhamdulillahnya belum ada pasien yang mau melahirkan, semuanya pasien rawat inap


Setelah menemui dokter Viktor dan bidan Karmila, Naura pergi dengan Adam menggunakan motor.


Satu jam berikutnya mereka telah sampai, dan ternyata di rumah pak Hermawan telah berkumpul semua keluarga besarnya


Sepuluh menit selanjutnya, mbak Ningsih langsung menyampaikan duduk perkara mengapa Naura dan Adam dipanggil


"Ini menyangkut biaya pengobatan mbah kemarin Ra"


Naura mengangguk


"Kan semuanya pakai uang Naura, dan ini ibuk sama mbah Lanang mu dan juga yang lain sudah rembukan akan mengembalikan uang kamu, tapi tidak sekarang, nunggu rumah mbah mu laku dulu"


"Masa sih Ra kamu mau mengambil kembali uang yang sudah kamu berikan untuk mbah?"


Naura langsung menoleh kearah pak Hermawan


"Kamu kan cucu mbah juga, jadi punya kewajiban dong untuk membiayai mbah kamu, apalagi uang kamu banyak, mbah nggak ada uang Ra, kalau rumah ini di jual terus mbah mau tinggal dimana?"


Naura langsung menatap Adam, keduanya diam


"Jangan ngomong gitu pak, semalam kita kan sudah sepakat, masalah tempat tinggal selama rumah ini belum laku, bapak dengan anak-anaknya Laras tinggal dulu di sini, nanti jika sudah laku bapak bisa tinggal di rumah kami, atau nanti bila nggak mau bisa tinggal di rumah kosong sebelah balai desa"


"Ayo Ra, kamu ngomong sejujurnya sama kami semua disini, jangan ada yang ditutupi, karena ibuk dengar dari Hanum jika kamu dimarahi bundamu"


Naura menarik nafas dalam sebelum menjawab


"Benar buk, bunda sangat marah sama aku dan adek, bahkan kami diblokir oleh bunda"


"Kenapa bisa?" tanya Joni


"Ya bisalah oom, kami berdua itu pakai uang tabungan ayuk nggak ngomong dulu sama bunda, jadi bunda marah" jawab Adam


"Pelit banget sih bunda kalian"


"Bukan pelit oom, kita balikkan saja posisi bunda itu oom, kira-kira oom bakal ikhlas dan ridho tidak membantu orang yang telah sangat menyakiti dan membenci oom?"


Wajah Joni terkesiap mendengar jawaban Adam, begitu juga dengan pak Hermawan


"Bunda tidak pelit oom, setiap bulan puluhan juta beliau sumbangkan untuk panti asuhan dan panti jompo, bahkan ke tetangga yang nggak mampu"


"Lah terus kenapa bundamu nggak mau menyumbangkan uangnya untuk mbahmu?"


Naura dan Adam tersenyum samar mendengar pertanyaan pak Hermawan


"Karena selama hidupnya, mbah sangat membenci bunda, mbah tidak pernah menganggap bunda, jadi karena itulah bunda tidak mau membantu mbah"


Mereka semua yang ada terdiam


"Kalian semua yang lebih tahu bagaimana perlakuan mbah sama bunda kami, jadi wajar jika bunda tidak mau menolong mbah"

__ADS_1


Wajah Pak Hermawan berubah merah, diambilnya gelas kopi yang ada di depannya, langsung dilemparkannya kearah Adam


__ADS_2