Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Ketegaran Adam


__ADS_3

Aku segera menarik tangan Adam dan membawanya keluar dari ruangan yang sudah berantakan itu


Naura dan Mikail masih di dalam, keduanya memandang dalam kearah ayah mereka


"Bagaimana perasaan ayah setelah hasil tes DNA itu keluar?"


"Adek bukan anak ayah atau 100% kalian cocok??"


Andi tetap diam


"Jawab ayah, apa hasil tes nya?"


"Ayah kita pengecut yuk, mana mau ayah bicara kebenaran. Ayah terlalu memikirkan perasaan mbah dan saudaranya, tidak pernah sekalipun ayah memikirkan bagaimana perasaan bunda apalagi perasaan adek"


"Apa hasil tes nya Ndi?, Adam anak kamu apa bukan, pasti bukan, kan?"


"Mbah...!!!"


Teriak Mikail, giginya gemeletuk menahan marah.


"Adek anak ayah 100%, tapi itu hanya secara biologis dan agama. Kalau bicara masalah hati, kakak dan ayuk tahu bagaimana perasaan adek sama dia" Adam yang tiba-tiba muncul bersuara pelan


Lemas rasanya kakiku. Air mata kembali mengalir deras, aku yang dipaksa Adam kembali lagi keruangan itu harus kembali merasakan kesakitan anakku


"Hatiku sudah mati berkali-kali ayah. Kecewaku sudah sangat tinggi, tapi aku memendamnya, dan saat ayah melakukan tes DNA padaku, dan aku meminta pada petugas rumah sakit untuk mengetahui hasilnya dua minggu berikutnya, barulah aku sadar, jika memang ayah tidak mengharapkan ku"


"Aku bersyukur karena diberikan uwak dan nenek, karena merekalah yang menyayangiku tanpa pamrih"


"Aku tahu, ayah kecewa kan mengetahui jika aku anak ayah?"


"Tidak nak!"


Adam tersenyum samar, dan aku yakin senyumnya itu adalah senyum yang sangat menyakitkan


"Ayah berharap jika aku bukan anak ayah seperti yang selalu mbah dan bu Las tuduhkan, kan?"


"Tidak nak!"


"Ayah bohong. Jika ayah yakin aku anak kandung ayah, mengapa ayah meragukan identitasku!!!"


Mikail langsung memeluk adiknya, mengusap bahunya berkali-kali


إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظْلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ


Artinya: Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih"


"Sesungguhnya dosa dan siksaan itu bagi orang-orang yang menzalimi orang lain dan berbuat kerusakan di bumi dengan perkataan dan perbuatan batil. Mereka yang jauh dari kebenaran itu akan mendapatkan azab yang pedih"


Aku hanya bisa menyusut air mataku saat Mikail membacakan ayat tersebut sambil memegang tangan adiknya


"وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ


Artinya: Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan


Sambung Naura sambil memegang pundak adiknya


Adam menggeleng.


"Aku selama ini belajar menerima ikhlas dan memaafkan yuk, tapi sepertinya hati aku sudah terlanjur kecewa"


Tak tahan mendengar segala keluh kesahnya, aku segera memeluknya dan membawanya keluar


"Kita pulang ya nak..."


Adam mengangguk, dengan merengkuh pundak bundanya, Adam keluar


"Hati adek sedikit lega bun, beban selama bertahun-tahun bisa adek keluarkan hari ini"

__ADS_1


Aku mengangguk dan menempelkan kepalaku di bahunya yang terus merengkuhku


"Adek tunggu!!!" Andi berlari mengejar mantan istrinya dan Adam


Tapi kami terus berjalan seolah tak mendengarkannya


"Adek tunggu ayah nak!"


Kami masih saja terus berjalan, malah kian mempercepat langkah kami


"Adek tunggu!!!" Andi menarik pundak Adam


Kami berhenti dan Adam membalikkan badannya


"Maafkan ayah nak, maafkan ayah. Ayah memang salah karena meragukan mu, tapi ayah menyesal nak, sungguh"


Mataku telah mengecil menatap Andi yang berdiri di depan kami. Benci pun rasanya tak cukup untuk mengungkapkan bagaimana perasaanku pada lelaki ini


"Cukup ayah. Aku hanya ingin ayah sadar siapa kami ini. Darah ayah yang mengalir di dalam tubuhku tidak bisa mengubah takdir siapa aku, aku memaafkan ayah, segala kesalahan ayah aku maafkan. Tapi aku mohon, jangan pernah mengusik bundaku lagi, hubungan kita hanya darah ayah, tanpa itu ayah bukanlah siapa-siapa kami"


Lalu Adam kembali berbalik dan kembali menuntun ku berjalan


Andi menutup wajahnya mendengar ucapan Adam, lalu lewatlah Mikail dan Naura


"Nak.."


Keduanya berhenti dan menatap wajah Andi


"Ayuk kecewa sama ayah. Dan yang paling membuat ayuk kecewa adalah mengapa ayuk terlalu sayang sama ayah" ucap Naura dengan bibir bergetar menahan tangis


Andi diam, dan air matanya kian mengalir. Mikail merengkuh pundak ayuknya


"Ayo yuk"


Naura menarik nafas panjang lalu mereka berdua berjalan meninggalkan Andi yang hanya bisa terduduk menangis


...****************...


Pihak restoran menganggukkan kepalanya dan menatap dalam mata Naura yang terlihat sembab


"Berapa ganti ruginya?"


Ibu yang ternyata adalah pemilik restoran segera mengecek cctv yang terpasang di ruangan tempat kami makan tadi.


Kulihat dia menarik nafas dalam


"Kami tidak bisa lama-lama bu, sebutkan saja totalnya" ucapku


Dengan sedikit sungkan dia menyebutkan nominal yang harus kami bayar, lalu Naura segera memberikan kartu atmnya


Setelah melakukan pembayaran seluruh makanan dan ganti rugi kerusakan kami meninggalkan restoran mewah itu


Tak sulit untuk kami menemukan mobil Mikail di parkiran. Karena parkirannya cukup sepi.


Aku memberikan kunci mobil yang tadi kuambil dari Joni kepada Mikail. Dengan tersenyum Mikail mengambilnya lalu segera menekan tombol yang ada dikunci sehingga mobil tersebut bersuara


"Bunda duduk di depan" ucapnya


Aku menggeleng


"Ayuk saja. Bunda mau di belakang dengan adek"


Mikail mengangguk, lalu segera membukakan pintu mobil bagian tengah untukku. Begitu aku naik dan duduk, Adam yang menyusul ku naik segera merebahkan kepalanya di pangkuanku


Kembali hatiku rasanya teriris melihat dia tidur di pangkuanku, dengan pelan aku membelai kepalanya.


"Walau seluruh dunia menolakmu, tapi kau masih punya bunda nak, bunda tak akan melakukan itu, bunda akan melakukan apapun untukmu" lirihku sambil mencium pelipisnya

__ADS_1


Adam hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya di kakiku.


"Berjanjilah mulai sekarang bunda jangan menangis lagi. Apalagi jika itu menyangkut ayah"


Aku menatap serius Mikail yang tadi berbicara


"Bunda telah berhasil mengantarkan kami bertiga jadi orang berguna, dan kakak yakin, adek kembar juga akan jauh lebih sukses dibanding kami"


Ucapan Mikail kami sambut dengan jawaban aamiinn.


"Kakak yakin, bunda bahagia dengan papa jauh melebihi ketimbang dengan ayah dulu"


Aku tersenyum. Tentulah aku bahagia, sangat bahagia. Karena abang adalah anugerah Alloh buatku


Mobil terus melaju di jalan raya, aku memberikan handphoneku pada Naura agar dia membaca google map, lokasi terkini yang diberikan oleh kak Andri.


Tak berapa lama akhirnya mobil kami memasuki kawasan hotel.


Dan lagi-lagi, Mikail membukakan aku pintu mobil


"Hadeeehh, dari tadi bunda saja yang diperhatikan" protes Adam


Aku tersenyum simpul dan mengelus tangannya.


"Ibu ibu ibu, Rasulullah sampai menyebutnya tiga kali" jawab Adam


Adam mendecak sambil melingkarkan tangannya di lenganku


Betapa beruntungnya aku, ketiga anakku telah tumbuh besar dan tinggi. Apalagi Naura, dia yang paling tinggi diantara kami berempat. Sedangkan Adam dan Mikail nyaris sama tingginya, yang membedakan adalah postur tubuhnya, tubuh Adam jauh lebih berisi dan besar dibanding Mikail. Dan bila ku perhatikan dengan seksama, malah lebih tinggi Adam dibanding Mikail


"Jangan ceritakan apapun dengan nenek dan uwak tentang kejadian tadi ya nak" ucapku


Ketiga anakku mengangguk. Lalu kami berjalan masuk menuju ke arah kamar tempat dimana umak bapakku berada


Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam lalu segera membuka pintu.


Melihat kami berempat masuk, umakku langsung berdiri dan memeluk Adam


Umakku memang paling dekat dengan Adam mungkin karena ketika dulu aku tinggalkan Adam masih sangat kecil


Adam menciumi kedua pipi neneknya dan memeluknya erat


Naura dan Mikail mencium punggung tangan bapakku dan kak Andri dan memeluk mereka dengan bahagia


"Bagaimana kak?" wajah kak Andri menegang saat menanyakan itu


Wajah Mikail berubah mendung dan dia menundukkan kepalanya. Kami bertiga juga melakukan hal yang sama, karena kami telah merencanakan itu semua


Kak Andri langsung memeluk Mikail dan menepuk-nepuk pundaknya


"Jangan patah semangat. Tahun depan kita ikut tes lagi"


Wajah umak bapakku tampak muram, bergantian mereka memberi nasihat kepada anak keduaku itu, dan juga menasehati ku agar tabah


"Kakak sedih nek.."


Umakku mengangguk dan mengusap wajah Mikail


"Sedih karena telah membohongi nenek dan uwak" jawabnya sambil menahan tawa


Aku dan kedua anakku juga langsung terkekeh, tawa yang sejak tadi kami tahan meledak sudah


"Maksudnya?" tanya umakku


"Kakak lulus nek..."


Kak Andri langsung melompat memeluk Mikail, begitu juga dengan umak bapakku

__ADS_1


Umak bapakku sampai menyusut air mata mereka karena terharunya


"Awas ya jika lain kali bohongi uwak lagi" ucap kakakku sambil mengacak kepala plontos Mikail


__ADS_2