
Tujuan kota pertama ketika kami menginjakkan kaki di Swiss adalah Zurich. Nona Alima dan keluargs kecilnya begitu antusias ketika tiba di Swiss. Udara musim dingin tidak menyurutkan mereka untuk menjelajahi kota tua yang dibangun disepanjang Sungai Limmat.
Setelah puas berkeliling kota tua, kami juga mengunjungi kastil yang juga ada di Zurich, yang semakin menawan ketika tertutup salju.
Hari selanjutnya kami mengunjungi Jungfrau, lalu berikutnya mengunjungi Zermat. Di sini nona Alima beserta keluargs kecilya bermain ski, sedangkan aku dan ummi lebih memilih kereta gantung.
Aku yang baru sekali ini ke Swiss begitu takjub melihat keindahan kota itu. Terutama saljunya, karena di Indonesia tidak ada musim salju.
Hal yang paling menakjubkan lainnya ketika kami mengunjungi Switzerland, sepertinya kota ini adalah surga yang ada di bumi. Sayangnya kami kesana ketiks musim salju, jika musim gugur, aku yakin kota ini akam makin indah dan menakjubkan
Hari terakhir kami mengunjungi kota Davos. Disini, nona Alima puas berbelanja. Entah sudah berapa juta Riyal yang dihabiskannya, setiap barang yang disukainya langsung dibelinya.
Akupun tak lupa membeli oleh-oleh, sebagai kenangan jika aku pernah ke Swiss.
...****************...
Malam hari, pesawat yang membawa Abraham dan Tomo tiba di banda King Abdul Aziz.
Mereka lagi-lagi dipermudah, karena begitu sampai di sana, mereka langsung disambut dengan supir teman koleganya Ozkan yang di Arab
Supir tersebut langsung membawa mereka berdua kehotel, tempat mereka selama mereka mencari keberadaan Indah sesuai dengan instruksi bos mereka.
Sesampai di hotel, mereka langsung beristirahat karena misi mereka untuk mencari Indah akan mereka lakukan esok harinya.
Ketika pagi sudah menjelang, Tomo dan Abraham memulai pencarian mereka.
Karena Jeddah adalah kota yang luas, maka hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari agensi tenaga kerja khusus Indonesia.
Ternyata tak mudah menemukannya, berkali-kali mereka harus bertanya. Ditambah lagi dengan keterbatasan bahasa yang miliki, makin menyulitkan mereka.
Beruntunglah ketika hari menjelang sore, akhirnya mereka menemukan sebuah kantor agensi tenaga kerja. Dengan segera mereka meminta kepada petugas kantor tersebut untuk menunjukkan dimana Indah berada
Awalnya pihak agensi menolak memberitahukan karena berbagai alasan. Apalagi demi melihat tampang sangat keduanya, pihak agensi makin ragu. Tapi setelah diskusi alot dan Ozkan sendiri akhirnya yang menjelaskan melalui via telepon, akhirnya pihak agensi bersedia memberitahu pada Abraham dan Tomo.
Dengan hati yang lega, akhirnya Tomo dan Abraham yang ditemani supir kemarin yang menjemput mereka, segera meluncur kekediaman Nyonya Afsha.
Mereka tidak langsung masuk, setelah memastikan jika gedung mewah itu adalah kepunyaan Nyonya Afaha, mereka hanya melihat dari jarak jauh saja.
"Kami sudah mendapatkan tempat kerja mbak Indah, bos" lapor Abraham pada Ozkan
Ozkan langsung menarik nafas lega.
"Awasi terus rumah itu, pastikan jika Indah ada di dalamnya"
"Baik bos"
Sampai malam mereka mengawasi rumah itu, tapi pagar tinggi rumah tersebut tidak juga terbuka.
Akhirnya Abraham memutuskan untuk melakukan pengintaian keesokan harinya.
...****************...
"Rumah itu dari kemarin tertutup, apa kita langsung menuju kantornya saja?" usul Tomo
Abraham bergeming. Dia yang saat itu memakai kacamata hitam, masih fokus memperhatikan dari dalam mobil
"Kalau mau kekantornya, bisa saya antar" ucap sang supir
Abraham menimbang usul orang berdua tersebut, memang dia sudah tahu dari kolega keluarga Ozkan, jika nama yang Ozkan tanyakan pada mereka kemarin adalah konglomerat Arab Saudi yang mempunyai perusahaan diberbagai bidang.
"Bagaimana?" lanjut Tomo
Abraham akhirnya mengangguk. Lalu supir tersebut membawa kedua bodyguard itu menuju gedung Al Mursalat Ibrahim Holding.
Abraham bercegak kagum ketika mereka melihat ketinggian gedung tersebut.
"Sebaiknya kita bagaimana?" tanyanya
__ADS_1
Tomo mengangkat bahu.
"Saya saja yang turun, saya akan bertanya pada pihak keamanan apakah nyonya Afsha ada di kantor atau tidak" usul si supir
Abraham dan Tomo menyetujui karena memang hanya si supir yang bisa berbahasa Arab di sini. Jadi mereka yakin, jika hanya si supir yang bisa membantu saat ini.
Si supir segera turun dari dalam mobil, lalu berjalan mendekati pihak keamanan yang sedang bertugas di pos penjagaan.
Dengan pandang penuh selidik, penjaga keamanan itu melihat kepada si supir yang bertanya, tapi berkat kelihaian alasan sang supir akhirnya didapatlah informasi jika nyonya Afsha sedang berlibur ke Swiss dan akan kembali besok
Setelah mendapatkan informasi, si supir tadi kembali kedalam mobil dan melaporkan hasil investigasinya kepada Abraham
Abraham yang setelah menerima informasi tersebut, langsung melaporkannya pada Ozkan yang sudah sejak tadi menunggu informasi selanjutnya tentang Indah
Ketika handphonenya berdering, dia segera mengangkatnya
"Bagaimana?, dapat?" jawabnya segera setelah mengangkat panggilan
"Sudah bos, tapi menurut pihak keamanan disini, Nyonya Afsha sedang berlibur ke Swiss beserta keluarganya"
"Dan Indah?" kejar Ozkan
"Kata mereka juga beserta mbak Indah, karena Mbak Indah adalah asisten pribadi nyonya Afsha"
Ozkan menarik nafas dalam demi mendengar laporan Abraham
"Kapan mereka kembali?"
"Besok bos"
"Awasi terus sampai besok, jika besok kalian melihat Indah segera laporkan pada saya!"
"Baik bos"
...****************...
Dua buah mobil mewah, dengan supir pribadi keluarga ummi, telah menunggu kami di luar bandara.
Segera kami masuk kedalam dua mobil mewah itu. Satu mobil berisikan Nona Alima sekeluarga, satu mobil lagi berisikan aku dan ummi.
Abraham segera membetulkan posisi duduknya ketika dilihatnya dua buah mobil mewah beriringan masuk kedalam rumah besar itu.
Si supir disuruhnya agak mendekati rumah tersebut untuk memudahkannya meneropong kedalam rumah tersebut ketika pagarnya terbuka
Dan benar saja, saat Abraham meneropong rumah tersebut, didapatinya Indah juga turun bersama dengan seorang perempuan paruh baya.
"Indah" lirihnya
Segera teropong yang ada di tangannya direbut Tomo, lalu Tomo melakukan hal yang sama seperti Abraham.
Dia juga melihat ada Indah yang sedang mengeluarkan koper dari dalam mobil
Dia tampak menganggukkan kepalanya lalu segera mengembalikan teropong tadi ketangan Abraham
Abraham yang saat itu sedang mengeluarkan handphonenya, mengambil melalui tangan kiri
"Kami sudah melihat mbak Indah bos"
"Temui dia besok!"
"Siap bos"
...****************...
Aku segera masuk kedalam kamarku, merebahkan diri di kasur sambil tersenyum sendiri.
Kebahagiaan ketika bermain salju dan keseruan naik kereta gantung melintas di kepalaku. Apalagi ketika aku panik saat kereta gantung meluncur.
__ADS_1
Kebahagiaan ini tak sabar ingin aku ceritakan kepada ketiga anakku dan umakku. Segera aku menelpon umakku, jam empat sore di Jeddah itu sama artinya dengan jam delapan malam di rumah umakku.
Panggilan tersambung, langsung terdengar suara umakku. Kami saling menanyakan kabar masing-masing. Dan aku begitu antusias menceritakan pengalamanku ketika di Swiss pada beliau.
Rupanya ketiga anakku yang saat itu mendengar ceritaku langsung saling berteriak
"Bunda, kapan-kapan ajak kami kesana juga yaaa" teriak mereka
Dengan rasa rindu yang membuncah aku mengiyakan permintaan mereka. Betapa rindunya hatiku pada mereka. Betapa inginnya aku memeluk mereka.
"Mulai besok, suruh mbak Dian kerja lagi ya mak" ucapku.
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan, karena jika tidak, yang ada nanti aku akan menangis. Apalagi jika berbicara dengan bapakku, airmataku tak bisa dibendung
"Buat apa?" tanya umakku
"Gajiku besar umak, jadi biar mbak Dian yang menjaga anak-anakku, umak cukup menjaga mereka ketika malam hari saja" jawabku
"Uang kamu ditabung saja nak" ucap umakku
"Bayar mbak Dian dua juta sebulannya, sisanya biar kak Andri yang ngurusnya. Karena dia yang mengurusi uang yang kutransfer" jawabku
"Umak ambil sesuka hati umak, ngomong saja sama kakak, aku sudah bilang sama kakak, jika tiap aku ngirim, umak harus dikasih juga"
"Umak tidak butuh uangmu nak" jawab umakku dengan suara serak
Ah, aku tahu, beliau pasti menangis. Mendengar suara seraknya, tak urung membuatku juga meneteskan airmata
"Aku sangat sayang sama umak" ucapku lirih
Aku segera menghapus airmata di wajahku ketika obrolan kami berakhir. Lalu segera keluar dari dalam kamar, membantu pelayan lain yang masih beraktifitas.
Bu Adibah langsung merangkulku ketika aku tiba dihadapannya
"Bagaimana liburannya?, seru?" tanyanya
Aku tersenyum kearah beliau. Aku beruntung karena pelayan di rumah ini tidak ada yang saling iri.
...****************...
Aku kembali memulai aktivitasku. Ini adalah hari senin di minggu terakhir Desember, itu artinya kantor akan tutup tahun
Maka tugasku dan seluruh karyawan ummi akan makin banyak.
Sama halnya seperti hari ini, aku segera mengecek laporan yang menumpuk di meja ummi.
Seminggu kantor ini kami tinggalkan, laporannya sudah setinggi gunung
Dan aku harus punya tenaga ekstra, aku tidak ingin ada satu laporan yang salah. Aku tidak ingin mengecewakan ummi
Sejak tiba di dalam ruangan sampai jam istirahat kerjaku melihat komputer terus, sedangkan ummi sibuk membaca laporan dan menanda tangani dokumen.
"Kita makan di luar Ndah" ucap ummi yang mengagetkanku karena beliau sudah berdiri di sampingku
Aku menoleh dan mendongak pada beliau
"Apa ummi?" tanyaku
"Kita makan di luar" ulangnya lagi
Aku menganggukkan kepalaku dan segera menshutdown komputer, lalu mengikuti langkah beliau kearah lift menuju bawah.
Dengan berjalan kaki, aku dan ummi makan di cafe yang letaknya tak jauh dari kantor. Kami segera memesan menu makan siang lalu tak lama pelayan membawakan pesanan kami
Sebelum makan, aku ingin ketoilet, lalu aku berpamitan pada ummi ingin ke belakang. Saat aku melewati meja pengunjung yang lain mataku tertumbuk pada seseorang yang tak asing bagiku
Aku menghentikan langkahku, lalu menatap tajam kearah meja di sudut cafe ini.
__ADS_1
Tak salah, itu memang pak Abraham. Mengapa dia ada disini? batinku. Ah, ini tidak mungkin kebetulan, gumamku. Pasti ini atas suruhan abang, lanjutku sambil menarik nafas dalam