
Aku menggenggam erat tangan Naura saat kami meninggalkan makam Andi.
Sepanjang jalan Naura terus terisak
"Semoga engkau bisa menjawab semua pertanyaan Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir ayah..." gumamnya tercekat
Aku hanya bisa mengelus tangannya untuk memberinya kesabaran ketika mendengarnya bergumam begitu
Abang yang berjalan di sebelahku sesekali mengusap kepalaku yang ku balas dengan mendongakkan kepala kearahnya sambil tersenyum samar
Ah, apakah dia cemburu ya?, batinku
Adam yang berjalan di belakang kami, bersebelahan dengan Dimas yang menepuk-nepuk pundaknya
Hingga akhirnya kami masuk mobil dan kembali ke rumah
"Mama...." teriak Serkan dan Defne ketika kakiku menginjak halaman rumah
"Ya Rabb, kenapa aku melupakan mereka?" batinku yang langsung menangkap mereka
"Where you go?"
Aku mengelus wajah mereka berdua, di teras kulihat umakku berdiri melihat kearah kami
"Mama?" tarik Defne
"Sorry sweety, mama went to funeral of Ukhti's father"
Defne langsung mendekat kearah Naura yang juga turun
"Our condolences to ukhti" ucapnya sambil memeluk Naura
Lalu aku membimbing keduanya masuk, dan tiba di depan umakku aku langsung memeluk beliau berganti dengan Naura yang memeluk erat nek ino nya
Abang pun mencium punggung tangan umakku dan menanyakan kabarnya
Lalu kami semua masuk, aku dan suamiku naik ke kamar kami. Dan aku segera masuk ke kamar mandi, sementara suamiku langsung membuka e-mail
Selesai mandi aku lihat wajah suamiku masih tampak serius.
"Gimana?, jadi kita pulang besok?"
Tanpa mengalihkan perhatian dari tabletnya abang menjawab
"Biarlah selesaikan sampai satu minggu sayang, ini abang sudah kirim email dengan orang kepercayaan abang untuk handle semua pekerjaan"
"Nggak ganggu kerjaan apa bang?"
"In Syaa Alloh tidak, abang ingin kepulangan kita kali ini menyelesaikan seluruh masalah. Ketika nanti kita kembali ke Jeddah, semuanya sudah clear"
Aku memandang suamiku tanpa berkedip, mencerna arah dan maksud omongannya
Ozkan yang sadar jika Indah berdiri mematung segera mengalihkan perhatiannya dari tablet yang sejak tadi dipandanginya
"What's wrong?"
Aku mendekat kearahnya dan segera duduk di sampingnya
"Tidak ada yang perlu diselesaikan abang, semuanya sudah selesai" jawabku
Ozkan diam, meletakkan tablet dan menatap dalam mata istrinya
"Oke kalau kamu bilang begitu, tapi kita pulangnya setelah selesai acara doa untuk Andi, ya?"
Aku menarik nafas panjang. Tak ada pilihan lain bagiku, kecuali menuruti apa katanya
...****************...
Saat malamnya diadakan acara tahlilan, dan Adam langsung yang memimpin tahlilan, dan lagi-lagi sangat banyak jamaah yang datang
Bahkan aku mendapatkan kejutan kedatangan para kepala panti asuhan dan juga para anak panti.
__ADS_1
Berebutan anak panti menyalamiku dan abang saat mereka masuk ke halaman rumah kami
Sementara para tetanggaku yang dekat dan jauh juga datang.
Saat aku mengobrol dengan istri kepala panti setelah acara tahlilan selesai, aku melihat ada mas Afdal dan Riyan mendekatiku
"Mbak..." sapa mereka sopan
Aku segera berpamitan dengan ibu kepala panti dan mengajak Rian dan Afdal duduk agak kebelakang
"Kami turut berduka cita mbak" ucap keduanya
Aku mengucapkan terima kasih dan tersenyum kearah mereka
"Sebentar ya mas, aku nelpon suamiku dulu"
Wajah Afdal dan Rian langsung menegang
"Pak Wakil CEO disini?" tanya Afdal dengan wajah tegang
Aku tersenyum sambil mengangguk
"Abang, ada Mas Afdal dan mas Rian, abang sini ya?"
Kembali kulihat wajah mereka berdua tegang
"Iya, ini mereka sama aku di belakang, sekalian aja mereka aku kenalkan sama abang"
Aku tersenyum mendengar jawaban abang, lalu aku membalik handphoneku dan menatap kearah mas Afdal dan Rian bergantian
"Kok wajahnya jadi tegang?"
Keduanya nyengir
"Tenang, suamiku baik kok. Kalian jangan takut"
"Haduh mbak, deg degan kami bertemu dengan orang nomor dua di perusahaan kami" jawab Mas Afdal
Wajah keduanya kian tegang ketika abang berjalan kearah kami. Begitu sampai abang langsung mengulurkan tangan kearah mereka
"Jangan terlalu formal begitu, santai saja" ucap abang sambil menepuk pundak Afdal
Aku terkekeh
"Kami tidak tahu jika bapak ada disini" jawab Afdal takut-takut
"Come on deh mas, dulu juga pernah lihat abang, kan?"
Afdal tersenyum, sedang abang menoleh ke arahku dengan kening berkerut
"Waktu di Pekanbaru" jawabku karena aku yakin abang menoleh ke arahku ingin menanyakan itu
Akhirnya ketiganya mengobrol akrab, walau diawalnya tampak sekali rasa canggung di wajah mas Afdal dan Rian, tetapi karena pembawaan abang yang ramah dan luwes, akhirnya mereka bisa mengobrol akrab.
Dan ketika mereka berpamitan, secara sopan keduanya meminta izin untuk mengambil foto bersama abang.
"Untuk kami pamerkan ke group kantor pak" ucap mereka jujur yang kusambut dengan tergelak
Belum sampai keduanya di parkiran, hp keduanya sudah ramai dengan suara notifikasi pesan masuk
Bahkan hingga pak Tobias ikut berkomentar dan menyatakan keirian beliau atas keberuntungan mas Afdal dan Rian yang bisa bertemu langsung dengan Ozkan
...****************...
Setelah semua tamu yang datang ikut mendoakan Andi pulang, dan rumah kami telah bersih oleh seluruh santri panti asuhan, aku ikut duduk di tengah keluarga besar ku
Kulihat ada Joni dan juga Maria. Entah mengapa tiap melihat wajah Maria dendamku kembali membara
Maria terus menundukkan kepalanya, tak berani menatap ke depan karena ada Indah yang saat itu memandang tajam kearahnya.
"Rencana kepulangan kami ke Jeddah telah kami tunda, dan pilot jet pribadi kami telah saya suruh pulang duluan" buka abang
__ADS_1
Joni langsung menelan ludahnya demi mendengar Ozkan menyebut jet pribadi
"Saya sudah berbicara pada istri saya untuk disini sampai satu minggu"
Naura dan Adam langsung memegang lenganku secara berbarengan dengan senyum cerah di wajah mereka
Senyum yang sejak kemarin tak pernah aku lihat dari wajah keduanya
"Untuk pembahasan lain-lain, nanti kita bahas di malam ketujuh" sambung Ozkan
"Yang penting di sini adalah kita sama-sama berkumpul, iya kan sayang?"
Aku hanya tersenyum sekilas pada abang, sebenarnya aku tidak setuju dengan ucapan abang
"Berkumpul?, sama Maria dan pak Hermawan? Cihhh, nggak suka aku, batinku
"Apa ada yang ingin dibahas lagi?" tanya abang
"Hemmm, begini pa, tradisi di sini itu ada tiga hari dan tujuh hari, apa kita perlu melaksanakannya?" tanya Naura
"Kalau itu bicaralah sama bundamu, karena papa tidak tahu" jawab Ozkan sambil tersenyum
"Harus ada pokoknya, harus ada tiga hari dan juga tujuh hari" jawab pak Hermawan cepat
Mataku yang sejak tadi memang sudah memandang tak suka padanya, begitu beliau menjawab nyolot seperti itu, akhirnya memancing emosiku
"Kalau anda ada uang, silahkan anda adakan sendiri" jawabku ketus
"Sat...?"
Aku menoleh tak suka pada kak Andri
"Bapak nggak usah ikut campur, diam saja!" ucap Ningsih cepat
Dimas segera menggelengkan kepalanya kearah pak Hermawan
"Andi anak anda kan, jadi wajar jika sekarang anda yang mengurus acara doa dan tahlilnya" sambung ku
"Sayang...?"
Gigiku gemeletuk menahan marah ketika menoleh kearah abang yang menggeleng sambil tersenyum
"Jika anda ingin anak anda di doakan sampai tujuh hari, anda diam, ya?, nggak usah banyak komentar" jawab kak Andri yang membuat wajah pak Hermawan terkesiap
"Karena ini semuanya sudah di rumah Naura dan adik-adiknya, jadi kami putuskan, semua acara tahlil dan doa akan berlangsung disini, terserah kalau anda mau mengadakan sendiri di rumah anda, silahkan" sambung kak Andri lagi
"Kami nurut saja mas Andri" jawab mbak Ningsih cepat dan disetujui pula oleh Joni
"Baiklah, jika semuanya setuju, artinya akan ada acara yasinan dan tahlilan sampai malam ketujuh di rumah ini" jawab Bapakku
"Dan kami mohon untuk bapak Hermawan dan keluarga jangan diambil hati sikap dan omongan anak bungsu saya tadi"
Wajahku langsung cemberut kearah bapakku begitu mendengar beliau berkata seperti itu
Sedangkan kak Andri dan kak Angga tampak menahan tersenyum yang membuatku melirik tajam kearah mereka
"Tenang nek nang, ada lima bodyguard di rumah ini, jadi jika mbah macam-macam, tinggal lima bodyguard yang menyelesaikannya" jawab Adam santai yang kusambut dengan senyum kemenangan
Pak Hermawan melirik kearah pak Abraham cs yang duduk di dekat abang, dan langsung bergidik ngeri ketika tatapannya dibalas tajam oleh pak Abraham
"Berhubung telah malam, sebaiknya kita semua istirahat, aku juga capek, nyaris dua hari dua malam aku tidak tidur" sela Naura yang menempelkan kepalanya ke pundakku
"Bunda setuju, kamu memang harus istirahat nak"
"Adam, ajak mbahmu tidur di kamar mu, ya?" ucap bapakku
"No!!!" teriakku kencang
Kak Andri dan kak Angga yang sejak tadi menahan tawa langsung terbahak-bahak
"Wah ini parah nihhhh..." ucap keduanya terbahak
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
Kami semua langsung menoleh keluar, dan kedua kakakku langsung menghentikan tawa mereka. Betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang berdiri di luar