
Emir menarik nafas panjang lalu mengikuti yang lain naik ke kamar mereka masing-masing.
"Emir, wait!" teriak Naura saat Emir sudah berjalan
Emir berhenti dan Naura berjalan cepat kearahnya.
"Daena faqat nadhhab 'iilaa almushula , daena nusaliy awlaan. eindaha faqat nartafie" (Kita ke musholla saja yuk, sholat dulu. Baru setelahnya kita naik)
Emir mengangguk setuju, melihat tuan muda Emir dan ayuknya membalikkan badan, Adam membuntuti
"Ayuk, adek mau ikut"
Naura mengulurkan tangannya lalu mereka bergandengan
Sampai di mushala yang ada di lingkungan Jatra Hotel, Naura berbelok ke bagian wudhu khusus perempuan, sedangkan tuan muda Emir dan Adam kebagian laki-laki
"Anat kahin alsala" ucap Adam pada Emir yang dibalasnya dengan anggukan kepala
Lalu Emir maju ke depan dan menjadi imam shalat Maghrib mereka sore ini.
Saat mereka selesai shalat, ternyata rombongan nenek anangnya beserta dengan kedua orang tuanya dan orang tuan Akmar masuk pula kedalam mushala.
"Tunggu disini nak, ada yang harus kita bicarakan" bisikku saat melihat Naura sudah berdiri
Akmar dan Emir saling tatap, lalu Emir mengulurkan tangannya
"Assalamualaikum, ana Emir min aljazirat alearabia"
Wajah Akmar sedikit kaget mendengar jika Emir berasal dari Arab dan berbicara padanya menggunakan bahasa Arab
"Ana Akmar"
Lalu keduanya saling senyum dan Emir duduk agak menjauh dari rombongan yang hendak shalat
Dilihatnya Naura duduk di belakang sambil menunduk dengan menggerak-gerakkan jarinya seperti sedang dzikir
Adam mendekatinya dan memegang tangan ayuknya
"Adek disini, adek akan jaga ayuk"
Mata Naura yang sejak tadi telah mendung langsung tumpah, dipeluknya erat Adam dan menangis dalam diam
Emir hanya mampu melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya rombongan neneknya selesai shalat. Naura segera menyalami bundanya, nenek inonya, dan mamanya Akmar
Lalu semua yang ada di dalam mushola duduk menepi. Naura lalu menunduk melihat suasana yang sangat tidak nyaman baginya ini
"Bisa kita lanjutkan?" ucap papa Akmar
Naura langsung menggenggam tangan Adam. Adam yang seolah faham, balas menggenggam tangan ayuknya
Aku yang melihat kedua anakku saling berpegangan tangan merasa iba dan ada rasa marah di dadaku
"Tujuan kami menemui bapak dan ibu tak lain dan tak bukan ingin menyambung hajat baik anak kami Akmar yang ingin mengajak Naura untuk taaruf"
Detak jantungku berdegup kencang, lemas rasanya tubuhku mendengar ucapan papanya Akmar
Naura yang mendengar itu semakin ketakutan dan jantungnya berdegup kencang.
Aku dengan cepat langsung memegang bahunya yang mulai agak limbung
Kulihat bapakku menarik nafas dalam, dan abang diam. Dan mulutku rasanya sudah gatal ingin menjawab omongan papanya Akmar
"Kami tidak bisa memutuskan, karena ini sangat mendadak, lagian ini terlalu cepat untuk kami" ucap bapakku setelah lama diam
"Tapi bukankah segala niat baik harus disegerakan pak?"
Bapakku tersenyum
"Cucu saya masih terlalu kecil, Insha Alloh perjalanannya masih panjang. Lagi pula, kami tidak bisa memutuskan karena hanya Naura yang bisa memutuskan ini"
Naura yang menunduk terus saja menggenggam tangan Adam.
"Naura, kamu mau kan taaruf denganku?"
Emir menatap kearah Akmar. Dia sedikit faham karena tadi Akmar mengucapkan kalimat taaruf
Naura diam, tak menjawab sedikitpun.
"Ada pepatah yang mengatakan, jika diam itu emas" sambung mama Akmar
Bergemuruh rasanya dadaku
"Itu artinya mungkin Naura setuju" sambung papanya
Naura segera mengangkat kepalanya, kulihat wajahnya penuh dengan air mata
__ADS_1
"Maaf bapak, maaf ibu, saya diam bukan berarti saya setuju dan menerima taaruf ini"
Aku makin menatap dalam anakku yang air matanya terus mengalir
"Maafkan aku Akmar, aku tidak bisa taaruf denganmu, aku masih mau kuliah, aku masih ingin mengejar cita-citaku. Aku bukan tak ingin menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak, tapi aku juga ingin menjadi wanita mandiri, jadi maafkan aku"
Aku memegang bahunya seakan memberikan kekuatan padanya
"Kita taaruf dulu Naura, belum akan menikah. Aku juga mau kuliah, aku mau jadi orang hebat baru setelah itu kita menikah"
"Jika itu mau kamu, kamu buktikan dulu kesuksesan kamu. Jika kita memang berjodoh, mau sejauh apapun jarak kita, mau sesulit apapun rintangan kita, ada Alloh yang akan menyatukan kita"
Aku melirik kearah abang. Teringat bagaimana perjuangan kami hingga akhirnya kami bisa bersatu seperti sekarang
"Apa karena ada dia sehingga kamu menolak ku?" ucap Akmar melirik kearah Emir yang hanya diam
Naura terdiam, dia menatap kearah Emir
"Tidak ada sangkut pautnya dengan dia, dia adalah saudara ku dari Jeddah"
Emir yang ditatap Naura balik menatap dengan dalam juga
"Ma bik Naura ?, hal yashuku bi?" (ada apa Naura?, apa dia curiga padaku?)
Naura menggeleng
"Hal tuhibiyn Naura ayda?" (apa kau juga menyukai Naura?)
Emir langsung menatap kearah Akmar, dia diam
"Maaf Akmar, seperti yang aku bilang tadi, kita raih dulu kesuksesan kita, baru setelah itu jika Alloh memperkenankan, kita bisa taaruf"
Aku menarik nafas panjang mendengar jawaban putriku
"Aku akan buktikan padamu Naura. Dan aku harap kau mau menungguku"
Naura kembali menundukkan kepalanya
"Jika boleh, Naura mau keluar sekarang. Karena Naura, Adam dan Emir mau naik keatas"
Aku menganggukkan kepalaku, begitu juga dengan papanya Akmar
Naura berbalik memelukku, lalu menyalami umakku dan menyalami mamanya Akmar, baru setelahnya dia berdiri dengan diikuti Adam
"Taeal ya 'Emir , daena nadhhab" ucap Adam (Ayo Emir, kita pergi)
"Maaf ya pak, bapak sudah dengar sendiri jawaban cucu saya, seperti yang tadi cucu saya katakan, jika Alloh menghendaki tidak ada yang tidak mungkin"
Papa Akmar menganggukkan kepalanya. Sementara Akmar yang melihat Naura pergi merasakan rasa aneh di dalam dadanya. Ada rasa marah, kecewa, campur aduk
...****************...
Besoknya kami langsung menuju ke rumah Kak Jen. Seluruh keluargaku sudah ku wanti-wanti untuk tidak membahas masalah semalam. Aku tak ingin mood Naura buruk, bagaimana pun juga aku ingin anakku itu bahagia ketika bersamaku.
Mobil yang kami tumpangi masuk ke halaman sebuah rumah mewah dan besar
"Benar ini rumah kak Jen?" tanyaku pada supir
"Benar nyonya, seluruh Pekanbaru mengenal madame Jennifer, dan kami semua tahu di mana rumahnya"
Aku menganggukkan kepalaku. Kak Jen benar-benar hebat, hingga se-Pekanbaru mengenalnya
Dari dalam rumah besar yang pintunya terbuka muncul kak Jen. Tidak sendirian melainkan bersama banyak anak, besarnya pun beda-beda, ada yang sudah besar ada juga yang masih berumur sekitar delapan atau sepuluh tahunan
Mereka semua menyerbu kearah kami, berebutan menyalami kami. Aku yakin mereka pasti anak asuh kak Jen. Karena dulu kak Jen pernah bercerita padaku
"Yuk cin kita langsung kebelakang ya.."
Kami semua mengikuti kak Jen, tak terkecuali ketiga bodyguard kami.
Sampai di sana, telah ada banyak hidangan yang tersedia. Bahkan kak Jen sampai mendirikan tenda untuk menjamu kami
"Pura-pura nya kita garden party" ucap kak Jen yang membuatku terkekeh
Serkan dan Defne digandeng umak bapakku. Emir berjalan dengan abang dan Adam sedangkan Naura menggandengku
"Mereka anak asuh kakak?" tanyaku
"He eh, sengaja kakak ajak kesini, biar mereka juga ikut menikmati pesta kecil kita"
Aku menganggukkan kepalaku
"Ayo, ayo, langsung makan" teriak kak Jen
Kami langsung menuju meja catering berbaris mengambil makan. Dan sama seperti kemarin tuan muda Emir mengikuti apa yang diambil abang
Kami semua makan bersama. Puluhan anak asuh kak Jen juga ikut antri di barisan catering yang lain.
__ADS_1
Kami segera makan bersama, dan ketika selesai kami duduk santai sambil mengobrol dan makan makanan ringan yang juga telah tersedia
"Bapak-bapak sigap siaga, eyke sudah siapkan mini music ya untuk kita-kita senang-senang, eyke harap kalian bisa ikut menikmati jangan tegang terus"
Pak Abraham cs hanya menganggukkan kepalanya saja
"Musiiikkkkk..." teriak kak Jen
Langsung lah terdengar suara musik hingar bingar, aku sampai terkekeh melihat kak Jen yang meliuk-liukkan tubuh gemulainya
"Tuh ulat bulu, jangan-jangan kesurupan" bisik abang
Aku refleks memukul lengannya sambil terkekeh.
Emir mendekat kearah Naura yang duduk agak menjauh
"Hal li aljulus huna? (boleh saya duduk disini?)
Naura menoleh dan mengangguk pelan. Tak perlu menunggu jawaban karena tadi Naura mengangguk, Emir segera duduk
Sambil santai mereka melihat kearah kerumunan anak asuh kak Jen yang berjoget-joget
"Yabdu 'anahum sueada'?" (mereka tampaknya sangat bahagia)
Naura mengangguk pelan dan tersenyum samar
"Naura, can I take our photos?"
Naura memiringkan kepalanya dan memandang sebentar pada Emir
"For what?"
"For memories"
Naura terkekeh, dan ini adalah pertama kalinya Emir mendengarnya terkekeh sejak kemarin
"Ok?"
Naura mengangguk pelan dan mulai mendekatkan tubuhnya kearah meja dan Emir menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Naura
Cek rek cek rek cek rek
Emir beberapa kali mengambil swa foto mereka lalu melihat hasilnya, lalu bibirnya mengembangkan senyum
"If you don't mind, can you send it to my handphone?"
Emir mengangguk cepat
"Tell me your number phone"
Tanpa ragu Naura menyebutkan nomor handphonenya, dan dengan cepat Emir menyalin nya
Tak lama handphone Naura mulai berdentang denting tanda pesan masuk.
Naura dengan cepat membuka handphonenya, dan tersenyum menatap handphonenya
Dia tak menyadari jika saat itu secara diam-diam Emir mengambil fotonya
Suasana musik makin heboh. Kak Jen beberapa kali bernyanyi dengan suara cemprengnya. Bahkan diluar dugaanku, tiba-tiba musik berganti dengan musik hindi
Aku segera menatap tajam kearah kak Jen yang sedang berbicara pada DJ
"Ya ampun, ini kan lagu favoritku" gumamku
Kak Jen segera berlari ke arahku, lalu menarik tanganku turun kelantai dekat DJ
Aku segera menoleh kearah abang yang tersenyum melihatku. Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat kearah kak Jen.
"Nggak mau..!" tolakku
Re Re Are Yeh Kya Hua, Maine Na Yeh Jaana
Are Re Are Ban Jaaye Na, Kahin Koi Afsaana
Are Re Are Kuch Ho Gaya Koi Na Pehchana
Are Re Are Banta Hai Toh Ban Jaaye Afsana
Haath Mera Thaam Lo Saath Jab Tak Ho
Kak Jen terus memutar tubuhku yang sedang terbahak-bahak. Kulihat Adam berlari ke arahku, segera mengambil tanganku, lalu mengangkatnya dan menggerakkannya naik turun
Aku mengikutinya sambil terus tertawa. Sementara Naura yang melihat Adam dan Bundanya berjoget memandang dengan mata berembun
"Mikail...." lirihnya
Emir yang mendengar suara lirih Naura segera menoleh dan memandangi wajah Naura yang tiba-tiba berubah mendung
__ADS_1