
Sebelum keluar dari kamarnya, aku mengusap kepala Naura.
"See you soon tuan muda Emir" ucapku sambil melambaikan tangan
"See you soon, bunda" jawab Emir sambil tersenyum
Lalu aku keluar dari dalam kamar Naura dan menutup pintunya
"Naura, janganlah kau memberi harapan pada dua pria nak" lirihku
Dengan pelan aku menuruni tangga, bergabung dengan Adam yang masih terus mengajari Adit dan Alan
"Ibu mana bude?" tanya si bungsu, Alan
"Oh, ibumu ke rumah sakit. Mbahmu dirawat, tapi tadi bude sudah ngomong dengan ibumu, kalau dia mau pulang, telpon bude saja. Nanti bude jemput"
"Oh ya Adit, lusa kamu sudah harus ke pesantren nak, gimana? sudah siap?"
"In Syaa Alloh siap bude"
Aku tersenyum pada ketiganya lalu ikut merujoah dengan Adam sebagai gurunya
Cukup lama kami belajar, hingga adzan Ashar menghentikan kami. Segera kami masuk ke musholla, Naura juga turun dan shalat berjamaah bersama kami
...****************...
Aku dan kedua anakku, Nina dan kedua anaknya, sekarang telah berada di dalam mobil mengantarkan Adit untuk mondok
Sampai di pondok, Naura dan Adam langsung mendatangi ustadz ustadzah mereka dahulu. Tampak sekali kekagetan dan juga kekaguman para pendidik di pesantren ini kepada kedua anakku
"Mikail mana?" tanya kepala sekolahnya
"Alhamdulillah kakak sekarang sudah jadi tentara ustadz, dan sekarang kakak di Jawa" jawab Adam
Kembali mereka mengucap hamdalah atas keberhasilan putra kedua ku itu.
Setelah aku menyampaikan tujuan kami ke pondok, kami lalu bergabung dengan para wali santri yang juga mengantar anak mereka
Ketika berpamitan, tampak Nina meneteskan air matanya. Beragam doa dan nasehat disampaikannya agar anak tertuanya bisa betah dan berhasil menimba ilmu di pesantren
"Ibu mu bagaimana Nin?" tanyaku yang duduk di sebelahnya
"Kata mbak Ning akan dibawa ke Palembang, mbak"
"Loh kenapa?"
"Rumah sakit disini tidak sanggup"
Aku dan kedua anakku beristigfar
"Apa mbah akan dioperasi te?"
"Besar kemungkinan begitu La, ini lagi sibuk ngurus administrasinya"
"Ya mudah-mudahan, ibumu cepat sehat ya Nin"
"Aamiinn mbak"
Aku kembali fokus menyetir, dari spion aku melirik kearah Naura yang tampak serius menatap handphonenya
"Yuk, sudah disebar undangan nya?"
Naura mengangkat kepalanya dengan cepat dan hanya menjawab singkat
"Sudah bunda"
"Ya syukurlah, teman-teman kuliah ayuk atau teman SMA ayuk ada yang diundang juga?" aku sengaja menanyakan ini karena aku penasaran apakah Akmar juga diberi tahunya
"Ayuk cuma kasih tahu aja bun, nggak mungkinkan untuk mereka datang, kan jauh"
Aku mengangguk setuju. Pelan dan pasti mobil yang ku kemudikan masuk ke kawasan rumahku yang telah ramai para tetanggaku yang rewang
Aku bukan tak mau memakai jasa catering, tapi umak dan ayuk-ayukku tidak mengizinkan, alasan mereka kalau pakai catering, para tetangga jadi canggung mau datang
Jadilah aku menuruti apa kata mereka. Orang tersibuk urusan belakang tentu saja mbak Dian dan yuk Yana. Kepada mereka berdua lah aku menyerahkan urusan makanan.
Melihat mobilku berhenti, para tetangga yang sedang rewang menoleh
"Maaf ya ibu-ibu jadi merepotkan" ucapku sambil menyalami mereka
"Biasa saja bunda" jawab mereka
Kebanyakan dari mereka membawa anak mereka, bahkan ada yang membawa cucunya
Tentu saja tujuan mereka karena anak cucu mereka penasaran ingin melihat rumah kami dari dekat
"Siapa yang mau berenang?"
Aku segera menoleh kearah Naura yang telah mendekati anak-anak yang sedang bermain di halaman luas kami
__ADS_1
Kompak seluruh anak-anak itu menunjuk tangan dan saling lompat
"Ikut ayuk!"
Aku tersenyum melihat Naura diikuti oleh anak-anak.
"Emang nggak papa bunda anak kami renang disini?"
Aku menoleh pada seorang ibu muda sambil tersenyum
"Jangankan anak-anak, ibu-ibu saja jika mau renang silahkan"
Mendengar jawabanku semua ibu-ibu itu terkekeh
Setelah cukup basa-basi nya aku masuk hendak meletakkan tas yang sejak tadi aku jinjing
Sambil berjalan menaiki tangga aku menelpon abang
"Video call saja sayang"
"Iya sebentar, aku lagi naik tangga ini"
Kudengar abang terkekeh
"Twins ada kan bang?, aku kangen loh sama mereka"
"Masih di sekolah, kalau mau video call sama mereka nanti malam saja"
Aku menarik nafas dalam, sudah dua bulan aku jauh dari mereka
Sampai di kamar mode panggilan aku ganti ke mode video. Tampil lah wajah tampan suamiku dengan memakai jas hitam
"Ah sayang, rindunya aku sama kamu" ucapku ketika melihat wajah suamiku
"Abang juga rindu berat sama kamu Indah, jadi kapan kamu pulang, abang udah nggak kuat..."
Aku terkekeh mendengar ucapan manja suamiku. Ingin sekali rasanya aku menarik hidungnya
"Lusa grand opening kliniknya Naura, mungkin setelah itu aku pulang bang"
Wajah Ozkan mengembangkan senyum
"Abang suruh Abraham dan teman-temannya datang untuk berjaga-jaga, ya?"
Aku diam, tampak berfikir menimbang usul abang
"Apa nggak merepotkan mereka?"
Aku terkekeh
"Tentulah mereka tidak berani, kan abang bos nya, andai mereka tahu betapa sweetnya abang, aku yakin mereka tidak akan takut lagi sama abang"
Ozkan mendelik kan matanya, gemas karena Indah meledeknya.
Lalu aku mengakhiri obrolan karena aku harus turun membantu ibu-ibu yang rewang.
Suara jeritan tawa berderai dari anak-anak yang mandi di kolam membuatku tersenyum.
Sebelum turun, aku berjalan kearah balkon, melihat bagaimana anak-anak itu berenang
Kembali aku tersenyum saat melihat betapa bahagianya mereka mandi di kolam renang
...****************...
Papan bunga berjejer sangat banyak di jalan hingga di halaman klinik. Aku yang duduk di samping Adam tersenyum bangga melihatnya
Papan bunga dari rumah sakit daerah dan kota, papan bunga dari pemerintah kabupaten kota, kecamatan hingga desa, bahkan ada papan bunga yang sangat menarik perhatianku karena tulisannya
"Selamat sukses mbak Indah, kami mendukungmu, Afdal dkk"
Aku membekap mulutku karena itu papan bunga dari Afdal teman sekantor Andi dulu
Mobil berhenti, aku dan kedua anakku segera turun. Dengan sigap pak Abraham cs berdiri di samping kami dan membawa kami masuk kedalam tenda
Aku yang tidak menyangka akan sebegini antusiasnya warga masyarakat dalam pembukaan klinik Naura jadi terharu
Aku dibawa Adam duduk di kursi yang telah disediakan, duduk bersebelahan dengan umak bapakku yang terlebih dulu datang
Dari tempatku duduk aku dapat melihat jelas kak Andri sibuk menyalami para tamu undangan yang mungkin adalah tamu dari pemerintahan
Adam yang duduk di sebelahku mencolek lenganku yang membuatku langsung menoleh padanya
"Itu ada ayah, bunda"
"Hah?, mana?"
Adam berbisik yang membuat mataku nanar mencari keberadaan Andi.
Kulihat dia duduk berseberangan dengan ku, tampak mengobrol dengan rombongan laki-laki berseragam biru muda
__ADS_1
"Rombongan Salam group" desisku
Aku lalu berbisik ke telinga Adam, dan Adam bangkit. Aku terus mengikuti langkah Adam dengan tatapanku. Tampak Adam menghampiri rombongan berseragam biru muda yang menatap ke arahku sambil menangkupkan tangan mereka
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku kearah mereka. Aku tak melihat Naura, entah ada di mana dia sekarang. Mungkin dia sedang briefing dengan rombongannya.
Hingga tak lama aku melihat seluruh calon karyawan klinik Naura keluar dari dalam klinik yang disambut kami semua dengan tepuk tangan
Naura berjalan paling depan, diapit dua orang dokter. Dia membawa buket bunga besar dan berjalan ke arahku
Aku tersenyum haru saat Naura memberikan buket itu padaku dan memelukku dengan berurai air mata
"Terima kasih bunda karena sekali lagi bunda mewujudkan mimpiku"
Aku tak bisa berkata apa-apa, air mataku kian deras mengalir.
Naura mencium kening dan pipi bundanya dengan dalam, disusul pelukan hangat dari Adam
"Semoga sukses ya yuk"
Naura menganggukkan kepalanya sambil mengusap sayang kepala Adam.
Lalu rombongan calon pegawai klinik Naura masuk kedalam tenda, duduk di tempat yang telah disediakan.
Acara dimulai, sebagai sambutan dari pihak keluarga, diwakilkan oleh kak Andri, lalu sambutan dari pemerintah kabupaten.
Selesai dengan acara sambutan, tiba-tiba ada lagu Melly Goeslaw, bunda yang tampil di layar besar yang memang oleh pihak penyelenggara telah disiapkan
Seluruh mata yang ada di sini menatap kearah layar besar tersebut, tak terkecuali aku
Tampil wajahku saat masih muda dulu, sedang menggendong seorang bayi sambil tertawa
Air mataku langsung mengalir karena itu adalah wajahku saat menggendong Naura. Banyak foto ku dan Naura tampil di slide tersebut
Lalu berpindah lagi dengan fotoku bersama Mikail kecil, aku yang mengangkatnya tinggi sambil tertawa
Tampil lagi fotoku bersama Adam kecil ketika sedang di akikah.
Air mataku kian deras mengalir saat slide bertuliskan
"Kami ketika ditinggal bunda"
Tampil wajah sedih ketiga anakku, umak bapakku, kakak-kakakku.
Adam yang juga terlihat menyusut air matanya terus menggenggam erat tanganku
Tampil lagi slide ketiga anakku ketika mereka di pesantren yang membuat air mataku mengalir dengan bangga
Slide selanjutnya menampilkan gambar kontrakan kami dulu, lalu berpindah ke rumah mewah kami sekarang dengan tulisan
"Rumah ini adalah khayalan ku dan kakak ketika kami kecil dulu"
Air mataku kian deras mengalir bila mengingat mimpi mereka kecil dulu.
Hingga akhirnya slide menampilkan bagaimana gagahnya Mikail berseragam loreng yang disambut dengan tepuk tangan seluruh yang ada, berganti slide yang menampilkan Naura saat wisuda dan terakhir slide yang menampilkan Adam ketika dia lulus kemarin
Terakhir slide yang menampilkan wajah Abang dan kedua anak kembarku
"Papa yang selalu mendukung kami dan adik kembar tercinta kami"
Aku tersenyum melihat wajah abang di slide itu. Ah manisnya suamiku
Terakhir tampil sebuah video dari Mikail
"Assalamualaikum bunda, bunda sehat terus ya bun. Kakak kangen bun"
Yang kami sambut dengan terkekeh mendengar kalimat rindunya
"Selamat sukses ya yuk untuk kliniknya, semoga amanah. Adek Adam, jaga bunda ya selama kakak jauh"
Lalu kulihat Mikail diam, tampak mengerjap-ngerjapkan matanya. Aku tahu dia menahan tangis
"Bunda, tidak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana sayangnya kami sama bunda, bagaimana berterima kasihnya kami sama bunda karena berkat bunda lah, segala mimpi kami terwujud"
"Maafkan kami bunda karena belum bisa membahagiakan bunda dan membalas jasa bunda"
"Tapi kami berjanji bunda, sampai kapanpun kami akan menyayangi bunda"
Lalu terdengar suara Mikail melantunkan ayat Al-Qur'an
وَبَرًّۢا بِوَٰلِدَتِى وَلَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا
Wa barram biwaalidatii wa lam yaj'alnii jabbaaran syaqiyyaa.
Artinya: Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (QS.Maryam: 32)
"Terima kasih banyak bunda, sehat selalu dan nantikan kepulangan kakak di rumah"
Lalu Mikail melambaikan tangannya. Dan kembali terdengar lagu Melly Goeslaw. Naura dan Adam segera bangkit dari kursinya memelukku erat
__ADS_1
Andi yang sejak tadi memperhatikan terlihat menyusut air matanya. Ada rasa bersalah dan penyesalan yang memenuhi hatinya melihat Indah menangis sambil didekap kedua anaknya