
"Mari pak, kami antar bapak ke first class" ucap sang pramugari begitu Ariadi masuk kedalam pesawat.
Ariadi tampak celingukan. Mencari dimana Indah duduk.
"Saya ingin dikelas ekonomi" jawab Ariadi
Pramugari itu mengerutkan keningnya
"Tidak bisa pak, ekonomi sudah full, dan di tiket ini bapak di first class"
Ariadi mengeluarkan black card dari dalam dompetnya.
"Sebutkan kamu mau berapa" ucapnya dingin
Sang pramugari langsung terkesiap menyadari jika di depannya bukanlah orang sembarangan.
"Tapi pak?" ucapnya kembali ragu
"Di sana ada istri saya, dan dia mau pergi. Saya mau menghentikannya"
Pramugari itu bingung harus berbuat apa. Sementara pesawat sudah siap take off
"Jalan satu-satunya adalah bapak tukar tempat dengan satu penumpang di kelas ekonomi" jawab pramugari setelah sekian detik diam
Tanpa menjawab panjang lebar Ariadi menyetujui. Sebelum pramugari tersebut pergi kekelas ekonomi, Ariadi memperlihatkan foto Indah di hp nya
"Ini istri saya, saya mau penumpang di sebelahnya yang bertukar tempat dengan saya"
Pramugari itu mengangguk. Tak lama pramugari itu sudah kembali lagi dengan perempuan yang kira-kira usianya diatas Indah sedikit.
Ariadi langsung melesat masuk kekelas ekonomi, di dapatinya kursi kosong tepat di sebelah Indah.
Segera dikeluarkannya sebuah masker lalu memasangnya kewajah. Setelah itu barulah dia berjalan kekursi tepat di sebelah Indah.
Ariadi dengan santai duduk di sebelah Indah yang wajahnya pucat dan tegang
Ingin sekali rasanya saat itu Ariadi memeluknya. Tapi niat itu diurungkannya, karena dia tahu Indah marah padanya.
Ari hanya memperhatikan Indah yang saat itu sedang memasang safety belt dengan tangan gemetar.
"Bismillah Ya Alloh" gumamku
Ariadi jelas mendengar gumaman Indah.
Berkali-kali aku menarik dan menghembuskan nafas dalam. Aku harus menguasai ketakutanku, aku harus lawan dia.
Teringat dimataku saat pertama kali aku naik pesawat, saat itu Andi menggenggam tanganku dan mengajakku bercerita hingga aku lupa dengan ketakutanku, tapi itu hanya tinggal kenangan. Dan sekarang, aku takut sama seperti dulu, tapi Andi tidak ada di sebelahku.
Aku menoleh pada lelaki yg duduk disebelahku, dia tampak memperhatikanku, mungkin dia heran dengan sikap kampunganku. Tapi terserahlah, toh aku tidak kenal dia.
Aku lalu kembali fokus, aku berdoa dalam hati ketika perlahan pesawat mulai naik.
Aku mencengkram pegangan kursi dengan erat. Mataku terpejam, dan dalam hati aku berdoa memohon keselamatan.
Ariadi yang melihat Indah begitu ketakutan jadi bimbang, jika dia menggenggam tangan itu, dia khawatir Indah akan tahu siapa dia, tapi jika tidak, hatinya tak tega melihat wajah pucat pasi Indah.
Aku masih ketakutan, dan tanganku kian kuat mencengkram pegangan kursi. Tapi sekarang kurasakan berbeda, tangan kananku ada yang menggenggamnya.
Aku membuka sedikit mataku, Yup!! lelaki di sebelahku rupanya yang menggenggam tanganku.
"Jangan khawatir, saya hanya menolong kamu" ucapnya dengan suara tertahan. Mungkin karena terhalang masker yang dipakainya
Aku bergeming, aku hanya diam. Setidaknya aku jadi sedikit lega. Perlahan pesawat tenang, aku dengan cepat membuka mataku dan menarik nafas dalam, lega
Aku segera menarik tanganku yang sedari tadi digenggam pria yang tak kukenal.
"Terima kasih" ucapku
Pria itu hanya mengangguk.
Aku menoleh pada kaca jendela pesawat di sebelahku. Dengan jelas aku dapat melihat awan.
Tiba-tiba rasa hatiku hampa, jauh sekali perasaanku.
Wajah ketiga anakku, kedua orang tuaku, saudaraku, semua terlintas. Tak terasa butiran bening mengalir di pipiku
Ariadi yang sejak tadi memperhatikan Indah, hatinya menjadi sakit ketika melihat jika wanita yang dicintainya itu menangis.
"Kini aku jauh dari kalian, sangat jauh" batinku sambil menangis
Aku tergagap ketika pria di sebelahku menyodorkan sapu tangan. Aku segera mengambil sapu tangan itu dan menyusut airmata di pipiku.
"Saya lihat kamu menangis?" tanya pria di sebelahku
Aku dengan kaku memberikan senyum padanya.
"Terlalu banyak yang saya pikirkan" jawabku
Lalu kami kembali diam, aku mencuri-curi pandang pada pria di sebelahku, matanya mengingatkanku pada abang.
"Ah, tidak mungkin" lirihku
"Iya?" tanyanya
Aku tergagap.
Tiba-tiba pesawat berguncang, refleks aku memegang lengannya. Aku mencengkram kuat lengan itu.
__ADS_1
Ariadi yang terkejut dengan cengkraman Indah segera menoleh, kembali didapatinya wajah Indah yang tegang dan pucat
Ingin sekali rasanya dia membawa wajah itu kedadanya, menyembunyikannya dari rasa takut yang mendera
Tangan kanan Ariadi segera memegang dengan lembut tangan Indah yang mencengkram lengannya.
Dipandanginya wajah pucat itu dengan dalam.
"Andai kau tahu jika ini abang, Ndah" batinnya.
"Maaf" ucapku saat pesawat kembali tenang.
"Kamu takut ketinggian?"
Aku mengangguk.
"Ini bukan kali pertama kamu naik pesawat kan?" tanya pria itu lagi
"Iya, ini yang ketiga kalinya" jawabku
"Tapi karena saya phobia, makanya saya selalu tegang" jawabku
Tangan pria itu terulur hendak menyentuh wajahku. Aku segera menjauhkan kepalaku
Tersadar dengan kelancangannya, Ariadi segera menarik kembali tangannya yang saat itu akan membelai pipi Indah
"Maaf" ucap Ariadi
Aku langsung membuang wajahku lalu kembali menatap awan melalui jendela kaca pesawat.
Ariadi merutuki kecerobohannya. Bagaimanapun dia tidak bisa membohongi hatinya jika saat itu dia ingin sekali memeluk Indah.
...****************...
Mataku mulai meredup, bisa kurasakan jika suasana di dalam pesawat begitu hening. Mungkin penumpang yang lain tidur.
Aku menguap beberapa kali, aku berusaha untuk menahan kantuk, aku tidak ingin lelaki di sebelahku macam-macam, karena sedari tadi dia terus menatapku dan itu membuatku jengah.
"Tidurlah, aku akan menjaga kamu"
Aku langsung menoleh dan menatap tajam kearahnya. Pria itu juga balas menatap kearahku. Memang aku hanya bisa melihat matanya, tapi mata itu seolah tak asing bagiku
"Sebenarnya anda siapa?" tanyaku
Pria itu diam, dia memiringkan badannya yang membuat jarak kami makin dekat.
Aroma maskulin dari tubuhnya membuat dadaku kian berdegup kencang.
Ini abang, batinku
Dan benar, itu abang. Aku menutup mulutku tak percaya. Aku terhenyak di sandaran kursi dengan nafas yang tak teratur
Ariadi segera menangkap tangan Indah dan menggosoknya berkali-kali demi melihat Indah yang kesusahan bernafas.
"Kamu kenapa sayang, kamu kenapa?" ucapnya panik
Aku menarik tanganku dengan kasar, memijit dadaku yang tiba-tiba sesak, dan mengambil air mineral yang diberikan abang
Setelah aku menenggak air mineral tersebut, aku menatap abang dengan sinis
"Untuk apa tuan disini?" tanyaku dingin
"Indah, abang akan jelaskan semuanya sama kamu"
Aku tersenyum samar.
"Tidak ada gunanya tuan, untuk apa? saya sudah tahu siapa tuan, dan tolong jangan ganggu saya, bukankah saya sudah bilang tuan jangan lagi menemui saya"
Ariadi mengusap kasar wajahnya
"Tidakkah kamu ingin memanggilku dengan sebutan abang atau dengan kata sayang ketika kamu bermanja sama abang, hem?"
Aku membuang wajahku.
"Status kita berbeda tuan" jawabku getir
Ariadi langsung menarik tengkuk Indah, dan dengan lembut menyesap bibir manis itu
Aku yang kaget dengan perlakuan abang, berusaha mendorong pundaknya. Tapi tangan abang terlalu kuat menekan kepalaku
Bibir kami menyatu, abang masih dengan lembut ******* bibirku. Aku terus berusaha melepaskan bibirku dari lumatannya, aku terus mendorong bahunya.
Sepertinya Ariadi tidak perduli, dia terus saja menyesap bibir Indah. Sampai akhirnya bibir mereka terlepas ketika dirasakannya ada sebuah cubitan keras di perutnya
Aku segera mengelap bibirku dengan ujung hijabku. Dadaku turun naik menahan marah
"Kembalilah bersama abang"
Aku menoleh dan menatap tak percaya pada abang. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku
"Siapa tuan sebenarnya?" ucapku menatap sendu matanya
Ariadi menarik nafas dalam
"Maafkan jika selama ini abang menutupi jati diri abang dari kamu"
Aku tersenyum basi dan kembali membuang wajahku tidak mau melihat matanya
__ADS_1
Aku takut, jika mata itu terus menusukku, maka aku akan hancur.
"Tolong dengarkan abang Indah. Tolong berikan abang kesempatan menjelaskan yang sebenarnya sama kamu"
Aku menarik nafas dalam lalu menoleh padanya.
"Silahkan, aku akan mendengarkan"
"Hatice memang istri abang"
Serasa petir menyambar tepat di telingaku. Dadaku kembali merasakan nyeri, aku mengusap-usap dadaku
"Kamu baik-baik saja Ndah?" Ariadi tampak khawatir
Aku menepis tangannya yang hendak memegangku
"Terus?"
Kembali Ariadi menarik nafas dalam
"Kami menikah karena dijodohkan, aku sama sekali tidak mencintainya"
Aku tersenyum basi mendengar ucapannya
"Kami menikah karena kepentingan bisnis, dan juga karena abang belum juga menikah sedangkan adik-adik abang sudah menikah semua. Jadi kedua orang tua abang menjodohkan abang dengan anak kolega ayah abang, anak konglomerat Turki juga"
"Tapi percayalah sama abang Indah, abang tidak pernah mencintainya. Jika abang memang mencintainya, abang tidak akan meninggalnya di Turki"
"Dan foto anak lelaki yang kau lihat saat itu bukan anak abang"
Dengan mata terbelalak, aku menoleh pada abang. Keningku mengernyit
"Sewaktu menikah dengan abang rupanya Hatice sudah hamil. Abang mengetahui kehamilannya tepat disaat kami selesai resepsi. Saat itu, saat abang akan kembali kekamar, abang tidak sengaja mendengar percakapan Hatice dengan seseorang melalui telepon"
"Abang memaksa dia untuk mengakui kejahatannya. Dan akhirnya Hatice mengakui, jika dia memang sudah hamil. Saat itu juga abang keluar dari kamar itu dan besok paginya abang ajak dia kerumah sakit. Dan benar, hasil pemeriksaan dokter menyatakan jika Hatice positif hamil."
"Karena kecewa akhirnya abang pergi meninggalkannya tepat setelah dua minggu pernikahan kami, abang pergi ke Indonesia. Abang mengurus perusahaan Salam Group karena hampir separuh saham di perusahaan itu adalah milik abang"
Aku terdiam mendengar ceritanya. Otakku berusaha untuk mencerna dan mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut abang.
Tapi tidak, dulu Andi juga seperti itu, di depanku dia akan sangat bersikap manis, tapi ternyata di belakangku dia main serong dengan perempuan lain
"Tolong percayalah sama abang. Abang sangat mencintai kamu Indah, kamu adalah perempuan kedua yang abang cintai setelah ibu abang"
Aku menelan ludahku. Aku menatap mata sendunya. Ingin sekali aku percaya setiap katanya, ingin sekali aku masuk dan menyelam dalam mata indah itu, ingin sekali rasanya aku mengatakan jika aku juga sangat mencintainya. Tapi rasa itu harus aku buang, karena aku tidak pantas untuk seorang Ozkan Yilmaz
"Tuan kembalilah bersama istri tuan" ucapku bergetar
"Saya pernah ada diposisinya, saya pernah merasakan bagaimana sakitnya melihat suami yang kita sayang bermain hati dengan perempuan lain"
"Tapi abang tidak pernah mencintainya Ndah, bahkan sekalipun abang tidak pernah menyentuhnya"
Aku menggeleng
"Apapun itu kata tuan saya tidak akan merubah keputusan, saya akan menjauhi tuan seperti janji saya sama istri tuan"
Ariadi terhenyak, dia mengusap wajahnya
"Tidakkah kamu mencintai abang Ndah?" tanya Ariadi dengan lirih
Airmataku langsung jatuh mendengar pertanyaannya. Ariadi menoleh dan segera membawa Indah kedadanya.
"Abang sangat mencintaimu Ndah, sangat" ucapnya sambil mengusap bahuku dan menciumi puncak kepalaku
"Kembalilah sama abang, abang akan membawa kamu kehadapan orang tua abang, dan kita akan menikah"
Aku menarik tubuhku dari dadanya
"Abang telah menghancurkan hati saya, saya sangat mencintai abang tapi ternyata abang membohongi saya, dan sekarang abang ingin menikahi saya? tidak abang, saya tidak akan menghancurkan hati perempuan lain hanya untuk kebahagiaan saya"
Ariadi frustasi, entah dengan cara apa dia menjelaskan pada Indah
"Saya sah jadi tkw sekarang, itu artinya status kita makin jauh berbeda. Saya tidak akan mundur hanya karena saya patah hati. Saya telah melalui jauh lebih sakit dari ini, jadi saya yakin, luka hati saya akan cepat hilang"
Aku mengucapkan kata itu dengan getir, aku mengucapkan kata itu hanya ingin membuat senang hatiku sendiri. Padahal aku tidak tahu, entah apa aku bisa melupakan abang atau tidak. Karena aku juga sangat mencintainya.
"Kembalilah Ndah, berapapun ganti rugi yang diminta majikan kamu akan abang ganti"
Aku tersenyum sinis
"Apa orang kaya selalu begini sifatnya?"
Ariadi membuang nafas kasar.
"Bukan seperti itu Indah, abang tidak mau jauh dari kamu"
"Jika abang memang mencintai saya, tolong lepaskan saya" ucapku getir dengan airmata yang langsung mengalir
Ariadi menggelengkan kepalanya dan dia kembali menarik tubuh Indah kepelukannya
Di dada abang aku menangis sepuasku, aku biarkan dia terus memelukku. Karena aku yakin ini adalah pelukan terakhirku padanya. Karena setelah pesawat ini landing, maka kami akan berpisah dan tidak akan pernah bertemu lagi
"Jangan pergi Indah, jangan pergi" ucap Ariadi sambil menyusut airmatanya yang menggenang di pelupuk mata.
Aku kian erat memeluknya. Aku dapat rasakan jika abang juga merasakan kesakitan yang sama sepertiku
"Kembalilah pada Hatice, aku akan bahagia jika abang dengannya, jangan menungguku, karena aku tidak akan kembali" ucapku dengan bahu berguncang menahan sakit
__ADS_1