
Mobil avanza hitam itu tepat berhenti di halaman parkir kantor cabang Lubuklinggau. Aku menarik nafas panjang ketika akan membuka pintu mobil. Ada rasa ragu dalam hatiku saat kakiku akan melangkah turun.
"Saya ada di sini mbak, tidak akan terjadi apa-apa dengan mbak" ucap pak Abraham yang membuatku agak sedikit lega
"Mari mbak" ajak Afdal padaku
Aku melangkah mensejajari mereka naik kelantai atas.
"Rian!" panggilku cukup keras saat kami tiba di lantai tiga ketika aku melihat Rian sedang mengepel lantai
Rian langsung mendongakkan kepalanya dan tersenyum kearahku
"Mbak kenal juga dengan OB disini?" tanya pak Tobias
"Iya pak" jawabku sambil tersenyum
"Mbak masuk dulu Yan, nanti kita ngobrol-ngobrol ya" kataku sambil melambaikan tangan padanya
Rian membalas dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
"Maaf ya pak jika membuat bapak ilfil" ucapku pada pak Tobias yang juga menghentikan langkahnya saat aku menyapa Rian
"No problem mbak Indah. Saya malah senang, ternyata mbak orangnya memang humble" jawabnya
"Ayo pak, kita langsung keruang meeting" ajak Afdal
Lalu kami bertiga kembali melanjutkan langkah kami.
Degup jantungku kian cepat saat kami makin dekat dengan ruang meeting. Bukan Andi yang aku takutkan melainkan kepada orang penting yang telah menungguku di dalam
Saat Afdal akan membukakan pintu, aku segera merapikan baju dan hijabku, aku takut penampilanku berantakan
"Sudah cantik kok" seloroh pak Tobias yang membuat wajahku bersemu malu
Lalu pintu terbuka dan kami melangkah masuk.
Aku menelan ludah ketika masuk kedalam. Di sana telah ada empat lelaki termasuk Andi yang telah duduk di kursi masing-masing.
Ketiga orang yang berpakaian rapi dengan jas hitam tampak menoleh ketika kami masuk.
"Sorry Bapak-bapak, kami telat" ucap pak Tobias sambil menarik kursi untukku.
Ketiga bapak-bapak tadi hanya mengangguk, tetapi Andi melirik dengan tatapan tidak suka.
Setelah beliau menarikkan aku kursi dan mempersilahkan aku duduk, masih dengan wajah tegang akupun duduk.
Jadilah kami duduk mengelilingi meja berbentuk persegi panjang tersebut.
"Maaf Bapak Andreas, perkenalkan ini Mbak Indah yang akan membantu kita menjelaskan slide pada wakil CEO kita secara langsung nantinya" ucap Pak Tobias memperkenalkanku
Aku mengangguk hormat pada seorang Bapak yang paling tua diantara mereka bertiga yang tadi disebut dengan nama bapak Andreas.
Beliau tampak menganggukkan kepalanya juga padaku.
"Terima kasih atas kesediaannya mbak Indah" ucap beliau
"Sama-sama pak" jawabku pelan
"Come on, don't be nervous, I ever saw you when we were in Pekanbaru, I am Jonathan, as a leader of the team. He is Mr. Andreas as a Sales Manager of Branch Bengkulu and he is Mr. Miko as a central supervisor of Salam Group, we all from Jakarta. Come here only meet you specially and to seen how the development our company in here"
Aku menganggukkan kepalaku. Tentu aku merasa tersanjung jika mereka kesini selain karena pekerjaan juga karena ingin melihatku.
"Nice to meet you again" sambung beliau
"Nice to meet you too sir" jawabku hormat
Wajah Andi makin tidak suka ketika melihat bahwa ketiga tim audit itu lebih tertarik berbincang dengan Indah ketika dengannya tadi.
"So, we can start our meeting?" ucap pak Andreas.
Afdal langsung menyerahkan berkas laporan padaku.
__ADS_1
"Nanti dulu pak, sepertinya kita kasih waktu dulu untuk mbak Indah membaca sekilas laporan ini baru kita mulai meetingnya" saran pak Tobias
"Okay, never mind" jawabnya
Aku segera membuka laporan itu, membacanya. Jujur, aku sama sekali tidak faham apa yang ada di kertas itu. Berisi kurva-kurva, nama produk barang, jumlah nominal uang, dan sebagainya.
Saat aku membaca laporan, Afdal sedang menghubungkan laptop ke infocus. Sedangkan yang lainnya segera membuka laptop masing-masing.
"Hubungkan laptop saya saja. Karena ini langsung terhubung untuk teleconference pada wakil CEO" ucap pak Jonathan.
Afdal segera mengambil laptop pak Jonathan dan segera menghubungkannya ke infocus.
Aku masih fokus membaca laporan saat layar di infocus telah menampilkan gambar.
"Ready?" ucap sebuah suara yang membuatku mengangkat kepalaku dari kertas laporan yang ada di tanganku
Mataku terbelalak saat aku menatap infocus. Apa ini mimpi?? Degup jantungku kian berpacu cepat.
Sepertinya pak Tobias menangkap kekagetan di wajah Indah.
"Don't touch her!" ucap suara di dalam layar dengan lantang saat melihat tangan pak Tobias akan memegang tangan Indah
Pak Tobias segera menarik tangannya. Tampak bibirnya mengulum sebuah senyum.
Andi yang menangkap momen itu makin menunjukkan kebenciannya pada Indah. Afdal hanya melirik bergantian antara Andi, Indah, pak Tobias dan layar.
"Welcome in our meeting Mr. Ariadi" sapa pak Andreas takzim.
Tampak Ariadi menganggukkan kepalanya.
Aku menelan ludah demi melihat siapa yang ada di layar.
"Ayo mbak, dimulai. Vice President kami tidak mau menunda-nunda waktu" ucap Pak Andreas
Aku segera berdiri dan memandang layar dengan jantung tak karuan. Aku merutuki kegugupanku. Gugup ini jauh melebihi ketika aku harus berhadapan dengan CEO kemarin.
Yang lain segera mengambil hp mereka masing-masing dan meletakkan di atas meja.
"Hpnya mbak Indah" ucap pak Tobias
Aku menggelengkan kepalaku.
"Ini wajib" ucapnya lagi
"Aku tidak punya hp lagi pak" jawabku pelan
Semua yang hadir saling bertatapan, Andi terlihat gelisah.
"Itu kita bahas nanti" celetuk pak Miko
Akhirnya semua fokus dan bersiap mengadakan meeting hari ini.
Andi memulai laporannya. Tampak sekali ketegangan di wajahnya. Sedangkan aku menjelaskan setiap slide yang tampil pada infocus.
Aku berusaha profesional walau sebenarnya aku sangat gugup saat kembali bertemu dengan abang walau hanya lewat zoom meeting.
Tak terasa dua jam telah kami lewati dalam meeting ini. Dengan lega Andi menutup laporannya. Dan akupun menarik nafas lega
"Nice to meet you again Indah" ucap suara abang
Aku yang telah duduk kembali menatap infocus. Entah apa yang ada dibenakku saat ini. Yang jelas aku sangat rindu sama abang.
"Nice to meet you too sir" jawabku
"You've done a great job, you did it very well" sambung abang
Aku tersenyum kearahnya
"Thanks a lot sir, I am glad you like it" jawabku
__ADS_1
"Eh hemm" Pak Andreas berdehem yang membuatku langsung tersadar dan segera mengalihkan mataku dari layar infocus.
"See you next time Indah. I am waiting you" ucap abang yang kembali memaksaku menatap layar.
Aku menatap penuh makna padanya. Rasanya aku ingin berlama-lama berbicara sama abang, ingin berbagi dukaku saat ini padanya.
"See you abang" jawabku lirih
"Mr. Andreas, please take care of my girl" lanjut abang
"Yes sir" jawab pak Andreas
Andi menatap tajam kearah Indah. Kebenciannya makin bertambah. Indah pura-pura tidak melihat dan bersikap biasa saja.
"Makan siang dimana kita?" tanya Pak Miko
"Ada rekomendasi tempat pak Andi?" tanya pak Tobias
Andi menyebutkan nama sebuah restoran cepat saji dan nama sebuah cafe.
"Saya ingin makanan tradisional, bukan yang neko-neko" jawab pak Jonathan yang memiliki wajah oriental
"mbak Indah?" tanyanya padaku
"Ya pak?" jawabku
"Ada rekomendasi tempat makan yang nyaman dan homy? tanyanya
Aku diam sebentar mencoba berfikir.
"Ehm, bagaimana kalau kita ke Pondok Hijau saja pak" jawabku
"Ah, iya, benar itu pak. Itu rumah makan yang homy banget, menunya juga enak-enak, masih fresh from wajan" jawab Afdal
"Ayo kita kesana. Ini juga sudah jam makan siang" ajak pak Andreas sambil segera membenahi laptopnya.
"Aku izin ketoilet dulu pak" pamitku saat kami sudah diluar ruangan.
"Silahkan" jawab pak Tobias
Aku berjalan menjauh menuju toilet. Dan segera masuk kedalam toilet. Tak lama aku telah keluar tapi langkahku terhenti saat Andi berjalan menuju arahku.
"Hem, baru beberapa hari aku talak, kamu sudah kegatelan dengan banyak lelaki"
Aku diam tak perduli
"Kamu memang pantas aku talak Indah, perempuan murahan" ucap Andi dingin
"Jaga mulut kamu bapak Andi Wijaya yang terhormat" jawabku penuh tekanan
"Jangan mimpi kamu bisa mendapatkan wakil CEO tadi, bukan dengan memuji kamu itu berarti dia menyukaimu. Lelaki beruang itu gampang mendapatkan perempuan, berkaca siapa diri kamu!" kembali Andi mengeluarkan cemoohannya
"Tidak perlu kau mengajariku bagaimana cara agar aku tahu diri bapak Andi, aku tahu siapa aku. Dan kuperingatkan sekali lagi, jangan pernah kau menghinaku lagi. Karena bisa kupastikan, setiap kejahatan dan penghianatanmu akan aku balas" ucapku sambil menatap tajam kearahnya
Andi terkekeh tertawa mencemooh.
"Eh ehm" suara deheman mengagetkan kami berdua.
Afdal keluar dari dalam toilet sambil menatap tak percaya pada kami.
"Ternyata kalian?" tanyanya sambil menggelengkan kepalanya
Aku segera meninggalkan mereka berdua. Aku tidak perduli bagaimana pendapat Afdal setelah dia mengetahui hubungan aku dengan Andi sekarang.
Pak Tobias dan rombongan telah berada di luar kantor dan setelah melihatku mereka segera masuk kedalam mobil avanza silver yang telah terparkir di luar.
"Mbak Indah ikut kami atau suaminya?" tanya pak Tobias
"Saya ikut mobil bapak" jawabku cepat
Segera aku naik mobil avanza hitam dengan pak Tobias dan masih seperti tadi, ada pak Abraham disana
__ADS_1