Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Disiksa Andi


__ADS_3

"Hebat ya jam sebelas malam baru pulang" Andi langsung berkomentar begitu aku masuk kamar.


Aku diam dan menjawab dan memilih meletakkan tas lalu masuk ke kamar mandi. Setelahnya menunaikan kewajibanku pada Sang Rabb Penguasa Alam.


Selesai melipat mukena aku membersihkan wajah lalu berpaling di sebelahnya.


"Kemana jam segini baru pulang?" tanyanya dingin.


"Kumpul sama ibu-ibu dari daerah lain di Happy" jawabku dengan suara berat menahan kantuk


"Benarkah?"


Aku membalikkan tubuhku menghadap kearahnya. Menatapnya sebentar lalu membelakanginya lagi


"Jawab!!!" bentaknya


Aku tersentak dan duduk.


"Apa sih yah?" jawabku


"Kamu dari mana?!" kembali nada suaranya tinggi


"Kan aku sudah bilang, aku kumpul sama ibu-ibu dari daerah lain. Tadi kita seru-seruan bareng, jalan bareng, makan bareng, udah gitu aja" jawabku


"Berani bohong kamu ya" kembali Andi membentakku


"Bohong apanya yah, sumpah" jawabku frustasi


Sepertinya Andi benar-benar marah, dijambaknya rambutku sampai aku terdongak.


"Lepas yah, sakiitt" ucapku merintih menahan sakit


Bukannya melepas jambakan pada kepalaku, Andi kian kencang mencengkram yang membuat aku makin kesakitan dan berusaha melepaskan tangannya


"Demi Alloh aku tidak bohong" kataku lagi sambil meneteskan airmata


Di lepaskannya jambakan dari kepalaku. Dicengkramnya daguku hingga terangkat dan


PLAAAKKKK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Pipiku terasa panas dan perih. Aku segera memegang pipiku yang barusan ditamparnya, menatap tak percaya pada Andi yang barusan menamparku


"Berani kamu ya" ucapnya masih dengan nada tinggi.


Airmataku terus mengalir. Aku mengusap pipiku yang terasa sakit sambil terus menatap tak percaya suamiku.


"Naahhhh mancing emosi saya ya kamuuu" ucap Andi sambil menjambak rambutku kembali dan menyeretku.


"Sakit, tolong lepaskan! teriakku terhuyung-huyung mengikutinya karena rambutku masih dijambaknya.


"Rasakan kamu perempuan ******!" Andi tak kalah berteriaknya


Dengan emosi diseretnya aku masuk kekamar mandi. Sesampai di kamar mandi, Andi langsung mendorong tubuhku hingga aku terjatuh di lantai.

__ADS_1


Masih dengan marah, dia mengambil gayung dan menyiramkan air ke badanku berulang-ulang hingga aku basah kuyup.


Aku tidak bisa berbuat banyak saat Andi memperlakukan aku seperti ini. Aku hanya mencoba menghalangi tangannya yang terus saja menyiramkan air ketubuhku.


Puas dengan itu Andi lalu membanting gayung kelantai kamar mandi dan meninggalkanku yang terduduk menangis.


Braaakkkk!!!


Andi menutup pintu kamar mandi dengan kencang yang membuatku kaget. Lalu terdengar suara seperti dia mengunciku dari luar. Aku segera bangkit dan berlari kearah pintu dan berusaha membuka gerendelnya. Tapi nihil, aku benar-benar dikuncinya dari luar.


Sekuat tenaga aku berusaha membuka gerendel pintu kamar mandi dengan harapan bisa terbuka dan menggedor-gedor dengan kencang, tapi tidak ada hasil. Aku benar-benar dikuncinya dari luar


"Ayah bukaaa, tolong yaahh" panggilku memelas


Tidak ada jawaban. Aku tak putus asa, kembali aku berusaha membuka pintu dan menggedor dengan harapan Andi tergerak hatinya dan kasihan padaku.


"Ayah tolonggg" kembali aku memelas.


Harapanku sirna, sekian menit aku memanggil tetap tak ada jawaban. Dengan nelangsa aku kembali terduduk dilantai. Melipat lututku dan menangis.


"Maaakkkk" lirihku


Air mataku kian deras mengalir ketika aku memanggil ibuku. Semuanya seakan melintas di mataku. Umakku, Bapakku, Naura, Mikail, Adam


Aku makin tergugu saat mengingat mereka.


"Adeekkkk" aku memanggil lirih anak bungsuku. Tangisku kian kencang namun tak bersuara saking sedihnya aku.


"Ayah, tolong buka yah. Aku mohon. Aku minta maaf karena telah salah yah. Please yah bukain pintu. Aku kedinginan" panggilku


Masih tak ada jawaban.


Aku pasrah, aku memeras bagian bawah baju tidurku untuk mengurangi air agar bajuku tidak terlalu basah. Walau hasilnya bisa dikatakan percuma, tapi aku terus memeras baju dibadanku dengan harapan tidak terlalu basah dan aku tidak kedinginan.


Aku kembali duduk di belakang pintu dan memeluk lututku. Tubuhku menggigil kedinginan. Aku bingung harus melakukan apa agar tidak kedinginan. Tapi sepertinya percuma saja, tidak ada yang bisa aku lakukan.


Sepertinya malam ini harus aku lewati dengan tidur di dalam kamar mandi dengan badan basah kuyup.


"Bismillah ya Rabb, lindungi hamba" doaku dalam hati.


Dengan berurai airmata aku memeluk lutut dan mencoba memejamkan mataku.


...****************...


Tubuhku menggeliat saat kurasa ada sebuah tendangan di kakiku.


Aku segera membuka mata dan duduk. Alhamdulillah akhirnya Andi membukakan pintu, pikirku.


Aku mengucek mataku. Baju yang kupakai masih basah. Rupanya aku tertidur di lantai kamar mandi, padahal seingatku, posisiku semalam adalah duduk bersandar di pintu.


"Gimana, enakkan?" suara Andi masih dingin


Aku tidak menjawab, aku berusaha berdiri. Tapi tubuhku kembali limbung dan aku memilih untuk duduk kembali.

__ADS_1


"Kalau masih kurang bisa saya tambahi lagi menghukum kamu" tambahnya


Aku segera mendongak dan merangkak kearahnya. Memeluk kakinya dan memohon maaf.


"Maafkan aku yah, aku janji aku tidak akan mengulangi lagi"


Andi menyentakkan kakinya hingga membuat aku terjengkang kebelakang.


Andi tersenyum mencibir melihatku terjengkang.


"Kamu jual berapa diri kamu kemarin hah?! bentaknya


Ya Rabb, sakitnya hatiku mendengar tuduhannya. Aku tertunduk dan terus beristighfar dalam hati


"Pantesan kamu bisa dapat baju mahal, tas mahal, make up mahal ya.. Kamu jual diri ternyata" tuduhnya


Aku mendongak dan menatap matanya.


"Apakah ini suamiku?" batinku


Mataku berkedip-kedip menahan air mata yang kembali hendak runtuh.


"Dasar perempuan murahan!"


"Sttooopppp!!" aku berteriak


Dengan susah payah aku berdiri. Menatap tajam kearah Andi. Aku mengusap kasar wajahku yang penuh dengan air mata.


"Jangan pernah kamu bilang aku perempuan murahan ya" kataku menahan marah


"Hah.. murahan tidak mau dibilang murah namanya apa hah?" Andi berkata penuh dengan ejekan


Aku segera mendorong tubuhnya


"Kurang ajar kamu Andiii" teriakku


Di luar dugaanku, Andi kembali menyeretku. Kali ini aku dibawanya keluar dari dalam kamar mandi dan dihempaskannya aku kelantai.


Tubuh mungilku terjerembab, dan aku berusaha untuk bangkit. Tapi belum sempat aku berdiri, ternyata Andi sudah memegang ikat pinggang di tangannya.


Plakk plaakk plaakkk!!!


Ikat pinggang itu segera mendapat di punggungku. Aku meringis kesakitan.


"Sakiiittt, tolong hentikan!" ucapku memelas.


Tapi bukannya iba, Andi makin beringas memecutkan ikat pinggang tersebut di badanku.


Entah sudah seperti apa tubuhku. Yang kurasakan saat ini adalah sekujur tubuhku sakit dan perih.


Tangisan dan rintihanku tidak membuat Andi iba, dia terus saja memecutku, lagi dan lagi


"Naakkk tolong bundaa" rintihku

__ADS_1


__ADS_2