
Dor dor dor dor!!!!
Aku terlonjak kaget dan langsung terbangun dari tidurku.
Siapa sih yang tidak sopan menggedor pintu pagi-pagi begini batinku sambil melangkah kearah pintu.
"Cepat buka!"
dor dor dor!!!
Aku langsung menghentikan langkahku demi mendengar suara yang menggedor pintu. Aku menelan ludah karena kerongkonganku tiba-tiba kering.
Aku tak jadi membuka pintu, aku melangkah mondar mandir bingung mau berbuat apa
"Sat, kakak tahu kamu ada di dalam, cepat buka atau kakak dobrak pintu ini!" teriak suara di luar yang aku ketahui adalah kak Andri.
Kakakku kembali menggedor pintu.
"Mas siapa, kok menggedor-gedor pintu kontrakan orang pagi-pagi?" ujar suara di luar yang aku ketahui adalah suaranya suami mbak Mila
"Ini kontrakan Indah kan?" tanya kak Andri dengan nafas memburu menahan marah
"Iya benar"
"Dia adik saya!" bentak kak Andri
"Sat, buka!, kakak tidak main-main, akan kakak dobrak pintu ini kalau kamu tidak mau buka!" teriak kakakku
"Mbak Indah buka saja pintunya" ujar suara mbak Mila panik
"Kami ada disini, mbak jangan takut" tambahnya lagi
Dengan tangan gemetar aku membuka pintu. Begitu pintu terbuka, langsung didorong kasar oleh kakakku.
Aku menunduk sambil menelan ludah. Aku sangat ketakutan. Aku tidak pernah melihat kakakku semarah ini.
Kakakku langsung nyelonong masuk.
"Kamu ngapain disini, hah?" bentaknya
Aku tetap tertunduk tidak berani melihat kearahnya
"Jadi benar gosip orang-orang, kalau kamu diusir suami kamu? iya? jawab kakak Indah!" kakakku kembali berteriak
"Uwaaakkkk" Naura langsung berlari menghambur kearah kakakku
Seketika wajah marah kakakku berubah, segera diangkatnya tubuh Naura lalu digendongnya.
"Uwak ni teriak-teriak, kamikan masih tidur" ucap Naura polos
Kak Andri mengelus kepala Naura.
"Maafin uwak ya" ucapnya
Naura mengangguk
"Kita pulang tempat nenek yok Yuk" ucap kak Andri pelan
"Ayok wak" jawab Naura antusias dengan mata berbinar
"Sekarang ayuk beli sarapan dulu ya, ajak tante" ucap kakakku sambil memberikan uang biru ketangan Naura dan menoleh pada mbak Mila yang berdiri di sebelahku
Mbak Mila seolah faham langsung membawa Naura keluar.
"Pulang! Bikin malu!" bentaknya
"Apa kamu tidak punya orang tua hah, sampai kamu ngontrak di sini? apa kamu tidak menganggap kami ini keluarga kamu lagi?" bentak kakakku
Aku langsung menangis. Aku masih menunduk tidak berani menatap kakakku.
"Kamu ini punya orang tua sat, punya kakak. Apa kamu sudah menganggap kami ini mati sampai kamu tidak mau mengadu sama kami, hah?!!
Aku terus terisak.
"Ngomong sama kamu tidak ada jawaban. Baiklah, kalau begitu kakak akan menemui Andi. Akan kakak bunuh dia!!" ucap kakakku sambil segera keluar.
"Jangan kak!" kejar ku
Kakakku sudah di atas motornya, dengan kasar segera dihidupkannya motor besarnya lalu segera tancap gas.
__ADS_1
Aku segera memutar badanku, dengan tergesa aku masuk kedalam kontrakan, mengambil kunci motor lalu dengan cepat aku mengeluarkan motor bebekku.
"Mas, titip anak-anak. Tolong jagain sebentar ya mas" ucapku cemas pada suami mbak Mila.
Penghuni kontrakan lain keluar semua dari dalam, mereka keheranan karena teriakan marah-marah kakakku.
"Tolong ya mas" ucapku sebelum mengegas motor
"Iya mbak, jangan khawatir" jawab suami mbak Mila.
Aku segera menancap gas dan menyusul kakakku yang sudah tidak kelihatan lagi
Saat itu masih pukul enam pagi, berhubung hari minggu, jadi jalan raya agak ramai dengan orang-orang yang olahraga atau dengan orang-orang yang hendak kepasar.
Aku dengan cepat mengegas motorku. Hatiku begitu cemas. Aku sangat khawatir jika sampai kakakku menemui Andi.
Sekitar jarak seratus meter menuju rumah kami, aku melihat banyak orang yang berkumpul.
Degup jantungku kian kencang, aku khawatir jika mereka berkerumun karena kakakku
Benar saja, aku semakin cepat mengegas motor dan segera mematikan mesinnya begitu tiba di halaman.
"Indah!" panggil tetangga sebelah rumahku.
Aku hanya menoleh dan tersenyum segaris padanya.
Dari dalam rumah terdengar teriakan kakakku.
Dengan cepat aku segera masuk kedalam rumah. Dan aku terhenyak saat di dalam aku mendapati Tina yang sedang tertunduk duduk di kursi.
"Bajingan kamu ya, merasa hebat kamu hah?" ucap kakakku sambil mencengkram leher Andi.
Pipi Andi sudah memerah, aku yakin itu bekas tinju kakakku.
Didorongnya tubuh Andi hingga membentur tembok. Wajah Andi memerah dan tampak sekali dia kehabisan nafas
"Kak, jangan kak. Lepaskan dia kak!!" teriakku
"Dia harus mati! harus mati!!! balas kakakku dengan berteriak juga
"Jangan kak, jangan!" mohonku
Wajah Andi kian memerah dan mulai kebiruan. Aku berusaha menarik tangan kakakku, agar dia melepaskan cengkramannya dari leher Andi.
"Pak RT tolong" teriakku panik
Pak RT dan empat orang bapak-bapak segera masuk. Mereka berusaha keras menarik tangan kakakku hingga akhirnya tangan kakakku terlepas dari leher Andi. Andi segera jatuh merosot di lantai, dia terbatuk-batuk dan nafasnya ngos-ngosan
"Sabar Ndri, kamu faham hukum, jangan main hukum rimba seperti ini" kata pak RT
"Dia pantas mati pak RT, aku rela masuk penjara asal dia mati" jawab kak Andri geram
"Sabaaarrr" sambung pak RT
"Kamu, lon**, segera pergi dari sini atau kamu mau aku bunuh juga!" bentak kakakku pada Tina.
Tina dengan wajah pucat langsung masuk kekamar dan mengambil tasnya.
Waktu dia berjalan melewatiku, aku menarik tangannya
PLAKKK!!!
Aku menamparnya dengan keras. Tina langsung memegangi pipinya yang bekas tamparanku.
"Kamu memang rendah Tina. Kalian memang cocok. Penghianat memang cocok dengan penggoda" ucapku marah
Tanpa aku sadari, ibu-ibu tetanggaku segera masuk. Dan mereka langsung menatap tajam kearah Tina. Tangan bu Lis langsung melayang kekepala Tina. Tidak cukup dengan tempelengan dia langsung menjambak rambut Tina.
"Kurang ajar, buat kami sial kalian ya" teriaknya marah
"Ayo, kita telanjangi saja pasangan mesum ini. Kita arak keliling Merasi" teriaknya dengan emosi
Aku membiarkan saja saat para tetanggaku memaki dan memukuli Tina.
"Astaghfirullah. Stop ibu-ibu!!" teriak pak RT
"Mereka harus kita kasih pelajaran pak RT. Mereka berdua ini sudah buat sial kami karena mesum mereka" teriak ibu-ibu
Aku terduduk di kursi dengan lemah. Aku menatap kosong kearah Andi yang terduduk di lantai. Pada Tina yang sedang dimaki-maki tetanggaku. Dan pada kakakku yang wajahnya sangat angker
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau dengan adikku lagi, kamu bisa mengembalikannya dengan baik-baik pada kami Andi, bukan dengan mengusirnya" ucap kakakku dengan geram.
"Kamu tidak mengetahui seberapa dalam kami menyayanginya, Andi" lanjut kakakku
Airmataku langsung mengalir mendengar ungkapan sayang kakakku.
"Sampai aku mati, aku tidak akan melupakan perbuatanmu ini" lanjutnya
Andi masih tertunduk
"Di rumah ini, yang kamu bilang adalah rumah kamu, kamu mengusir adikku dan ketiga anaknya. Anji** kamu Andi!"
"Sekarang, kamu malah membawa lon** ini kerumahmu. Sementara adikku dan ketiga anaknya tinggal dikontrakan kecil, menjauh dari kami dan menyembunyikan duka laranya"
Aku kian terisak mendengar kakakku menyebut ketiga anakku
"Bajingan kamu! Kamu bukan lelaki, tapi ba**i. Kamu memang harus mati Andi, lebih baik aku membunuh kamu dari pada aku melihat kamu di dunia ini" ucap kakakku sambil berdiri dan menarik softgun di pinggangnya.
Aku segera menoleh dengan kaget. Begitu juga dengan yang ada di dalam rumah kami. Semuanya kaget
Kakakku sudah mengarahkan softgunnya kearah kepala Andi
"Tahan Ndri jangan. Jangan gegabah kamu" ucap Pak RT gugup sambil memegangi lengan tangan kanan kakakku yang memegang softgun.
"Beri tahu keluargamu untuk menyiapkan kuburan untuk kamu. Karena aku pastikan kamu keluar dari rumah ini dalam bentuk mayat" ucap kakakku geram dengan gigi gemeletuk.
Wajah Andi pucat pasi dan matanya terbelalak kaget.
"Ampun kak, ampun" ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya.
"Jangan kak!! jangan!! aku mohon jangan kak!! ucapku cemas dan terisak
"Sakit sekali rasanya hati aku Andi melihat adikku kamu perlakukan seperti ini, maka dari itu kamu memang pantas mati!"
"Jangan Ndri. Istighfar!" ucap pak RT
"Tidak ada gunanya aku bersabar Pak RT. Aku rela dipenjara seumur hidupku dari pada aku melihat adikku hancur
Airmataku kian deras mengalir. Aku segera berjalan mendekati kakakku.
"Jangan ya kak, aku mohon jangan bunuh Andi. Anak-anakku masih butuh ayahnya. Mereka akan hancur jika tahu ayah mereka mati di tangan uwaknya" ucapku terbata sambil berurai air mata
Kak Andri menoleh padaku
"Kakak lebih rela mati sat dari pada lihat kamu menderita" ucapnya tersekat. Aku tahu hati kakakku hancur saat mengucapkan itu
Aku terduduk di lantai memeluk kakinya.
"Biarkan Andi hidup kak. Bukan demi aku, tapi demi ketiga anakku. Aku akan sangat hancur jika kakak masuk penjara gara-gara membunuh Andi karena kakak membelaku. Jangan rusak masa depan kakak, jangan tambahi penderitaanku kak" ucapku masih sambil terisak
"Biarlah aku menderita kak, tapi kakak jangan hancurkan masa depan kakak"
Tampak kak Andri menarik nafas dalam.
"Aku mengampunimu karena permintaan adikku. Tapi perlu kamu ingat, sampai mati aku tidak akan pernah memaafkan kamu" ucap kakakku sambil menarik lagi softgunnya.
"Ayo kita tinggalkan rumah ini. Kita pulang kerumah bapak" ajak kakakku sambil menarikku untuk berdiri
Aku segera memeluknya erat. Dan menangis sesenggukan dipelukannya. Kurasakan kakakku membelai kepalaku
"Sudah sat, sudah" ucapnya lirih
"Jangan korbankan masa depan kakak cuma karena aku" ucapku terisak
Kak Andri menganggukkan kepalanya. Lalu dia berjalan membimbingku keluar dari dalam rumah.
"Pak RT, pasangan mesum ini bagaimana? apa kita arak saja?" teriak bu Lis
"Jangan ibu-ibu, biar ini menjadi urusan saya saja" jawab pak RT
"Tapi kami tidak sudi punya tetangga tukang mesum pak, bisa sial kami" balas ibu-ibu
"Iya ibu-ibu, bapak-bapak, biar ini jadi urusan saya. Jika saya tidak mampu menyelesaikannya, tinggal kita bawa saja mereka kekantor polisi" jawab pak RT
Wajah Andi dan Tina memucat demi mendengar kata polisi.
"Padahal saya sudah semangat ini pak untuk mengarak mereka" ucap salah satu bapak-bapak.
Pak RT menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah, sekarang ibu-ibu pulang dulu, biar saya dan bapak-bapak saja yang menyelesaikan masalah ini" ucap pak RT
Akhirnya para ibu-ibu itu membubarkan diri mereka masing-masing. Sebelum keluar mereka kembali memaki Andi dan Tina yang hanya bisa menundukkan wajahnya saja