
Sejak ada sosmed itu, aku bisa terhubung dengan teman lamaku, termasuk dengan teman ketika dulu di pusat pelatihan.
"Ini yang add aku rambut merah siapa ya?" lirihku saat melihat beberapa permintaan pertemanan masuk.
Aku lalu membuka sosmednya, membaca background dan uploadan foto-fotonya.
"Ya Rabb ini kayanya kak Jen deh, kok aku nggak faham ya sama wajahnya?" batinku
Aku lalu klik konfirm, dan tak lama ada pesan masuk
"Ya ampun yeay ngilang kemana?"
Rasanya saat itu aku ingin melompat-lompat saking senangnya karena itu benar kak Jen
"Ini kakak?" balasku
"Kurang ajar ya, sama kakak sendiri lupa..eyke jess nanti pala yeay"
Mataku langsung berkaca-kaca, ya Rabb benar ini kak Jen.
"Kak, minta e-mail, pengen skype"
Tak lama kembali ada pesan masuk, aku dengan cepat menyalin alamat e-mail yang dikirimkan kak Jen di handphoneku
Lalu aku segera log out dari sosmed biru ungu itu, lalu berpindah ke skype
Segera aku memasukkan alamat e-mail yang tadi dikirim kak Jen, lalu mengklik panggilan video
Terhubung
Terpampang wajah kak Jen, aku menutup mulutku saat itu juga, saking terharunya
"Hei, please deh jangan nangis" buka kak Jen
Aku menyusut airmata yang sudah memenuhi bola mataku
"Kak..." hanya itu yang bisa aku ucapkan pertama kali
"Yeay jam segini belum tidur, dah malam tahu"
Aku tersenyum, beda empat jam. Itu artinya saat ini tempat kak Jen jam dua belas malam lewat
"Disini masih jam delapan lewat kak" jawabku
Kulihat kak Jen tengkurap
"Gila, jam delapan pala yeay peyang"
Aku terkekeh
"Aku di Jeddah kak" jawabku
Aku lihat kak Jen duduk membetulkan posisinya
"Maksud yeay?"
"Aku jadi tkw di Arab kak"
"What?" teriak kak Jen menutup mulutnya
"Seriusan?" tanyanya
__ADS_1
Aku mengangguk
"Ya Alloh, eyke pikir yeay itu nikah sama bos ganteng, bahagia sampe lupa sama eyke"
Aku tersenyum padanya sambil menggeleng
"Kok bisa sih yeay jadi tkw? Ya Alloh Indah, eyke benar-benar nggak nyangka"
"Ceritanya panjang kak"
"Ceritain semuanya, eyke rela nggak tidur asal yeay ceritain semuanya"
Aku menarik nafas dalam, ada ragu untuk berbagi sama kak Jen. Tapi selama lebih lima tahun ini tidak ada orang tempatku berbagi, aku hanya mengalihkan semua perasaanku dengan terus menyibukkan diri.
Mungkin ini saatnya aku menumpahkan semua keluh kesahku.
Tampak di sana kulihat kak Jen seperti siap mendengarkan ceritaku.
"Ayo" desaknya
Dengan menarik nafas dalam lalu aku menceritakan semuanya pada kak Jen. Dari awal hingga akhir, hingga nyaris dua jam kami mengobrol.
"Rasa pengen eyke bejek-bejek itu bekas ipar sama bekas laki yeay" ucap kak Jen emosi ketika aku selesai bercerita
"Eh, tapi ngomong-ngomong dengan bos ganteng gimana, nggak lost contacts kan?"
Aku menggeleng
"Bagus deh, gue itu berdoa moga kalian itu berjodoh"
"Aku nggak tahu kabar abang gimana sekarang kak, sejak aku di Jeddah, aku benar-benar belajar melupakan abang, belajar mengubur semua mimpi dan harapanku. Fokusku cuma satu, mewujudkan mimpi ketiga anakku"
Tampak kak Jennifer memutar mata dengan malas mendengar jawabanku.
Aku menggeleng
"Nggak usah kak. Aku sudah berhenti berharap sekarang"
"Yak ellah, Shelila on 7 kali ahh berhenti berharap" jawab kak Jen sambil terkekeh
Tak urung jawabannya membuatku juga ikut terkekeh
"Tidurlah kak, besok kalau aku break di kantor aku hubungi lagi"
"Ya sudah, tapi yeay jangan sedih lagi ya, jangan nangis-nangis lagi, kalau butuh teman curhat yeay bisa bbm eyke atau skype kaya gini, oke?" jawab kak Jen
Aku mengangguk sambil tersenyum pada kak Jen.
Setelah mengucap salam dan melambaikan tangan obrolan kami berakhir. Aku segera menarik nafas dalam dan merasakan dadaku agak sedikit lapang karena tadi sudah menangis dan berbagi cerita sama kak Jen.
"Indah.." panggil sebuah suara
Aku memekik karena kaget, segera aku menoleh dan kudapati nona Alima duduk di kursi di depan meja hiasku.
"Astaghfirullah nona Alima" jawabku sambil mengelus dada berulang kali
Nona Alima terkekeh melihat aku kaget. Aku segera turun dari ranjang dan duduk dipinggirnya.
"Sejak kapan nona disini?" tanyaku
"Sejak tadi" jawab nona Alima singkat
__ADS_1
"Kok nona tidak memanggil saya, kalau saya tahu ada nona kan, saya tidak lama tadi ngobrol sama teman saya" jawabku tak enak hati
Nona Alima kembali tersenyum padaku. Ditatapnya mataku dengan tajam
"Sudah ngetuk pintu, bahkan salam juga, tapi kamu tidak nyahut. Tapi saya dengar ada suara kamu, makanya saya masuk" jawabnya sambil masih dengan tersenyum manis.
"I don't know what you're talking about, but I know you're hurt. I can see when you cry earlier, when you let out your emotions, your shoulders shake and your eyes are very depressed, what happened Indah, can you tell me?" sambung nona Alima, kali ini wajahnya serius
Aku menelan ludahku. Ada rasa malu ketika aku kepergok menangis oleh nona Alima, tapi aku harus berbuat apa, toh itu sudah terjadi.
"You not trust me?" ucap nona Alima lagi seperti menuntut jawaban karena aku hanya diam
"Ehm, no, not like this miss Alima. I didn't say anything. I just miss him, that's why I cry" jawabku mencoba menutupi semuanya dari nona Alima
Kembali nona Alima memandang serius kearahku
"Are you forget?, I am a Psikiater, right?, so, I can see your sadness and your hurt, please tell me, you know, if in hospital, every people paying me to share they problem, but especially for you, free" ucapnya sambil tersenyum manis kearahku
Aku membalas senyum manisnya. Menarik nafas dalam dan memandang ragu padanya.
"Anggaplah saya ini dokter, bukan orang yang kamu kenal, agar kamu bisa lebih luwes menceritakan masalahmu, jangan kamu pendam, karena ini akan berdampak buruk pada kesehatan mentalmu, saya tahu kamu sehat secara fisik, tapi sejak kamu bekerja di sini, bekerja dengan ummi, saya itu mengamati mental kamu, karena sering sekali saya tangkap wajah senang dan ceria yang kamu tampilkan itu bertolak dengan mata kamu"
Aku menunduk mendengar ucapan nona Alima. Aku tidak menyangka jika beliau sangat memperhatikanku
"Bicaralah, ceritakan semua sama saya, karena kamu adalah pasien yang saya minta, jika biasanya pasien yang mendatangi saya untuk bercerita, maka ini saya yang meminta kamu untuk menjadi pasien saya" ucap nona Alima kembali sambil menggenggam tanganku
Aku mengangkat kepalaku dan menghembuskan nafas dalam lagi
Sedangkan nona Alima tampak mengangguk kearahku
"Mungkin untuk sebagian orang masalah saya ini mudah nona, tapi bagi saya tidak. Masalah saya sangat berat, hingga saya harus berjuang mati-matian untuk melawannya" bukaku
Nona Alima memasang wajah serius ketika Indah mulai membuka cerita
"Bisa kamu ceritakan secara spesifik apa masalah kamu?" tanya nona Alima
"Aku korban dari perselingkuhan suamiku nona" jawabku pelan
Wajah nona Alima terlihat biasa saja mendengar Indah mengatakan kalimat itu
"Saya menikah dengan suami saya karena memang kami saling cinta, walau pada mulanya hubungan kami ditentang oleh orangtuanya. Tapi mantan suami saya bisa meyakinkan keluarganya, hingga kami menikah"
"Tapi di tahun keempat pernikahan kami suami saya ketahuan selingkuh, hingga akhirnya kami berpisah karena dia jauh lebih nyaman dengan selingkuhannya dibandingkan dengan saya istrinya"
"Apakah kamu sudah berusaha mempertahankan pernikahanmu?, maksud saya, usaha apa yang sudah kami lakukan?
"Saya rasa saya sudah berusaha. Mulai dari mempercayainya kembali dan memberinya kesempatan kedua karena dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, menemui selingkuhannya bahkan saya bersabar menghadapi perbuatannya, hingga saya dikatakan orang sebagai perempuan bodoh karena bergantung sama suami peselingkuh, tidak ada harga diri karena terusir dari rumah"
Tampak olehku nona Alima menarik nafas dalam
"Terus hingga kamu memutuskan jadi tkw karena apa?"
Mataku mulai berkaca-kaca saat nona Alima menanyakan kalimat itu
"Karena aku ingin membalas penghinaan mantan suamiku dan keluarganya padaku nona" jawabku lirih
"Apa yang membuatmu begitu bernafsu ingin membalas dendam pada mereka, sedangkan kamu sendiri tahu, dendam itu tidak baik"
Aku tersenyum samar mendengar pertanyaannya.
"Nona tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya dihina" jawabku
__ADS_1
"Nona terlahir dari keluarga konglomerat, apapun yang nona mau tinggal bilang, sedangkan ketiga anak saya?, mereka cuma punya saya, bahkan yang membuat saya sampai detik ini masih sakit hati adalah ketika anak bungsu saya mau minta uang seribu untuk jajan, tidak diberi sama ayahnya, bahkan anakku mengejar hingga dia terjatuh, dan luka. Dan apakah nona tahu, tiap melihat bekas luka dil ututnya itu, amarah dan dendamku kian besar" ucapku sambil berurai airmata
Nona Alima pindah duduk kesebelahku, lalu merangkulku dan mengusap-usap pundakku