
"Suruh dia pergi nek, aku nggak mau dia ada disini!" teriak Adam histeris dalam pelukan neneknya
Andi makin berurai airmata. Naura pindah memeluk Mikail yang hanya mematung.
"Kakak ingatkan kak kalo ini ayah kita?" ucap Naura bergetar
Mikail masih diam, wajahnya berubah mendung.
"Pergi kamu dari sini!" sebuah suara besar membuyarkan semua yang ada didalam yang sedang haru biru
Andi segera menoleh dan didapatinya kak Andri memasang wajah marah, masuk kedalam rumah langsung mengambil Adam yang dipeluk neneknya.
"Diam sayang, diam. Ini ada uwak" ucapnya sambil mengelus pundak Adam yang berguncang
"Kamu pergi atau ku pecahkan kepala kamu!" sambung kak Andri dengan nafas memburu menahan emosi
"Jangan usir ayah wak" lirih Naura
Gigi Andri langsung gemeletuk mendengar ucapan Naura. Dipejamkannya matanya yang sejak tadi berkilat marah
"Sini sayang" ucapnya sambil melambaikan tangan kearah dua ponakannya yang saling berpegangan
Mikail langsung mendekat dan memeluk pinggang uwaknya itu. Sedangkan Naura juga ikut memeluk uwaknya.
"Jangan kamu usik ketiga keponakanku, mereka sudah terbiasa tanpa kamu. Silahkan kamu pergi dari sini"
Andi duduk terhenyak sambil menunduk dalam
"Tolong oom, kasih Andi kesempatan sekali ini saja untuk membawa anaknya main. Andi kangen sekali oom sama anaknya" ucap Ningsih lirih
Kak Andri tersenyum sinis kearah Ningsih
"Anak? Mereka anak adikku. Bukan anak Andi. Adikku yang banting tulang menghidupi mereka. Adikku yang gara-gara bajingan ini jadi babu orang di Arab, gara-gara dia adikku sampai meninggalkan anaknya. Kamu bilang mereka anak Andi?, Mana tanggung jawab Andi? Adakah seperak uang Andi membiayai mereka ketika Andi bercerai dengan adikku, hah?! Tidak. Tidak ada mbak Ningsih"
"Dan sekarang enak saja dia datang kesini sok sokan bilang kangen, cuih!"
"Bagaimanapun mereka anakku kak" jawab Andi lemah
Mata kak Andri kembali berkilat marah
"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan ketiga keponakanku dibawa sama kamu Andi. Langkahi dulu mayatku kalau kamu berani mengambil mereka!" geramnya
"Sudah Ndri, jangan emosi. Kamu duduk dulu" ucap pak Ahmad menenangkan kak Andri
Mikail lalu melepas pelukannya di pinggang kak Andri begitu juga Naura. Tapi Adam tetap dalam gendongannya, dan dibawa kak Andri duduk bersamanya.
"Saya dipenjara kak, makanya saya tidak pernah nengok anak-anak" ucap Andi setelah mereka lama diam
Kak Andri tersenyum menyeringai
"Saya tahu. Bahkan kasus kamu aku juga tahu. Aku malah bersyukur kamu dipenjara. Sebenarnya hukuman empat tahun terlalu ringan untuk kamu"
"Ayuk masuk, ganti baju!" ucap kak Andri pada Naura yang berdiri di dekat neneknya
Naura menurut tanpa membantah. Segera dia masuk dan tak lama telah keluar lagi telah berganti pakaian rumah
"Ajak adik-adik skype sama bunda ya yuk, uwak mau ngomong dengan ayah kamu"
Naura mengangguk. Mikail langsung menyusul Naura dan Adam segera meluncur dari pelukan uwaknya
"Wak, kasih tahu bunda dulu kalau kami mau skype" teriak Naura
"Iya" jawab kak Andri singkat
Setelah itu dia mengeluarkan handphone di sakunya lalu menekan tombol di atas handphone tersebut
Aku yang saat itu sedang fokus menatap layar komputer segera meraih handphone ketika benda kecil itu berdering
"Assalamualaikum kak" ucapku
"Waalaikumsalam, sat anak-anak mau skype"
"Oh, iya bentar kak" jawabku
Lalu panggilan terputus. Aku segera bangkit dari kursi dan mendekat kearah Ummi yang juga sibuk dengan layar laptopnya.
"Ehm, maaf Ummi" ucapku ragu
Ummi langsung mengangkat kepalanya dan menatap kearahku
"Iya?"
"Anak-anakku mau skype, boleh aku pakai komputer kerja untuk skype sama mereka?" tanyaku masih dengan nada takut karena saat itu baru jam sembilan pagi. Itu artinya aku baru sebentar bekerja.
Ummi lalu mengclose dokumen pekerjaannya.
"Pakai ini" jawab ummi sambil memutar laptopnya kearahku
"Tapi Ummi?" lanjutku masih ragu
"Ini perintah!" jawab Ummi
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum
"Makasih Ummi" jawabku
Lalu aku segera mengambil laptop ummi dan membawanya kemeja kerjaku
Segera aku masuk kemenu Skype lalu memasukkan nomor ponsel Naura dan alamat emailnya lalu aku menekan menu video call
Tak butuh waktu lama, aku sudah tersambung dengan ketiga anakku
"Bundaaaa" suara Adam langsung menyapa begitu kami terhubung
Aku tersenyum haru menatap mereka. Kuamati background mereka, aku yakin itu di kamarku. Karena fotoku jaman gadis masih ditempatnya tidak bergeser.
"Assalamualaikum sayang, apa kabar kalian?, bunda kangen sekali" sapaku
"Kami juga kangen sama bunda. Bunda di rumah nenek ada ayah" ucap Naura
Wajahku berubah kaget begitu Naura berkata demikian.
__ADS_1
"Bukan deng bun, itu bukan ayah kami. Kan kami tidak punya ayah" jawab Adam
Aku diam, aku bingung harus menjawab apa. Pikiranku langsung berubah khawatir saat mengetahui ada Andi. Mau apa dia, batinku
"Nenek mana nak?" tanyaku
"Didepan sama buk Ning, ada kakak Mas juga" jawab Naura
Aku menarik nafas dalam
"Mau apa mereka?" lagi aku membatin
"Bisa ayuk bawa laptop kedepan, bunda mau ngomong sama buk Ning" ucapku
Naura tidak menjawab, dia segera turun dari dipan sambil membawa laptop kedepan.
"Buk Ning, ibuk mau ngomong" ucap Naura begitu dia tiba di depan
Ningsih lalu berdiri dari kursinya mendekat kearah ketiga keponakannya yang duduk di lantai tak jauh dari mereka yang sedang duduk di kursi
"Assalamualaikum mbak" jawabku begitu aku melihat pantulan wajah mbak Ningsih di layar laptop
Ningsih menutup mulutnya, dia langsung menangis tertahan.
Aku yang melihatnya menangis tak urung membuatku juga menitikkan airmata
"Apa kabar mbak?" tanyaku
"Baik te, tante apa kabar?" jawab Ningsih dengan suara serak
Aku tersenyum manis padanya
"Alhamdulillah sehat mbak. Kata Naura mbak kerumah sama Andi, benar?"
Mbak Ningsih mengangguk
"Mau apa?" tanyaku dengan suara ketus begitu tahu memang ada Andi di rumah orangtuaku
"Andi ingin ngajak anak-anak jalan Te, boleh ya?"
Aku tersenyum sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Boleh ya bunda, please" sahut Naura
Aku menarik nafas dalam
"Ya Alloh Naura, tidakkah kamu ingat bagaimana jahatnya ayahmu sama kalian" batinku
"Nggak boleh, kan besok sekolah" jawabku
"Sebentar kok bunda, nanti sore kami pulang, ya kan ayah?" teriak Naura menoleh pada Andi
Andi menganggukkan kepalanya dengan cepat
"Nah, kata ayah sebentar kok bun" balas Naura
"Mau diajak kemana mbak?" tanyaku pada mbak Ningsih
"Tanya anak-anak, kalau mereka bersedia boleh, tapi kalau mereka tidak mau, jangan dipaksa"
"Baik te"
Aku lalu melambaikan tangan pada mbak Ningsih.
Tertangkap olehku wajah murung Mikail. Dari tadi dia tidak menyapaku
"Kakak?, kakak tidak kangen nak sama bunda?" tanyaku
Mikail tersenyum
"Sangat kangen bunda" jawabnya
"Anak kesayangan bunda..." jawabku sendu
"Adek sama kakak nanti kalau ikut buk Ning jangan nakal ya"
Keduanya diam.
"Ya sudah bunda mau lanjut kerja lagi, assalamualaikum" ucapku sambil melambaikan tanganku
Setelah janji dan omongan panjang lebar yang meyakinkan, akhirnya Kak Andri mengizinkan Andi membawa ketiga keponakannya.
Tapi dengan catatan yang membawa ketiga anakku adalah anak kedua mbak Dian yang bisa menyetir mobil, yang biasa disuruh kak Andri untuk membawa mobilnya.
Setelah anak kedua mbak Dian datang, mereka pergi dari rumah orangtuaku
...****************...
"Ini Naura?" tanya Laras begitu mereka masuk kedalam restoran
Naura segera mencium punggung tangan Laras dan kedua embahnya, diikuti dengan Mikail dan Adam yang juga melakukan hal yang sama
Ningsih menggandeng tangan Adam sedangkan Dimas menggandeng Mikail, bersama mereka masuk lalu duduk lesehan ditempat yang sudah tersedia.
Tak lama datang seorang pelayan membawakan daftar menu. Mata pelayan itu langsung tertuju pada Naura dan kedua adiknya
"Wah, adik-adik dengan siapa sekarang datang kesininya?" sapanya ramah kearah Naura
Naura dan Mikail tersenyum pada pelayan itu. Laras dan Bu Mira langsung saling toleh mendengar pelayan itu menyapa Naura dan adiknya
"Kok kenal dengan mereka? Mereka sering ngemis kesini ya?" ucap Laras sinis
Naura langsung menoleh kearah Laras, Mikail langsung memasang wajah marah
"Mereka ini hampir tiap minggu kesini, dan mereka adalah member vvip kami" jawab pelayan itu
Laras mencibir mendengar jawaban pelayan itu
"Kami pesan seperti biasa ya tante" ucap Naura
Pelayan itu langsung menganggukkan kepalanya dengan sopan
__ADS_1
"Kakak sama adik masih desert yang sama kan?" tanyanya
Mikail dan Adam mengangguk.
"Hemm, SKSD" timpal bu Mira
Pelayan itu kembali tersenyum ramah mendengar ucapan Bu Mira setelah mencatat seluruh pesanan, pelayan tersebut lalu pergi
"Adek duduk dekat ayah sini!" lambai Andi pada Adam
Adam tidak menjawab, dia hanya melirik tajam
"Kupikir setelah lama nggak ketemu, anak kamu yang bungsu ini akan putih, ehh kok taunya masih item aja" ucap bu Mira
"Ibuk!" bentak Ningsih
Bu Mira melengos mendengar Ningsih membentaknya
"Kamu kok tinggi sekali sekarang Naura, hampir sama dengan kak Dimas" tanya Laras
"Aku les renang dari kelas empat buk, dan aku juga atlit kabupaten" jawab Naura senang
Laras mencibir mendengar jawaban Naura
"Atlit?" tanyanya sambil cekikikan
"Iya, tanggal 11 sampai 20 September nanti aku akan ikut PON di Pekanbaru, Riau mewakili Sumatera Selatan dicabang renang" sambung Naura
Laras dan bu Mira menelan ludah mendengar jawaban Naura. Sedangkan Andi memandang bangga pada anak sulungnya itu
"Hebat anak ayah" pujinya
Naura tersenyum.
"Kalau kakak sama adek?" tanyanya ramah
Masih Mikail dan Adam diam tidak menjawab
"Kalau adek dan kakak balapan tahfidz yah. Kakak sudah mau tiga juz kalau adek baru dua juz" Naura yang menjawab sambil menoleh pada kedua adiknya dengan senyuman bangga
"Waww!" Dimas berdecak kagum
"Ula berapa juz?" tanyanya
Naura tersenyum malu
"Lima kak" jawabnya
Ningsih langsung merangkul pundak Naura
"Anak ibuk hebat-hebat ya" pujinya
"Kami mau nyusul bunda ke Arab, makanya kami harus jadi tahfidz" jawab Mikail
Kembali Laras terkekeh.
"Bunda kamu di Arab itu jadi lon***e" jawabnya ketus
Bu Mira langsung terkekeh mendengar ucapan Laras
Wajah Naura berubah merah mendengar ucapan Laras
"Bos bunda mau ngasih kami hadiah umroh jika kami bisa hafal Qur'an" jawabnya dingin
Kembali Laras dan bu Mira terkekeh
"Babu sok sokan mau ngumrohkan anak, nggak sadar diri!" jawab bu Mira ketus
"Bunda aku bukan babu. Bunda aku kerja kantoran. Bos bunda aku konglomerat, uangnya banyak. Makanya dia ngasih bonus kekami bertiga jika kami bisa hafal tujuh juz saja, maka kami bisa terbang ke Mekkah" jawab Naura lagi
Saat Laras dan ibunya terkekeh pesanan mereka sampai
"Sudah ngayalnya, kita makan dulu" lerai pak Hermawan
Wajah Naura masih tampak kesal. Tapi dia berusaha tenang.
Dengan sayang Andi mengusap kepala Adam
"Dan ini pesanan adik-adik" ucap satu pelayan yang membawakan makanan untuk Naura dan kedua adiknya
Wajah Naura yang tadi kesal berubah senang begitu makanan pesanannya tiba
"Wah, mahal itu pasti makanan mereka pak" timpal Laras begitu melihat menu makanan istimewa punya ketiga ponakannya
Pak Hermawan melirik kearah piring yang dihidangkan pelayan tadi untuk cucunya
"Pak Andri sudah menelpon kami, kalau makanan ketiga adik ini dia yang akan membayarnya nanti" jawab pelayan itu
Kembali wajah Laras dan bu Mira masam.
Sambil mengangkat kedua tangannya, Naura dan kedua adiknya berdoa lalu mereka mulai makan.
"Kakak Mas cicip punya Ula, enak ini kak" ucap Naura sambil menyodorkan piring makanan mereka kehadapan Dimas
Tak menunggu perintah kedua kalinya, Dimas segera menyendok makanan lezat yang ditawarkan Naura
Andi mengelap mulut Adam dan Mikail bergantian ketika kedua anaknya itu belepotan.
Naura memandang sendu kewajah Andi, Andi balas memandang dengan mata berkaca-kaca
"Maafkan ayah nak" lirih Andi dalam hati
"Tante tolong panggilkan kakak Iyan di depan suruh sini makan bareng kami" ucap Naura saat ada pelayan yang lewat
"Kok semua yang disini kenal sama kamu sih?" tanya Dimas
"Kami sering kesini kak, tiap kesini kami rame-rame"
"Wahh habis dong uang uwak kamu" jawab Dimas terkekeh
"Itu atas perintah bunda, bunda yang nyuruh kami sering jalan-jalan dan makan-makan, dan kalau bayar itu juga uang bunda semua" jawab Naura
__ADS_1
Kembali Laras mencibir mendengar jawaban Naura