Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Lebaran Pertama Twins di Indonesia


__ADS_3

Dengan manja twins yang sudah wangi menggelendot manja di pelukan daddynya.


Aku yang keluar dari dalam kamar mandi tersenyum kearah mereka.


"Sayang, daddy belum mandi, biar daddy mandi dulu ya?"


Defne bukannya turun dari pangkuan abang seperti Serkan, malah dia makin mengeratkan pelukannya


Aku segera membuka lemari lalu berganti baju, melihatku sudah memakai pakaian rumah, Serkan segera mendekat dan aku mencium puncak kepalanya


"Defne, Mama with abi mau turun, you wanna follow us?"


Abang yang masih menciumi rambut Defne membisikkan sesuatu yang membuat Defne turun dan bergegas menggandengku


Aku tersenyum kearah abang lalu kami bertiga keluar kamar


Sampai di ruang bawah, Serkan dan Defne segera bergabung dengan Naura dan Adam yang tampak mengobrol dengan Dimas


"Kakak Mas, tante ke depan dulu ya"


"Iya tante" jawab Dimas sambil menganggukkan kepala ke arahku


Aku menemui rombongan mbak Dian yang masih duduk santai di teras sambil mengobrol


"Ini untuk mbak-mbak semua" ucapku sambil memberikan bungkusan kantong kresek yang berisikan baju gamis untuk mereka dan juga uang THR


Mereka semua mengucapkan terima kasih padaku.


"Mbak Dian, jangan lupa pesanan kue kering yang saya pesankan besok di bawa kesini ya"


"Siap bunda"


"Oh iya, mbak-mbak disini ada yang bisa buat empek-empek sama bakso tidak?"


"Saya bisa bunda" jawab teman mbak Dian


"Bisa mbak datang ke rumah besok?, tolong buatkan kami empek-empek dan bakso"


"Bisa bunda, besok pagi saya akan datang"


"Oh iya mbak, giling dagingnya langsung setelah Subuh ya, karena kalau agak siang nanti rame"


Beliau mengangguk, lalu aku memberikan uang padanya untuk dipakainya membeli bahan besok


"Mbak Dian kalau tidak keberatan besok bisa ke rumah, bantuin" sambungku sambil nyengir


"Pasti bunda, karena mbak tahu bunda nggak bisa kan buatnya"


Aku tersenyum


...****************...


Aku dan abang ikut duduk bergabung dengan Naura yang masih mengobrol dengan Dimas


"Kenalin kak, ini suami tante, dan ini anak kembar tante"


Dimas menganggukkan kepalanya dengan dalam kearah abang


Lalu kami bercerita bagaimana dulu Dimas begitu dekat dengan Naura dan bagaimana sayangnya Dimas pada Naura


"Bermalam lah disini kak, kan sudah lama tidak berkumpul dengan Naura dan Adam"


"In Syaa Alloh tante, karena niat saya sebenarnya kesini mau mengundang tante dan oom beserta adik-adik untuk datang di pernikahan saya"


Naura yang duduk di sebelah Dimas refleks memukul lengan Dimas


"Kakak mau nikah?, serius?, kapan?"


Dimas mengusap lengannya yang tak henti-hentinya dipukul Naura


"Serius lah Ula, masa kakakmu ini melajang terus?"


Kami tersenyum


"Kapan kak?"


"In Syaa Alloh tanggal 8 Mei ini tante"


"Semingu lagi?, ihhhh kakaaakk..." kembali badan gempal Dimas jadi bulan-bulanan pukulan Naura


"Why ukhti hit him Mama?"


Naura menghentikan pukulannya lalu menoleh kearah Defne


"Because he wants to get married, ukhti really happy to hear that"


Defne dan Serkan menganggukkan kepala mereka sambil terus menatap kearah Naura dan Dimas


"Awalnya ibu sama ayah yang mau kesini, tapi di rumah sudah mulai repot te, hari ini mulai masang tenda, makanya saya yang disuruh mereka kesini"


"Iya nggak papa kak, tante tahu ibumu pasti sedang repot-repot nya. Ngomong-ngomong, apa kabar ibu sama ayah kak?"


"Alhamdulillah mereka sehat te, mereka juga titip salam untuk tante"


"Waalaikumussalam, salim balik ya kak untuk mereka, hampir lima belas tahun tante nggak ketemu ibumu" ucapku dengan mata menerawang


Aku jadi teringat bagaimana baiknya mbak Ningsih padaku dulu, sudah seperti saudara sendiri. Dia yang selalu membelaku jika aku dijahatin bu Mira cs


"In Syaa Alloh kami akan datang, bilang saja begitu pada orang tuamu" ucap abang sambil menatap dalam mataku


Aku tersenyum bahagia menatapnya, aku bersyukur karena abang mau datang, itu artinya tidak akan ada masalah jika nanti ada Andi di sana


Lalu abang banyak bertanya tentang kegiatan Dimas, pekerjaannya dan bagaimana pendidikannya. Ternyata Dimas sekarang menjadi seorang guru olahraga di sekolah yang ada di trans.

__ADS_1


Aku jadi teringat bagaimana dulu aku juga seorang pendidik, rasanya rindu ingin kembali mengajar dalam kelas.


Jam sembilan malam Dimas berpamitan, tentu saja aku dan Naura sangat berat melepasnya.


"Sudah malam kak, ke trans jauh, kalau ada apa-apa bagaimana?"


Dimas tersenyum ke arahku dan Naura.


"Sudah biasa tante, lagian sekarang jalannya sudah bagus jadi tidak butuh waktu lama saya bisa sampai rumah, doakan saja saya selamat sampai tujuan"


Aku hanya bisa mengangguk dan melepas kepergiannya.


"Nina ada kan kak pas kakak nikah nanti?" tanyaku saat Dimas sudah di atas motor


Dimas yang telah memasangkan helm ke kepalanya tertegun dan menatap Indah dengan sedih


"Bulek Nina sakit te" jawabnya lirih


"Sakit apa?" jawabku cepat.


Nina dan mbak Ningsih adalah dua orang yang sangat baik padaku, yang peduli padaku.


Dimas tidak menjawab melainkan menundukkan kepalanya, aku menangkap kesedihan di matanya yang membuatku makin penasaran


"Nina sakit apa kak?"


Dimas menarik nafas dalam


"Bulek stress te, bahkan sempat di pasung"


Aku membekap mulutku, air mata langsung mengalir tanpa bisa aku cegah.


Adam segera merengkuh pundak bundanya, ketika tubuh bundanya tampak limbung


"Kenapa bisa?"


"Ceritanya panjang te, nanti kalau tante datang, kalau tante mau, tante bisa menemui bulek, sekarang bulek tinggal di rumah kami, ibuk yang merawat"


Ozkan yang berdiri di sebelah Indah tampak memandang iba kearah istrinya


"Why mama crying ukhti?"


Naura menunduk kearah Defne


"Adik bunda sakit, makanya mama sedih. Mama's sister was ill, so Mama so sad"


Defne tampak menganggukkan kepalanya


"Tanta pasti datang, tante akan menemui Nina"


Mata Dimas berbinar bahagia mendengar jawaban Indah


...****************...


Pagi buta kami semua sudah bangun. Kalau Naura dan Adam seperti biasa, sepertiga malam mereka sudah terjaga


Karena ada Defne dan Serkan, tugas rumah diambil alih Naura, karena dia faham adik kembarnya masih sangat manja dengan bundanya


"Kita shalat dimana sayang?"


"Lapangan bang"


Abang mengangguk. Aku terpaku melihat ketampanan suamiku, memakai baju koko kurta khas Pakistan, lengkap dengan sarung dan peci.


Begitu juga dengan Adam, dia memakai gamis dan peci. Serkan sama seperti daddynya. Sedangkan aku dan kedua anak gadisku cukup memakai gamis.


Warna baju kami sama semua, putih kombinasi krem.


Kedatangan kami di lapangan menjadi pusat perhatian, mungkin karena postur Naura yang tinggi, atau mungkin karena ketampanan suamiku, bisa jadi juga karena mata jernih kedua anak kembarku, atau karena manisnya Adam?, ah aku tak tahu, yang kutahu, aku begitu bahagia bisa kembali sholat lebaran di lapangan yang dulu selalu aku dan keluarga besar ku lakukan.


Umakku melambaikan tangan kearahku, segera aku beserta dua anak gadisku berjalan kearah umakku, membentangkan tikar yang kami bawa dari rumah


Tampak sekali keheranan Defne, dia tidak pernah shalat di lapangan terbuka seperti ini, jika kami lebaran di Jeddah, kami selalu shalat di masjid, begitu juga jika kami berlebaran di Turkiye


Sekitar satu jam kami habiskan untuk shalat Ied dan mendengarkan pidato dari pihak PHBI, selesai itu kami semua pulang menuju rumah umak bapakku.


Abang dan twins yang untuk pertama kalinya berlebaran di rumah orang tuaku, agak kagok begitu melihat bagaimana acara sungkeman kami.


Sungkeman pertama antara umak dengan bapakku, mereka berdua tampak saling menitikkan air mata, aku yang melihat tak urung meneteskan air mata juga.


Selanjutnya abang segera bersujud dihadapan orang tuaku, abang tidak berkata apa-apa selain ucapan terima kasih karena kedua orang tuaku telah memberikan anak mereka untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.


Ketika giliranku, aku segera sujud di hadapan bapakku, begitu lama aku baru bisa bersuara. Bapakku hanya menepuk-nepuk pundakku saat bahuku berguncang menahan tangis, tak banyak kata yang aku sampaikan karena hilang dengan isakanku. Begitu juga saat aku sungkeman dengan Umakku, kami berdua sama-sama menangis


Lalu aku sungkeman pada abang, aku hanya menatapnya dalam, mataku kembali basah saat abang tersenyum menatapku


"Terima kasih karena telah menjadi istriku, maafkan jika abang belum bisa jadi suami terbaik untukmu"


Aku menggeleng, segera aku memeluknya.


Naura yang sedang sungkeman pada umak bapakku tampak menangis sesenggukan. Tiba gilirannya padaku, tangisnya makin pecah.


Aku memeluknya erat. Ini adalah lebaran pertamaku dengannya sejak 2007 lalu. Tentu saja ini sangat menguras emosi kami berdua.


Begitu juga Adam, kupeluk erat bungsu besar ku yang menangis sesenggukan.


Bagaimana tidak, dulu lebaran terakhirku dengannya saat dia berumur tiga tahun dan sekarang dia sudah 18 tahun.


Bertiga kami berpelukan, rasa sedihku makin terasa saat keduanya mengucapkan permintaan maaf padaku


"Yang banyak dosa sama ayuk dan adek itu bunda, jadi bunda lah yang harus minta maaf sama kalian"


Kembali keduanya memelukku. Pak Ahmad dan Bu Siti mengusap wajah mereka karena terharu melihat anak dan cucunya akhirnya bisa lebaran bersama-sama

__ADS_1


Ozkan tampak menitikkan air mata juga melihat istrinya menangis sesenggukan.


Defne dan Serkan ikut menangis melihat Naura dan Adam yang menangis di pelukan mama mereka


Keduanya mengikuti bagaimana tadi Naura dan Adam sungkeman dengan kedua neneknya


"Mohon maaf lahir bathin nenek" ucap keduanya yang membuatku tersenyum karena akhirnya mereka lancar mengucapkan kalimat yang sejak beberapa hari ini mereka hafalkan


Twins juga memelukku


"Terima kasih mama, mohon maaf lahir bathin" ucap keduanya.


Aku dan abang memeluk erat keduanya.


Saat kami makan ketupat, muncullah kak Andri dan keluarganya. Kembali momen sungkeman menguras emosiku.


Kak Andri termasuk orang yang banyak berjasa padaku. Kupeluk erat kakakku itu, begitu juga Naura dan Adam


Selesai sungkeman dengan kakakku, kami melanjutkan makan ketupat. Saat sedang seru mengobrol sambil makan handphoneku berdering


Mikail Ku ❤️❤️


Dengan cepat aku menggeser keatas ikon video. Meletakkan ponsel di atas meja agar kami semua bisa melihat wajahnya


"Assalamualaikum bunda"


Air mataku langsung mengalir deras saat melihat wajahnya yang saat ini menggunakan seragam loreng


Kak Andri segera melambaikan tangan ke arah Mikail.


"Mohon maaf lahir batin semua" suara Mikail tercekat


Aku tahu dia menahan tangis


"Maafin bunda kak, maafkan bunda lahir bathin, karena bunda banyak dosa sama kakak"


Tampak Mikail menyusut matanya. Bergantian seluruh keluargaku menyapa dan mengobrol padanya


"Kakak, kami makan ketupat" ucap Serkan terbata


Mikail tertawa


"Wah, adik kakak sudah bisa ngomong Indonesia ya, bahasa Linggau bisa belum?"


"Biso lah, aku bae pacak ngapo kau idak"


Rumah umak bapakku riuh oleh tawa kami mendengar ucapan Serkan.


"Wah parah ini, siapa yang ngajarin dek?"


"Abi Adam"


Mikail menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh


"Piket kak?" tanyaku


Adam mengangguk


"Itu piring di depan kakak apa isinya?" tanya Naura


Mikail segera menunjukkan isinya. Hatiku langsung nelangsa, kami disini makan enak dengan segala macam makanan, anakku di sana hanya makan sepiring mie goreng


"Jangan nangis bunda, kakak dengan teman-teman kakak sudah beli daging, tapi kami tidak sempat masaknya karena kami harus berdinas" ucap Mikail cepat ketika dilihatnya bundanya menangis


"In Syaa Alloh lusa kami ke Jawa nak, menemui kamu" ucap abang yang membuatku langsung menoleh cepat kearahnya


Abang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arahku


Lalu kami kembali melanjutkan acara makan bersama kami setelah obrolan dengan Mikail berakhir


Tak lama yuk Yana dan kak Angga sekeluarga datang.


Akhirnya acara yang ditunggu seluruh keponakanku tiba, apalagi jika bukan pembagian THR


Bapakku telah menyiapkan uang merah, seluruh cucunya yang berjumlah tiga belas orang mulai berbaris


"For what ukhti?"


"Bagi-bagi THR" jawab Naura pada Defne yang tempak penasaran


Bapakku mulai memberikan lima lembar pada semua cucunya, giliran Defne dan Serkan mereka tampak bengong


"Nanti ditukar di bank" ucapku yang faham karena mereka heran melihat uang yang diberikan bapakku


Lalu kesembilan keponakanku langsung menyerbuku


"THR cik" ucap mereka sambil mengulurkan tangan ke arahku


Aku tertawa dan melihat kearah abang. Abang segera mengeluarkan tumpukan uang dari dalam tas yang sejak tadi di bawanya.


Seluruh keponakanku langsung berteriak bahkan melompat-lompat ketika abang memberikan masing-masing pada mereka satu gepok uang


"Ini untuk bapak, umak, kakak dan ayuk" lanjut abang yang juga memberikan seluruh keluargaku uang THR sama seperti keponakanku tadi


"Untuk kami?" ucap Naura dan Adam karena papa mereka belum memberi mereka.


Aku terkekeh mendengar suara iri mereka. Lalu abang juga memberikan mereka segepok


"Serkan dan Defne juga mau?" tanya abang


Twins menggeleng.


"Uangnya tidak laku" jawab mereka yang membuat kami tertawa

__ADS_1


__ADS_2