
Aku segera naik keatas meninggalkan mereka, Naura segera mengajak ayah dan mbahnya makan.
Dengan sedikit sungkan ketiganya mengikuti Naura berjalan kearah dapur.
Mata bu Mira yang semula sayu ketika melihat dapur mewah milik Indah langsung terbelalak. Kursi makannya saja seperti kursi pelaminan saking mewahnya
"Habis berapa uang bunda kamu Naura membuat rumah dan membeli semua ini?" gumamnya
Naura menoleh sambil tersenyum
"Kami tidak tahu mbah, semuanya uwak dan nenek yang ngurus, kami tahunya beres"
Ketiganya menganggukkan kepala
"Ayo mbah duduk"
Ketiganya duduk, dengan cekatan Naura mengambilkan mereka piring
"Ini kan piring mahal" ucap Bu Mira tak sadar ketika menerima piring yang diberikan Naura
Kembali Naura tersenyum
"Iya, prasmanan di rumah ini bergaya Italy mbah, semuanya uwak ino dan uwo saya yang membelikan"
Mata bu Mira terus menatap kelangit-langit dapur, seolah meneliti tiap incinya
"Ayo mbah makan, nanti Ula ajak keliling"
Dengan cepat bu Mira menoleh kearah Naura
"Bundamu tidak marah?"
Naura tersenyum sambil menggeleng
Dengan cepat mereka makan, dan keluar dari dapur. Ketika ketiganya sampai di dekat ruang tamu telah duduk dua orang berseragam polisi sedang mengobrol dengan Indah
Wajah Andi terkesiap.
Salah seorang polisi memandang kearahnya cukup lama
"Sepertinya kita pernah ketemu" ucapnya
Andi tersenyum kaku sambil mengulurkan tangannya
"Saya Andi"
"Oh, bapak Andi..iya iya saya ingat" ucap polisi itu sambil menepuk-nepuk pundak Andi
Andi tersenyum senang begitu mengetahui jika polisi itu mengenalinya, begitupun dengan pak Hermawan dan bu Mira, wajah mereka langsung sumringah
"Kenal toh bapak sama anak saya?"
Pak polisi itu menoleh kepada bu Mira sambil menganggukkan kepalanya
"Iya kenal bu, karena dulu saya yang memBAPnya ketika dia kami tangkap di kantor karena kasus penggelapan uang perusahaan"
Tawaku langsung meledak, aku langsung terbahak-bahak, apalagi ketika kulihat wajah ketiganya berubah merah menahan malu
"Ohh jadi bapak kenal sama dia ketika dia ditangkap?" aku masih terkekeh saat mengatakan itu
"Jadi nggak salahkan pak jika saya meminta bapak berdua ke rumah saya untuk memberi keamanan pada saya, karena di rumah saya ada residivis"
Kedua polisi itu tersenyum diikuti ku yang masih terkekeh
"Lihat nak, bapak polisi ini mengenal ayahmu ketika ayahmu terkena kasus korupsi" ucapku pada Naura yang menatap sedih kearah Andi
"Anak ibu?" tanya salah seorang polisi
Aku mengangguk
"Model?"
"Iya model ikan belido" (nama makanan khas palembang)
Lalu kami sama-sama terkekeh
__ADS_1
"Bukan pak, calon bidan. Bulan Juni nanti In Syaa Alloh dia wisuda"
Tampak bapak itu mengunggukkan kepalanya sambil menatap kearah Naura
"Mau jadi menantu bapak?"
Aku dan Naura langsung saling pandang dan tersenyum
"Untuk jadi menantu saya kriterianya berat pak" jawabku
"Harus seorang hafidz, karena anak saya hafidzah"
"Wow, jadi dia hafidzah?"
Kembali aku mengangguk
"Salut saya, ibu mempunyai anak seorang Hafidzah"
"Bukan satu pak, tapi lima. Naura punya empat adik. Tiga laki-laki, satu perempuan, yang dua sudah jadi hafidz, nomor dua selain hafidz, Alhamdulillah sudah jadi TNI, yang ketiga bulan Mei nanti lulus SMA seorang hafidz juga, dua lagi di Jeddah, kembar, umur delapan tahun"
"Angkat topi saya sama ibu" jawab kedua polisi itu.
Aku hanya tersenyum.
"Bapak bisa awasi mereka bertiga, karena sepertinya anak saya mau menunjukkan keseluruhan rumah ini pada ayah dan mbahnya"
Naura menoleh ke arahku dengan wajah tak enak hati
"Ajaklah mereka keliling rumah kita, biar ketika mereka pulang ke trans mereka bisa cerita bagaimana megah dan luasnya rumah kita pada Laras dan Maria" jawabku sinis
Awalnya ketiganya tampak malu dan berat hati
"Nggak usah malu, silahkan lihat rumah megah kami, bukankah niat kalian datang kesini ingin melihat rumah kami kan?"
Bu Mira menelan ludahnya, wajahnya merah karena malu karena hatinya bisa dibaca oleh Indah
...****************...
Tanggal 27 Maret 2022
"Maafkanlah bunda nak karena tak sepenuhnya mengurus mu" ucapku sambil kembali berlinang air mata
Ya Rabb beratnya untuk ditinggalnya pergi kali ini. Aku tahu sebagai abdi negara, maka Mikail tak bisa pulang sesuai kehendaknya.
Bisa bertahun-tahun kami tidak bertemu
"Adek twins kan punya jet pribadi, jadi bunda bisa kapan saja menemui kakak" hiburnya ketika aku terus menangis sambil memeluknya
"Tahun ini mungkin bunda akan lebaran di sini kak, nanti bunda akan datang ke kosan kakak"
Mikail hanya mengangguk dan menghapus air mataku
"Ingat kan bunda apa kata kakak, stop nangisnya"
"Tapi ini bunda menangis karena berpisah dengan kamu nak, bukan nangis sedih karena teringat masa lalu kelam kita"
Mikail mengusap pundakku dan menciumi puncak kepalaku. Setelah melepas pelukanku, bergantian Naura dan Adam memeluknya.
Pada umak bapak dan kakak-kakakku, Mikail memeluk sambil menciumi punggung tangan mereka
"Jaga diri kak ya, uang sawit kamu akan uwak kirimi terus"
Mikail terkekeh
"Nggak usah wak, kan nanti kakak ada gaji"
Kak Andri menepuk pundaknya
"Kalau itu hak kamu sebagai abdi negara, kalau yang sawit itu hak kamu dari bundamu"
Mikail memandang sendu pada bundanya
"Fokuslah jadi abdi negara, jangan pikirkan besar gajimu, karena uang hasil sawit, kebun karet, toko, dan SPBU tiap bulan akan selalu uwakmu transfer pada kalian bertiga" ucapku
Mikail mengangguk lalu sebelum naik pesawat kembali dia memelukku erat
__ADS_1
"Sering-seringlah video call dengan bunda"
Mikail menganggukkan kepalanya
"Adek serius ini nggak jadi bareng kakak?"
"Adek liburnya sampe masuk ramadhan kak, jadi adek mau sahur dulu sama bunda"
Mikail menganggukkan kepalanya sambil meninju lengan adiknya
"Latihan, nanti ketika kamu jadi tentara sudah biasa kena pukul" alasan Mikail yang membuat kami tertawa
"Adek mau jadi Kopassus kak, nggak mau jadi TNI biasa kaya kakak" jawabnya sambil terkekeh
Mikail mengangguk dan merengkuh bahu adiknya
"Nothing is impossible, Jika Alloh sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin"
...****************...
Laras dan Maria sangat serius mendengarkan cerita ibunya
"Jadi anak bungsu Andi hari itu beli mobil buk?"
"Iya, mobil yang sama seperti Mikail" jawab Andi
"Gila, banyak banget sih uang bekas istri kamu itu"
"Kamu nggak lihat gimana rumahnya, beuuuhhh" sambung bu Mira
"Bagus ya buk?"
Bu Mira menoleh kearah Maria
"Persis istana, granit lantainya saja lebarnya semeter-semeter, kursinya persis seperti di tivi-tivi, rumahnya tiga tingkat, tiap tangganya berkelok dan besar, rumahnya saja tingginya mungkin ada dua puluh lima meter, ya pak?"
Pak Hermawan mengangguk.
"Kamar tamunya saja mewah, apalagi kamar Naura. Pernahkan kita lihat itu di tivi, ranjang artis yang seperti emas, nah ranjang Naura seperti itu, kata Naura sih kamar mereka itu perwujudan khayalan mereka ketika kecil dulu"
"Mana ada kolam renangnya juga, jadi setiap hari Naura dan kedua adiknya berenang"
Mata Laras dan Maria menyiratkan keirian yang mendalam.
"Kamu sih Ndi, kenapa juga dulu nggak berhasil bujuk Naura untuk membuat kamu rujuk sama Indah, kalau kamu rujuk kan, kita nggak perlu kere kaya sekarang" sungut Laras
"Aku sudah berusaha mbak, mbak sih malah ngajak Naura ribut. Untung tu anak sampai sekarang masih sayang sama aku, kalau tidak sudah jadi gembel kita di Jawa kemarin"
"Halah kamu nya aja yang bego, kurang meyakinkan Indah jika kamu benar-benar berubah dan masih mencintainya"
"Bagaimana aku bisa meyakinkan dia mbak, saat itu saja Indah sudah punya calon suami, dan calonnya itu orang kaya"
Wajah Laras kian ditekuk
"Ini semua gara-gara Tina. Coba kalau Tina tidak jadi selingkuhan kamu, kamu pasti masih jadi orang biasa saja dan Indah pasti tidak akan kaya seperti sekarang, dan yang pastinya mas Rudi pasti masih jadi suamiku"
Semuanya terdiam mendengar keluhan Laras.
"Sudahlah jangan banyak menghayal, harusnya kamu itu bersyukur Indah tidak melaporkan perbuatan kamu ke polisi"
Laras menoleh dengan wajah masam kearah mbak Ningsih yang muncul.
"Ibuk sama bapak juga, harusnya kalian sadar Indah masih mempersilahkan kalian masuk ke rumahnya, jika mengingat bagaimana jahatnya kalian sama dia, aku saja tidak sudi mempersilahkan kalian masuk, Indah kalian suruh tidur diruang tamu dengan ketiga anaknya, kalian malah setuju Andi selingkuh dan malah membanggakan selingkuhan Andi"
"Sekarang giliran Indah kaya, anaknya jadi orang, mulai kalian mau bermuka-muka manis"
"Ingat buk, ibuk tu sakit tumor, umur nggak ada yang tahu cepatlah minta maaf dan tobat"
"Kurang ajar mulut kamu Ning, jadi kamu nyumpahi biar ibuk cepat mati??"
"Itulah susahnya ngomong sama orang yang hatinya penuh iri dengki, hatinya hitam, tidak bisa melihat kebaikan orang sedikitpun"
"Jangan sampai buk, malaikat manggil ibuk dalam keadaan ibuk belum mendapatkan maaf dari Indah
"Pergi kamu Ning, dasar anak kurang ajar"
__ADS_1
Ningsih segera berdiri, tak memperdulikan ibunya yang kembali memegangi kepalanya karena tiba-tiba kepalanya kembali sakit