
"How do you feel Indah?" tanya ummi siang ini ketika jam istirahat
Aku memasang senyum untuk ummi
"Feel good ummi" jawabku
"Ummi tahu, kamu pasti capek kerja sama ummi, dari jam delapan pagi kita sudah di kantor, kadang pulang malam, pergi sana sini, kamu malah ummi suruh ngecek laporan, buat laporan, turun lift berkali-kali padahal kamu phobia, maafkan ummi ya Ndah"
"Ummi...." jawabku melow
"Ummi itu cuma punya Alima, dan dia lebih memilih jadi psikiater, dia sibuk di rumah sakit, dulu sebelum dia jadi psikiater, dia kuliah di London, ummi jauh sama dia. Dan sekarang setelah dia menikah, ummi memaksa dia untuk tetap di Jeddah. Awalnya dia menolak, karena suaminya yang keturunan Arab London lebih memilih untuk tinggal di London. Tapi karena kebesaran Alloh, akhirnya Alima mengalah, dan memilih menuruti ummi"
Aku memegang tangan ummi. Ternyata di balik ketangguhannya, ummi menyimpan sedih.
"Makanya apapun keinginan Alima, ummi turuti. Termasuk trip keliling dunia tiap bulan desember"
Aku tersenyum, itulah enaknya jadi orang kaya, batinku. Mau apapun tinggal ngomong, tidak perlu takut kekurangan uang.
"Ummi memilih kamu diantara ribuan daftar calon pekerja di dunia. Ummi tidak tahu kenapa ummi memilih kamu, tapi ummi yakin, ini ada campur tangan Alloh"
Aku makin terharu mendengar penjelasan panjang ummi
"Kamu mau kan ikut ke Swiss?"
Aku gelagapan mendengar pertanyaan ummi.
"Tidak lama, hanya satu minggu kita disana" sambungnya
"Kamu pasti takut karena kita akan terbang kan?" tebak ummi
Aku tersenyum kaku
"Alima psikiater, dia akan mengobati phobiamu itu"
...****************...
"Apapun akan baba berikan pada keluarga Kaderimin asal mereka menyetujui perceraian ini" ucap tuan Yilmaz saat mereka di meja makan, waktu makan malam
Ozkan meletakkan sendoknya, lalu menatap sang ayah
"Jangan berikan satu persenpun saham baba sama keluarga licik itu" sahut Ozkan
"Tidak ada cara lain Ozkan, baba harus menuruti permintaan mereka"
Nyonya Aylin diam, wajahnya berubah murka demi mendengar ucapan sang suami
"Itu tidak akan pernah terjadi baba" ucap sebuah suara
Ozlem masuk lalu duduk di sebelah sang abi.
Tuan Yilmaz menatap Ozlem yang baru datang
"Baba lupa, jika anak baba satu ini tidak selurus abi" ucapnya sambil tersenyum kearah Ozkan
Ozkan menyeringai, Ozlem terkekeh
"Selama ini tanpa sepengetahuan Anne dan Baba, aku menyuruh seseorang untuk memata-matai keluarga Kaderimin"
Wajah Nyonya Aylin berbinar senang
"Ternyata mereka terlilit hutang Baba, itulah sebabnya mengapa mereka ngotot menikahkan Hatice dengan abi. Mereka pikir, karena abi anak tertua, otomatis seluruh kekayaan keluarga akan jatuh ketangan abi"
"Dan satu hal lagi yang paling penting, mata-mata saya juga sudah menemukan siapa ayah biologis Kiral, dan tinggal menunggu instruksi dari saya, maka anak buah saya siap membawa lelaki itu kehadapan kita"
"Kalau begitu secepatnya Ozlem kamu bawa bukti itu kepada baba, baba sendiri nanti yang akan menemui Kaderimin"
"Saya ikut baba" sahut Ozkan cepat.
"Kamu urusi dulu kerjaan kamu di Indonesia, CEO SALAM GROUP menelpon baba, menanyakan mengapa kamu pergi tanpa pamit"
Ozkan menepuk keningnya.
"Ya Tuhan, saya lupa baba, saat itu masalahnya urgent, makanya saya langsung pergi meninggalkan kantor tanpa pamit dengan beliau"
"Urgent?" kening tuan Yilmaz berkerut.
"Dia mengejar calon kakak ipar saya baba, sampai pesawat disuruhnya delay" gelak Ozlem
Mendengar ejekan sang adik, Ozkan langsung meninju lengannya
"Benarkah itu Askim?" tanya Tuan Yusuf kearah Ozkan
Ozkan terdiam, gugup. Kegugupannya makin membuat Ozlem menggodanya
__ADS_1
"Dia jatuh cinta baba, abi jatuh cinta" ucapnya masih sambil tergelak
Karena tak ingin makin digoda adiknya, Ozkan segera berdiri dari kursi dan meninggalkan meja makan
"Abi, habiskan makananmu, apa karena cinta perutmu selalu kenyang?" teriak Ozlem
Ozkan hanya melambaikan tangannya, lalu segera menaiki tangga menuju kekamarnya
"Terus, kemana perginya wanita idaman Ozkan? tanya nyonya Aylin
Ozlem mengangkat bahunya.
"Kita harus temukan wanita itu, ini adalah pertama kalinya Ozkan jatuh cinta, dan saya tidak ingin jika dia patah hati lagi" lanjut nyonya Aylin
Sementara di kamar, Ozkan terduduk di kursi di balok kamarnya.
Matanya menerawang menatap langit yang dihiasi ribuan bintang
"Indah, saya sangat merindukan kamu" lirihnya
Ozkan segera bangkit dan mengambil handphone di lemari yang sejak beberapa hari ini tidak disentuhnya.
Kembali dia menghembus nafas dalam karena jaringan tidak ada.
Lalu Ozkan kembali turun kebawah
"Mau kemana abi?" teriak Ozlem yang melihat Ozkan berjalan melewati mereka
Ozkan mengangkat handphone di tangannya
"Mau menyuruh Mehmet membelikan saya kartu. Handphone saya tidak ada jaringan selularnya" jawabnya
"Sementara Mehmet membelikan kartu, abi pakai saja dulu telpon rumah" saran Ozkan
"Biar saya yang membelikan kartunya tuan" ucap seorang pelayan
Ozkan tersenyum kepada pelayan wanita yang sudah paruh baya tersebut.
"Terima kasih Gulsen, kamu memang baik hati" ucapnya sambil memberikan beberapa lembar uang lira
"Ini terlalu banyak tuan" ucap Gulsen ketika menerima uang tersebut
"Tidak sebanding dengan ketulusanmu yang telah mengasuhku" jawab Ozkan sambil memeluk Gulsen
Setelah Gulsen pergi, Ozkan segera berjalan kemeja telpon
Panggilan tersambung, tapi tidak diangkat. Wajah Ozkan berubah marah dan kesal
Tuan Yilmaz dan istrinya yang telah selesai makan dan duduk di ruang keluarga melihat perubahan wajah Ozkan
"****!" umpat Ozkan kesal
Mereka berdua saling toleh
"Sabar abi, dicoba lagi" ucap Ozlem yang ikut duduk disebelah nyonya Aylin
Kembali Ozkan menekan tombol di atas telepon, tersambung dan kali ini diangkat
"Kemana kamu, hah?!" bentak Ozkan setelah panggilan tersambung
Ozlem dan ibunya saling toleh dan masing-masing memberi kode dengan mengangkat alis
"Maaf ini siapa?" ucap suara di seberang
"Abrahaaammmm" geram Ozkan
Pak Abraham yang saat itu tidak mengenali nomor telpon yang masuk segera terlonjak demi mendengar geraman marah bos nya
"Bos?, maaf bos. Maafkan saya" jawabnya gugup
"Kemana kamu?, mengapa saya menelpon tadi tidak diangkat, hah?" bentaknya lagi
"Saya tidak mengenal nomor baru bos, jadi saya pikir itu tidak penting" jawab Pak Abraham takut-takut
"Nyawa kamu yang tidak penting!" geram Ozkan
Abraham langsung bergidik ngeri dan menelan ludahnya
"Besok kamu bertiga dengan Binsar dan Tomo terbang ke Turki!"
"Untuk apa bos?"
"Jangan banyak tanya, kamu tahukan saya paling tidak suka dibantah!"
__ADS_1
"Iya bos, iya. Maaf. Iya besok kami akan terbang ke Turki"
"Saya akan hubungi kamu lagi besok"
Ozkan langsung meletakkan gagang telepon.
Pak Abraham yang di seberang segera menghela nafas dalam
"Hadehhh bahaya ini" ucapnya lirih
"Abi bicara sama siapa?" tanya Ozlem setelah Ozkan duduk di sebelah tuan Yilmaz
"Bodyguard abi di Indonesia. Abi menyuruh mereka ke Turki, karena abi ingin mereka di sini" jawab Ozkan
"Bodyguard keluarga kita sudah banyak abi, untuk apa abi ingin mereka kesini?"
"Karena abi lebih nyaman sama mereka"
Ozlem menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Ozkan
"Saat kamu melihat mereka bertiga, abi yakin kalau kamu juga setuju dengan pendapat abi" jawab Ozkan lagi
Ozlem hanya mengangkat alisnya saja.
...****************...
Hari Minggu
Berhubung ini hari libur, jadi aku tidak menemani ummi ke kantor. Sebagai ganti tugasku, pagi ini aku membantu pelayan yang lain membersihkan istana ini.
Kami bersepuluh membagi tugas, ada yang dilantai satu dan ada yang di lantai dua.
Sedangkan lantai tiga karena itu khusus untuk pelayan, maka selalu dirapihkan masing-masing pelayan sendiri.
Rumah sebesar ini memerlukan tenaga ekstra dalam membersihkannya. Untunglah di istana ini semuanya memakai mesin, jadi pekerjaan berat kami sedikit tertolong dengan kecanggihan mesin.
Saat itu aku mengepel lantai tepat di depan kamar tuan muda Emir, anak tertua Nona Alima ketika tuan Emir keluar dari dalam kamar
"Maaf tuan muda" cegahku yang menghentikan langkahnya
Tuan muda Emir langsung menatap kearahku
"Lantainya basah, nanti tuan jatuh. Jika tuan tidak keberatan, aunty bisa menggendong tuan" ucapku
Emir segera mengangkat kedua tangannya. Dengan senang hati aku segera menggendong anak lelaki yang berumur delapan tahun itu.
Karena badannya cukup besar dan dengan bobotnya yang lumayan berat, membuatku agak kesusahan saat menggendongnya.
"Emir berat ya aunty?" ucapnya seperti faham jika aku keberatan menggendongnya
Aku tersenyum. Berjalan sepuluh meter sambil menggendongnya membuat nafasku ngos-ngosan.
"Antar kedepan lift saja aunty" ucapnya
"Okay" jawabku pendek
Dengan berkali-kali membetulkan posisinya agar nyaman, akhirnya kami sampai di depan lift.
Emir segera masuk kedalam lift, sedangkan aku kembali ketugasku semula.
...****************...
"Aunty kami mau digendong juga" teriak tuan muda Fahd dan Khaled ketika aku lewat di taman setelah selesai dengan tugasku.
Saat itu sekitar pukul sepuluh pagi. Aku tersenyum kearah mereka yang sedang bermain di gazebo, dan berjalan kearah mereka
"Ayooo, siapa yang mau digendong aunty duluan?" ucapku pada mereka
Mereka bertiga sontak berebutan dan melompat-lompat kegirangan.
"Aku aunty, aku" teriak tuan muda Khaled, sibungsu. Umurnya kira-kira seumuran Adam menurut tebakanku.
"Aku aunty, aku" teriak tuan muda Fahd tak mau kalah
Mereka bertiga mengingatkanku dengan ketiga anakku. Usia mereka juga tidak jauh dengan anak-anakku.
Bahkan tuan muda Fahd dan tuan muda Khaled hanya beda empat belas bulan saja, sama persis seperti kakak Mikail dan adek Adam
"Ayooo, sini" ucapku sambil membungkukkan badanku
Tak kusangka keduanya langsung melompat kedepan dan belakangku. Sedangkan tuan muda Emir memeluk pinggangku ketika aku sudah dalam posisi berdiri
"Yeayyyyyy..." teriak ketiganya penuh kegembiraan
__ADS_1
Lalu aku menggendong mereka, walau kesulitan karena ada dua beban, tapi aku bahagia. Karena mereka mengobati rindu hatiku dengan ketiga anakku yang nun jauh di sana