Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Terbang Ke Indonesia


__ADS_3

Selama di kantor Ozkan tak tenang. Berkali-kali dia melihat handphonenya berharap jika istrinya akan menghubunginya


Teriakan menangis istrinya tadi pagi begitu membekas di ingatannya.


Segera dia menghubungi orang kepercayaannya untuk menghandle pekerjaannya


"Ghurfati alan!" (keruangan saya sekarang)


"Naeam sayidi" (Baik tuan)


Ozkan langsung menutup laptop dan segera memasukkannya dalam tas tepat disaat suara ketukan terdengar di luar


"Adkhal! (masuk!)


"Tawaliy jamie 'aemaliin khilal alyawmayn almuqbilayn , waladaya eamal eajil fi 'iindunisia"


(Handle seluruh pekerjaan saya untuk dua hari ke depan, saya ada urusan mendadak di Indonesia)


"Naeam sayidi" (Baik tuan)


Ozkan lalu menyerahkan semua berkas dan dokumen setelah itu segera keluar dari ruangannya


"Şimdi uçağı hazırlayın. Endonezya'ya uçuyoruz"


(Siapkan pesawat sekarang. Kita terbang ke Indonesia) ucapnya pada pilot yang segera mengiyakan perintah Ozkan


Melihat Ozkan telah keluar dari kantornya, empat orang bodyguard segera berjalan dibelakang dan di sampingnya untuk mengawal


Salah satu dari keempat bodyguard segera membukakan pintu mobil untuk Ozkan yang segera masuk


Di dalam mobil yang telah berjalan membelah jalanan padat, Ozkan kembali terlihat menekan-nekan handphonenya


"Kalian bersiaplah, dua jam lagi saya terbang ke Indonesia"


"Apa bos?, ke Indonesia?, kok mendadak?"


"Abrahaammm..." geram Ozkan


"Maaf bos, maaf bos, iya siap. Saya kaget saja bos"


"Kamu tahu kan, saya paling tidak suka di bantah"


"Siap bos, maafkan kelancangan saya"


Ozkan langsung mematikan handphone dan segera meletakkan handphonenya kembali kedalam saku jas mahalnya


Abraham yang begitu mendapat pesan dari bosnya langsung menelpon kedua rekannya


"Bos Ozkan akan pergi ke Indonesia dalam dua jam lagi, kita disuruh bersiap"


Baik Toro maupun Binsar sama kagetnya seperti Abraham. Mereka segera bersiap, karena mereka faham betul, bosnya itu sangat perfeksionis dan tidak mau ada yang kurang sedikit saja


"Ada yang tahu mengapa bos mendadak ke Indonesia?" tanya pak Binsar ketika ketiganya telah berkumpul


Pak Abraham menggeleng


"Apa ini ada hubungannya dengan ketiga anak mereka?" sambung pak Toro


"Bisa jadi" jawab pak Abraham


Ketiganya langsung bersiaga


...****************...


"Nggak! aku nggak mau!!" pekikku saat abang berusaha membujukku


"Ayolah sayang, jangan begitu. Kasihan ketiga kita"

__ADS_1


Aku melengos ketika abang membahas ketiga anakku


"Terserah Andi mau mati, atau mau sekarat, bukan urusan aku"


Ozkan masih terus berusaha membujuk Indah yang masih tetap pada pendiriannya


"Sayang, coba kamu pikir, ketiga anak kita nanti akan memendam kecewa mendalam pada kamu jika sampai akhir hayat ayah mereka kamu sama sekali tidak memaafkan Andi"


"Aku memang tak akan pernah memaafkannya bang"


"Abang tahu kamu dendam sama dia, tapi sudahlah sayang, toh dia sekarang sedang sekarat, yang dibutuhkannya hanya maaf dari kamu"


Aku mendengus kesal


"Abang yakin dengan melihat kamu ada di sana Andi akan jauh lebih tenang, siapa tahu dengan melihatmu dia akan sembuh"


"Nggak, aku ingin dia mati!!!"


Ozkan menarik nafas panjang


"Tolong sayang kali ini dengarkan abang, abang sudah berbesar hati mengajakmu menemui mantan suamimu yang sekarat, yang dimana kamu sendiri tahu, jika abang juga membencinya karena dia pernah menganiayamu"


"Tapi abang melakukan ini karena kemanusiaan sayang, bukan karena apa-apa"


"Jujur saja, saat melihat Andi menatapmu, darah abang rasanya mendidih, tapi untuk kali ini abang harus mengalahkan ego abang, abang harus legowo mengajak istri abang menemui rival abang"


Wajahku yang kutekuk segera mendongak menatapnya


"Tapi mengapa kita harus kesana bang. Aku tidak mau melihat Andi, abang lebih tahu bagaimana dendamnya aku sama dia"


"Sayang, dengarkan abang" sambil berkata seperti itu Ozkan menarik pundak istrinya menghadap kearahnya


"Kita kesana karena rasa kemanusiaan, dan abang yakin begitu kamu kesana, kamu tidak akan menangis sambil teriak-teriak lagi"


"Demi Alloh sayang, abang melakukan ini hanya ingin kamu tenang dan tidak depresi lagi"


Aku terdiam. Depresi??? benarkah depresiku kambuh lagi?


Ozkan langsung memeluk istrinya


"Fisik kamu sehat, tapi tidak dengan mentalmu. Sejak keluarga Andi mengalami kecelakaan, sifat dan sikapmu berubah. Kamu jadi temperamen, suka marah-marah, teriak-teriak, nangis tak karuan. Abang khawatir sayang. Abang tak ingin terjadi apa-apa sama kamu"


Aku diam mendengar ucapan abang


"Mau ya?, pesawat kita sudah siap"


Aku mendorong dada abang dan kembali menggeleng


"Nggak mau. Nggak ada efeknya ada atau tidaknya aku di sana"


Ozkan menarik kepala Indah dan memutar-mutarnya seperti mencari sesuatu


"Apa sih bang?" protes ku sambil menepis tangannya


Lalu Ozkan mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri, berganti dengan mengetuk pelan kepala istrinya


"Apa siiihhhh...? ucapku kesal sambil kembali menepis tangannya


"Kepala kita sama, tidak terbuat dari batu, tapi kok kamu keras kepala ya?" jawab Ozkan sambil tersenyum menggoda


Wajahku kembali ku tekuk


"Ayo sayang, bodyguard dan pesawat telah siap. Begitupun dengan Serkan dan Defne mereka juga sudah siap"


Aku bengong dengan mulut ternganga


"Pokoknya nggak mau!!!"

__ADS_1


"Terserah kalau begitu mau kamu, jika suatu hari nanti ketiga anak kita kecewa sama kamu, jangan salahkan abang, karena abang telah berusaha membujuk dan mengajakmu kesana"


Sehabis berkata begitu Ozkan segera keluar dari kamar meninggalkan istrinya sendiri


Aku yang kini sendiri segera merebahkan tubuhku di kasur menarik nafas panjang dan mencoba memejamkan mataku


"Indah... tolooonggg....!!!


Aku langsung terlonjak dan terduduk


"Ya Rabb" ucapku sambil mengusap wajahku begitu tersadar jika aku tertidur dan seperti mendengar suara Andi yang merintih


"Abaaanggg..." teriakku.


Ozkan yang sejak tadi duduk di depan pintu kamar langsung bangkit begitu mendengar istrinya berteriak


"Kenapa??" ucapnya dengan wajah khawatir


"Apa aku tertidur?"


Ozkan menarik nafas panjang, dia baru sepuluh menit yang lalu meninggalkan kamar dan dilihatnya jika mata istrinya sangat merah


"Mungkin" jawabnya singkat


Aku segera turun dan menelpon Naura


"Bagaimana ayahmu?"


"Bunda dengarkan sendiri apa yang ayah gumam kan..."


Lalu Naura mengubah menjadi panggilan video, mendekatkan handphone ke wajah ayahnya yang sekarang makin pucat


"Indah... Indah.. Ndaaaahhh"


Aku membekap mulutku. Berarti tadi aku bukan bermimpi batinku bingung


"Ayah sejak tadi menyebut nama bunda terus" lirih Naura sambil menyusut air matanya


"Bimbing Syahadat Nak.."


"Sudah bun, tapi ayah tetap menyebut nama bunda"


Aku menoleh kearah abang yang menatap serius ke arahku


"Andi... kamu bertahan ya...aku akan kesana" lirihku


Naura langsung mengalihkan video kearahnya dengan mata yang penuh air mata


"Bunda serius??"


Aku mengangguk


...****************...


"Sekarang jam 12.00 waktu Jeddah, itu artinya kurang lebih jam 22.00 malam kami sampai Jakarta. Jemput anak kedua kami, ajak serta ke bandara" ucap abang di telepon saat kami masuk ke area landasan pesawat


"Siap bos!"


Lalu kami berenam naik pesawat yang telah siap lepas landas


Serkan duduk di sebelahku, meletakkan kepalanya di dadaku sambil terus menatap ke arahku


"Mama, why you crying?" tanyanya


Aku mengusap wajahku dan menciumi kepalanya


Sementara Defne yang duduk dengan daddy nya, hanya menatap sedih kearah bundanya yang menangis dalam diam

__ADS_1


"Daddy.... Mama okay?


Ozkan mengusap kepala Defne sambil mengangguk dan tersenyum


__ADS_2