Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sky Bridge


__ADS_3

Degup jantungku kian berpacu cepat ketika abang semakin dalam menekan kepalaku. Aku tak kuasa menolak sentuhan lembut bibirnya, dengan mata nanar aku membalas pagutannya.


Ya Rabb, batinku. Tapi sumpah ini manis sekali, dan aku menginginkannya.


Dengan sadar aku meremas rambutnya, dan Ozkan semakin dalam mencium bibir Indah.


Matanya berkaca-kaca saat itu, tapi dia terus menekan kepala Indah, dia ingin menunjukkan bahwa hanya Indah yang berarti buat dirinya


Aku mendorong pundak abang dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya karena aku kehabisan nafas.


Ozkan segera menyentuh bibir Indah, menghapus bekas ciuman mereka menggunakan ibu jarinya.


Wajahku langsung memanas begitu tersadar dengan yang barusan terjadi, aku segera memejamkan mataku dan melengos menghindari tatapan abang yang tersenyum kearahku.


Sumpah, aku malu sekali saat ini. Ozkan menarik wajah Indah dan menangkupnya menggunakan kedua telapak tangannya


"Abang cuma mencintai kamu. Tidak ada perempuan lain yang abang cintai selain kamu. Jadi tolong jangan pernah berfikir jika abang akan mencintai perempuan lain" ucapnya


Aku tak berkedip memandang matanya. Aku cuma bisa menelan ludahku berkali-kali


"Yakinlah sama abang, hemm?"


Aku mengangguk, lalu Ozkan menarik Indah kedalam dekapannya. Aku meletakkan daguku di atas pundak abang dan memeluk lehernya dengan kencang


"Janji jangan seperti tadi lagi sama perempuan lain" lirihku


Ozkan mengangguk sambil mengelus pundak Indah


"Jika tidak kepepet" jawabnya


Aku mencubit pundaknya dan makin mengeratkan pelukanku, sedangkan Ozkan terkekeh


"Sudah marahnya?" tanya Ozkan setelah kami saling melepas pelukan


Aku menunduk malu sambil memanyunkan bibirku


"Mandilah duluan, abang akan ajak kamu kesatu tempat"


Aku menoleh pada abang dengan mata berbinar bahagia


"Pakaian aku sudah siap, kan?" tebakku


Ozkan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya


"Aku sudah tahu, karena dulu pernah" jawabku sambil tersenyum


Ozkan makin melebarkan senyumannya.


"Kamu masih mencintai abangkan Ndah?"


Aku menatap mata abang dengan tajam, lalu menarik nafas dalam


"Setiap waktu" jawabku lirih sambil masih menatap matanya


Mata Ozkan berkaca-kaca mendengar jawaban Indah. Dan aku segera memeluk abang begitu melihat dia mau menangis


"Jangan menangis, aku sangat mencintai abang, sangat" ucapku serak sambil memeluknya erat


"Abang bahagia karena akhirnya kamu mengatakan ini" ucap abang sambil melepas pelukanku


"Mandilah, setelah ini kita dinner" ucap Ozkan sambil mencubit hidung Indah.


Aku segera berdiri dari ranjang lalu dengan cepat aku mencium pipi abang, lalu setelah itu aku berlari masuk kekamar mandi


Ozkan tersenyum sambil memegang pipinya yang tadi dicium Indah. Dia tersenyum bahagia.


...****************...


"Ini kita mau kemana bang?" tanyaku saat abang mengajakku masuk lift, setelah kami dinner


"Ikut abang saja" jawabnya


Aku menurut dan diam, aku membiarkan abang menggenggam erat tanganku


Hanya beberapa menit saja lift kembali terbuka, dan kami keluar. Lalu kami naik lift lagi, dan sama seperti tadi, tak lama lift terbuka, dan kami keluar. Abang mengajakku berjalan sambil masih tetap menggenggam tanganku.

__ADS_1


Dari tempat kami berjalan aku bisa melihat banyak orang yang terlihat dari jendela kaca.


Aku menghentikan langkahku saat kami sudah dekat dengan pintu masuk, Ozkan yang mengetahui jika Indah berhenti juga menghentikan langkahnya.


Aku menggeleng, wajahku menegang.


"Abang akan terus menggenggam tangan kamu, tidak akan abang lepaskan sedetikpun" ucapnya


"Nggak mau" ucapku tegang


"Abang akan pegangi kamu, swear!"


Aku menggigit bibir bawahku, tanganku berkeringat dingin.


"Abang kan tahu aku phobia ketinggian" lanjutku dengan nafas tersengal


"Disini aman sayang, percaya sama abang" ucap Ozkan meyakinkan Indah


"Ayo" ucapnya lagi sambil mengulurkan tangannya


Dengan gemetar aku mengulurkan tanganku. Dapat Ozkan rasakan jika telapak tangan Indah sangat dingin.


"Kasihan dia" batinnya


"Pegangi ya bang" ucapku gemetar sambil berjalan pelan


Ozkan menggenggam tangan Indah dengan erat. Lalu mereka berdua mulai melangkah masuk kedalam sky bridge.


Orang di sana sibuk berswafoto, sepertinya mereka sangat menikmati keindahan tempat ini. Tapi tidak denganku, tanganku yang semula digenggam abang aku pindahkan memegang lengannya.


Ozkan dengan sayang, memegang tangan Indah yang menggelayut di lengannya.


"Santai, rileks" bisiknya


Aku mendongak tanpa ekspresi. Abang mengajakku berdiri dipinggir dinding kaca yang di batasi oleh besi baja besar.


Aku melepaskan pegangan tanganku lalu memegang besi baja di depanku.


"Wowww!" seruku tertahan ketika melihat view menakjubkan dari tempatku berdiri



Aku hanya bisa mengangguk, karena mataku masih mengagumi view indah di depan mataku


"Dari sini kita bisa melihat seluruh Riyadh, keindahan dan kemegahannya. Makanya abang bawa kamu kesini, karena abang ingin menunjukkan sisi lain negeri Arab" ucap Ozkan untuk mengalihkan ketakutan Indah


Aku mengangguk


"Ayo, kita jalan lagi kesana" ajak Ozkan setelah beberapa menit mereka berdiri disana


Aku segera menoleh dan kembali wajahku tegang.


"Lepas saja heels kamu, kalau takut"


Aku tersenyum malu, masa iya aku nyeker?


"Apa perlu abang gendong?" goda Ozkan


Aku memukul lengannya. Ozkan tergelak melihat Indah yang kembali malu. Lalu aku menarik tangan abang dan kembali menggelayutkan tanganku kelengannya.


Kembali mereka berdua berjalan dan sesekali mereka berhenti, melihat spot cantik bahkan sesekali Ozkan mengambil gambar mereka berdua.


Tak terasa sudah dua jam kami disini, aku yang walaupun takut tapi sangat menikmati keindahan sky bridge ini, berkali-kali aku berdecak kagum dan mengambil gambar view keindahan kota Riyadh.


"Nanti akan aku posting" gumamku


"Apa yang mau diposting?" tanya abang yang tiba-tiba telah berdiri disebelahku, sangat dekat hingga tubuh kami bersentuhan


Aku mendongak menatapnya


"View ini yang mau aku posting" jawabku


"Kirain foto kita" jawabnya


Aku memanyunkan bibirku

__ADS_1


"Aku nggak mau semua wanita di jagat dunia maya nanti mengagumi abang" jawabku cemberut


Ozkan segera merangkulkan tangan kirinya kepundak Indah


"Kamu kalau jealous ternyata manis juga ya" ucapnya tersenyum segaris


Aku malah semakin cemberut.


"Pulang sekarang, apa nanti?" tanya abang, karena dilihatnya pengunjung sky bridge mulai banyak yang berkurang


Aku mengedarkan pandanganku melihat sekeliling. Memang benar, pengunjung yang tadi ramai, mulai berkurang


"Boleh" jawabku


Lalu kami memutar badan dan kembali berjalan kearah pintu keluar. Tiba-tiba di benak Ozkan muncul ide untuk mengerjai Indah, dia pura-pura hendak membetulkan sepatunya


"Sebentar sayang, abang mau membetulkan sepatu abang" ucapnya sopan sambil melepaskan tangan Indah yang melingkar di lengannya


Lalu dia berjongkok dan aku memperhatikan.


"Sayang lihat di sana ada apa?" tunjuk Ozkan


Refleks aku menoleh, dan Ozkan segera berdiri dan berlari meninggalkan Indah.


Sadar jika abang mengerjaiku, aku segera berteriak panik


"Abang, jangan tinggalin aku!" teriakku kencang


Seluruh orang yang kebetulan ada di sekitar tempatku berdiri menoleh dan menatap heran kearahku


Aku tidak perduli dengan tatapan heran mereka, aku terus berteriak memanggil abang yang berdiri tegak jauh dariku


Kakiku gemetar, lututku rasanya lemas. Degup jantungku berdetak sangat kencang, keringat dingin mulai keluar di tangan dan keningku


"Abaaang aku takuuut" lirihku lemas


"Ayo sayang sini, ayo sini. Kamu harus berani, ayo!" teriak Ozkan sambil melambaikan tangannya kearahku


Aku menoleh kiri kanan, berharap jika ada salah satu pengunjung mau menolongku


"Help me, please!" ucapku bergetar


Ozkan masih terkekeh ditempatnya melihat Indah yang terpaku tak berani bergerak


"Hal min almumkin an yusaeiduni ahid min fadlikum?" (Adakah yang bersedia menolongku, saya mohon) tanyaku gemetar sambil menoleh kekanan kiri pengunjung yang masih menatap heran kearahku


Tampak mereka saling berbisik-bisik. Tubuhku makin gemetar karena belum ada yang mau menolongku, airmataku mulai mengalir karena aku sangat ketakutan


"Hal takhaf almurtafaeati?" (Anda takut ketinggian?) tanya seorang pemuda yang berpakaian khas Arab mendekati ku


Aku mengangguk cepat, sementara airmata terus mengalir di pipiku.


Ozkan yang melihat jika ada lelaki yang mendekati Indah seketika menjadi marah


"Amsk yaday , sakhadhak 'iilaa almanzil" (Pegang tangan saya, saya akan mengantarkan kamu pulang)


Aku segera mencengkram kuat lengan jubah lelaki muda tersebut, dan berjalan mengikutinya


Ozkan segera menghentikan langkah Indah dan pemuda Arab tadi ketika mereka sampai di depannya


"Sorry, her my wife" ucap Ozkan


Lelaki itu menoleh padaku dan aku tetap diam karena degup jantungku masih berdetak kencang


"hal ma qalah sahihu?" (Apa yang dikatakannya benar?)


"Min fadlik 'akhrajani min huna , 'ana khayifat jdan" (Tolong bawa aku keluar dari sini, aku sangat takut) jawabku gemetar


Lelaki itu mendorong pelan dada Ozkan yang menghalangi langkahnya, lalu dia kembali berjalan membawa Indah yang masih mencengkram kuat jubahnya.


Aku tidak menoleh sedikitpun pada abang, aku marah sekali padanya. Aku terus mencengkram jubah lelaki yang tak kukenal tersebut, hingga akhirnya kami sampai di luar pintu sky bridge, barulah aku melepas cengkramanku.


"Shukran jazilan" ucapku masih dengan suara gemetar


Lelaki itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2