
Pria tampan yang baru duduk tadi segera mengangkat kepalanya yang sedikit menunduk ketika baru duduk
"Indah..." desisnya
Aku menarik kursi yang tadi kupegang, segera duduk. Ummi segera mendekatiku dan langsung memberikan air mineral
"Kamu kenapa?" tanya ummi khawatir
Aku segera menenggak air mineral yang tadi diberikan ummi, mengatur nafasku yang tak teratur karena degup jantung yang berpacu cepat
"Wajah kamu tegang sekali" sambung ummi
Aku tetap diam, kulirik seluruh penghuni ruangan ini yang memandang khawatir padaku. Terlebih lelaki yang tadi membuatku begini.
Lelaki itu memandang dalam padaku, tampak sekali khawatir di wajahnya
"Bisa kita pending dulu madame meetingnya?" ucap lelaki itu
Ummi menoleh pada lelaki itu. Begitu juga dengan yang lain, mereka semua bersuara menyetujui usul pria tadi
Tapi aku menggeleng. Aku mendongak pada ummi yang berdiri memegang pundakku
"I am okay ummi" lirihku
Ummi mengerutkan keningnya. Dan aku memaksakan senyum dibibirku untuk meyakinkan ummi bahwa aku baik-baik saja.
"Are you sure?" tanya pria tampan itu padaku
Dengan berusaha memberanikan diri, aku mengangguk kearahnya
Ya Rabb aku kenapa, batinku. Memalukan rutukku dalam hati.
Tatapan mata pria tampan itu makin menusuk jantungku yang kian berdetak tak karuan.
"Aku bisa!" tekadku dalam hati.
Segera aku berdiri dari kursi lalu kembali mengambil alat yang kugunakan untuk menekan tombol next pada slide yang sedang ku laporkan.
"Maaf untuk ketidaknyamanannya" ucapku tak enak hati. Terlebih kepada ummi yang sangat mempercayaiku bahwa aku bisa
Aku memejamkan mataku beberapa detik sebelumnya akhirnya aku memulai kembali presentasiku.
Presentasi pertama tentang hotel, aku menjelaskan secara detail tentang keuntungan yang akan didapat para investor apabila bergabung bersama kami, lalu aku pindah ke presentasi kedua, yaitu pertambangan tembaga.
Aku sangat bersemangat ketika mempresentasikan kedua usaha baru di Ibrahim holding ini. Aku menjelaskan secara terperinci hingga akhirnya seluruh presentasiku selesai.
Pada saat tanya jawab, aku dibantu oleh ummi dan empat orang bawahan ummi.
Saat jam makan siang barulah meeting kami break untuk makan siang dan istirahat.
Saat aku menutup presentasiku, seluruh yang ada di ruangan ini bertepuk tangan, terlebih ummi beliau sampai menggenggam tanganku ketika aku duduk
"Kamu hebat!" puji ummi
Aku tersenyum senang pada ummi.
"Ayo kita keruang makan" ajak ummi
Lalu ummi mengajak seluruh anggota meeting kali ini untuk pindah keruang makan. Aku yang sejak tadi selalu menghindari tatapan pria yang membuatku gugup, memilih berdiri paling akhir.
Aku pura-pura tidak melihat ketika pria itu menoleh kearahku saat akan keluar dari pintu.
Aku pura-pura membetulkan sepatu hingga pria itu akhirnya keluar dari dalam ruangan.
Aku menghembus nafas dalam ketika semuanya telah keluar. Aku menutup wajahku sambil mengucap istighfar karena degup jantungku kembali tak karuan.
Tak ingin ummi menunggu lama, aku segera keluar dari dalam ruang meeting.
Saat aku akan melangkah keluar, sebuah tangan menarikku dengan cepat hingga aku hampir terjatuh
Dengan sigap pria yang tadi menarikku, menangkap tubuhku. Cukup lama kami saling bertatapan hingga aku membenarkan posisi berdiriku.
"Indah...." kembali pria itu mendesis menyebut namaku
Aku mundur selangkah darinya, menundukkan kepalaku sementara degup jantungku kian kencang
"Abang sangat merindukanmu" ucapnya lagi
Aku tetap menunduk tak berani menatap matanya
"Jangan hanya diam Indah, kamu boleh bunuh abang jika memang kamu benci sama abang, tapi please ngomong sama abang"
Spontan aku mendongakkan kepalaku mendengar kalimatnya
__ADS_1
"Jangan mati, karena aku yang akan mati duluan jika sesuatu yang buruk terjadi pada abang" jawabku tak sadar
Pria tampan di depanku yang ternyata adalah Ozkan Yilmaz tersenyum dalam
Sedangkan aku dengan cepat menutup mulutku.
Segera ditariknya aku kedalam pelukannya. Dapat kurasakan bagaimana eratnya dia memelukku. Aku memejamkan mataku berharap bahwa ini adalah kenyataan bukan mimpi
Aku menepuk pipiku. Sakit. Ah, ini kenyataan bisik hati kecilku.
Ya Rabb benarkan jika ini abang, orang yang sangat aku cintai?
Aku membuka mataku dan mendongakkan kepalaku.
Abang menunduk melihat mataku. Dia tersenyum, sangat manis. Senyuman yang selama ini sangat aku rindukan.
"Kenapa?" tanyanya
Aku diam, dan abang makin mengeratkan pelukannya padaku
"Kita keluar, nanti orang-orang curiga" ucapku pelan
Abang bergeming, dia masih memelukku
"Tuan?" panggilku
"Biarlah mereka curiga, aku tidak perduli" jawab abang
Aku menarik nafas berat. Tak ada pilihan lain selain diam, aku membiarkan abang tetap memelukku
Hingga akhirnya pelukan kami terlepas dengan spontan ketika pintu didorong
Aku dengan cepat mendorong abang dan keluar dari ruangan tersebut ketika seorang bodyguard masuk
"Dipanggil ummi" ucap bodyguard itu dengan suara baritonnya
Aku tidak menjawab, aku mempercepat langkahku menuju ruang prasmanan.
"Kemana saja, kok lama" ucap ummi ketika aku berdiri di dekatnya
"Ke toilet ummi" bohongku
"Sana makan, habis ini meeting kita lanjutkan" jawab ummi
Sampai di sana ternyata abang juga sedang mengambil makanan.
Aku berdiri di sampingnya, dengan memegang piring kosong, menunggu giliranku untuk mengambil setelahnya
"Obrolan kita belum selesai, temui abang malam nanti" lirihnya hampir tanpa gerakan
"Hah?" jawabku karena kaget
"Jangan membantah, kamu tahukan jika abang sangat merindukan kamu" sambungnya.
Aku masih diam, dan kami berdua masih tidak bergerak dari tempat kami
"Ozkan, apa kamu tidak kasihan sama perempuan itu yang sedari tadi menunggumu?" ucap tuan Yusuf
Ozkan segera menoleh kearah tuan Yusuf dengan malu, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Ozkan bingung mau ambil menu apa baba" jawabnya
Aku menahan senyum mendengar jawaban bohong abang
"Sepertinya kamu bisa mengambilkannya Indah, kan kamu tahu bahwa seluruh makanan ini lezat semua" sahut ummi
Tuan Ozkan menoleh pada ummi dan menarik bibir dan alisnya seperti kode setuju
Aku kaget mendengar ucapan ummi, dan menoleh pada ummi dengan bengong. Ummi menganggukkan kepalanya kearahku
Lalu aku mengambil piring yang ada di tangan abang, saat tanganku menyentuh piring itu, tangan kiri abang spontan menyentuh tanganku. Aku langsung menatap kearahnya karena kaget, tapi abang malah tersenyum penuh arti
"Tuan mau ini?" tanyaku menunjukkan nasi Briyani
Tuan Ozkan mengangguk. Lalu aku menyendokkan nasi Briyani kedalam piringnya, lalu berpindah kemenu yang lain
"Yang ini?" tanyaku lagi
"Saya yakin kamu masih ingat semua makanan kesukaanku, hem?" lagi abang berbisik
Aku terkesiap, bagaimana dia bisa membaca pikiranku. Ya Rabb apakah cinta dimataku begitu terlihat jelas?
Dengan cepat aku mengisi piring tuan Ozkan dengan tiga menu, nasi briyani, daging asap dan juga jalamah. Lalu setelahnya aku memberikan piring tersebut ketangan abang
__ADS_1
"Selamat menikmati" ucapku lirih
"Terima kasih kekasihku" balas abang yang juga lirih
Wajahku memanas, mungkin sudah semerah udang rebus saat ini. Aku segera berpaling, aku tak ingin orang menangkapnya.
"Sikat bro!" ucap salah seorang teman tuan Yusuf ketika Ozkan duduk bergabung makan dengan yang lain
Ozkan tersenyum mendengar ucapan pria itu. Sedangkan tuan Yusuf melirik kearah Indah yang berjalan kearah mereka.
Apakah perempuan ini? batinnya
Aku makan dengan pelan dan sedikit tak nyaman karena bergabung dengan rombongan abang. Tapi aku berusaha menutupinya, aku tak ingin mereka berfikiran aneh tentangku.
Selesai makan siang dan istirahat, akhirnya meeting kami lanjutkan. Sekarang giliran kami mendengarkan bagaimana keputusan kelima calon investor kami.
"Giliran pertama adalah vice president atau CEO kedua perusahaan kami yang memutuskan" ucap tuan Yusuf
Ozkan tersenyum kearah tuan Yilmaz
"Kenapa harus Ozkan baba, baba saja yang duluan" tolaknya halus
Semua yang hadir tersenyum kecuali aku, aku deg-degan dengan keputusan abang.
Abang menatap kearahku. Aku segera melirik kearah lain untuk menghindari tatapannya
"Aku investasi di keduanya" jawab tuan Ozkan yang melegakan hatiku
Aku segera tersenyum manis kearah abang yang juga dibalasnya dengan senyuman hangat.
Ummi langsung memegang tanganku mendengar keputusan abang, tampak senyum sumringah diwajahnya.
"Yang lain?" tanya ummi
"Saya deal" ucap teman tuan Yusuf
"Aku juga"
"Aku juga" sahut yang lain
Aku tersenyum lega mendengar keputusan mereka berempat.
"Tuan Yusuf?" ucap ummi sambil melihat kearah tuan Yusuf
"Saya deal, tapi dengan satu syarat" ucapnya menggantung
Kami menoleh dan menatap kearah tuan Yusuf dengan cemas
"Syarat?" tanya ummi
Tuan Yusuf menganggukkan kepalanya. Beliau menoleh kearahku, menatap dalam kemataku yang membuat jantungku berdegup tak karuan
"Siapa tadi namanya?" ucap beliau kearahku
"Indah, tuan" jawabku takut
"Asal?"
Ummi memandang heran sambil mengerutkan keningnya
"Ini maksudnya apa tuan Yusuf Yilmaz?"
Tuan Yusuf tersenyum kearah ummi dan mengangkat sedikit tangannya memberi kode jangan memotong pertanyaannya
"Indonesia" jawabku cepat. Aku tak ingin ummi makin bingung
"Saya deal, dan saya ingin Indah turun langsung dalam proyek ini" ucapnya
Ummi tersenyum lega mendengar jawaban tuan Yusuf, begitu juga aku.
Aku mengangguk hormat pada beliau
"Tenang saja, Indah pasti kami ikut sertakan" ucap salah seorang kepala divisi dua proyek besar ini
Aku tersenyum kearah mereka, mengucapkan terima kasih.
Ummi kembali menggenggam tanganku.
"Sukses buat kamu Indah" ucap ummi bahagia
Aku membalas menggenggam tangannya
"Berarti benar perempuan ini yang dicari Ozkan" batin tuan Yilmaz memandang penuh arti pada Indah yang tersenyum pada ummi Afsha
__ADS_1