
"Alhamdulillah kita sudah sampai" ucapku begitu menghentikan motor di halaman kontrakan
Aku segera menurunkan anak-anakku dari motor, lalu membimbing mereka berjalan kearah pintu yang sedang kubuka
"Ayo nak masuk" ucapku lagi
Ketiga anakku masuk dan aku dapat melihat tatapan heran dari mata mereka.
"Ini rumah siapa bunda?" tanya Naura sambil duduk di lantai
"Rumah kita" jawabku sambil mengambil tas yang masih digendong oleh Mikail
"Rumah kitakan bukan di sini bunda, rumah kita itu yang ada mamaknya" jawab Mikail
Mamak yang dia maksud adalah mbak Dian, ketiga anakku memanggil beliau mamak seperti anak-anak mbak Dian memanggil beliau
"Iya, rumah kitakan di sana bunda bukan di sini" sahut Naura
Aku menarik nafas dan membuangnya dengan berat. Aku bingung bagaimana caranya aku menjelaskan pada ketiga anak polos dihadapanku ini.
"Letakkan di mana ini mbak?" suara mamang becak mengagetkanku yang tercenung.
"Ah, disini saja mang" kataku menunjuk lantai sebelah pintu
Mamang becak lalu menurun tiga kardus yang tadi dibawanya.
Aku mengikuti mamang tersebut keluar, membantunya membawa kardus yang masih tersisa.
Aku membawa dua kardus, sedangkan mamang tadi membawa kardus besar yang berisi mainan anak-anakku.
Setelah semua kardus turun, aku segera membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih pada mamangnya. Baru setelah itu masuk.
Aku segera mengambil kunci motor dan membuka bagasinya, mengambil kotak makan siang yang tadi telah aku isi.
Aku segera kedapur, meletakkan nasi dan pepes ikan dalam piring, lalu membawanya keluar.
"Makan dulu nak" panggilku pada ketiga anakku yang sudah merobohkan kardus mainan dan mengambil mainan yang mereka inginkan.
Mereka bertiga langsung mendekat kearahku.
"Ayo, cuci tangan dulu" ucapku
Ketiganya langsung berlari menuju dapur, masuk kekamar mandi.
Tak lama mereka sudah kembali lagi dan duduk rapih di depanku.
Aku segera mengisi piring untuk mereka lengkap dengan pepes ikannya.
Saat ketiga anakku makan, aku mulai mengangkati kardus pakaian kami kekamar.
Lemari plastik yang aku beli tadi, aku lap. Lalu aku mulai mengeluarkan pakaian kami. Aku susun pakaian kami kedalamnya. Setelah itu aku menggelar tikar dan menyusun bantal di atasnya. Jadi ketika anak-anakku mau tidur siang, tempatnya sudah tersedia.
"Bunda selesai" teriak Naura
"Iya" jawabku dari dalam
Aku lalu keluar dari dalam kamar dan membereskan sisa anak-anakku makan. Sedangkan mereka bertiga bermain di teras.
Saat aku menyapu sisa anak-anakku makan keluar, aku lihat ada anak perempuan yang kira-kira seumuran Naura memperhatikan dengan malu-malu
"Sini nak, main sini" ajakku
"Ayuk, itu ada temannya, ajak main gih" sambungku pada Naura yang juga tampak malu-malu
"Siapa namanya sayang?" tanyaku
"Deva, tante" mbak Mila yang menjawab
Aku tersenyum pada mbak Mila.
"Ini Naura" ucapku pada Deva
Dengan malu Deva mendekat, dan ikut bergabung dengan ketiga anakku. Namanya anak kecil, mereka cepat beradaptasi. Jadi tidak butuh waktu lama, mereka langsung akrab dan bermain bersama
Rupanya lima pintu kontrakan ini rata-rata memiliki anak kecil semua, jadi anak-anakku bisa banyak temannya nanti. Semoga mereka bisa betah di sini, doaku dalam hati
__ADS_1
...****************...
"Bunda puyang" Adam merengek saat malam ketika kami mau tidur
"Iya bunda, ini bukan rumah kita. Kita pulang" Mikail ikut merengek
"Bunda, kenapa sih kita disini? ini kan bukan rumah kita" sambung Naura sambil berbaring di sebelahku
Terdengar Adam merengek lagi.
Aku hanya diam tidak menjawab setiap pertanyaan ketiga anakku.
"Bunda pulang!" suara Mikail mulai meninggi.
"Iya besok nak ya" jawabku pelan
"Sekarang, sekarang puyangnya" Adam mulai menangis.
Aku meletakkan tanganku kebawah kepala, memandang langit-langit rumah.
Adam masih merengek, aku membiarkannya menangis dengan harapan nanti dia akan tertidur dengan sendirinya.
"Bunda, kenapa kita di sini?" Naura mengulangi pertanyaannya.
"Ya karena ini rumah kita sekarang nak" jawabku
"Rumah kitakan disana bunda, bukan disini" jawabnya sambil miring menghadapku
"Ayah kok nggak jemput kita" lanjutnya
Aku diam, mencoba memejamkan mataku untuk menghindari pertanyaannya lagi.
"Bunda?" guncangnya pada tanganku. Aku pura-pura pulas.
"Kita tidur ya dek" bujuknya pada Adam yang masih sesenggukan
Naura lalu bertukar tempat dengan Mikail. Dia merebahkan badannya di sebelah adiknya. Lalu dia mulai mengelus-elus kepala adiknya. Aku yang mengintip dari mataku yang sedikit terbuka menjadi sedih. Hatiku rasanya tersayat melihat ketiga anakku yang tertidur hanya beralaskan tikar.
"Yuk, badanku sakit" rengek Mikail
Aku mengelus belakang tubuhnya.
"Bunda kita besok jadikan pulangnya?" tanyanya
"Iya" jawabku
Sambil kuelus-elus kepalanya, akhirnya dia tertidur pulas.
Sepeninggal ketiga anakku terlelap, aku bangun. Aku duduk dan menyandarkan tubuhku ketembok.
Kutatapi ketiga anakku yang pulas, ada rasa nyeri di hatiku saat aku melihat wajah mereka.
"Aku harus bangkit. Kamu harus semangat Indah. Tunjukkan pada Andi kalau kamu bisa tanpa dia" batinku
Kulihat jam di hp menunjukkan angka 20:40. Biasanya jam segini ketiga anakku belum tidur, mereka masih bermain atau menonton.
Aku mencoba membuka menu pesan, karena kulihat ada pesan yang belum aku baca.
Karena seharian ini aku tidak sempat membuka hp, jadi aku tidak tahu jika ada pesan yang masuk.
"Hp ini juga jangan kamu bawa!, jika sudah kamu bawa, besok kembalikan. Karena hp ini pakai uang aku membelinya, bukan uang kamu"
Aku menarik nafas panjang. Ternyata sms dari Andi yang meminta aku mengembalikan hpnya.
Aku segera mengecek sisa pulsa, ternyata masih banyak. Karena besok aku akan mengembalikan hp ini, jadi aku berniat untuk menggunakan pulsanya dari pada mubazir.
Aku segera mencari menu kontak, memilih kira-kira siapa yang akan aku telpon.
Pencarianku terhenti dikontak Kak Jennifer. Dengan ragu aku mulai mendial nomornya. Aku yakin dia belum tidur
Tersmbung, dan dengan cepat diangkat
"Indaaaahhhhh" teriak kak Jen begitu panggilan tersambung
Hatiku langsung berbunga-bunga demi mendengar suaranya
__ADS_1
"Somsek ya sama kakak" sambungnya
Aku tertawa lirih dan bangkit dari tempat tidur, aku tidak ingin obrolan kami mengganggu tidur ketiga anakku
"Sehat kak?" tanyaku
"Yuhuuu,,, eyke gituloh. So pasti sehat dong. yeay yang apa kabar?"tanyanya
Aku menarik nafas dalam. Bingung harus cerita atau tidak sama kak Jen
"Ndah?"
"Ah, iya kak" jawabku tergagap
"Kebiasaan deh suka melamun, yeay sehat?"
"Sehat kak"
"Kok suara yeay kaya berat gitu? ah, nggak yakin eyke kalo yeay sehat"
Aku kembali menarik nafas dalam
"Aku bercerai kak dengan Andi" ucapku lirih
"What??? yeay serius??"
Terdengar sekali jika Kak Jen sangat kaget.
"Serius kak" jawabku
"Gimana bisa?, tapi bagus deh, eyke bersyukur yeay pisah sama tu laki brengsek yang pelit bin medit" cerocosnya
"Jodoh kami sudah habis kak, makanya kami pisah" jawabku
"Ceritain, eyke penasaran deh"
Lalu aku menceritakan dari awal kami ribut sampai aku ngontrak.
Kak Jen mendengarkan namun sesekali mengumpat
"Dan kemungkinan malam ini adalah terakhir aku bisa ngubungin kakak" ucapku
"Lah kenapa?"
"Hp inikan Andi yang belikan, jadi besok dia minta aku buat kembalikan lagi sama dia" jawabku
"Ya ampuunnnn" suara kak Jen terdengar geram
"Nggak papa kok kak, Insha Alloh kalo aku ada uang lagi, aku akan belo hp dan aku pasti hubungi kakak" janjiku
"Uang dari pak Michael kemarin masih adakan Ndah?" tanya kak Jen ragu
"Masih kak, sekitar lima juta lagi. Kemarinkan ada sepuluh. Aku kasih umakku sejuta, terus aku pakai buat belanja dan traktir teman-teman sejuta, tiga jutanya aku pakai buat beli perabot sama bayar kontrakan tiga bulan kedepan kak" jelasku
"Kakak kirimin kamu hp kakak yang tidak terpakai saja ya? jawabnya pelan
"Nggak usah kak. Aku tidak ingin merepotkan orang lain" tolakku
"Hp kakak itu banyak Ndah. Tiap ada seri baru kakak beli. Mayang sama yang lain tuh yang sering kakak kasih hp second kakak"
"Iya, tapi nggak usah kak" ucapku tegas
"Kamu ini memang keras kepala. Besok-besok kalau kakak kangen kamu gimana?" ucapnya sendu
"Doain aku kak ya" ucapku
"Pasti Ndah. Kakak pasti doain yang terbaik untuk kamu. Kamu yang kuat yah, kakak tahu kamu perempuan tangguh. Kakak yakin bisa melewati ini semua. Badai tidak selamanya Ndah. Kakak yakin, kamu akan bahagia"
"Aamiinn" jawabku sambil meneteskan airmata
"Sudah ya kak, anakku merengek" tutupku saat aku mendengar suara Adam merengek
"Iya Ndah, sehat selalu ya Ndah. Semangat. Salam sayang buat anak-anakmu"
Lalu aku segera beranjak masuk kamar, menepuk-nepuk tubuh Adam agar dia kembali ternyenyak.
__ADS_1
Setelah Adam tidur kembali, aku merebahkan tubuhku dan berusaha untuk tidur walau pikiranku memaksaku untuk berfikir keras bagaimana aku menapaki hari esok.
Tapi aku yakin, aku bisa melewati ini