Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pemakaman Kedua


__ADS_3

Disunahkan membaca surat Ar-Ra’d di sisi orang yang sedang sakaratul maut. Hal itu dapat meringankan beban si mayat, memudahkan proses kematiannya, serta memperbaiki keadaannya. Pada hayat Rasulullah, sebelum kematian seseorang itu tiba, dipanjatkan doa untuknya, ‘Ya Allah, ampunilah si fulan; tenangkan lah pembaringannya; luaskan lah kuburnya; berikan ketenangan setelah kematiannya; pertemukan lah dia dengan nabinya; naikkan lah ruhnya bersama ruh orang-orang saleh; satukanlah antara kami dan dia dalam satu tempat di dalamnya senantiasa ada kesehatan; serta hilangkan lah keletihan dan kepenatannya.’ Lantas, dibacakan shalawat kepada Rasulullah secara berulang-ulang sampai kematian menjemputnya.” (Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah al-Marwazi)


Lantunan Yasiin dari Naura dan Mikail yang tersambung melalui panggilan video dapat didengar lantang dengan dokter dan perawat yang berdiri tak jauh dari bu Mira.


Keduanya selesai berbarengan, dengan sama-sama menghapuskan telapak tangan ke wajah mereka masing-masing


Lalu lagi, keduanya melanjutkan surah Al-Ra'd, dan berdoa.


"Minta maaflah Ra, Il sama mbah" sambung mas Indra


Keduanya mengangguk, Naura terlebih dahulu mengucapkan kata maaf pada mbahnya atas kesalahan dan dosanya selama ini, lalu setelahnya Mikail.


Tapi deteksi jantung bu Mira masih tak stabil dan tubuhnya kian mengejang.


Seperti sadar jika yang banyak salah adalah bu Mira, mas Indra berkata agar Naura, Mikail dan Adam yang memaafkan segala kesalahan bu Mira


"Mbah, kami dengan ikhlas memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan mbah, apapun itu kami memaafkannya mbah, kami ikhlas..."


"Iya mbah, semua dosa mbah pada kami, kami maafkan..."


"Jika mbah mau pergi, pergilah dengan tenang mbah. Semua kesalahan mbah telah kami maafkan, tulus dari dasar hati kami"


"Asyhadu an laa ilaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" ucap ketiganya


Secara perlahan kejang-kejang ditubuh bu Mira berhenti, dan layar monitor yang menampilkan detak jantung bu Mira makin lama makin turun, dan akhirnya layar monitor tersebut berbunyi tiiiiiittttt panjang, yang akhirnya berganti dengan garis lurus


"Inalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un..." desis Adam


Pak Hermawan segera menoleh ke wajah istrinya yang terpejam, langsung menangis meraung


Mbak Ningsih menangis tertahan, begitupun dengan Dimas


Mikail menarik nafas dalam, sedangkan air mata Naura langsung menetes


Dokter segera mendekati bu Mira, memeriksa denyut jantungnya dan memeriksa matanya


Lalu dokter menatap mas Indra sambil menggeleng.


"Inalillahi..." gumam Mas Indra


Segera dua perawat melepas semua selang yang menempel di tubuh bu Mira, sedangkan dokter langsung melipat kedua tangan bu Mira di atas perut


Sementara pak Hermawan masih menangis tersedu, Adam tak berani mendekatinya, karena dia tak ingin mengganggu suasana hati mbahnya yang sedang berkabung


"Ada yang bisa ikut dengan saya?" tanya dokter


Mas Indra yang mengangguk, dia segera mengikuti dokter masuk ke ruangannya


Setelah mas Indra duduk, dokter langsung menelpon, dan tak lama masuklah seorang lelaki muda membawa beberapa berkas lalu memberikan pada dokter


"Begini pak, sebelumnya atas nama pribadi dan pihak rumah sakit, kami mengucapkan rasa bela sungkawa sedalam-dalamnya"


Mas Indra mengangguk


"Tapi maaf pak, sebelum kita mengurus kepulangan jenazah, kami dari pihak rumah sakit ingin memberikan rincian biaya yang harus dibayar keluarga selama bu Mira tiga bulan di rawat di sini"


Wajah mas Indra langsung berubah gelisah, terlebih ketika kertas tagihan disodorkan dokter padanya.


Mas Indra langsung menelan ludahnya dengan susah payah melihat nominal yang tertera


"Maaf dokter, bisa ini saya rembuk kan sebentar dengan keluarga saya?"


Dokter mengangguk.


Lalu mas Indra mengambil foto kertas tersebut dan langsung mengunggahnya ke grup keluarga


Dibawah gambar tersebut mas Indra menuliskan


Bagaimana ini, siapa yang akan membayar?, tidak mungkin kan jenazah ibu di tahan rumah sakit karena kita tidak bisa bayar?


Istri Dimas langsung memberikan handphone pada Dimas, dan wajah Dimas langsung kaget begitu membaca pesan grup, lalu memberikan handphone pada ibunya


Sama halnya dengan Dimas, mbak Ningsih juga kaget.


Karena tak ada balasan dari grup keluarga, mas Indra yakin jika keluarga yang lain juga shock

__ADS_1


"Maaf dokter, saya panggil keponakan saya dulu"


Kembali dokter mengangguk, lalu mas Indra keluar, menemui pak Hermawan yang terduduk lemas di sebelah jasad istrinya


Dengan bingung mas Indra menunjukkan gambar rincian biaya pada pak Hermawan


Mata pak Hermawan terbelalak begitu melihat foto yang ditunjukkan mas Indra


"Bagaimana ini pak?"


Pak Hermawan terdiam tak bisa menjawab sepatah katapun


"Apa itu pakde?" tanya Adam mendekat


Mas Indra menunjukkan gambar di dalam handphonenya pada Adam


"Terus?"


Mas Indra menggeleng, lalu Adam menoleh pada pak Hermawan yang makin kacau


"Bawa ini pakde, kemarin ayuk memberikan ini padaku"


Pak Hermawan langsung mendongakkan kepalanya kearah Adam yang memberikan kartu atm pada Mas Indra


"Apa ada isinya itu?"


Adam tersenyum kearah mbahnya


"Isi atm ini bisa membeli seluruh Palembang mbah, jadi mbah tenang saja"


Pak Hermawan langsung terdiam mendengar jawaban Adam


Bersama mas Indra, Adam kembali menemui dokter yang tak lama setelahnya langsung kebagian administrasi menyelesaikan segala biaya.


Setelah semua persiapan kepulangan jenazah selesai, Adam dan mas Indra beserta pak Hermawan masuk ambulance, saat itu tepat pukul enam pagi


Raungan suara sirine yang berbunyi kuat membuat semua kendaraan menyingkir dan memberikan jalan pada ambulance lewat


Sedangkan di Lubuklinggau, sejak mengetahui kematian ibunya malam tadi, mbak Ningsih memaksa untuk pulang ke rumah, karena dia ingin melihat ibunya untuk terakhir kalinya.


Bahkan Naura sampai menyewa jasa dua perawat untuk merawat Dimas dan mbak Ningsih.


Setelah urusan perawatan mbak Ningsih dan Dimas selesai Naura menelpon Nina


Mendapati kabar bahwa ibunya telah meninggal membuat tubuh Nina ambruk, pingsan


Kembali Hanum dan Karin menangis kebingungan. Raffa laki-laki dewasa di rumah itu mau tak mau berusaha tegar melihat Nina dan adik-adiknya kembali menangis meraung


Mendengar ramainya suara tangisan di rumah pak Hermawan pada tengah malam, membuat para tetangga berdatangan


Dan kembali mereka terkaget ketika mendengar kabar bahwa bu Mira telah meninggal dunia


Maka pagi ini, seperti lima hari yang lalu, kembali tenda kematian didirikan di halaman rumah. Berita kematian bu Mira begitu cepat menyebar, bahkan masjid belum menyiarkan, tetapi sebagian besar masyarakat telah mengetahuinya


Berbondong-bondong seluruh warga datang melayat, mereka mulai menyiapkan kuburan, air untuk mandi, bahkan para ibu-ibu merangkai bunga, sebagian lagi menyiapkan kain kafan


Jam Delapan pagi, mobil Adam yang dikendarai Naura masuk ke halaman rumah pak Hermawan.


Melihat jika yang datang adalah Ningsih yang masih memakai sling arm dan gips, membuat warga langsung membantunya turun, bahkan memapahnya.


Dimas turun dengan dibantu istrinya dan Naura. Sementara dua perawat menurunkan dua kursi roda. Mengetahui jika Ningsih sampai, Nina segera menghambur keluar


Dia langsung memeluk Ningsih dan menangis meraung. Keduanya menangis pilu. Bahkan Hanum yang melihat ibu dan kakaknya dalam kondisi parah juga tampak menangis sedih


Dipeluknya erat ibu dan kakaknya sambil berurai air mata. Sedih dan senang campur aduk ketika dia melihat ibunya pulang


Setelah melepas pelukan pada ibu dan kakaknya, Hanum memapah ibunya masuk.


Seluruh pelayat akhirnya secara tak sengaja membesuk Ningsih dan menanyakan kronologi kecelakaan


Walau sedih, tapi Ningsih menceritakan semuanya.


Jam 12.00 lebih, akhirnya ambulance yang membawa bu Mira memasuki kawasan lingkungannya. Raungan sirine membuat para pelayat yang masih memadati rumah duka segera menyingkir, Naura segera keluar sambil memegangi Nina yang tampak sangat terpukul


Segera jasad bu Mira diturunkan dimasukkan dalam rumah, seluruh anak cucunya yang lain langsung menangis meraung

__ADS_1


Setelah jasad bu Mira diletakkan, dengan cepat beberapa ibu langsung membuka ikatan pada tubuh bu Mira, dan langsung menggunting bajunya.


Nina, Hanum, Naura dan Karin telah bersiap untuk ikut memandikan. Setelah siap, pak Hermawan, mas Indra, Adam dan Raffa mengangkat tubuh bu Mira, dan para ibu-ibu mulai memandikan jenazah bu Mira


Selesai dimandikan, dengan segera jasad bu Mira dikafani dan dishalatkan. Dan kembali, shalat jenazah diimami oleh Adam.


Ketika hendak dibawa ke kuburan, yang mengusung jenazahnya Adam, Raffa, mas Indra dan warga yang lain. Dan lagi-lagi sama seperti Laras kemarin, yang mengadzani pun Adam


Naura tersenyum bangga melihat Adam, kebesaran hati dan juga ketegarannya.


Kejadian ini makin membuat Naura bangga pada adik bungsunya tersebut. Mulai dari mendonorkan darahnya untuk seorang ayah yang meragukan identitasnya, hingga mengurusi sampai selesai dua jenazah perempuan yang sangat membenci dan tak menganggapnya


Selesai adzan, mulailah liang lahat ditimbun tanah, hingga akhirnya gundukan tanah mereka yang tersisa


Nina dibantu dengan keponakannya menaburkan bunga di atas kuburan bu Mira, setelah selesai, kembali Adam berdoa.


Selesai semuanya, seluruh pelayat dan keluarga pulang. Nina dan pak Hermawan menangis terisak saat akan meninggalkan kuburan.


Naura segera merengkuh bahu tantenya dan mengelus-elusnya.


"Sabar..." hanya itu yg diucapkan Naura


Malam harinya kembali tahlilan digelar, dan lagi-lagi Adam yang memimpin.


...****************...


Sudah beberapa hari sejak anakku mengabarkan jika ayah mereka kecelakaan sampai hari ini mereka belum menghubungiku


Jam lima sore atau jam sembilan malam di Indonesia, saat aku melihat kedua anak kembarku bermain tenis di lapangan belakang mansion, iseng aku menelpon Naura


Naura yang sedang membantu Hanum dan Karin membagikan makanan ringan pada para petakziah, segera mengambil handphonenya yang berdering, yang diletakkannya di atas kulkas, di dapur


"Assalamualaikum bunda" buka Naura


Aku menjawab salam Naura, dan aku mendengar jika suasana ramai


"Dimana nak?"


"Rumah mbah bun, mbah wedok dini hari tadi meninggal"


"Inalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un..." ucapku sambil berdiri dari kursi


Naura lalu bercerita bagaimana dia dan Mikail membaca surah Yasiin untuk mbahnya melalui video call, sedangkan Adam membaca langsung di atas kepala mbah, ujarnya


Aku memegang dadaku ketika mendengar jika mbahnya akhirnya meninggal setelah mereka bertiga mengatakan jika mereka memaafkan semua kesalahannya


Aku tersenyum samar membayangkan jika akhirnya bu Mira bisa tenang setelah mendapatkan maaf dari ketiga anakku


Bagaimana dengannya yang sampai detik ini tidak mendapatkan maaf dariku? Bagaimana kabarnya di alam kubur? Wallahu a'lam


"Bunda..." lirih Naura setelah mendengar bundanya tak bersuara


"Ya nak?" jawabku tergagap dan lamunanku langsung buyar


"Maafkan mbah ya bun...."


Aku diam mendengar permintaan Naura, aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku.


Memaafkannya???!


Kembali aku menggeleng kuat


"Untuk sekarang bunda masih belum bisa memaafkannya Nak, belum bisa" tutup ku langsung mematikan panggilan


Naura menatap bengong handphonenya yang sudah gelap


"Siapa Ra?"


Naura langsung menoleh pada buk Ning yang dipapah perawat


"Bunda..."


Wajah mbak Ningsih langsung berubah kaget dan mendung


"Bundamu pasti tidak mau memaafkan mbah wedok" lirihnya sendu

__ADS_1


Naura tak menjawab, dia hanya menarik nafas panjang


__ADS_2