Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Pergilah Kalian Semua


__ADS_3

"Indah...!"


Langkah pak Hermawan yang berniat mengajar Indah segera dihalangi pak Abraham


"Anda punya telinga kan?, jadi sekarang juga anda turun dan ambil pakaian anda, dan pergi dari rumah ini!"


Pak Hermawan hanya bisa menelan ludah dengan wajah tegang dan nyalinya langsung menciut begitu tangannya dicekal pak Abraham


"Mari mbah...." ajak Adam


Pak Abraham segera melepaskan cengkeramannya pada tangan pak Hermawan dan membiarkan Adam membawanya turun


Sedangkan pak Abraham tampak menoleh kearah atas memastikan jika Indah baik-baik saja di atas


Aku yang sampai di atas, segera berdiri di pinggir balkon dan menarik nafas dalam-dalam


"Mama....." aku segera menoleh kebelakang dimana ku dapati Serkan dan Defne berlari ke arahku


Keduanya langsung berhamburan ke pelukanku.


"Calm down Mama..., calm down..." lirih Serkan yang ku elus kepalanya


Aku hanya menganggukkan kepalaku, aku menatap ke depan ketika kudengar langkah kaki


Naura.


Sambil berlinang air mata dia berjalan pelan ke arahku. Serkan dan Defne yang ikut menoleh segera melepaskan pelukan mereka padaku dan memberikan ruang untuk Naura memelukku


Naura diam tak bersuara, hanya isak tangisnya yang terdengar oleh telingaku


Berkali-kali aku mengelus punggungnya yang tubuhnya setengah membungkuk ketika memelukku saking tingginya postur tubuhnya


"Sudah, tenanglah..." lirihku


Naura masih terisak dan seperti tak mau melepaskan pelukannya padaku


"Bunda sudah merasa agak lega sekarang, setidaknya amarah yang puluhan tahun bunda pendam hari ini bisa bunda tumpahkan"


Naura melepas pelukannya dan mengusap kasar wajahnya, aku menampilkan senyum segaris padanya


"Ayuk dengar semuanya" lirihnya


Aku mengangguk


"Baguslah jika ayuk dengar, jadi ayuk tahu apa yang selama ini bunda rasakan"


Kembali Naura terisak ketika aku mengatakan kalimat tersebut


"Sudah jangan nangis lagi, bunda tidak mau bunda pulang hari ini meninggalkan kamu dalam keadaan sedih"


"Seperti yang sudah bunda katakan, sekarang hati bunda sedikit plong, dendam dan amarah sudah bunda luapkan semua"


"Jaga adik-adikmu dulu, bunda mau turun"


"Where are you want to go Ma?"


Aku mengusap kepala Defne


"Mama kebawah sebentar nak ya, waiting here with ukhti"


Keduanya mengangguk lemah dan berpegangan pada tangan Naura


Aku lalu berjalan meninggalkan balkon dan turun kebawah


Sampai di dekat tangga di lantai dua aku melihat pak Tomo dan pak Abraham masih berdiri di tempat mereka


"Ayo mbak..." ucap pak Abraham yang ku jawab dengan anggukan kepala


Sampai di bawah kulihat pak Hermawan sedang memeluk erat bapakku sambil menangis


Aku membuang muka melihatnya menangis. Saat dia mengulurkan tangan hendak menyalami kak Andri, kak Andri hanya menjabat sebentar tangannya lalu berjalan ke arahku


"Kamu baik-baik saja sat?"


Aku mengangguk


Ku lihat pak Hermawan juga tampak menjabat tangan suamiku, kulihat wajah abang sangat datar, seperti abang sedang berhadapan dengan anak buahnya


"Jangan pernah mengusik kehidupan istriku lagi" ucap abang penuh penekanan


Pak Hermawan hanya mengangguk pelan

__ADS_1


Dari arah luar tiba-tiba terdengar suara gaduh berlari. Kulihat Maria berlari kearah dalam rumah dan begitu masuk kedalam rumah langsung menubruk kakiku.


Aku bergeming, sedikitpun aku tak bereaksi saat Maria menangis meraung-raung sambil memeluk kakiku


"Aku mohon ampun mbak..., ampuni aku...." isaknya


Sedikitpun aku tak bereaksi. Bahkan hanya sekedar untuk menunduk melihatnya


Joni sampai pula di dalam rumah, dan dia kembali terisak melihat istrinya yang menangis histeris sambil memeluk kakiku


"Bawa istrimu pergi Jon, aku tidak mau lagi melihatnya" ucapku dingin


Joni berjongkok dan menarik paksa tangan istrinya yang masih memeluk erat kakiku


Aku menarik nafas panjang dan menatap ke langit-langit rumah karena Maria masih terus bersikukuh memeluk kakiku


"Lepaskan tanganmu dari kakiku Maria!"


Maria masih tak menurut, dia masih saja memeluk kakiku


"Pak Abraham, paksa dia!"


Joni langsung menghalangi tangan pak Abraham yang siap menarik paksa Maria


"Jangan anda berani menyentuh istri saya"


Mata pak Abraham langsung berkilat marah menatap kearah Joni


"Lepaskan dia Maria. Kau jangan merendahkan harga dirimu dengan bersujud di kakinya. Jika mbak Indah memang tidak mau memaafkan mu terserah dia, itu urusannya, tapi kau jangan mau bersimpuh di kakinya!" teriak Joni


Aku refleks menoleh kearah Joni dan memasang wajah marah


"Aku tidak meminta istrimu untuk bersujud di kakiku, dan asal kau tahu, aku juga merasa jijik kakiku disentuh istrimu!" geram ku


Joni kembali menarik kasar Maria dan menatap marah ke arahku, melihat itu pak Abraham tak tinggal diam


Dicengkeramnya kuat tengkuk Joni dan diangkatnya keatas, tubuh Joni yang sudah terangkat keatas lalu dihempaskan nya kelantai


"Sekali lagi kau berbicara seperti itu tentang Indah, ku potong lidahmu!" geramnya sambil menendang kepala Joni hingga Joni tersungkur di lantai


Ozkan masih diam membiarkan semua itu terjadi di depan matanya, sedikitpun dia bergeming


Melihat anaknya dibanting pak Abraham, pak Hermawan mendekat dan membantu Joni duduk. Sedangkan Maria masih tak mau melepaskan kakiku


"Percuma kau meminta maaf sama Indah, karena dia tidak akan memaafkan kita" sambung pak Hermawan lagi


Ozkan menggerakkan kepalanya sebentar sambil mengusap-usap dagunya


"Abraham!!!" geramnya


Pak Abraham langsung memasang posisi siaga


"Tomo!!"


Pak Tomo pun langsung memasang posisi siaga


"Buat posisi berdiri dua lelaki itu!!!"


Dengan sigap pak Abraham dan Pak Tomo mengangkat kasar tubuh pak Hermawan dan Joni


Setelah kedua orang itu dipaksa berdiri, Ozkan bangkit dari kursinya dan berjalan kearah pak Hermawan dan Joni


Ditatapnya dengan dingin wajah dua orang yang saat ini berdiri di hadapannya


Degup jantung Dimas dan mas Indra sudah karuan kencangnya. Nina dan mbak Ningsih saling berpegangan tangan dengan ketakutan


"Saya tanya sama kamu Joni, kamu marah melihat istrimu bersimpuh di kaki istriku, iya?"


Joni tidak menjawab, dia hanya menelan ludahnya saja dan melihat takut-takut kearah Ozkan


"Kamu marah karena istriku tidak mau memaafkan istrimu, iya???!" teriaknya


Joni memundurkan kepalanya sambil memejamkan matanya.


"Dan anda pak Hermawan, anda juga tersinggung karena istriku mengusir anda dan mengatakan semua kebenaran tentang anda dan seluruh keluarga anda, iya???!"


Sama seperti Joni, pak Hermawan hanya bisa terdiam


"Bangun kamu Maria!!" bentak Ozkan


Maria kaget dan dengan cepat dia bangun dan memepetkan tubuhnya ke sebelah suaminya, tubuhnya bergetar ketakutan

__ADS_1


"Jawab saya Joni, apa perasaanmu ketika melihat istrimu menangis meraung-raung di kaki istriku?!"


"Kamu sakit hati, kamu merasa istrimu tidak punya harga diri lagi, iya?, kamu marah???!"


"Itulah yang saya rasakan Joni. Saya sangat marah melihat istrimu, orang tuamu dan dua saudaramu menyakiti istriku!!!"


"Kalian tidak ada yang tahu bagaimana istriku menjadi trauma dan depresi dengan perlakuan kalian padanya, kalian tidak ada yang tahu bagaimana perjuangan istriku lepas dari rasa trauma dan depresi yang kalian buat!!!"


Aku menatap tak percaya pada abang. Bagaimana abang bisa tahu jika aku pernah depresi? batinku


"Bertahun-tahun istri saya berjuang melawan depresinya, bertahun-tahun pula aku meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja"


"Dan sekarang ketika istri saya mengungkapkan semua kemarahannya kalian tidak terima!!!!"


"Dan anda pak Hermawan, demi Alloh anda adalah orang yang ingin sekali saya bunuh!" geram abang menatap tajam kearah pak Hermawan yang hanya menundukkan kepalanya dengan takut


"Karena hanya anda dan Maria orang yang membuat sengsara istriku yang masih hidup!"


"Itulah makanya saya membiarkan istri saya meluapkan amarahnya pada kalian agar jiwa dan mental istriku tenang tidak terguncang lagi karena memendam benci dan marah pada kalian"


"Dan kau Maria, jika bukan karena dirimu perempuan, sudah ku tampar dan ku patahkan tanganmu karena telah menghina istriku!"


Maria makin mengkerut ketakutan


"Saya hargai kau membela istrimu Joni. Tapi bukankah kau sudah tahu jelas semua yang terjadi. Jadi wajar jika istriku tidak mau memaafkan istrimu, karena perbuatan rendah istrimu memang tak pantas untuk dimaafkan"


"Cepat kalian semua pergi dari sini, sebelum aku menembak kepala kalian semua!!" bentak Ozkan


Dengan cepat pak Hermawan dan Joni berlari keluar dari dalam rumah sedangkan Maria masih memandang ke arahku sambil kembali berurai air mata


"Kau pergilah Maria. Jangan pernah perlihatkan lagi wajahmu di depan rumah ini, dan jangan pernah kau berharap aku akan memaafkan mu"


"Aku membiarkanmu pergi bukan berarti aku memaafkan mu, aku hanya ingin berdamai dengan diriku sendiri, aku hanya ingin belajar melepaskan kejahatanmu dulu padaku agar aku juga bisa belajar memaafkan, merelakan dan mengikhlaskan terus mengikhlaskan sampai hatiku benar-benar pulih dan tenang..."


Air mata Maria kian mengalir deras


"Mbak..." lirihnya


Aku menggeleng


"Keluarlah Maria, pergilah. Aku bukan memutuskan silaturahim diantara kita, tapi aku berusaha menjaga kesehatan mentalku yang bisa saja kembali kau hancurkan"


Maria membalikkan badannya dan segera berlari keluar rumah sambil berurai air mata


Sampai di mobil dia terus menangis histeris, Joni dan pak Hermawan hanya bisa menunduk dalam


Sementara di dalam rumah, mbak Ningsih yang berpamitan pulang hanya bisa memelukku erat sambil menangis sesenggukan


"Maafkan kekasaran saya sama pak Hermawan mbak, tapi ini harus saya lakukan, biar jiwa dan mental saya tenang"


"Mbak ngerti Te, mbak minta maaf sebesar-besarnya atas nama bapak, ibuk, Laras dan juga Andi"


Aku tersenyum dan menghapus air matanya


"Sering-sering lihatin Naura dan Nina ya mbak, karena mbak yang dekat, kalau saya kan jauh" jawabku mencoba mengajaknya tersenyum


Mbak Ningsih tersenyum lalu berpindah menyalami suamiku


"Maafkan keluarga besar kami tuan..."


Ozkan tersenyum hangat sambil menepuk-nepuk punggung tangan mbak Ningsih


Ketika Dimas menyalamiku, aku memeluknya erat dan meneteskan air mata


"Maafkan tante ya kak" lirihku


Dimas mengangguk dan menyeka air mata yang mengalir di pipinya


"Sering-sering lihatin adek Ula ya kak, nanti kalo istri kakak mau melahirkan biar di klinik adek Ula saja"


Dimas kembali mengangguk dan berpamitan padaku


Dan aku mencium punggung tangan mas Indra yang tersenyum kaku padaku


"Terus anggap Naura dan adik-adiknya seperti anak sendiri ya mas..."


"Iya Ndah pasti, mas minta maaf jika banyak salah sama kamu"


Aku mengangguk dan menyeka air mata yang mengalir di pipiku


Setelah berpamitan pada semuanya, mereka masuk kedalam mobil yang dikemudikan Dimas

__ADS_1


Dapat aku lihat jika Maria masih menyembulkan kepalanya keluar jendela ketika mobil sudah berjalan


"Mbak... maafkan aku....." gumamnya


__ADS_2