
Malam besok akan diadakan persiapan untuk tujuh harinya Andi. Aku sudah memberitahu mbak Ningsih untuk membawa Maria dan Joni ke rumah anak-anakku
Memang sudah beberapa hari ini mbak Ningsih dan keluarganya pulang. Dimas tidak bisa libur terus, karena anaknya pulang, pak Hermawan ikut pulang juga
Tapi pada beliau aku memberitahu juga untuk datang, karena untuk acara doa selanjutnya rencananya aku serahkan pada mereka. Karena selepas tujuh hari aku akan pulang ke Jeddah
Mikail telah memberitahu jika dia tidak bisa pulang lagi, alasannya kasihan dengan pilot karena harus bolak balik nganter dia pulang
Jadi semua urusan doa dan sebagainya kembali diamanatkan nya pada Adam
Dan lagi-lagi kembali pada Adam, anak bungsu besar ku yang padanya lah aku banyak belajar legowo
Hari ini masih pagi sekali tapi mbak Dian sudah datang ke rumah. Aku sengaja menyuruhnya datang pagi karena khusus untuk acara tujuh hari aku tidak lagi memakai jasa katering, tapi meminta bantuan pada para tetangga untuk membantu memasak untuk malam nanti
Rencananya malam nanti aku ingin makannya prasmanan, dan akan ada kue juga untuk mereka bawa pulang
Maka jadilah mbak Dian subuh-subuh sudah datang ke rumah. Aku telah meminta antar dengan Adam untuk mengantarkan kami ke pasar
Sampai di pasar, aku segera berdiri mengedarkan pandanganku, ya Rabb telah lama sekali aku tidak menginjakkan kakiku di sini, gumamku
Selesai membeli segala keperluan kami pulang, dan ketika kami sampai rumah, ternyata para tetangga sebagian telah di rumah dan dengan sigapnya mereka menurunkan belanjaan kami
Naura dan Nina tetap aku suruh ke klinik, karena tugas mereka lebih utama dibanding ikut membantu di rumah, karena di rumah telah banyak tetangga yang rewang
Suamiku ikut membantu para tetangga yang laki-laki. Walau aku lihat betapa kakunya dia
"Maafkan suami saya ya bapak-bapak semua, mohon dimaklumi" ucapku
Seluruh yang rewang tersenyum dan sebenarnya mereka sudah bersikeras melarang suamiku membantu mereka
"Aku harus ngapain jika tidak membantu?, masa aku cuma duduk-duduk saja?" protes abang ketika aku memintanya untuk melihat-melihat saja, tanpa harus terjun langsung
Jadilah abang membantu seadanya, paling hanya mengangkat kursi atau juga mempersilahkan mereka makan
Aku yang melihatnya hanya tersenyum saja.
"Naik saja ke atas, cek email" bisikku
Suamiku menggeleng, aku angkat bahu. Tapi ketika anak kembarnya yang memintanya naik, mau tak mau abang menurut, apalagi jika yang berkehendak adalah Defne, abang bisa apa?
Menjelang agak siang, rombongan mbak Ningsih sampai, aku lihat ada Maria, dan kembali Maria seperti memandang takut ke arahku
"Tunggu besok kamu, ya" batinku melihat sekilas kearahnya
Dimas, Joni, dan Mas Indra langsung terjun membantu sedangkan pak Hermawan mengobrol dengan bapakku. Hal yang dulu tidak pernah mereka lakukan, bahkan ketika aku masih menjadi menantu pak Hermawan, beliau hanya sekali mengobrol agak lama dengan bapakku, ketika akikahan Naura
Sedangkan mbak Ningsih dan Maria membantu para tetanggaku masak di belakang.
Maria terus mencuri-curi pandang padaku dan aku pura-pura tak melihatnya
Menjelang malam, semua meja prasmanan yang berjumlah tiga meja besar telah siap
Dan sama seperti malam sebelumnya kiyai yang kami tunggu telah datang tak lupa pula rombongan anak panti dan kepala yayasan juga telah hadir
Naura turun bersama Defne, aku lihat di pergelangan tangannya ada gelang yang melingkar, gelang yang belum pernah aku lihat
"Apa ini dari Emir?" batinku
__ADS_1
Tapi aku hanya diam saja, tidak bertanya padanya dari mana dia mendapatkan gelang tersebut, bisa jadi kan dia beli sendiri
Setelah semua kursi penuh, acara pun dimulai. Sama seperti sebelumnya acara di pimpin oleh pak RT, yang membedakan kali ini adalah ada sambutan dari pihak keluarga, yang dalam hal ini diwakilkan oleh kak Andri
Betapa sulitnya meminta kesediaannya. Bukan karena dia nervous, karena hal itu tidak mungkin, tapi lebih kepada rasa kesal dan dendamnya pada Andi yang belum juga hilang sampai detik ini
Setelah Adam sendiri yang meminta, mau tak mau, Kak Andri menurut. Dan tausiyah kembali disampaikan oleh Kiyai, dan tentu saja acara Yasiin dan tahlil dipimpin langsung oleh Adam
Entah mengapa, tiap melihat Adam yang memimpin tahlil hatiku selalu bersedih, bangga tentu saja sudah pasti, tapi sedih itu tetap ada. Rasanya ini tak adil buatnya, tapi aku yakin ini semua ada campur tangan Alloh SWT.
Nyaris dua jam lebih acara baru selesai, dan kembali setelah semuanya telah selesai, anak panti dengan sigap membersihkan dan membereskan tenda
Sedangkan karyawan Salam Group yang hadir tampak masih mengobrol pada abang. Sekalian abang berpamitan karena In Syaa Alloh besok kami akan kembali ke Jeddah
Banyak wejangan dan semangat yang abang berikan pada mereka, terutama tentang kejujuran
Dan ketika mereka hendak pulang, dengan takut Rian meminta izin pada abang untuk berbicara padaku
"Maaf tuan Ozkan, jika tuan membolehkan, saya ingin berbicara sama mbak Indah"
Abang menatap sejenak pada Rian yang langsung menunduk takut. Tapi abang tersenyum yang membuat lega seluruh karyawan yang ikut tegang
Ozkan mengeluarkan handphone dan menempelkannya di telinganya
Aku yang sedang mengobrol dengan istri kepala yayasan meminta izin ketika kulihat abang yang menelepon
"Sayang, kesini sebentar, ini mas Rian katanya mau ngomong"
Aku segera berjalan keluar dan langsung memutus panggilan abang
Salah satu karyawan mengambilkan kursi untukku dan aku duduk di sebelah abang
Kulihat wajah Rian masih tegang. Aku memasang senyum manis padanya agar dia agak tenang
"Apa perlu kami semua pergi?" tanya abang
Rian langsung menggeleng cepat dengan wajah yang masih tegang
"Sebenarnya aku mau memberikan sesuatu sama mbak"
Aku menoleh pada abang, dan abang masih menatap tenang Rian
"Ngasih apa?" tanyaku masih dengan memasang senyum
"Maaf, sebentar mbak, tuan" Rian langsung berdiri dan tampak berjalan cepat keluar dari pagar
Kami semua hanya melihat punggungnya yang kian berjalan menjauh
Tampak mas Afdal dan yang lain tegang dan tersenyum kaku pada kami
Tak lama Rian muncul dengan membawa bungkusan
"Maaf mbak sebelumnya" ucapnya memberikan bungkusan padaku dengan tangan agak gemetar
Aku mengambilnya dengan cepat dan menatap mas Rian yang tampak sekali canggung
"Boleh mbak buka sekarang?"
__ADS_1
Rian mengangguk ragu dan terlihat gelisah ketika aku membuka bungkusan yang tadi diberikannya padaku
Mataku langsung terbelalak dan menatap kearah Rian dengan haru
"Seriusan ini untuk mbak?"
Rian mengangguk pelan
"Bismillah..." lirihku yang langsung menggigit daging panggang yang diberikan Rian
Ozkan menatap kearah istrinya yang tampak memejamkan sebentar matanya ketika mengunyah daging yang tadi digigitnya
"Terima kasih banyak mas" suaraku agak bergetar saat mengucapkan itu
Rian tersenyum kaku dan karyawan yang lain dan abang terus memandang heran kearah kami berdua
"Itu apa sih sayang?"
Aku menoleh kearah abang, lalu menatap kearah Rian
"Aku dulu pernah ngidam pengen makan daging ini, dan mas Rian ini sampe rela kehutan untuk berburu mencarikan daging ini untukku"
Ozkan mengerutkan keningnya, heran
"Ini tuh daging tupai abang..." ucapku terkekeh.
Abang kembali mengerutkan keningnya
"Sebagian ulama membolehkan memakan tupai papa, jadi papa jangan khawatir" jawab Adam yang membuat lega hati Ozkan
"Terima kasih mas Rian, sekali lagi mas membuat saya teringat dengan masa lalu" ucapku melow
Ozkan segera menggenggam jari istrinya, dan memasang senyum manis
"Oh, iya besok In Syaa Alloh mbak dan keluarga pulang ke Jeddah, mbak mohon kesediannya para mas-mas semua untuk melihat dan menjaga anak-anak kami, jika ada keluarga yang sakit, silahkan bawa ke kliniknya Naura, jangan sungkan untuk menyebutkan dari mana asal kalian, karena mbak yakin Naura akan senang jika tahu oom-oomnya adalah teman mendiang ayahnya"
Mereka semua mengangguk, dan bersalaman denganku dan abang
Setelah kami mengantarkan mereka semua sampai pagar, aku kembali lagi ke kursi dimana tadi daging tupai panggang aku tinggalkan
"Nyicip" goda abang sambil menjulurkan tangannya
Dengan tertawa aku menjahili abang dengan menjauhkan wadah dari jangkauannya
Kami berdua cekikikan dan Naura yang melihat kebahagiaan bunda dan papanya ikut tersenyum
...****************...
Abang membawaku masuk sambil merengkuh bahuku, dan seluruh keluarga masih tampak berkumpul
Melihat kami masuk, mereka semua diam.
"Minta waktunya sebentar" ucap abang yang langsung duduk
Keluarga besar ku dan keluarga besar pak Hermawan langsung fokus menatap abang
"Besok In Syaa Alloh kami pulang ke Jeddah, dan waktu saya lihat kemarin di hari kita akan memakamkan Andi, mobil yang dibawa Adek itu rupanya minjam punya tetangga"
__ADS_1
"Dan disini saya berinisiatif untuk mewakafkan mobil pick up yang In Syaa Alloh akan saya wakafkan atas nama Andi, semoga bisa menjadi amal jariyah untuknya"
Aku terkejut dan langsung menoleh pada abang