Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Bertemu Rian


__ADS_3

"Iya satu saja mas, makasih" ucapku sambil meraih masker yang diberikan petugas apotek lalu membayarnya dan pergi meninggalkan apotek menuju parkiran motor.


Sebelum naik ke motor, aku memakai masker yang tadi aku beli lalu setelahnya aku menyalakan motor dan berjalan menuju tujuanku siang ini.


Cuaca panas pukul satu siang tidak menyurutkan niatku. Aku terus melajukan motor menuju tempat yang sudah menjadi incaranku.


Jalanan lumayan ramai siang ini, aku agak kebingungan mencari arah jalan tujuanku. Karena aku tidak begitu mengenal nama jalan dan lorong-lorong di kota ini.


Aku melajukan motor dengan pelan sambil membaca tiap papan nama jalan di tiap lorong, akhirnya aku menemukan jalan yang ku cari, aku segera membelokkan motorku dan tak lama aku sudah sampai di sebuah bangunan ruko berlantai tiga. Ruko besar, tiga pintu dan tiga lantai dengan halaman parkir yang juga sama luasnya.


Aku tidak berhenti di sana, melainkan aku terus melajukan motorku ke arah sebuah warung makan yang tak jauh dari ruko tersebut. Ku lihat banyak para karyawan yang dari bajunya bisa aku ketahui kalau mereka dari perusahaan yang sama dengan suamiku.


Aku segera memarkirkan motorku di sebelah warung makan tersebut dan masuk, lalu mencari tempat duduk yang masih kosong.


"Gimana bos kita?" kata seorang lelaki yang usianya kira-kira di atasku.


Yang lain langsung terbahak.


"Gileee, thr untuk gendok an nya banyak banget njir" sahut yang lain


"Sudah maaf-maafan belum?, kamu loh sering banget ghibahin beliau" timpal yang lain


Kembali mereka tertawa.


"Aku bukan apa-apa bro, kesian anak bininya. Dia loh tiap hari dibawakan bekal oleh istrinya, ehh malah yang kenyang si Rian" tunjuknya pada seseorang yang berbadan kecil.


Kembali mereka terbahak.


"Coba bos ngasihnya ke aku, tidak repot-repot aku harus beli nasi terus" jawab seorang lelaki yang juga usianya jauh di atasku.


"Sekarang kemana bos?"


"Biasa, ketempat gendok an nya"


Kembali mereka terbahak.


Fokusku dari menguping pembicaraan mereka terputus saat pesanan ku sampai. Setelah mengucapkan terima kasih, aku mulai menyendokkan makanan ke mulutku.


"Pintar juga si bos, milih yang seksi cuy, bodinya huhhhh" kata yang lain sambil meliukkan tangannya membentuk bodi wanita.


"Ngupat terus, nanti bosnya keselek" kata mbak penjual warteg.


"Keselek dia, keselek yang lain mbak" sahutnya sambil diikuti tawa dari yang lain.


"Laki kok kaya dikit betingkah, amit-amit" tambah mbak penjual sambil menggedikkan bahunya.


"Hukum alam mbak" jawab lelaki separuh baya sambil mengisap rokoknya dalam.


"Amit amit punya laki model gitu, ya Alloh jauhkanlah anak cucuku dari laki model pak Andi itu" mbak penjual berdoa.


Telingaku jelas sekali mendengar dia menyebutkan nama Andi. Tak salah lagi dugaanku. Jadi bos yang mereka sebut tadi benar adalah suamiku.

__ADS_1


Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan warung makan tersebut, tinggallah satu orang yang kalau tidak salah ku dengar tadi namanya Rian.


Perlahan aku berdiri dari kursiku dan berjalan menuju meja tempat Rian duduk.


"Assalamualaikum" ucapku ketika telah sampai di sebelahnya.


Dengan kaget Rian langsung menoleh kearahku.


"Waalaikumsalam, iya mbak?" tanyanya bingung


"Boleh duduk?" tanyaku


"Oh, iya iya, maaf" jawabnya gugup


Aku segera menarik kursi dan duduk di hadapannya.


"Saya Indah, saya dari Merasi"


Raut wajah Rian langsung berubah kaget. Aku memasang senyum ramah agar dia tidak canggung.


"Buk Indah istrinya pak Andi?" tebaknya


Aku mengangguk. Rian mulai duduk dengan gelisah.


"Panggil saja saya Indah, toh saya bukan atasan mas, jadi mas nggak usah terlalu formal, santai saja mas, jangan gugup gitu" ucapku sambil tertawa terpaksa.


"Aku nggak tahu apa-apa mbak, sumpah" jawabnya


Aku menghela nafas berat. Sakit rasanya mengetahui jika perselingkuhan suamiku sudah menjadi rahasia umum di kantornya.


"Mas Rian yang dulu nyarikan tupai waktu saya ngidam kepengin daging tupai itu kan?" ucapku mengalihkan perhatiannya


Dia mengangguk.


"Makasih loh mas, karena mas anak saya nggak ngences" sambungku untuk mencairkan suasana.


"Dan makasih juga karena mas mau makan bekal yang aku bawakan buat suami aku, untung ada mas, kalau nggak kan mubazir"


Dia kembali tersenyum canggung.


"Mas, mas bisakan bantu aku?" ucapku akhirnya


Dia diam, cukup lama. Aku terus memperhatikannya, berharap jika dia bisa membantuku.


"Saya harus masuk kantor mbak, jam istirahat sudah habis. Nanti pak Andi marah sama saya"


"Pak Andi tidak ada di kantorkan?"


Dia menghembus nafas berat dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini demi anak-anak ku mas" ucapku lirih hampir putus asa karena dia hanya diam.

__ADS_1


"Tapi sumpah mbak aku nggak tahu apa-apa"


"Sedikit saja informasi dari mas Rian itu sangat membantu saya"


Kembali dia diam.


"Apa yang ingin mbak tahu" akhirnya Rian menyerah


"Banyak" jawabku


"Aku nggak banyak tahu mbak, kan tadi sudah aku bilang" jawabnya


Aku menghempaskan nafasku dengan kasar, layaknya orang yang frustasi.


Sekarang giliranku yang diam, aku memutar bola mataku melihat sekeliling. Bola mataku rasanya mau keluar tatkala aku melihat mobil suamiku lewat. Dia dengan seorang perempuan.


Ya Rabb...


Sepertinya Rian menyadari kekagetanku. Dengan susah payah aku menelan ludah, dadaku tiba-tiba nyeri.


"Apa tiap hari pak Andi kaya gini?"


Rian menggeleng.


"Mas Rian kenal perempuan itu?"


Kembali dia menggeleng.


"Please mas, bantu aku. Aku harus minta bantu siapa lagi. Cuma mas yang aku kenal sekantor suamiku saat ini. Yang lainnya aku tidak kenal. Dan mas kan tiap hari selalu masuk ruangan suami ku. Sedikit banyak mas pasti tahu" Nada suaraku melemah, berharap bahwa Rian akan luluh.


"Maaf mbak aku harus kembali kekantor. Pak Andi sudah datang, dia bisa marah jika anak buahnya terlambat" ucap Rian sambil berdiri dari kursi.


"Tunggu mas" cegah ku


"Maaf mbak" jawabnya sambil mengarah ke mbak penjual dan membayar tagihan makannya.


"Mas, ini nomor hp saya, mas bisa simpan dan mas bisa hubungi saya jika mas berubah pikiran" kejarku sambil menyerahkan secarik kertas padanya yang sudah berjalan keluar warteg.


Rian mengambil kertas dari tanganku, melihatnya sekilas lalu memasukkan kedalam saku celananya.


"Permisi mbak" ucapnya sambil menganggukkan kepalanya kearahku.


"Iya" jawabku singkat.


Rian lalu berjalan cepat menuju kantor tempatnya bekerja tanpa menoleh lagi kebelakang.


Sepeninggal Rian aku kembali masuk ke warteg dan duduk di tempatku semula. Menyeruput es yang masih tersisa, dan mendesah perlahan membuang rasa sesak yang masih ada di dada.


"Andi benar-benar keterlaluan" batinku


Kembali terlintas bagaimana tadi aku melihat perempuan itu mengelus pipinya Andi.

__ADS_1


Aku mengelus dadaku yang tiba-tiba nyeri.


Aku kembali menyeruput es, tetapi mataku kosong, sementara pikiranku menerawang kemana-mana


__ADS_2