Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Seribu Alasan


__ADS_3

Adzan Shubuh membangunkanku. Aku segera membuang tangan suamiku yang melingkar di pinggangku. Aku segera duduk dan mengumpulkan nyawa terlebih dahulu.


"Bismillahirrahman nirrohiim, Alhamdulillaahil ladzi, ahyaanaa, ba'da maa, amaatanaa wa ilaihinnusyuur" doaku dalam hati. Lalu aku turun dari tempat tidur dan menuju kamar dimana anak-anakku tertidur.


Kulihat mereka bertiga masih nyenyak, sebelum keluar, aku membetulkan selimut mereka.


Menuju dapur untuk mengisi rice cooker setelahnya lalu memutar pakaian.


Kuambil bungkusan su**a yang semalam aku letakkan dalam mesin cuci lalu meletakkannya dalam lemari pakaian suamiku. Setelah memilah pakaian antara pakaian besar dan kecil, aku lalu memutar mesin cuci.


Aku kembali ke dapur, memulai rutinitasku seperti biasa. Memasak untuk sarapan suami dan anak-anakku.


Aku menghela nafas dalam, karena tidak ada tanda-tanda suamiku akan terbangun untuk shalat Shubuh.


Aku berjalan kekamar depan berniat untuk membangunkannya. Sekarang suamiku jarang sekali shalat. Di rumah saja dia jarang shalat, apalagi diluar? bisa dipastikan lima waktu benar-benar dia tinggalkan.


"Shubuh, bangunlah." ucapku berdiri di pinggir ranjang.


Diam, tidak ada jawaban maupun reaksi.


"Shalat shubuh, jangan jadi kebiasaan meninggalkan shalat" lagi aku berucap dengan harapan dia mau bangun


"Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika kita penuh dosa, segeralah bertobat karena manusia tidak ada yang tahu kapan ajal itu menjemput"


Masih diam. Suamiku benar-benar tidak bergerak.


"Mau shalat, atau mau dishalatkan?" ucapku kali ini sambil menggoyangkan tangannya dengan kesal


Suamiku membuka matanya dengan berat.


"Sudah shubuh bun?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur


"Sudah dari tadi" jawabku agak sedikit kesal.


Suamiku duduk sambil mengucek matanya. Setelah itu dipeluknya pinggangku.


"Selamat pagi cintaku" ucapnya sambil meletakkan dagunya di pundakku.


Aku diam tak bergeming, wajahku datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Masih diam?" tanyanya.


Aku lepaskan tangannya dari pinggangku lalu aku berdiri


"Mandilah dulu, setelah itu shalat" ucapku tanpa menoleh kearahnya


"Dingin" jawab suamiku sambil mendongak kearahku.


"Menghadap Alloh itu harus dalam keadaan suci, bukan dalam keadaan junub" ucapku sambil mengoloyor pergi.


Sepeninggal istrinya, Andi tertegun mendengar kalimat terakhir istrinya. Junub? apakah dia tahu? Andi mulai gelisah.


Tak ingin berlama-lama dengan berbagai fikiran buruk, dia segera bangkit dan meraih handuk yang tergantung di belakang pintu. Segera dia masuk kekamar mandi yang posisinya bersebelahan dengan kamar mandi.


Di bukanya baju dan digantungkannya di tempat yang sudah tersedia, sebelum memutar shower dia bercermin melihat wajahnya dalam pantulan cermin di depannya.


Alangkah kagetnya dia tatkala dilihatnya bekas tanda merah di dada dan tulang selangkanya. Diremasnya rambutnya dengan kasar, lalu ditinjunya dinding tembok kamar mandi.


"Ya Alloh" ucapnya sambil mengusap kasar wajahnya. Sadarlah ia kini apa yang menyebabkan perubahan sikap istrinya malam tadi.


Mulutnya merutuki kecerobohan yang telah dilakukannya. Kenapa dia bisa seceroboh ini, kenapa harus ketahuan sekarang.


Kembali dia teringat Indah, mata sembabnya, diamnya, dinginnya. Hatinya berdenyut sakit saat mengingat mata sembab itu. Bimbang menyelimuti hatinya kini. Disatu sisi dia menyayangi keluarganya, disatu sisi ada Tina yang sangat menggoda imannya.


...****************...


"Aku bisa jelasin semuanya bun" ucap suamiku saat dia menemuiku yang sedang mengeringkan pakaian.


Aku diam tak acuh, seolah tak mendengar suaranya.


"Ini salah faham bun" tambahnya lagi


Aku masih terus menyibukkan diriku dengan terus memasukkan pakaian yang sudah kukeringkan kedalam keranjang untuk nanti aku jemur.


"Bunda" ucapnya sambil hendak meraih tanganku


Secepat kilat aku mengangkat tanganku. Rasanya aku tak ingin dia menyentuh tanganku saat itu


"Cukup" ucapku sambil mengangkat tanganku. Hal itu sontak membuatnya berhenti.

__ADS_1


"Aku bisa jelasi" tambahnya lagi


"Tidak ada yang perlu dijelasi, semuanya sudah membuktikan kalau ayah main hati di belakang aku. Cupangan itu apa kurang cukup hah?" suaraku mulai meninggi.


"Tidak begitu bun, bunda salah sangka" kembali dia membela diri


Dengan kesal aku dorong pundaknya lalu aku keluar dari kamar mandi.


"Tunggu bun" ucapnya mensejajari langkahku.


Dengan frustasi akhirnya suamiku membiarkan aku pergi meninggalkannya termangu sendiri di kamar.


Detik berikutnya dia mulai membuka lemari pakaiannya berniat ingin berganti baju kerja. Dan lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan ulahnya sendiri tatkala dilihatnya bungkusan sut** yang terletak di atas tumpukan pakaiannya.


Kembali dia mengusap wajahnya dengan frustasi. Bisa dirasakannya bagaimana kecewanya hati istrinya. Diraihnya bungkus plastik itu lalu dimasukkannya kesaku celana dan berniat akan membuangnya di tong sampah pinggir jalan ketika berangkat kerja nanti.


Aku yang berada di dapur saat ini sendang mengisi lunchbox suamiku. Walau aku marah dan kecewa padanya, tapi aku tidak melupakan kewajibanku. Tapi tanganku terhenti tatkala fikiran negatif melintas di kepalaku. Apakah bekal ini dimakannya? Atau bisa jadi dibuangnya karena dia akan makan siang dengan selingkuhannya itu.


Selagi aku termenung, muncullah suamiku.


"Bun?" lagi dia memanggil dengan penuh harap.


Aku menutup luncboxnya, lalu meletakkan di atas meja. Terserah mau dia bawa atau tidak, aku tidak peduli.


"Bun, ayah mohon jangan begini. Sumpah, ini tidak seperti yang bunda lihat dan fikirkan" ucapnya lagi memberi penjelasan.


"Aku tidak mau berdebat, anak-anak masih tidur dan sebentar lagi mbak Dian datang. Aku tidak mau anak-anak terganggu dengan teriakan marahku" jawabku dengan suara dingin.


Suamiku duduk pasrah. Berkali-kali dia mengusap kasar wajahnya. Aku kembali ke dalam kamar mandi untuk melanjutkan rutinitasku yang terhenti tadi.


"Bun, ayah berangkat" ucap suamiku tak lama kemudian.


Dia menyusulku ke kamar. Disana didapatinya aku duduk melamun depan jendela.


Aku melengos pura-pura tak mendengar.


Diulurkannya tangannya dengan harapan aku mau mencium punggung tangannya seperti kebiasaanku tiap dia berangkat kerja. Tapi aku hanya diam, tidak merespon.


Andi, jangan kau kira aku biasa saja dengan ini semua. Aku sakit Andi, sangat sakit. Lihat saja, ini tidak akan selamanya Andi. Kau menyakitiku, aku akan membalasnya. Sekali kau lukaiku, seribu kali aku akan membuatmu menyesalinya geramku dalam hati

__ADS_1


__ADS_2