
Sejak tahu tentang depresi dan trauma yang dialami oleh Indah, sikap Ozkan semakin manis pada perempuan itu.
Dia akan selalu menjadi pelindung dan makin perhatian bahkan untuk hal sekecil apapun.
Seperti kali ini, saat mereka mengontrol proyek pertambangan, Ozkan dengan rela memayungi Indah selama mereka berpanas-panasan.
Aku yang mendapatkan perhatian lebih dari tuan Ozkan tentu saja sangat bahagia. Tapi aku tidak mau menunjukkan itu padanya, aku takut nanti dia akan berpikir aneh tentangku
"Minum dulu, kamu pasti haus" ucap Ozkan sambil memberikan botol minuman kearahku.
Kuakui lokasi pertambangan ini memang terjal berbatu dan juga sangat panas, tentulah aku haus.
Dengan senang hati aku meraih botol minum yang tadi tuan Ozkan sodorkan padaku
Aku celingukan mencari tempat duduk untuk beristirahat
"Kita kesana" tunjuk Ozkan kearah basecamp pekerja tambang
Aku mengangguk dan berjalan di depannya
"Saya saja yang bawa payungnya" ucapku
Ozkan tersenyum sambil menggeleng
"Kamu pasti kesusahan jika bawa payung" tolaknya
"Tidak, kan payungnya ringan" jawabku
Ozkan tidak membantah, diberikannya payung tersebut ketangan Indah dan dia mengambil botol air minum dan membawanya
Ternyata yang dikatakan tuan Ozkan benar, aku kesulitan membawa payung ini. Hal itu disebabkan karena tubuhku yang jauh lebih pendek dari tuan Ozkan sehingga aku harus meluruskan satu tanganku agar tuan Ozkan bisa kupayungi
Ozkan tersenyum ditahan mengetahui kesulitan Indah. Dia pura-pura tidak melihat dan terus saja melangkah. Malah dia menggoda Indah dengan membuat langkah yang lebar
Aku semakin kesulitan menyeimbangkan langkah lebarnya, nafasku sudah ngos-ngosan dan tanganku terasa pegal walau kami berjalan baru beberapa meter
Gubrak!!
Kakiku menginjak batu yang lumayan besar yang menyebabkan aku jatuh terjerembab.
Aku meringis kesakitan ketika tubuhku menyentuh tanah keras berbatu
Ozkan yang melihat Indah terjatuh segera tergopoh menolong dan membantu perempuan itu untuk berdiri lagi.
Aku segera menepiskan debu yang menempel di baju dan hijabku. Dadaku masih terasa nyeri bekas terkena batu besar tadi.
"Yang mana yang sakit?" tanya Ozkan panik
Aku tidak menjawab melainkan masih mengurut-urut dadaku
"Kena batu?" tanya Ozkan yang melihat Indah tampak meringis ketika mengurut dadanya
Aku mengangguk
Ozkan ikut membersihkan debu yang menempel di bajuku
"Makanya hati-hati" ucapnya
Aku diam, dalam hati aku mengumpat
"Ini karena kamu jalannya terlalu cepat" rutukku dalam hati.
"Masih sakit?" tanyanya lagi
Aku menggeleng
"Ayo jalan lagi, sudah dekat" jawabku sambil mengambil payung yang terlepas dari tanganku
Ozkan memutar badannya kebelakang, memang tidak jauh lagi tapi jalannya sedikit naik tebing
Tanpa pikir panjang, dia segera mengangkat tubuh mungil Indah dengan kedua tangannya
Aku yang kaget dengan perbuatan tuan Ozkan memekik tertahan
Ozkan menatap dalam kearah Indah, dan dia tersenyum manis. Jantungku langsung berdetak kencang tak karuan. Aku hanya bisa menelan ludah dan memandang dengan gugup kearahnya
Perlahan Ozkan mulai berjalan dan aku memayungi kami dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku, kulingkarkan kebelakang leher tuan Ozkan
Aku terus menatap kearahnya, rasanya aku tak ingin mengedipkan mataku. Sedangkan tuan Ozkan terus menatap fokus kedepan.
Aku dengar dia seperti ngos-ngosan
"Apa aku berat?" tanyaku takut-takut
Ozkan menghentikan langkahnya dan melihat kewajah Indah yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya
"Saya sudah pernah sebelumnya menggendong kamu, dan itu jauh lebih berat dari ini" jawabnya
Aku terkejut. Pernah menggendongku, kapan?! bola mataku langsung berputar mencoba mengingat
"Kapan?" tanyaku karena aku tidak mengingatnya
"Waktu di Pekanbaru" jawab Ozkan sambil terus menatap tajam mata Indah
__ADS_1
Aku memejamkan mataku mencoba mengingat kembali saat kami di Pekanbaru, lalu aku membuka mataku dan menggeleng
"Nggak ingat" jawabku pelan
"Saat kamu pingsan habis disiksa mantan suami kamu dan saat malam pergantian tahun baru yang saat itu kamu tertidur menyandar di pundakku, ingat?" tanya Ozkan
Wajahku langsung memanas, dan Ozkan melihat itu dengan jelas sekali jika wajah Indah yang bersemu merah
"Kalau begitu turunkan aku!" ucapku lirih menahan malu
Ozkan makin mengeratkan tangannya yang sedang menggendong Indah. Dan tubuhku kian rapat menyentuh dada bidangnya
Aku segera menyembunyikan wajahku di dada itu untuk menutupi rasa maluku. Ozkan terkekeh melihat Indah yang merasa malu
"Coba basecampnya lima kilo meter lagi" ucap Ozkan sambil melanjutkan langkah kakinya
Aku makin menenggelamkan wajahku di dadanya sambil terkekeh
...****************...
"Turun!" ucapku ketika aku menarik wajahku dari dada bidangnya
Karena saat itu kami telah sampai di basecamp, dan sekarang kami sudah di dalam kantor mini yang ada di sana
Ozkan menggeleng. Aku segera melepaskan payung di tanganku yang menyebabkan benda itu jatuh lalu mencubit dadanya
"Turun!" ucapku lagi dengan nada sedikit ketus
Bukannya menurunkanku, Ozkan malah membawaku duduk bersamanya dalam satu kursi. Itu artinya aku duduk di pangkuannya.
Tanganku yang tadi refleks aku lingkarkan kelehernya karena dia bergerak turun segera aku lepaskan begitu kami telah duduk
Tangan tuan Ozkan segera melingkar di perutku ketika aku hendak turun. Dia langsung memelukku erat.
Aku melototkan mataku, kembali aku kecolongan, batinku. Ozkan meletakkan dagunya di pundakku. Dapat aku rasakan hembusan hangat nafasnya
"Aku rindu sekali ingin memelukmu Indah" lirihnya.
Tanpa aku sadari, aku kembali melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
Aku membalas memeluknya. Dan tanganku meremas rambutnya dengan sayang. Ozkan semakin menenggelamkan perasaannya. Semakin dipeluknya erat wanita yang dicintainya itu
Ada butiran bening mengalir saat aku memeluk erat tubuh tuan Ozkan.
"Aku merindukanmu Indah, sangat merindukanmu" lirih Ozkan
Aku hanya bisa mengangguk dan menghapus airmata yang mengalir di pipiku
Cukup lama kami berpelukan, meluapkan segunung rindu yang selama ini terpendam.
"Kita pulang sekarang?" tanya Ozkan
Aku mengangguk dan turun dari pangkuannya
Ozkan segera menarik tangan Indah saat wanita itu telah turun dari pangkuannya
"Aku sangat mencintaimu" ucapnya sambil menatap tajam kemata Indah
Aku menundukkan wajahku menahan malu. Ya Rabb kenapa ini? rutukku
Ozkan kembali tersenyum menangkap wajah Indah yang kembali bersemu
"Aku harus bisa membuat dia jatuh cinta lagi padaku" batin Ozkan
"Pulang, lapar" ucapku dengan suara manja
Ozkan kembali menarik dan memeluk Indah. Dan aku kembali terkejut dengan perlakuannya
"Nada suara ini yang selama berbulan-bulan ini aku rindukan" ucapnya
Aku tersenyum dan kembali duduk di pangkuannya
...****************...
"Kita mau kemana tuan?" tanyaku saat kami pulang dari proyek pertambangan
"Dinner romantis" jawabnya
Aku terkekeh
"Aku tidak lapar, kan tadi kita sudah makannya waktu keluar dari proyek" jawabku
"Kalau begitu aku ingin membawa kamu kesuatu tempat" ucapnya
"Kemana?" tanyaku
Ozkan menepikan mobilnya lalu berhenti. Aku menoleh dan menatap bingung padanya
Ozkan tidak menjawab pertanyaan Indah melainkan dia segera mengeluarkan smartphonenya dan terlihat seperti menelpon seseorang
"Assalamualaikum nyonya Afsha, saya cuma ingin menyampaikan jika saya tidak bisa mengantarkan Indah pulang malam ini, karena sampai sekarang kami masih di proyek, masih banyak yang harus kami buat. Kemungkinan kami akan lembur, dan itu artinya malam ini kami bermalam di basecamp tambang" ucap tuan Ozkan yang ternyata sedang menelpon ummi
Aku segera melototkan mataku kearahnya dan berusaha merebut smartphone tersebut.
__ADS_1
Ozkan menepis tanganku yang sudah terulur hendak merebut smartphone yang saat itu menempel di telinganya
Terdengar suara ummi olehku, aku kian memanyunkan bibirku karena tuan Ozkan membohongi ummi
"Oh iya, baiklah nyonya, siap, saya akan menjaga Indah seperti yang nyonya pinta" jawab Ozkan sambil menutup pembicaraan.
Segera dia meletakkan smartphone dan menatap Indah dengan lekat
"Aku harus melakukan ini, jika tidak dengan cara ini. Kita tidak bisa kencan" jawabnya
Aku masih cemberut
"Saat ini sepertinya kamu butuh Jennifer" ucap Ozkan karena Indah hanya cemberut
"Kenapa dengan kak Jen?" tanyaku cepat
Ozkan langsung memandang dengan wajah sedih
"Karena cuma makhluk itu yang bisa buat kamu tertawa lepas bahkan disaat kamu sedih sekalipun"
Aku langsung tersenyum manis kearahnya
"Ahhhh, so sweetnya" jawabku
Ozkan kembali berpura-pura berwajah sedih. Dan aku segera menyentuh lengannya
"Jalan, katanya mau ngajak aku kesuatu tempat" ucapku dengan nada manja, hal itu aku lakukan agar tuan Ozkan tidak sedih lagi.
Ozkan segera menatap sendu kemata Indah.
"Sevi seni yorum" ucapnya lirih
Aku diam karena aku tidak mengerti apa yang dia katakan, aku cuma menganggukkan kepalaku saja.
Mobil terus berjalan, aku merasa kami sudah cukup lama di mobil ini, tapi belum terlihat tanda mobil akan sampai di tujuan. Aku sudah menguap beberapa kali, hingga akhirnya aku tertidur
Ozkan tersenyum saat dilihatnya kepala Indah bersandar di pundaknya.
Akhirnya mobil masuk kedalam kawasan Kingdom Center dan Ozkan segera menghentikan mobilnya.
"Indah, Indah, bangun sayang" ucapnya sambil mengelus wajah Indah yang masih bersandar di pundaknya.
"Bangun atau kamu mau aku cium?" goda Ozkan
Indah masih bergeming
"Dia kelihatan lelah sekali, kasihan jika aku harus membangunkannya" ucapnya
Kaca jendela diketuk seseorang, Ozkan segera membuka jendela tersebut
"Mobilnya biar kami yang parkirkan tuan" ucap lelaki yang berpakaian dinas hotel Kingdom Center
"Sebentar, saya membangunkan istri saya dulu" ucap Ozkan lagi
"Indah kita sudah sampai ditujuan, ayo turun" ucapnya lagi dengan mengelus wajah Indah
Aku segera membuka mataku dan dengan gugup segera membetulkan posisi kepalaku
"Oh, maaf" jawabku sambil membetulkan hijabku
"Sudah sampai" bisik Ozkan
Aku segera melongokkan kepalaku. Mencoba melihat dari balik jendela kaca.
"Ayo" ucap Ozkan yang telah membukakan pintu untukku.
Aku segera turun lalu kami berdua masuk kedalam bangunan yang tadi kubaca Kingdom Center
Ozkan menggenggam tanganku selama kami berjalan masuk kedalam hotel menuju resepsionis
"Saya yang sudah reservasi kamar di lantai 66, nomor 7425" ucapnya
Dengan cekatan resepsionis itu mengambil kunci berbentuk card lalu menyerahkannya pada tuan Ozkan sambil tersenyum manis
Ozkan membalas tersenyum ramah pula pada gadis cantik itu. Seketika wajahku berubah masam melihat tuan Ozkan tersenyum pada gadis itu
Aku berjalan disampingnya dan tidak mau bergandengan tangan lagi dengannya
Ozkan langsung menoleh melihat perubahan sikap Indah dan dia hanya mengangkat bahu saja
Kami masuk kedalam lift dan tuan Ozkan menekan angka 66.
Di dalam lift aku masih diam dan memasang wajah masam. Ozkan yang tidak mengetahui jika Indah cemburu hanya beranggapan jika perempuan itu masih mengantuk
Tak lama pintu lift terbuka, dan kami segera keluar. Kembali Ozkan hendak menggandeng tangan Indah, dan lagi-lagi Indah menepisnya
"Are you okay?" tanya Ozkan heran sambil mensejajari langkah lebar Indah
Aku tidak menjawab, aku kian mempercepat langkahku. Sampai di depan kamar bernomor 7425 aku berhenti dan menoleh pada tuan Ozkan
Tanpa dikomando tuan Ozkan segera memasukkan card yang tadi diberikan resepsionis dan dengan segera pintu kamar terbuka.
Aku segera masuk dan segera melempar tasku keatas tempat tidur lalu segera menelungkupkan wajahku kedalam bantal.
__ADS_1
Ozkan yang menyusul masuk tertegun melihat perubahan sikap Indah.
"Ada apa dengannya?" lirihnya dalam hati