Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Sesekali Nakal Tak Apa


__ADS_3

Ozkan hanya bisa menarik nafas panjang ketika dilihatnya Indah mulai memutar kepala motor


"Abraham kamu naik motor dengan Adam, ikuti istri saya!"


Abraham segera turun dari mobil pak Ahmad


"Binsar, kamu bawa mobil mertua saya!"


"Tomo kamu bawa mobil Adam, kalian bertiga dengan bodyguard saya yang lain!"


Tomo mengangguk dan segera masuk kedalam mobil diikuti dua bodyguard yang dibawa Ozkan dari Jeddah


Ozkan segera menggendong Defne dan membawanya masuk kedalam mobil pak Ahmad


"Defne sini duduk dekat nenek" ajak bu Siti memberi kode menepuk kursi di sebelahnya


Defne menggeleng dan mengeratkan pegangan tangannya pada Daddy nya


Ozkan mencium tengkuk Defne, berharap jika anak gadisnya itu tidak lagi tegang


Perlahan Tomo dan Binsar menjalankan mobil mengiringi motor Adam dan Indah yang telah lebih dulu di depan


Wajah Ozkan kian tegang ketika motor yang dibawa Indah menuruni jembatan menuju jalan raya


Ozkan segera menurunkan kaca mobil dan melongok kan kepalanya keluar


"Abraham, jaga istri saya!!" teriaknya kencang


Adam yang duduk di boncengan cekikikan


"Pak Abraham, apa konglomerat tidak bisa naik motor?"


Pak Abraham terkekeh


"Sepertinya hanya tuan Ozkan yang tidak bisa"


Lalu keduanya kompak terkekeh


Ozkan kembali berteriak panik ketika ada mobil ngebut dari arah berlawanan


"Indah hati-hati!!!" teriaknya


Pak Ahmad dan bu Siti yang duduk di belakang saling toleh


"Tenang Ozkan, Indah itu sudah biasa pakai motor" hibur pak Ahmad


Ozkan memasukkan kepalanya dan menoleh kearah mertuanya dengan wajah yang masih sangat tegang


"Dulu kan pak, bukan sekarang"


"Iya, tapi Indah itu memang sering pakai motor, kamu jangan khawatir"


Ozkan kembali menarik nafas panjang dan berkali-kali memanjangkan kepalanya


"I'm scare Dad...." lirih Defne


Ozkan mengusap kepala Defne, dan pak Binsar hanya melirik sekilas, dalam hati dia tersenyum sendiri


"Kamu belum pernah naik motor?" tanya pak Ahmad


Ozkan yang tegang tergagap dan menoleh kebelakang, kearah kedua mertuanya


"Ya pak?"


"Kamu belum pernah naik motor?"


Ozkan menggeleng


"Dari kecil kami tidak pernah dikenalkan dengan motor oleh baba, kami hanya mengenal mobil, dulu baba bilang, motor itu beresiko tinggi, itulah mengapa kami hanya diajarkan pakai mobil, baba takut kami kecelakaan "


Pak Ahmad dan bu Siti mengangguk begitupun dengan pak Binsar. Maklumlah dia sekarang mengapa bos besarnya itu ketakutan ketika melihat Indah memakai motor


Serkan yang duduk di belakangku tertawa ceria ketika ku bonceng


"How do you feel?"


"Its so amazing ma...." jawabnya takjub


Aku terkekeh


"Nanti ketika kita di Jeddah, kamu akan mama ajari naik motor, biar nanti kamu bisa keren seperti Akhi Adam"


Serkan mengangguk


"How with Defne?"


Aku terkekeh


"She was real Daddy's daughter, she really scary, Mama think, she not interesting with motor cycle"

__ADS_1


"You right Ma" jawabnya sambil terkekeh


Aku lalu membelokkan motor kearah klinik Naura, dan pak Abraham mengikuti


Melihat Indah berbelok, pak Binsar juga menghidupkan lampu sen dan ikut masuk ke area klinik, pak Tomo pun melakukan hal yang sama


"Kalian tunggu di sini saja, biar aku yang masuk" ucapku


Pak Abraham mengangguk. Lalu aku menggandeng tangan Serkan, masuk kedalam klinik


Seluruh pegawai dan staff yang melihat Indah masuk segera berdiri dan menyongsong kedatangan Indan dan berebutan bersalaman


"Ada yang bisa kami bantu bunda?" tanya mereka


Aku tersenyum


"Naura ada?"


"Oh, ayuk bos ada di atas bun"


Aku mengerutkan keningku mendengar jawaban mereka


"Ayuk bos?"


Mereka terkekeh


"Ayuk tidak mau dipanggil ibu, atau dipanggil bos, maunya dipanggil ayuk, jadinya kami manggilnya dengan sebutan ayuk bos" jawab satu perawat


Aku terkekeh, di saat itu aku lihat Naura turun dari tangga dan berlari kecil kearah kami


"Sibuk sayang?" tanyaku sambil merapihkan jilbabnya


"Nggak bunda, nggak ada pasien yang mau lahiran, jadi In Syaa Alloh ayuk pulang sekarang, boleh kan?" tanya Naura sambil menoleh kearah para karyawan klinik


Mereka tersenyum bahkan sebagian tergelak


"Lah kok malah nanya kami yuk bos, ini kan kliniknya yang punya ayuk bos, jadi suka-suka ayuk bos mau pulang jam berapa" jawab mereka


Naura mendecak dan memonyongkan bibirnya


"Tuhhhh kaaaan mulaiiii...." ucapnya sambil memutar mata dengan malas


Kembali karyawan dan staf terkekeh


"Maaf ya, Naura bunda ajak jalan-jalan dulu" pamit ku


"Oh iya, sekalian bunda pamit, In Syaa Alloh malam nanti bunda kembali ke Jeddah, bunda harap kalian semua makin solid, saling support, dan saling jaga silaturahmi, dan satu lagi, Bunda titip Naura, tolong jagain jangkung bunda" ucapku tersenyum sambil mengusap lengan Naura


Aku mengangguk kearah staff yang bertanya tadi


"Wah, kapan kalau begitu kita bisa ketemu lagi bun?" tanya yang lain


"In Syaa Alloh..." jawabku


Semuanya mengangguk dan memasang wajah sedih


"Jangan sedih dong, kan kita sudah seperti keluarga, makanya doakan bunda dan keluarga semoga sampai Jeddah dengan selamat"


"Aaminn...., pasti kami doakan bunda"


Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku pada mereka. Satu persatu mereka menyalamiku, memeluk dan cipika cipiki pada ku


"Doakan kami juga ya bunda semoga kami bisa sukses seperti bunda"


Aku mengangguk dan tersenyum. Lalu aku melambaikan tanganku dan menggandeng Serkan, dan Naura menggandengku


Ozkan menarik nafas lega ketika melihat istri dan kedua anaknya keluar dari klinik


"Bunda pakai motor?"


Aku mengangguk kearah Naura


"Adek Defne mana?"


"Tuh..." aku menunjuk kearah mobil bapakku


Naura melambaikan tangan kearah Defne yang hanya memandang kami dengan mata tajam


"Dia ketakutan" jawabku menahan tawa, Naura langsung terkekeh


"Serkan naik motor sama bunda?"


Serkan mengangguk. Naura lalu mengedarkan pandangannya kearah parkiran motor karyawan, seperti berfikir motor siapa yang akan dia pinjam


Lalu Naura mendekati security yang berjaga dan tampak bercakap-cakap. Perasaan Ozkan kembali tak tenang ketika dilihatnya Naura menunjuk-nunjuk ke barisan motor


Adam yang masih duduk di boncengan pak Abraham segera turun dan menghampiri Naura


"Pinjem motor cowok aja yuk" usulnya

__ADS_1


Naura mengangguk dan memasang senyum dikulum


"Kita buat kenangan yang tak terlupakan buat papa dan Defne" ucap Adam lagi sambil tergelak


Naura setuju dan ikut tergelak juga. Tak lama security yang tadi masuk telah keluar dengan membawa kunci motor dan langsung mengeluarkan motor besar


Degup jantung Ozkan kembali berpacu cepat ketika dilihatnya Naura mulai melangkahi motor besar tersebut dan mulai menghidupkan mesinnya


"Bunda sama anak sama saja" keluhnya memijit keningnya


Pak Ahmad menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan kearah Naura


"Pelan-pelang Ra...."


Naura mengacungkan ibu jarinya kearah nenek anangnya


Sementara Ozkan kembali menatap khawatir kearah Indah dan Naura yang mulai menjalankan motor


"Abraham kamu di tengah-tengah, jaga istri dan anakku"


Pak Abraham menoleh dan menganggukkan kepalanya. Naura menghentikan motornya di sebelah mobil neneknya dan menaikkan kaca helm


"Defne, you wanna follow me?"


Defne menggeleng cepat dengan mata melotot takut


"Papa?"


Ozkan kembali memijit keningnya dengan menggeleng heran. Sedangkan Naura terkekeh


"Are you sure, Defne?" godanya


"Yes, I am sure!!!" bentak Defne takut


Naura kembali tergelak. Ozkan menarik nafas panjang ketika Indah mengklakson memberi kode jika dia duluan


"Hati-hati Sayang...!" teriak Ozkan


Aku tak memperdulikan teriakan abang, aku dan Serkan hanya terkekeh. Dengan santai aku menjalan motor menikmati suasana menjelang sore ini


Banyak motor yang berlalu lalang, dan rata-rata mereka adalah pasangan muda mudi


Aku menghidupkan lampu sen dan memperlambat kendaraanku.


"Yuk, kita kemana?" tanyaku


Naura mendekat, akhirnya dia menjalankan motornya bersebelahan dengan bundanya. Ozkan yang melihat makin khawatir


"Binsar, dekati mereka, bilang tidak boleh borong jalan!"


Pak Binsar menurut dan segera mempercepat laju mobilnya, dan dia mengklakson beberapa kali yang menyebabkan Naura mendahului bundanya


Aku menoleh kearah abang dan menjulurkan lidahku


Ozkan hanya menggelengkan kepala sambil terus memberi kode pelan-pelan pada istrinya


Naura yang berada di depan menjalankan motornya dengan ngebut yang membuatku refleks mengegas motor dengan kencang


Serkan yang duduk di boncengan segera memeluk pinggangku dengan erat.


Melihat istri dan anaknya ngebut, wajah Ozkan kembali menegang. Berkali-kali dia mengusap wajahnya frustasi


Naura membelokkan motor kearah kiri, melihat istri dan anak majikannya ngebut, pak Abraham tak kalah ngebut


Walau motorku motor bebek tapi masih bisa diajak ngebut dan itu membuatku senang bukan kepalang


Aku tak memperdulikan pak Abraham yang berada di belakangku, tujuanku hanya satu aku pengen naik motor lagi


"Are you happy?" teriakku pada Serkan


"Yes Mama, I really happy" balasnya dengan berteriak pula


Perlahan laju motor Naura pelan dan akhirnya aku bisa bersebelahan lagi dengannya


"Kita makan-makan di dekat sawah itu ya bun?, di sana view nya bagus"


Aku mengangguk. Lalu Naura kembali duluan dan aku dibelakangnya. Tak lama motor kami berhenti, dan aku segera menurunkan kedua kakiku ke tanah dan melepas helm. Memasang standar motor dan mengusap kepala Serkan


Serkan tersenyum sumringah. Adam turun dan ikut mengusap kepala Serkan


"Seru?" tanyanya


Serkan mengangguk. Tak lama mobil yang dikemudikan pak Binsar dan pak Tomo sampai. Dengan cepat abang turun dan langsung memeluk Serkan


"Are you okay?" tanya Ozkan dengan nada penuh khawatir


Aku melihat kearah abang dengan bengong dan melirik kearah Defne yang menyusul dibelakang


Dan Defne ikut memeluk Serkan. Aku langsung saling toleh pada Naura dan Adam, kompak kami bertiga menunduk menahan tawa

__ADS_1


"Ya ampun ada pertunjukan teletubbies" gumamku sambil menggigit bibir menahan tawa yang telah siap meledak


Kulihat pak Abraham.cs juga nampak tersenyum. Sedangkan umak dan bapakku langsung melotot kan mata mereka ke arahku


__ADS_2