
"Tinaaaaaa..." teriak Laras sambil menggedor pintu kamar depan tempat Tina tidur
Tina yang masih terlelap terperanjat dan terburu turun dari ranjang, lalu membuka pintu kamar
Terpampang wajah sangar Laras ketika pintu terbuka. Tina yang masih mengantuk, menguap lebar tanpa mempedulikan wajah Laras yang memandang benci padanya
"Numpang, bangun siang. Serasa bos ya kamu" ucap Laras marah
Tina hanya melirik sebentar kemudian ngeloyor pergi kebelakang
"Heh, ganti pakaian kamu!" bentak Laras demi melihat Tina masih memakai baju tidur yang tipis
Tapi Tina bergeming, dia terus saja meninggalkan Laras yang mengoceh. Di jalan arah dapur, dia berpapasan dengan Rudi yang sedang bersiap mau kekebun
"Pagi mas" sapa Tina
Rudi menelan ludah melihat Tina yang begitu menggoda.
Laras yang melihat langsung menarik suaminya
"Awas kalau mas macam-macam" geramnya
Rudi diam tak perduli, dia segera keluar dari dalam rumah lalu bergegas mengegas motor pergi kekebun
"Awas kamu ya kalau keganjenan dengan suami saya" ucap Laras yang menyusul kedapur
Tina cuek tak perduli, dia segera membuka tudung saji dan mengambil sarapan
"Dasar perempuan tak tahu diuntung, bangun siang, bangun-bangun langsung makan, kamu anggap ini hotel!"
Lagi Tina seolah tak mendengar. Dia mengangkat sebelah kakinya keatas kursi dan menyuap nasi tanpa rasa bersalah
"Ibuuukkkk" teriak Laras
Bu Mira yang masih terbaring lemah di kamar dengan susah payah bangkit demi mendengar teriakan Laras
"Ada apa?, pagi-pagi teriak-teriak" ucap bu Mira setelah sampai di dapur
"Tuh lihat menantu kesayangan ibuk!" jawab Laras gusar
Bu Mira menoleh kearah meja makan. Dadanya bergemuruh
"Kurang ajar kamu ya, sudah nyusahin anak saya, sekarang kamu enak-enakan di rumah saya" geramnya
Tina segera memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya, lalu minum air putih hingga tandas.
Tanpa dosa dia berdiri dan menatap ibu mertua dan iparnya bergantian
"Kan suami saya sudah menitipkan saya di sini, dan bapak mertua juga setuju, jadi ibuk sama mbak Laras tidak punya hak untuk ngusir saya" jawabnya santai
Bergemuruh dada Laras dan bu Mira mendengar jawaban Tina
"Dasar perempuan sialan" maki bu Mira
"Nyesal saya nyuruh Andi menikahi kamu, saya pikir kamu jauh lebih baik dari istrinya dulu, rupanya kamu jauh lebih buruk"
Tina terkekeh
"Jangan samakan aku dengan menantu bodoh ibu itu. Indah bodoh karena menurut dan patuh sama kalian, tapi aku? no way" jawab Tina sambil pergi meninggalkan dapur
"Kamuuu.." geram bu Mira
Dia menghentikan gerakannya yang hendak memukul Tina ketika dirasakannya dadanya nyeri.
__ADS_1
Dengan panik Laras segera membawa ibunya duduk dan segera memberinya air putih hangat
"Kurang ajar perempuan itu. Dimana pula Andi menemukan dia" sesalnya
Laraspun sama halnya dengan sang ibu, dia makin kesal dan benci pada iparnya itu
"Baru juga seminggu disini, tapi aku merasa seperti setahun, hadeehhh" keluh Tina yang duduk di teras depan
"Awas saja mereka, mereka belum tahu siapa saya" ucapnya dengan wajah penuh kelicikan
...****************...
"Siapa sih Ndah cowok yang selalu jemput kamu kalo malam minggu?" tanya Manda sore ini
Aku tersenyum malu kearahnya
"Cie yang mukanya merah" goda bu Sumilah
Aku makin tersipu
"Sumpah, tu cowok ganteng banget" timpal Linda
Kami saat itu tinggal berempat, Yanti dan Olin sudah berangkat ke Hongkong seminggu yang lalu. Tinggal aku, bu Sumilah, Linda dan Manda yang menunggu giliran
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan jadi tkw, mending aku menikah sama dia" jawab Manda yang diberi persetujuan dua temanku yang lain
"Rencananya juga gitu Nda, aku akan terima lamaran dia" jawabku malu
"What???, jadi tu cowok sudah melamar kamu?" mata Linda melotot demi mendengar jawabanku
"Belum resmi sih, baru meminta aku untuk jadi istri dan ibu dari anak-anaknya" jawabku malu
Spontan Manda langsung memelukku.
Aku membalas pelukan hangatnya.
"Jadi malam ini kalian mau ngedate lagi nih ceritanya?" godanya setelah melepas pelukannya padaku
Aku mengangkat bahuku.
"Kalau kamu ngedate sama dia, pulangnya bawakan kami makanan ya" ucap Linda sambil tertawa
Akupun ikut tertawa mendengar ucapannya.
Selesai bercengkrama masing-masing dari kami bergantian mandi, aku memperhatikan mereka bertiga sama seperti minggu-minggu kemarin, mereka akan berdandan cantik dan bersiap untuk jalan-jalan
Dan sekarang tinggal aku sendirian. Aku merogoh handphone dalam saku baju tidurku. Niatku menelpon umakku, aku kangen mendengar suara ketiga anakku
Begitu panggilan tersambung, airmataku langsung luruh demi mendengar suara Naura. Naura berceloteh riang, menceritakan sekolahnya, teman bermainnya, uwaknya yaitu kak Andri yang selalu memanjakan mereka, dan tak lupa dia juga menceritakan tentang neneknya.
Tiba giliran kakak yang berbicara, kembali airmataku jatuh. Kakak mengatakan bagaimana rindunya dia sama aku, bagaimana inginnya dia memelukku dan bagaimana dia ingin aku pulang.
Aku membekap mulutku ketika Adam yang berkata. Aku menggigit bibirku untuk menahan tangis
"Bunda, kapan puyang?"
Aku makin membekap mulutku. Aku tidak ingin keluargaku tahu jika aku menangis.
"Nanti ya nak, nanti" jawabku serak
Dengan suara khas anak-anak, Adam meminta dibelikan mainan yang banyak padaku. Aku memberikan semua janjiku pada ketiganya, aku mengatakan jika semua keinginan mereka akan aku kabulkan.
Selagi aku terisak, aku merasakan ada sebuah tangan memeluk dadaku dari belakang.
__ADS_1
Aku yang saat itu duduk dikursi menghadap balkon segera memutar tubuhku
Abang
Dia tersenyum manis kearahku. Aku segera menghapus sisa airmata di wajahku
"Titip anak-anak ya mak" tutupku
Aku menarik nafas dalam lalu berdiri dari kursi. Abang kembali tersenyum kearahku.
"Ternyata seperti ini ya rambut kamu" ucap abang sambil membetulkan anak rambut yang menjuntai di wajahku
Refleks aku segera memegang kepalaku. Ya Rabb hijabku kemana?
Aku segera mendorong kursi pakai kakiku dan segera hendak berlari ketika tanganku diraih oleh abang
Refleks abang menarik tubuhku mendekat kedadanya. Aku menelan ludahku karena jarak kami yang sangat dekat.
Ini adalah kali kedua kami bertatapan begitu dekat sejak tahun baru yang lalu ketika kami di balkon Peak Hotel Pekanbaru.
Abang segera memajukan wajahnya kearahku, aku memejamkan mataku dengan jantung yang berdetak kencang.
Ariadi menghirup dalam aroma rambut Indah. Berkali-kali dia melakukan itu
"Abang pernah lihat rambut ini" bisiknya
Aku membuka mataku, dan segera memundurkan kepalaku. Menatap tak percaya padanya
"Kapan?" ucapku dengan suara bergetar
"Waktu kamu menari di balkon"
Aku mengernyitkan dahiku. Mencoba berfikir keras. Selama disini aku tidak sekalipun menari jadi kapan abang melihat aku, batinku
Aku segera menjauh dari abang, tapi abang masih seperti tadi, tangan kirinya masih menggenggam tanganku
Sebelah tangannya yang kanan merogoh handphone dalam jaketnya. Lalu kulihat dia membuka menu dan memamerkan video di layar tersebut padaku
Tangan kiriku langsung membekap mulutku.
Disana terlihat bagaimana aku menari dengan baju tidur tipis. Aku ingat, itu aku lakukan akhir tahun kemarin saat aku di balkon hotel saat Andi pergi meeting.
Wajahku langsung bersemu merah, aku malu sekali. Aku segera menarik tanganku yang tadi digenggamnya lalu segera berlari meninggalkan abang menuju kearah balkon.
Ariadi yang melihat Indah malu, terkekeh. Dia lalu berjalan menyusul Indah yang berdiri dipinggir balkon sambil menatap jauh.
Tanpa aku sadari ternyata abang kembali melakukan hal seperti tadi. Dia berdiri tepat di belakangku sambil menghirup aroma rambutku dan membelainya.
Aku hanya bisa diam terpaku, aku bingung harus berbuat apa. Tetapi detak jantungku kian berpacu cepat.
Aku hanya diam ketika abang memutar tubuhku menghadap kearahnya. Aku mendongak, mata kami saling menatap dalam.
Aku tak berkedip menatap mata tajamnya dan tanpa bisa aku tolak, bibir abang menyentuh lembut bibirku. Aku memejamkan mataku. Dan dapat aku rasakan bibir abang rasanya seperti papermint.
Aku yang jauh lebih pendek dari abang kesusahan mendongak saat bibir tersebut makin lembut menghisap.
Aku menjinjitkan kakiku untuk menyeimbangkan tinggi kami, tapi tetap saja aku kalah postur.
Entah hilang kemana urat maluku saat ini, aku membalas ciuman lembutnya.
Kami berciuman dengan hangat dan abang kian menekan kepalaku agar tidak jauh dari bibirnya.
Kami terus berpagutan tanpa henti, sepertinya kami berdua sudah dimabuk asmara.
__ADS_1
Kami saling menekan dan saling membalas. Dapat aku rasakan jika tangan kekar abang mengangkat tubuhku, tapi ciuman kami masih tidak lepas, kami masih saling memagut dan menyesap satu sama lain