Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Tertangkapnya Murat


__ADS_3

Aku dengan takut-takut menghampiri ummi ketika jam istirahat.


Saat itu kami baru selesai shalat dan ummi sedang rebahan di sofa yang ada di ruangan kerjanya.


Aku menarik nafas dalam ketika aku makin dekat ketempatnya rebahan


"Ehmm, Ummi" panggilku ragu


Ummi diam karena sibuk bermain handphonenya


Aku jadi makin takut dan berniat mengurungkan niatku


"Hei, mau kemana. Perasaan tadi manggil ummi" ucap ummi tanpa mengalihkan perhatiannya


Aku yang tadi sudah membalikkan badan, terpaksa berjalan lagi kearah beliau


Aku berdiri di ujung kakinya. Ummi Afsha lalu meletakkan handphone di atas perutnya.


"Kenapa?" tanyanya


"Ehm, ini ummi.." jawabku terputus


Ummi lalu duduk, dan memberi kode untuk aku duduk di kursi. Aku segera duduk di kursi di depan beliau. Aku menggigit bibir bawahku untuk menutupi keraguan di dalam hatiku


"Ayo, bicara sama ummi, jangan takut"


Aku tersenyum kaku


"Begini, ummi. Aku mau bilang masalah gaji yang ummi transfer kemarin" jawabku ragu


Ummi langsung mengerutkan dahinya


"Kurang?" tanyanya


Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku.


"Tidak ummi, tidak" jawabku cepat


"Lantas?"


"Apa nggak salah ummi transfer sebanyak itu, itu kebanyakan ummi" lanjutku dengan suara takut-takut


Ummi tersenyum


"Memangnya kamu sudah cek?" tanyanya


Aku menggeleng.


"Loh, kok tau kalo itu banyak dari mana?"


"Dari petugas bank saat aku mau ngirim ke Indonesia" jawabku


Ummi Afsha kembali tersenyum


"Memang petugas bank bilang berapa?"


"Dua puluh lima juta" jawabku takut


Ummi terkekeh.


"Memang kenapa kalau ummi gaji kamu segitu?" ucapnya lembut


Aku memberanikan diri menatap pada beliau


"Rasanya tidak pantas saya mendapatkan gaji sebanyak itu ummi"


Ummi menggeleng.


"Kamu pantas mendapatkan jumlah itu. Kata siapa kamu tidak pantas?"


"Kata saya Ummi"


Ummi terkekeh.


"Kamu sudah ikut kerja keras, jadi itu pantas ummi berikan sama kamu"


"Sungguh Ummi?" jawabku dengan mata berbinar

__ADS_1


Ummi menganggukkan kepalanya. Aku bernafas lega mendengar jawaban beliau.


"Jadi kamu sudah kirim ke Indonesia?" tanyanya


Aku menganggukkan kepalaku.


"Ya sudah, akhir tahun nanti kita berangkat ke Swiss, Alima sepertinya sudah tidak sabar, kalau dia bisa memutar waktu, ummi yakin besok akan dibuatnya tanggal 30 Desember" ucap beliau mengalihkan topik untuk mencairkan suasana


Aku terkekeh mendengar ucapan Ummi


"Emir dan kedua adiknya manja sekali sama kamu. Ummi kadang kasihan lihat kamu, capek pulang kerja, tahu-tahu dicegat ketiga anak itu, diajak bermain, mereka minta gendong, minta disuapi, minta ditemani bermain, hadeehh. Itulah makanya terkadang ummi itu lebih memilih mengajak kamu pulang malam, agar tidak diganggu mereka"


"Saya malah senang ummi bermain dengan mereka bertiga. Tuan muda mengobati rindu hati saya dengan ketiga anak saya" jawabku sambil tersenyum


"Sebelumnya mereka tidak pernah semanja ini, bahkan sama Ateefa pengasuh mereka"


"Alhamdulillah jika mereka senang sama saya ummi, itu artinya saya bisa mengasuh mereka seperti saya mengasuh ketiga anak saya"


Ummi tersenyum, dia bangga pada kebaikan hati Indah. Tidak disangkanya, seorang janda muda yang dipekerjakannya ternyata juga bisa mengambil hati ketiga cucu tampannya


...****************...


Abraham cs mendapatkan arahan dari ketua tim yang akan mencari keberadaan Murat Erdem. Salah seorang anak buah Ozlem mendapatkan informasi jika Murat ada di desa kecil yaitu desa Karaagac, desa yang terletak di seberang sungai Marissa (Meric) yang berbatasan dengan Yunani.


Butuh waktu seharian untuk sampai di sana. Tapi demi misi menyelamatkan sang bos dan keluarganya, para bodyguard yang berjumlah sepuluh orang itu tidak mengenal lelah


Dengan menggunakan dua buah mobil land cruiser type bundera, mereka berangkat menembus jauh dan sulitnya medan yang akan mereka datangi.


Sampai di desa Karaagac yang sepi, mereka menyebar. Mereka sudah mengetahui dimana letak persembunyian Murat.


Enam orang mengepung rumah sederhana itu, termasuk di dalamnya ada Tomo. Sedangkan empat yang lain dengan senjata api di tangan mereka, mendobrak pintu


Ternyata di dalam kosong. Murat sepertinya sudah mendapatkan informasi jika orang suruhan keluarga Ozkan mencarinya.


Hingga sebelum mereka sampai, Murat sudah kabur.


Tapi bukan bodyguard profesional namanya jika tidak bisa mendapatkan Murat. Mereka menggeledah setiap rumah yang ada di desa kecil itu. Sampai akhirnya ada seorang lelaki tua yang mengaku jika dia melihat Murat pergi ke arah Yunani.


Tak tunggu waktu lama, rombongan bodyguard itu menyusul dengan kecepatan tinggi.


Wajah mereka tampak kesal karena mereka hampir gagal. Dan hal yang paling mereka takutkan adalah kemarahan tuan muda Ozkan.


Dari jauh mereka bisa melihat sebuah mobil yang melaju kencang. Mereka yakin jika itu Murat, maka mereka melajukan mobil lebih kencang lagi.


Murat yang panik karena dikejar mobil di belakangnya, segera tancap gas lebih ngebut lagi.


Terjadilah kejar mengejar antara ketiga mobil itu. Tembak menembak tidak bisa terelakkan.


Mereka saling tembak, sampai pada akhirnya seorang bodyguard menembak tepat mengenai bahu Murat. Murat yang mendapatkan timah panas menjadi oleng membawa mobilnya. Hingga akhirnya mobil yang dikemudikannya menabrak batu besar.


Melihat mobil Murat terhenti dan mengeluarkan asap, dua mobil yang mengejarnya berhenti dan mereka segera keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah mobil Murat sambil mengarahkan pistol.


Tampak Murat yang lemah dengan wajah pucat memegangi bahunya yang berdarah.


Seorang bodyguard maju dan terus mengarahkan pistol kearah Murat.


Dia membentak dengan bahasa Turki


"Serahkan diri kamu, atau kami akan menembakmu!"


Murat menengadahkan kepalanya. Dia bernafas dengan tersengal.


"Tangkap saja saya, tapi jangan bunuh saya" jawabnya lemah


"Lemparkan pistol kamu!" teriak bodyguard tadi


Sambil tersengal, Murat segera melemparkan pistolnya ketanah.


Dengan sigap, kedua bodyguard langsung meringkus dan mengunci mati tangannya


"Boleh saya menampar wajahnya?" tanya Tomo


Kedua bodyguard yang tadi meringkus Murat memandang bingung dengan apa yang katakan Tomo karena mereka tidak faham bahasanya.


Faham karena kedua bodyguard itu tidak mengerti apa bahasanya, Tomo dengan segera mempraktikkan melalui gesture layaknya orang yang menampar.


Abraham dan Binsar tersenyum menahan tawa. Sedangkan kedua bodyguard yang mengetahui maksud Tomo menganggukkan kepala

__ADS_1


Dengan beringas Tomo maju dan menampar wajah Murat


PLAAAKKKK!!!


"Bikin susah orang saja!" makinya.


Kembali Binsar dan Abraham tersenyum geli. Sedangkan bodyguard yang lain kaget melihat ulah Tomo


Salah seorang dari mereka segera menarik Murat masuk kedalam mobil.


Murat yang lemah tak berdaya tidak bisa melawan selain menurut saja. Dia meringis kesakitan saat tangannya masih dikunci dengan kedua bodyguard.


Berkali-kali dia meringis, akan tetapi tiap kali dia meringis, maka tiap kali pula dia mendapatkan pukulan


...****************...


Hampir dini hari, dua mobil bodyguard itu masuk kesebuah apartemen.


Kembali mereka menyeret tubuh lemah Murat setelah mereka keluar dari dalam lift.


Mereka menuju satu ruangan yang di dalamnya telah ada tuan muda Ozlem


Dengan sinis, Ozlem mengangkat dagu Murat.


"Bajingan!! teriaknya


"Kamu mau bermain-main dengan keluarga Yilmaz, heh?! geramnya


Murat menundukkan kepalanya.


"Kamu tahukan akibat jika bermain dengan Ozlem?, mau kamu mati sia-sia?" teriaknya lagi


Murat mendongakkan kepalanya dengan takut, menatap mata Ozlem yang berkilat marah


"Tolong jangan habisi saya, apapun akan saya lakukan asal jangan bunuh saya" ibanya


Ozlem mendengus kesal


"Dibayar berapa kamu untuk bersekongkol dengan mereka, hah?!" bentaknya lagi


Tubuh Murat menggigil


"Maafkan saya tuan, maafkan saya"


Ozlem segera mengangkat tangannya yang hendak dilayangkan kewajah Murat ketika Ozkan tiba


"No!" teriak Ozkan yang menghentikan gerakan tangan Ozlem yang sudah melayang di udara


Dengan geram Ozlem menepiskan tangannya.


"Dia harus mati abi" jawabnya kesal


"Justru dia harus hidup. Dia harus mengungkapkan semua kejahatan tuan Kaderimin dan Hatice di kantor polisi"


Wajah Murat kembali menegang. Dia menatap penuh ketakutan pada Ozkan


Dengan wajah dingin Ozkan mendekati Murat yang terduduk lemah di lantai


"Bekerjasamalah dengan baik jika masih ingin hidup" ucap Ozkan dingin


Murat bergidik ngeri


"Onur, bawa dokter yang berdiri di luar itu untuk masuk" ucap Ozkan pada Onur


Onur segera berjalan keluar dan masuk kembali dengan seorang dokter


"Keluarkan peluru di bahunya dokter, dan pastikan dia tidak kenapa-napa!" ucapnya


Dokter itu mengangguk dengan takut.


"Kalian jaga orang ini. Jangan sampai dia lolos, besok siang kita bawa dia kekantor polisi!" ucap Ozkan dingin sambil membimbing bahu Ozlem untuk meninggalkan tempat itu.


Ozlem menurut ketika Ozkan membawanya pergi.


Abraham cs terus berada di kamar apartemen itu sampai dokter selesai menjahit dan mengobati Murat.


Setelah dokter keluar dari dalam kamar, barulah para bodyguard itu menarik nafas lega.

__ADS_1


Murat yang tadi disuntik bius dokter sekarang tertidur.


Dan kesepuluh bodyguard itu gantian berjaga hingga pagi menyingsing.


__ADS_2