
Aku menarik nafas panjang sambil mengusap kasar wajahku ketika suara adzan terdengar berkumandang
Tangisku kian pecah karena itu artinya makin dekat dengan waktu ku pulang
Yuk Yana dan mbak Dian yang membereskan sisa memasak segera merangkulku erat
"Semoga umur panjang bisa mempertemukan kita kembali" isak ku
"Ayuk, aku titip umak dan bapak, tolong rawat mereka seperti mereka merawat kita dulu"
"Anak perempuan umak dan bapak cuma ayuk yang dekat, cuma ayuk yang bisa aku andalkan" tangisku kian kencang karena aku sudah membayangkan hal yang tidak-tidak
"Cari orang yang bisa ngurusi umak dengan bapak kak, gajinya ambil dari uang ku"
Kak Andri mengangguk, kulihat bapakku muncul sambil memasang senyum pada kami
"Sholat, nanti nangis lagi"
Kami semua tersenyum, terutama aku dan yuk Yana, kami yang sedang menangis terpaksa tersenyum
Adam segera berlari naik keatas dan langsung wudhu dan adzan, sedangkan yang lain termasuk aku juga ikut naik kelantai dua
Di sana aku lihat ada abang dan kedua anak kembar kami
Selesai wudhu kami semua shalat yang diimami oleh bapakku.
Selesai shalat di momen bersalaman kembali emosiku campur aduk
Aku menangis kencang ketika memeluk umakku
Entah mengapa rasanya aku sedih sekali meninggalkan umakku. Wanita yang sangat menyayangiku melebihi apapun
Begitupun ketika aku bersalaman dengan bapakku. Kembali aku menangis kencang
Bapakku mengelus-elus punggungku, dan dapat kulihat jika bapakku juga menangis
"Jaga kesehatan ya pak, aku janji apapun akan aku lakukan demi bapak"
Bapakku tak menjawab melainkan terus mengelus pundakku
"Aku sangat menyayangi bapak..." lanjut ku sambil tak hentinya menangis
Lalu aku menarik nafas dalam ketika melepas pelukanku pada bapak
Melihatku melepas pelukanku Naura mendekat dan gantian memelukku
"Kami selalu menunggu bunda di rumah ini" lirihnya
Sekuat tenaga aku menahan tangisku, tapi tak bisa. Air mataku kembali mengalir deras dan aku mendekapnya erat
Seluruh keluarga ku menangis bahkan Defne dan Serkan yang tak faham kami ngomong apa ikut menangis juga. Sedangkan abang Ozkan hanya menarik nafas dalam sambil menatap sedih kearahku
Kembali dengan suara terbata-bata aku menitipkan anak-anakku pada keluarga besar ku. Bahkan abang ikut menambahkan omonganku
"Jika Naura atau Adam ingin ketemu bunda, atau bapak dan umak beserta kakak-kakak yang lain ingin ketemu Indah, bilang saja sama saya, biar saya suruh pilot menjemput kesini"
Seluruh keluarga besar ku mengangguk.
"Atau Adam jika ingin menjadi pengusaha tinggal bilang sama papa, seluruh perusahaan papa akan menerimamu dengan senang hati"
Adam tersenyum
"In Syaa Alloh kalau sekarang aku masih ingin jadi tentara pa, tapi tidak tahu kedepannya, karena hanya Alloh yang Maha Membolak balikkan hati manusia, jika nanti aku ingin jadi pengusaha, aku akan kasih tahu papa"
Aku mengelus sayang kepala Adam yang duduk di sebelahku sambil tersenyum
__ADS_1
"Rencananya jam berapa pulangnya?" tanya bapakku
"Jam sembilan malam ini, karena kami akan mampir sebentar di Jakarta, kami ingin berpamitan pada Mikail"
Selagi kami sedang mengobrol santai muncul Nina
"Maaf semuanya, makan malamnya telah siap"
Aku menoleh kearah Nina yang masih memakai seragam klinik
"Nanti saja kita makannya, karena sebentar lagi Isya'" jawab bapakku
"Sini Nin masuk, kamu sudah shalat?" tanyaku
Nina mengangguk
"Sudah mbak, tadi shalat di bawah" sambil menjawab begitu Nina masuk dan duduk dekat Alan
"Nin, kurang lebih satu jam lagi mbak pulang, tolong jaga dan lihat rumah ya, jangan sungkan untuk menegur kedua keponakanmu"
Nina mengangguk
"Jika suatu hari nanti kamu menemukan lelaki yang tepat untuk kamu, kamu jangan trauma untuk membuka hati"
Kembali Nina mengangguk, dan kulihat dia tersenyum malu
"Jika bapakmu sakit, kamu jangan sungkan untuk pulang, kamu izin libur"
Kembali Nina mengangguk.
"Anggaplah ini juga rumah kamu, rawat dan jaga, jika kamu butuh apa-apa, bilang sama mbak, segera hubungi mbak, jangan sungkan"
Nina mengangguk dan matanya kulihat berkaca-kaca
"Mbak tidak tahu kapan mbak pulang lagi, tapi semoga kita semua umur panjang agar kita semua bisa bertemu lagi"
Kali ini bapakku meminta abang yang menjadi imam, dan abang mengimami kami shalat
Selesai shalat semua turun dan makan malam.
Selesai makan malam, ketiga ayukku dan mbak Dian langsung memasukkan semua makanan yang mereka masak tadi kedalam plastik, mengikatnya kuat dan memasukkannya kedalam kardus
Ternyata selain empek-empek, model, dan tekwan, rupanya mereka juga telah menyiapkan berbagai buah dan juga ikan kering, ikan panggang bahkan ikan beku
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku ketika kulihat tumpukan kardus berisi oleh-oleh sangat banyak
Sementara kedua kakakku memasukkan kardus yang telah mereka lakban kedalam mobil
Dan aku naik keatas untuk mandi, karena memang sejak tadi aku belum mandi
Setengah jam sebelum jam sembilan malam, aku turun dari kamar
Semua keluargaku menatap ke arahku yang berjalan menuruni tangga.
Karena memang sejak tadi mereka menungguku. Aku yang begitu selesai berganti baju tadi tak langsung turun melainkan menangis kembali di kamar
Sekuat tenaga aku menampilkan senyum pada keluarga besar ku.
Kulihat abang dan twins telah siap dan mereka mulai menyalami umak bapakku
Langkahku seketika terasa berat saat aku akan tiba di depan umak bapakku
Kulihat air mata umakku telah mengalir ketika twins mencium tangannya, terlebih ketika aku berdiri di depannya
Air mata yang sejak tadi aku tahan kembali tumpah ketika aku memeluk erat umakku
__ADS_1
"Maafkan aku mak, maafkan aku dunia akhirat" lirihku
Umakku tak menjawab, hanya tangisnya saja yang terdengar jelas olehku
Kembali tangisku pecah ketika aku memeluk bapakku lagi. Kali ini aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain terisak
Kembali emosiku campur aduk ketika aku memeluk kedua kakakku
"Kami sangat menyayangimu sat..." kata kak Angga yang makin membuat tangisku kian kencang
Kak Andri hanya memeluk dan mengusap kepalaku sambil mengusap wajahnya
Yuk Yana sama sepertiku, dia menangis kencang dan seakan tak rela melepas pelukannya
"Hati-hati di jalan dek" ucapnya terputus-putus
Dan mbak Dian juga menangis sama histerisnya seperti aku
Dipeluknya aku erat sambil sesenggukan menangis
"Sehat terus ya bunda, biar kita bisa ketemu lagi" ucapnya
Aku mengangguk dan menggenggam erat tangannya
Lalu aku memeluk Nina, kembali menitipkan ketiga anakku padanya, dan aku mencium kening Alan yang juga terlihat menangis sedih
Terakhir kedua anakku secara bersamaan memeluk erat tubuhku.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis kencang ketika dipeluk mereka
"Saling jaga dan saling sayang ya nak" ucapku ketika kami saling melepas pelukan
Kedua anakku mengangguk. Lalu keduanya menggandeng tanganku berjalan keluar dari rumah
Yang mengantarkan kami ke bandara malam ini adalah kedua kakakku, umak bapakku dan kedua anakku
Sebelum naik ke mobil, aku kembali menoleh kearah yuk Yana dan mbak Dian yang masih terus terisak
Aku melambaikan tangan kearah mereka semua, kulihat keponakan-keponakanku juga menyusut mata mereka ketika aku naik ke mobil
Kelima bodyguard naik kemobil bapakku bersama kedua kakakku. Sedangkan kami naik mobil Adam
Adam mengklakson ketika mobil akan keluar halaman. Dengan diiringi lambaian tangan dari ayuk-ayukku dan keponakanku mobil berjalan pelan
Aku terus melambaikan tangan dan melongok kan kepalaku sampai akhirnya mobil berbelok dan rumah ketiga anakku tak terlihat lagi
Aku yang duduk di sebelah umakku segera menempelkan kepalaku di pundaknya dan terus menggenggam erat tangan umakku
"Jaga kesehatan ya mak, kalau sakit jangan didiamkan, segera berobat, bapak juga, ya?"
Umak hanya mengelus tanganku mendengar ucapanku
"Doakan aku banyak-banyak ya mak"
Umakku langsung terisak dan aku yang juga sejak tadi menangis langsung memeluknya erat
"Kasih sayang umak sama kamu sepanjang masa nak, doa umak selalu menyertai langkahmu"
Aku kian mengeratkan dekapanku. Kudengar Naura yang duduk di sebelah umakku sesenggukan
Aku mengulurkan tanganku kearahnya, menggenggam tangannya dengan erat
"Terima kasih untuk semuanya bunda" lirih Naura
Aku hanya menggenggam tangannya dengan erat, tanpa menjawab karena terus terisak. Sementara mobil yang dikemudikan Adam kian mendekati bandara
__ADS_1
Dan hatiku makin terasa sakit ketika detik-detik perpisahan itu makin nyata di depan mataku