
Pak Hermawan dengan wajah lesu dan mata merah pulang kerumah, padahal beliau baru pergi sekitar satu jam yang lalu
Suara motornya grandongnya yang khusus dibawa keperkebunan yang pulang kembali kerumah mengagetkan istrinya, bu Mira
Bu Mira yang saat itu sedang berada di dapur karena sedang mencuci pakaian segera keluar demi mendengar suara motor suaminya kembali
"Kok sudah pulang pak?, kan harusnya ini jadwal panen?"
Pak Hermawan masuk kedalam rumah, terduduk lemah di kursi
"Mana Rudi dan Tina?" ujar pak Hermawan
Bu Mira yang pertanyaannya tidak dijawab suaminya segera berteriak memanggil Laras
"Laraassss"
Laras yang sedang memberi asi anak keduanya tidak menyahut
"Laraaaaassss!" kembali bu Mira berteriak
Wajah pak Hermawan berubah marah melihat istrinya yang terus berteriak
"Kesana, jangan teriak disini!" bentaknya
Bu Mira menoleh kaget mendengar suaminya membentak
Dengan wajah kesal, dia bangkit lalu berjalan menuju kamar Laras
"Mana suami kamu?" tanya bu Mira ketus begitu masuk kedalam kamar
Laras memberi kode menutup mulut menggunakan jari telunjuknya karena saat itu anak keduanya tidur
"Kemana Rudi?" ulang bu Mira dengan kesal
Laras segera membenahi dasternya lalu mengajak ibunya keluar dari dalam kamar
"Kemana Rudi, Ras?" tanya pak Hermawan saat Laras dan istrinya muncul
"Kemarin dia ngomong mau ketempat adiknya yang di Linggau pak, kangen katanya" jawab Laras sambil duduk di kursi
Pak Hermawan tersenyum kaku mendengar jawaban Laras
"Tina sudah berapa hari pergi dari rumah?" tanyanya
Laras dan ibunya saling toleh. Perasaan tak enak mulai menjalari hati Laras
"Ada apa sebenarnya pak?" tanya Laras dengan suara bergetar
"Rudi dan Tina menjual kebun sawit kita tiga paket dengan pak kades desa sebelah" jawab Pak Hermawan emosi
Bagai petir menyambar di depan wajah mereka, Laras dan ibunya langsung ternganga kaget.
Airmata keduanya tidak bisa dibendung lagi. Tubuh Laras langsung terasa lemas, dadanya turun naik karena sakit dan kaget yang berbarengan
Sementara bu Mira terdiam, hanya airmatanya yang mengalir deras. Kini mereka hanya memiliki lima paket kebun sawit lagi, makin hancur hatinya karena yang tiga paket dijual oleh kedua menantunya
"Bagaimana ini bisa terjadi pak?, bapak tahu dari mana jika mas Rudi yang menjual?" tanya Laras sambil terisak
"Pak kades yang akan menjelaskan karena sebentar lagi beliau sampai kerumah kita"
Disaat mereka bertiga larut dalam kesedihan dan kebingungan dengan yang terjadi, pak Kades desa sebelah sampai dengan beberapa anak buahnya yang mengurus kebun
Setelah turun dari dalam mobil dan mengucap salam, mereka masuk kedalam rumah pak Hermawan
"Bagaimana ceritanya pak, kok bisa kebun sawit kami jadi milik bapak?" tanya bu Mira dengan nada kesal
"Satu minggu yang lalu menantu ibu, Mas Rudi, datang kerumah kami dengan membawa sertifikat kebun kepada saya. Beliau bilang, bahwa pak Hermawanlah yang menyuruh beliau menawarkan kebun kepada saya"
Laras menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika suaminya berbuat demikian
"Apa buktinya jika suami saya yang kerumah bapak?" ucapnya
Pak Kades langsung mengeluarkan sertifikat kebun yang ada dalam tasnya. Setelah itu ditunjukkannya kepada pak Hermawan
Lemas seketika tubuh bu Mira setelah melihat sertifikat kebun tersebut.
Ternyata Rudi mencuri sertifikat tersebut dari dalam lemarinya. Laras kembali terisak, lagi-lagi dia tidak menyangka, jika suaminya akan melakukan hal begitu
"Saat itu dia datang berdua dengan menantu ibu yang seksi itu" lanjut pak Kades
"Tina" desis Laras geram
__ADS_1
"Saat itu sebenarnya beliau menawarkan lima paket pada saya, tapi karena uang saya kurang, saya hanya membeli tiga" lanjut pak kades
"Kalau bapak ibu tidak percaya, bapak ibu bisa bertanya langsung dengan mas Rudi"
"Orangnya tidak ada di rumah pak, kemarin dia pergi ke Linggau, dia bilang ingin mengunjungi adiknya" jawab Laras serak
Rombongan pak kades yang mendengar jawaban Laras saling toleh
"Coba ditelpon keluarganya di Linggau mbak, saya khawatir mas Rudi tidak kesana" jawab pak kades
Laras segera mengambil handphone lalu mendial nomor adik iparnya.
Tersambung
"Mas Rudi ada di sana?" tanya Laras begitu adik iparnya menjawab salamnya
"Nggak ada mbak, sudah lama mas Rudi tidak kesini" jawab adik ipar Laras
Laras terduduk lemas di lantai. Handphone ditangannya jatuh tak terasa
"Tina dan Rudi sudah bersekongkol menipu kita, jangan-jangan ini sudah mereka rencanakan jauh hari" ucap pak Hermawan geram
Laras makin terisak. Diingatnya sikap Rudi tidak berubah padanya. Jadi tidak mungkin jika suaminya bermain api dengan Tina
"Saya bisa mengembalikan kebun bapak, asal bapak bisa mengembalikan uang saya" ucap pak kades lagi setelah mereka lama diam
Pak Hermawan menarik nafas dalam mendengar ucapan pak kades
"Berapa mereka menjual sama bapak?" tanyanya lesu
"Lima puluh juta"
Dada bu Mira kian sesak, pandangannya memudar dan akhirnya tubuhnya ambruk. Teriakan khawatir orang yang ada di ruangan tidak didengarnya lagi.
...****************...
"Tidak mungkin Tina melakukan ini buk" jawab Andi sambil mengusap kasar rambutnya.
"Itulah kenyataannya. Istri kamu dan Rudi menjual kebun sawit kita, mereka maling!" jawab bu Mira gusar
Andi mengusap wajahnya berkali-kali
"Tidak mungkin buk, tidak mungkin!" ucapnya tak percaya
"Apa bapak dan ibu sudah menemui keluarga mas Rudi?, menanyakan dimana keberadaan mereka?"
"Keluarganya tidak tahu dimana Rudi. Dan Tina, kami mau mencari dia kemana, keluarganya saja kami tidak kenal, kan kamu sendiri bilang dia merantau disini dan tidak punya keluarga lagi"
Andi menarik nafas dalam. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di dadanya. Dia tidak menyangka jika Tina akan menipu keluarganya dan parahnya lagi berdua dengan suami kakaknya sendiri.
"Cari Tina disini" ucap Andi sambil menyebutkan satu alamat
"Itu dulu kontrakannya, dan kalau tidak cari disini" lanjut Andi menyebutkan sebuah kantor bekas Tina bekerja dulu
Tak ingin membuang waktu, pak Hermawan dan keluarga langsung meninggalkan lapas dan segera meluncur kekontrakan lama Tina
Setelah mencari kesana kemari dan bertanya sana sini, akhirnya mereka sampai disebuah rumah bercat oranye yang disebutkan orang yang mereka tanyai sesuai dengan petunjuk Andi tadi.
"Saya sudah hampir empat tahun mengontrak disini" jawab penghuni rumah yang mereka datangi
"Apa ibu tidak mengenal Tina?" tanya bu Mira
Wanita muda itu menggeleng
"Kenapa May?" tanya seorang ibu-ibu yang kebetulan lewat
"Ini bu, bapak dan ibu ini menanyakan Tina"
Ibu itu langsung mendekat
"Bapak dan ibu ada perlu apa menanyakan perempuan jal**ng itu?"
Wajah pak Hermawan kaget, begitu juga dengan bu Mira dan Laras
"Maksud ibu apa?" tanya Bu Mira
Ibu-ibu itu terkekeh
"Dia itu perempuan panggilan, kami warga disini sangat bersyukur dia pergi dari sini"
Bu Mira menutup mulutnya dengan tangan mendengar jawaban perempuan paruh baya tersebut
__ADS_1
"Dulu dia sering bawa laki orang kesini, bahkan dulu pernah mau kami grebek, tapi tidak jadi karena istri sah lelaki itu tidak ingin mempermalukan suaminya. Padahal saat itu kami sangat marah. Tapi kami heran, kok ada istri yang kuat melihat suaminya tidur dengan selingkuhannya"
Indah! batin bu Mira dan Laras
Mereka saling toleh
"Saat itu kami sudah bersama pak RT mau menggerebek mereka, tapi saat itu istri sahnya datang, dan dia memohon pada kami agar kami tidak menggerebek mereka, dan dia akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Saat itu walau emosi, kami menurut saja"
"Terus kabarnya mereka menikah, entah bagaimana nasib istri sahnya itu. Kasihan perempuan itu. Saya doakan dia lepas dari lelaki durjana dan jahat macam suaminya itu. Dan dia dapat lelaki yang jauh lebih baik"
Wajah bu Mira terkesiap.
"Ngomong-ngomong mengapa bapak ibu mencari dia, dia sudah lama tidak disini"
Bu Mira tersenyum kecut
"Oh, kami keluarganya dari Jambi" bohong bu Mira
"Ohhh keluarganya toh, tolong bu dibilangin si Tina itu, segera taubat karena dunia semakin tua"
Bu Mira mengangguk dengan tak enak hati. Setelah mendengar jawaban dan penjelasan panjang lebar bagaimana Tina yang dahulu, mereka segera meninggalkan kontrakan itu lalu menuju tujuan akhir mereka, bekas kantor Tina
Tak butuh waktu lama, karena tempatnya di pinggir jalan besar dan juga tak jauh dari kontrakan tadi, akhirnya mereka sampai disebuah bangunan besar sebuah perusahaan cabang ro***k"
Laras turun, anaknya yang baru berumur setahun dititipkannya pada ibunya.
Laras segera mendekati segerombolan SPG yang berpakaian minim.
Awalnya mereka cuek melihat Laras mendekati mereka, tapi akhirnya satu diantara mereka mendekati Laras karena celingukan sendiri
"Mbak mencari siapa?" tanya perempuan cantik berambut sedikit pirang pada Laras
Dengan canggung Laras tersenyum kearahnya
"Mbak kenal Tina?"
Kening perempuan itu langsung berkerut dan menatap penuh selidik pada Laras
"Ada apa mbak mencari Tina. Apa suami mbak kabur sama dia?"
Dada Laras makin berdegup kencang
"Oh, tidak, saya keluarganya dari Jambi. Kami sudah berkeliling mencari dia, sampai akhirnya kami dapat informasi jika dia bekerja di sini" bohong Laras
Perempuan itu masih memandang tak percaya dan penuh selidik kearah Laras
"Kenapa, woy?" ucap perempuan lain yang melihat temannya seperti penuh selidik menatap Laras
"Ini, mbak ini nyari Tina" jawabnya
Perempuan yang lain saling pandang
"Hah, berulah lagi perempuan itu. Saya yakin mbak ini mencari Tina karena lakinya kabur dengan Tina" jawab salah satu dari mereka dengan acuh
"Kemarin sih ada dia nginep tiga malam tempat saya, tapi dua hari yang lewat dia dijemput sama laki-laki agak berisi sih, katanya itu suami dia"
Tubuh Laras goyah hampir jatuh mendengar jawaban perempuan itu. Perempuan yang menjawab tadi segera berdiri dan mendekati Laras yang sedang dipegangi oleh temannya
"Mbak istri laki-laki itu?" tanyanya pelan tak enak hati
Laras duduk terdiam
"Laki-lakinya seperti apa?" tanya Laras lirih
Perempuan-perempuan disana saling pandang
"Ehm, agak berisi, agak hitam, rambutnya ikal, dan kalau aku nggak salah dengar saat itu Tina memanggilnya dengan sebutan mas Rudi, iya mas Rudi"
Remuk jantung Laras mendengar jawaban perempuan itu. Airmatanya jatuh tak tertahankan.
Mereka yang melihat Laras menangis saling sikut dan menyalahkan perempuan tadi mengapa berkata terlalu jujur
"Mbak dengar mereka mau kemana?" tanya Laras pilu
Perempuan tadi menggeleng
"Mereka berdua segera pamit sama saya, dan saya juga tidak menanyakan mereka mau kemana karena mereka bilang, mereka suami istri"
Laras dengan sedih segera mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan tempat itu.
Tubuhnya serasa melayang saat berlari kearah mobil yang menunggunya, airmatanya jatuh berhamburan dan hatinya sangat sakit bagai teriris sembilu.
__ADS_1
Remuk redam hatinya mengetahui kenyataan jika suaminya dan Tina kabur berdua