
"Kak, besok pakaian bulek yang di rumah kakak sama di rumah mbah bawa ke rumah tante ya, bulek mulai sekarang tinggal sama adek Ula, biar adek Ula sama adek Adam ada temannya kalau tante pulang ke Jeddah"
"Baik te"
Aku menoleh pada Nina yang masih terisak
"Sudah, kamu nangisin apa Nin?"
"Mbak yang bukan saudara ipar saya lagi tapi tetap baik sama saya, tapi mengapa saudara kandung saya sendiri malah jahat sama saya mbak..."
Aku tersenyum kecut
"Mbak pernah ada di posisi kamu Nin, yang tidak pernah merasakan tidak akan faham dan yang tidak pernah mengalami tidak akan mengerti"
"Mbak tahu bagaimana rasa sakitnya kamu"
Mbak Ningsih menarik nafas panjang mendengar jawaban Indah
"Ya sudah, istirahatlah. Mbak sama Nina di kamar lantai dua, sebelah kamarku. Dimas sama istrinya di kamar sebelahnya lagi. Anak-anak Nina sepertinya sama Adam, soalnya sejak tadi mereka nggak turun-turun"
Mbak Ningsih tersenyum.
"Mas tidur dimana Ndah?"
"Oh iya lupa kalau ada mas Indra" jawabku sambil tertawa
"Mas di kamar tamu saja ya.."
Mas Indra sambil tertawa mengangguk. Jadilah kami semua naik ke kamar kami masing-masing.
Kamar Mikail aku biarkan kosong, bukan tidak boleh ditempati tapi itu memang kamar Mikail, entahlah rasanya aku tak mau ada orang lain yang tidur di sana, aku ingin saat dia pulang entah tahun berapa, kamarnya tetap baru dan terawat
...****************...
"Sok-sok an mau ngajak Nina tinggal di rumahnya, paling nanti di sana Nina dijadiin babu"
Dimas yang sedang memasukkan seluruh pakaian Nina kedalam kardus tak memperdulikan ocehan Laras
"Bawa semua jangan ada yang tersisa"
Dimas dengan kesal menoleh pada Laras
"Bulek bisa diam tidak, dari tadi ngoceh saja"
Laras mencibir
"Mbah, apa mbah tidak mau menengok anak bulek?, baru sekali loh mbah ketemu mereka"
Pak Hermawan dan bu Mira saling pandang dan kompak menggeleng
"Mbah sama bulek Laras sama iya nya. Sama-sama nggak punya hati. Mbah, bulek itu anaknya mbah, Adit dan Alan itu juga cucu mbah, masa mbah malah biarkan mereka tinggal dengan tante"
"Harusnya kalau mbah itu ada rasa malu, malu mbah sama tante. Dulu kalian sangat jahat sama Tante, lihat balasan tante, tante malah yang menolong bulek, jika bukan tante, aku nggak tahu bulek bisa sembuh atau tidak"
"Kamu lama-lama gabung dengan Indah dan anak-anaknya ikut jadi pembangkang, ya?"
__ADS_1
Dimas tersenyum menyeringai mendengar ucapan bu Mira, lalu setelah selesai dia memasukkan semua kardus pakaian Nina kedalam mobil dan segera melajukan mobil meninggalkan Mbah nya dan Laras yang wajahnya masam
_Sedangkan di istana ketiga anak Indah
Nina yang resmi tinggal di rumah Indah, sekarang sedang menyusun seluruh pakaiannya yang tadi dibawa Dimas
Lemari besar yang memang sudah disediakan di kamar tersebut tinggal diisi saja olehnya dengan pakaiannya dan juga pakaian kedua anaknya.
Ningsih yang ikut membantu Nina tak hentinya menyusut air mata.
"Mbak jangan nangis, kalau mbak kangen sama aku, tinggal naik motor kan bisa"
"Mbak itu selain sedih karena nggak jaga kamu lagi, juga mbak malu sama Indah"
Aku yang baru tiba di depan kamar tersenyum mendengar ucapan mbak Ningsih
"Malu kenapa mbak?, mbak kan nggak maling"
Mbak Ningsih dan Nina menoleh pada Indah yang tersenyum kearah mereka
Lalu aku duduk didekat mereka
"Terlepas dari aku bukan lagi ipar kalian adalah aku masih kalian anggap saudara kan?"
Keduanya mengangguk cepat
"Nah, kalau begitu sudah sewajarnya kan kalau aku bantu saudaraku sendiri?"
Mbak Ningsih dan Nina lalu memelukku, keduanya meneteskan air mata
...****************...
Aku sudah memberitahu abang jika aku akan terbang ke Malaka. Dan seperti biasa, abang telah menyuruh pak Abraham cs untuk menjaga dan melindungi aku dan Naura selama kami di Malaka
Ketika tiba di Malaka, kami tak langsung menemui Akmar, selain karena kami tidak tahu dimana dia tinggal juga karena aku dan Naura ingin menikmati sensasi menginap anti mainstream di Masbro Village Homestay.
Barulah besoknya, dua buah mobil menjemput kami atas perintah dari Papanya Akmar
Aku dan Naura masuk kedalam gedung tempat Akmar diwisuda dengan diantar langsung oleh orang yang menjemput kami tadi
Sementara cuma pak Abraham yang boleh masuk, bodyguard yang lain menunggu di luar
Aku yang untuk kedua kalinya bertemu dengan Mamanya Akmar, saling cipika cipiki, begitupun ketika Naura mencium punggung tangannya
Papanya Akmar masih seperti yang dulu, berwibawa dan pendiam, mungkin karena yang dihadapinya adalah perempuan.
Selesai acara wisuda, secara khusus aku memberikan hadiah untuk Akmar, sebagai balas jasa karena dia kemarin telah memberikan Naura dua buah buket
Senyum bahagia terus mengembang di bibir Akmar saat melihat Naura duduk di sebelah mamanya.
"Semoga jalan kita untuk taaruf bisa terlaksana Ra" batinnya
Selesai acara wisuda dan selesai acara sesi foto, kami diajak oleh keluarga Akmar jalan-jalan di kota Malaka.
Kota cantik yang merupakan bagian dari Malaysia yang pada tahun 2008 ditetapkan oleh UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia
__ADS_1
Barulah sorenya kami kembali lagi ke penginapan kami.
Sebelum pergi kembali papanya Akmar bertanya tentang kesiapan Naura untuk diajak taaruf oleh Akmar
Kembali Naura tak bisa menjawab, tapi bedanya kali ini dia tersenyum, berbeda dengan empat tahun yang lalu, menangis
"Kami akan kembali ke Pekanbaru besok, biarkan ini menjadi urusan anak kita, kita sebagai orang tua hanya mengarahkan dan mendukung" ucap papanya Akmar karena Naura hanya tersenyum
"Saya setuju dengan apa yang bapak katakan" jawabku
Lalu mereka berpamitan. Naura mengantarkan sampai pintu mobil. Saat Akmar akan naik, Naura berkata
"Kita sama-sama istikharah, ya?"
Akmar mengangguk sambil tersenyum manis
...****************...
Rumahku jadi ramai sekarang karena ada Nina dan dua anaknya. Kemarin waktu kami mengecek klinik yang hampir selesai ada banyak surat lamaran yang masuk
Aku yang memang selain membuka khusus ibu dan bayi juga membuka tempat dokter anak dan dokter umum praktik
Surat lamaran dan surat kerja sama yang masuk aku bawa pulang, bersama Nina yang dulu kuliah di bagian administrasi perkantoran aku bertukar pendapat. Selain itu aku juga melibatkan abang melalui video call. Karena untuk urusan kepegawaian abang adalah pakarnya, karena abang sudah puluhan tahun bekerja dengan ribuan pegawai
Untuk rekam jejak dan keabsahan surat kesehatan dan kelakuan baik aku meminta kak Andri. Karena itu adalah bidangnya.
Ada begitu banyak surat lamaran yang masuk. Karena aku memang membuka lowongan untuk tenaga kesehatan, perawat, bidan, dokter anak dan juga dokter umum serta security.
Nina telah aku dapuk untuk menjadi kepala administrasi, karena dia menguasai bidang tersebut. Untuk bidan aku memilih bidan yang telah berpengalaman. Bahkan Naura saja belum aku suruh terjun langsung, masih aku suruh jadi asisten dulu. Baru nanti setelah dia banyak pengalaman membantu bidan senior, baru dia boleh mandiri
Selagi aku dan Nina sibuk mengurusi surat lamaran kerja, di trans terjadi mala petaka
Bu Mira ambruk ketika dia akan naik kelantai atas. Kepalanya yang tiba-tiba sakit tak bisa dia tahan sehingga akhirnya dia ambruk
Naasnya saat kejadian sedang tak ada orang di rumah. Pak Hermawan dan Andi sedang bekerja di perkebunan, sedangkan Laras dan keempat anaknya sedang pergi.
Rafa yang baru pulang main melihat mbahnya tak sadarkan diri di lantai berteriak panik.
Karena tak ada yang datang menolong, akhirnya Rafa berlari ke rumah mbak Ningsih
"Bukde, mbah bukde"
Mbak Ningsih yang baru selesai makan siang dan sedang rebahan langsung berlari kearah rumah ibunya
Dengan panik dia segera meminta Raffa menelpon Dimas agar Dimas pulang dan membawa mbahnya ke rumah sakit
Sepuluh menit berikutnya rumah bu Mira telah ramai. Laras dan Ningsih tampak menangis karena ibu mereka masih belum juga sadar
Dengan ngebut Dimas membawa mbahnya keluar dari desa.
"Ibuk yang kuat ya buk..." ratap Laras sambil bercucuran air mata.
Dua jam berikutnya, mobil yang dikendarai Dimas masuk ke area rumah sakit. Masih diliputi panik Dimas berlari kearah IGD, dan keluar lagi dengan beberapa perawat yang mendorong brankar
Secepat kilat bu Mira dimasukkan kedalam ruang IGD dan tak lama telah berpindah keruang perawatan sesaat setelah dia sadar
__ADS_1
Sorenya dokter segera kembali melakukan CT SCAN dan dari hasilnya diketahui jika tumor di kepala bu Mira telah berubah menjadi stadium tiga dan telah berubah menjadi kanker otak
Seluruh keluarga terhenyak mendengar keterangan dokter yang menyatakan jika penyakit bu Mira makin parah