
Didalam telah ada panitera dan beberapa pengacara. Aku sama sekali tidak membawa pengacara, karena semuanya aku serahkan kepengadilan.
Aku segera duduk di kursi yang ada di dalam ruangan. Tak lama Andi masuk beserta lawyer dan keluarganya dan mereka duduk tak jauh dariku.
Setelah kami duduk, seorang Panitera bersuara
"Majelis hakim memasuki ruang sidang, para hadirin dimohon untuk berdiri dan para pihak dimohon memasuki ruang persidangan"
Lalu kami semua berdiri dan pak hakim masuk. Setelah hakim duduk, beliau memulai persidangan dengan membaca basmallah lalu menyebutkan nama kami berdua dan mengetok palu tiga kali.
Wajahku tegang. Berkali-kali aku menelan ludahku, dan menarik nafas dalam.
Setelah itu petugas khusus menyebut nama Andi beserta kuasa hukumnya dan menyebut namaku saja. Lalu beliau bertanya padaku.
"Apakah saudari tidak memakai lawyer?"
Aku menggeleng.
"Semua aku serahkan ke pengadilan pak" jawabku
Terdengar Andi tertawa mengejek.
Lalu Andi berjalan dengan lawyernya ketempat yang telah disediakan, lalu mereka duduk. Begitupun aku, aku berjalan sendiri dan juga duduk berhadap-hadapan dengan Andi dan lawyernya.
Setelah itu hakim menanyakan kabar Andi dan menanyakan apakah benar dia yang membuat surat gugatan ini. Andi menjawab jika surat itu dibuat olehnya dan kuasa hukumnya.
Setelah itu hakim ketua menanyakan identitas Andi, dan Andi menyebutkan identitasnya dengan suara lantang. Tampak sekali rasa percaya dirinya.
Lalu sekarang giliran pak hakim meminta kuasa hukum Andi untuk menyebutkan identitasnya. Dari yang aku dengar, beliau bernama Jaya Kusuma,SH berumur 45 tahun dan beralamat di Lubuklinggau. Setelah itu beliau menyerahkan kartu identitas dan surat kuasa kepada bapak hakim.
Setelah itu hakim memeriksa tanda pengenal dan surat kuasa, dan menyuruh Andi dan kuasa hukumnya untuk kembali ke belakang dulu.
Lalu hakim menatap kearahku, beliau menanyakan identitasku dan aku menyebutkan semua identitasku secara lengkap dengan suara jelas.
"Jadi benar anda tidak memakai lawyer? tanya pak hakim
"Iya pak hakim, benar" jawabku
"Tunggu pak hakim!!!" teriak sebuah suara dengan lantang.
Aku dan semua yang ada dalam ruang persidangan menoleh kearah pintu. Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian necis masuk kedalam ruang sidang dengan berjalan tergesa.
Seluruh mata memandang tak berkedip, termasuk aku.
"Saya kuasa hukumnya pak hakim, maaf saya terlambat" ucapnya sambil segera berjalan kearahku
Aku menelan ludah dan mulutku ternganga begitu beliau sudah berdiri di depanku.
Ini benar-benar diluar dugaanku. Karena aku sama sekali tidak menggunakan pengacara dan tidak mengenal beliau sama sekali, tetapi wajah pengacara tersebut sangat tidak asing di mataku.
Beliau menoleh kearahku sambil tersenyum, lalu beliau menepuk pundakku hingga aku tersadar jika ini bukanlah mimpi, tapi kenyataan.
Aku berjalan bersama seorang lelaki paruh baya yang wajahnya sering aku lihat di tivi. Mataku tak berkedip dan aku rasa tidak percaya dengan penglihatanku. Lalu kami duduk ditempat yang telah disediakan.
Dapat aku lihat jika wajah hakim, pengacara, panitera, kuasa hukum dan Andi serta yang ada didalam ruang sidang ini juga sama kagetnya denganku.
Setelah Andi dan kuasa hukumnya duduk, pak hakim menanyakan kabarku dan menanyakan apakah aku tahu mengapa aku kesini.
"Saya tahu pak hakim, karena saya digugat cerai oleh suami saya" jawabku
Setelah itu beliau meminta hal yang sama seperti yang tadi Andi lakukan. Aku dan kuasa hukum yang baru bertemu hari ini sama-sama memperkenalkan diri kami masing-masing.
"Nama saya Hotlan Zaris, Sh,MH. Umur saya 50 tahun alamat saya di Jakarta, dan saya adalah kuasa hukum dari mbak Indah, ini surat kuasa saya" ucapnya sambil menyerahkan kartu identitas dan surat kuasa kepada bapak hakim.
Tampak bapak hakim memeriksa kartu identitas dan surat kuasa yang diberikan oleh pak Hotlan tadi.
Tampak seluruh yang hadir diam ketika pak Hotlan memperkenalkan dirinya.
Setelah bapak hakim selesai memeriksa kartu identitas dan surat kuasa kami, aku dan pak Hotlan kembali ketempat duduk kami.
__ADS_1
Selanjutnya kembali panitera meminta aku dan Andi untuk maju dan duduk di kursi di depan pak hakim. Kami lalu berdiri dan berjalan kearah kursi yang telah tersedia dan duduk bersebelahan.
"Saudara tergugat, apakah anda tahu tujuan mengapa anda di panggil kesini?"
"Tahu pak hakim, karena suami saya menggugat saya"
"Apakah benar bahwa saudara Andi adalah suami anda?"
"Benar bapak hakim"
"Saudara Andi, apakah yang dikatakan saudari tergugat benar, jika anda adalah suaminya?
"Benar bapak hakim"
"Baiklah saudara penggugat dan saudari tergugat, Anda datang berdua kesini berdasarkan surat panggilan yang kami kirimkan beberapa hari yang lalu, dan panggilan tersebut dinyatakan resmi dan patut"
"Hari ini adalah sidang pertama atas perkara sidang cerai talak antara saudara Andi Wijaya bin Hermawan sebagai penggugat dengan saudari Indah Yuliani sebagai tergugat. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka kami berkewajiban memberikan nasehat kepada saudara berdua bahwa perceraian itu tidak baik, mengapa? karena dengan bercerai berarti ikatan suci yang selama ini terjalin dalam sebuah keluarga akan hancur"
Aku menarik nafas dalam mendengar bapak hakim menasehati kami.
"Apa yang dicita-citakan selama ini akan lenyap ibarat mimpi semu. Alangkah lebih baik jika segala permasalahan yang timbul dalam keluarga diselesaikan secara kekeluargaan.
Aku dan Andi sama-sama menarik nafas dalam.
"Oleh sebab itu, berdamailah. Karena Alloh SWT akan melimpahkan rahmat dan kasih sayangNya jika kita mau berdamai dan saling memaafkan satu sama lain"
Aku dan Andi saling lirik, kemudian kami sama-sama membuang muka dan kembali menatap bapak hakim.
"Silahkan hakim anggota untuk melakukan perdamaian kepada para pihak"
Lalu seorang hakim anggota mulai menasehati kami dengan mengatakan bahwa usia perkawinan kami yang sudah cukup lama, yakni tujuh tahun, sudah banyak kenangan manis asam yang kami kecap berdua dan beliau juga mengatakan jika ikatan suami istri itu merupakan ikatan suci yang sangat disayangkan jika berakhir dengan perceraian.
Lalu hakim anggota kedua juga memberikan tentang dampak buruk akibat perceraian ini bagi kami berdua dan mengharapkan agar kami mengurungkan niat kami dan meminta untuk kami kembali bersatu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
Aku hanya bisa diam berusaha menahan airmata yang mau jatuh. Tapi aku harus kuat, aku tidak ingin Andi makin meremehkanku.
Memang aku sedih dengan perceraian ini, tapi aku tahu bahwa ini adalah jalan terbaik untukku. Karena untuk apa aku hidup dengan orang yang tidak mencintai dan menyayangi keluarganya. Apalagi jika orang itu hanya memandang fisik dan syahwat semata.
Aku bergeming. Semua nasehat para hakim dan hakim anggota aku dengarkan dengan seksama, tapi hal itu tidak menyurutkan langkahku untuk bercerai secara sah negara dengan Andi.
Begitupun dengan Andi, dia cuma diam saja tanpa reaksi. Karena saat ini yang diinginkannya adalah berpisah dengan Indah.
"Baiklah saudara penggugat dan tergugat, semoga arahan dan nasehat yang kami berikan kepada saudara berdua tadi menciptakan perdamaian dan kerukunan, serta dapat menggugah hati saudara untuk mengurungkan niat perceraian ini. Bagaimana saudara penggugat?" tanya bapak hakim
"Tidak bapak hakim. Saya sudah berfikir matang-matang dan saya tetap pada gugatan yang telah saya ajukan tersebut. Saya sudah tidak mencintai istri saya dan saya sudah tidak sanggup hidup bersamanya" jawab Andi
Aku tersenyum samar mendengar jawabannya.
"Bagaimana saudari tergugat?" tanya pak hakim padaku
"Saya juga sama pak hakim. Saya juga tidak mau lagi hidup bersama dia, dan saya juga tidak mencintai dia lagi" jawabku
"Saya tanya sekali lagi kepada penggugat, apakah anda tidak mau mempertimbangkannya kembali?" tanya pak hakim lagi pada Andi
"Tidak bapak hakim, tidak ada gunanya saya mempertahankan rumah tangga kami lagi. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk kembali rukun dan menerima apa adanya istri saya, tapi saya tetap tidak bisa bapak hakim" jawab Andi
"Apakah anda sudah mencobanya?" tanya hakim anggota
"Sudah bapak hakim akan tetapi saya tidak menemukan titik terang, yang ada hanya kegagalan dalam membina rumah tangga" jawab Andi lagi
Tampak hakim ketua berbisik-bisik dengan hakim anggota. Aku hanya memperhatikan gerak gerik mereka, sedangkan Andi juga melakukan hal yang sama. Dia bersikap tenang dan santai.
"Baiklah, saudara penggugat dan saudari tergugat, tampaknya mediasi kita hari ini belum berhasil, namun tentu harapan kita perdamaian adalah jalan keluar terbaik. Untuk itu majelis masih memberikan kesempatan kepada saudara penggugat dan saudari tergugat untuk menyelesaikan masalah rumah tangga ini secara proses mediasi diluar persidangan ini. Baiklah sidang kita tunda sampai minggu depan, dengan agenda mendengarkan hasil mediasi, saudari Panitera, minggu depan tanggal berapa?" tanya bapak hakim
"Tanggal 17 Mei 2007 yang mulia"
"Baiklah, sidang ditunda sampai 10 Mei 2007, kepada penggugat dan tergugat dimohon kehadirannya pada tanggal yang telah ditetapkan tanpa surat panggilan. Baiklah sidang cerai talak, kita tutup dengan mengucap bismillahirrahmanirrahiim" lalu hakim mengetok palu tiga kali.
Aku segera berdiri dari kursi lalu berjalan kearah pak Hotlan, menyalami beliau yang tampak tersenyum ramah padaku.
__ADS_1
Kemudian kami berjalan meninggalkan ruang sidang, melihat kami yang berjalan hendak keluar, pak Abraham yang sedari tadi ada di dalam ruang sidang segera menghampiri kami. Beliau langsung berjabat tangan hangat dengan pak Hotlan dan juga menyalamiku. Lalu kami bertiga segera keluar ruangan.
Tanpa disangka, ternyata di luar ruang sidang telah menunggu beberapa wartawan surat kabar lokal. Begitu melihat kami keluar mereka langsung mengerubungi kami. Aku yang kaget dengan ini menjadi khawatir. Tapi beruntunglah pak Abraham langsung pasang badan ketika para wartawan itu hendak maju kearahku.
"Beri jalan, kami mau pulang" ucapnya dengan suara khasnya yang berat.
"Sebentar saja pak, kami mau mewawancari lawyer kondang tanah air yang tiba-tiba datang ke daerah kami" ucap salah satu dari mereka
Pak Hotlan memegang pundak besar pak Abraham. Pak Abraham menoleh dan menyingkir dari hadapanku.
Secara berebutan enam orang wartawan itu mulai menanyai pak Hotlan
"Bagaimana bapak bisa kesini?"
"Apa hubungan bapak dengan mbak Indah ini?"
"Bukankah bapak terkenal dengan lawyer 3M, dan lawyernya para selebritis, apakah bapak juga mendapatkan bayaran fantastis?"
Dengan santai sembari tersenyum pak Hotlan menjawab setiap pertanyaan para wartawan itu
"Saya datang kesini karena saya mendengar ada seorang wanita yang butuh bantuan saya, dan saya tidak meminta sepeserpun bayaran pada Indah. Catat sekali lagi ya, saya tidak meminta bayaran sepeserpun dari beliau. Ini orangnya ada di samping saya, anda bisa tanyakan langsung dengan beliau, dan mengenai apa hubungan saya dengan klien saya ini adalah karena klien saya ini adalah saudara saya" jawabnya
Aku gugup dan tampak kikuk saat para wartawan terus mendesak dan mendengar jawaban pak Hotlan.
"Tolong ya, beri saya waktu untuk mengobrol lima menit saja dengan Mbak Indah. Karena setelah ini saya harus kembali lagi ke Jakarta, ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan" sambung beliau lagi
Para wartawan itu menurut dan mereka menjauhi kami setelah tadi mengambil beberapa foto kami.
"Saya harus kembali ke Jakarta. Sampai ketemu lagi minggu depan" ucapnya
Airmata mengambang di mataku. Aku hampir tak bisa berkata apa-apa. Pak Hotlan tersenyum ramah dan menepuk pundakku.
"Saya akan bela kamu sampai kasus ini selesai" ucapnya
"Terima kasih banyak pak" jawabku tersekat. Lalu meluncurlah air mataku.
Segera aku menghapusnya dengan ujung bajuku.
"Bapak kesini karena disuruh abang kan?" tanyaku lirih
"Abang? abang siapa?" tanyanya sambil tersenyum
"Saya yakin, tidak mungkin bapak kesini jika bukan abang yang meminta. Seperti yang wartawan tadi bilang saya bukanlah selebritis sehingga bapak bisa mengenal dan tahu keadaan saya, dan saya juga bukanlah orang kaya seperti klien-klien bapak yang lain" jawabku
"Ariadi itu sahabat saya. Masa ketika sahabat saya meminta tolong saya tidak mau membantunya?" ucap beliau bertanya balik
Aku tersenyum sambil menarik nafas lega.
"Sampai ketemu minggu depan" ucap beliau sambil mengulurkan tangannya dan aku segera menyambut tangan itu.
Lalu beliau berjalan meninggalkan pengadilan dengan enam orang pengawal.
Aku masih tertegun menatap beliau yang kian jauh. Sampai akhirnya pak Abraham mengajakku untukku meninggalkan tempat itu.
Kami segera berjalan keluar, sesampai di parkiran aku masih melihat Andi dan keluarganya. Aku menoleh pada pak Abraham
"Saya mau menemui mereka sebentar pak" ucapku
Pak Abraham mengangguk dan beliau menunggu di dekat motorku masih dengan sikap siaganya.
Wajah Andi dan keluarganya yang melihat aku menghampiri mereka berubah kaku. Terlebih ibunya, beliau sampai membuang mukanya.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini" ucapku sambil melepas cincin di jari manisku lalu meletakkannya di atas sebuah motor yang tepat berada di sebelah Andi.
"Terima kasih karena telah meminjamkannya padaku" lanjutku.
Mereka semua diam melihat aku yang melepaskan cincin kawinku.
Lalu aku melangkah meninggalkan mereka. Baru beberapa langkah, aku berhenti dan membalikkan badanku
__ADS_1
"Aku menelpon kamu kemarin hanya ingin memberitahu jika Naura diopname, dan dia terus mengigau memanggil ayahnya" ucapku kearah Andi, lalu aku kembali memutar badan berjalan meninggalkan mereka.
Aku segera menuju motorku, menghidupkannya dan menjalankannya dengan perlahan dengan diiringi oleh pak Abraham yang mengendarai mobil tepat di belakangku