
Tanggal 2 April 2022
Aku terjaga sebelum pukul tiga. Alarm di hp memang aku setting kurang lima menit dari pukul 03.00 pagi.
Aku yang tidur di kamar Naura segera menyibakkan selimut, keluar dari kamarnya, berjalan menuruni tangga, saat aku mau masuk ke mushalla yang ada di lantai dua, bersebelahan dengan ruang tivi, kulihat ruangan itu lampunya menyala
"Perasaan sebelum tidur semua lampu sudah aku matikan" batinku
Aku segera mempercepat langkahku, dan langkahku terhenti ketika di dalam mushalla kulihat Adam sedang berdzikir
Aku tersenyum menatap kearahnya.
Aku segera masuk keruang wudhu, membasuh wajahku lalu mengerjakan shalat malam. Saat aku berdzikir, masuk Naura dan tak lama dia sudah shalat tepat di sebelahku.
Dzikir ku telah selesai, tapi Adam masih juga belum selesai. Kubiarkan dia terus khusyuk, aku memilih turun, menghidupkan lampu agar semua ruangan terang, berjalan menuju dapur
Memanaskan nasi lalu mulai menumis sayur dan membuatkan sayur sop, serta memanaskan rendang yang kemarin sore aku masak.
Selagi aku terus sibuk di dapur, muncul umakku dan Naura
"Jilbabnya mana?"
Naura yang menggandeng neneknya hanya tersenyum ke arahku
"Umak dan ayuk duduk saja, aku semua yang menyiapkan, pokoknya kalian duduk manis saja" ucapku sambil berjalan hilir mudik meletakkan gelas dan piring
"Ini adalah sahur pertama yang aku siapkan untuk Adam, aku ingin semuanya aku yang menghidangkan" lirihku dengan suara bergetar
"Jadi spesial ya bun?"
Aku mendongakkan kepalaku menatapnya yang berjalan bersama bapakku
Aku tersenyum sambil mengangguk
"Sahur pertama kamu dengan bunda"
Adam tersenyum dan menarik kan kursi untuk nenek anangnya
"Bunda pikir tadi kok lampu musholanya hidup, eh taunya ada adek"
"Kami telah terbiasa bunda, hampir enam tahun di Pesantren, jadi tidur hanya sebentar itu sudah biasa bagi kami"
Aku tersenyum bangga padanya.
Lalu aku mengisikan piring mereka, setelah selesai mengisi nasi untuk kedua orang tua ku dan kedua anakku, kami makan
Khusus untuk Adam, sampai lauk pauknya serta minumnya aku yang memberikan. Persis seperti Naura ketika pertama sahur dulu.
"Telpon kakak ya bun"
Aku mengangguk, Adam segera mengambil handphone ku, lalu duduk kembali di dekatku
"Assalamualaikum kak" ucap Adam ketika wajah Mikail muncul
Mikail menjawab salam kami sambil mengangkat piringnya
"Sayur apa kak?"
"Rendang dong...."
Kami terkekeh
"Siapa yang masak nak?"
Muncullah banyak wajah, mereka semua kompak memanggilku
"Bundaaaaa...."
Aku tertawa melihat tingkah mereka
"Woy yang anak bunda, sahur saja di video call" ledek mereka pada Mikail
Terdengar tawa riuh rendah
"Kakak dimana?" tanya Naura
"Woooyyy woyy ada suara cewek"
Kembali mereka berebutan, aku terus mengunyah sambil tersenyum kearah mereka
__ADS_1
"Assalamualaikum ukhti.."
Adam langsung mengalihkan hpnya membelakangi Naura
"Loh, mana ceweknya, kok ada suaranya nggak ada wujudnya?"
"Itu ayukku, mungkin dia saat ini sedang tidak menggunakan hijab, makanya dengan adekku dia di hilangkan"
"Selamat sahur ya kak, jangan iri yaa, aku dan ayuk makan sahur sama bunda"
Tampak Mikail terkekeh
"Awas kamu dek"
...****************...
Tanggal 5 April 2022
Adam harus kembali lagi ke Jawa Timur, siang ini aku, Naura dan kedua orang tuaku mengantarkannya ke Bandara
Kembali aku merasakan kesedihan saat berpisah dengan Adam.
Bagaimana tidak, hanya empat malam aku memasakkan sahur untuknya.
"Nanti lebaran adek pulang, bunda jangan sedih"
Aku mengangguk dan menghapus air mataku.
"Tiketnya pesanlah jauh-jauh hari nak ya, biar bisa mudik"
"Siap bunda"
Kembali aku memeluknya, anak kecil umur tiga tahun yang selalu ku gendong dan ku usel usel wajahnya kini telah jauh lebih tinggi dariku.
Perlahan Adam masuk kedalam sambil menenteng tas ranselnya. Berjalan dengan baju gamis cowok dan peci putih.
Aku terus melambaikan tangan kearahnya, bahkan ketika dia masuk kedalam pesawat aku masih terpaku di tempatku.
Hingga pesawat take off barulah aku menarik nafas panjang sambil di peluk Naura
Sejak Adam kembali ke pesantren, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Apalagi dia sedang ujian.
Untuk Mikail kami akan selalu video call saat sahur dan setelah berbuka puasa.
"Sudah biasa bunda, kebersamaan kami disini jauh lebih nikmat dibanding menu buka apapun" sahutnya apabila melihatku sedih setelah mengetahui menu berbuka dan sahurnya
Hingga akhirnya tak terasa puasa sudah menginjak hari ke dua puluh.
Aku yang setiap hari selalu mengirimkan makanan untuk berbuka ke panti-panti yang ku santuni, hari ini merasa kurang enak badan
Naura dengan telaten merawat ku, sejak pagi aku hanya berbaring dan sudah mengirimi kepala panti pesan, jika hari ini aku tidak bisa mengantarkan menu berbuka, aku menyuruh pihak catering sendiri yang mengantar.
Jam empat, biasanya aku membuatkan kolak atau gorengan untukku dan Naura berbuka, tapi sore ini Naura ku suruh membeli di pasar kaget ramadhan yang banyak dibuka sepanjang jalan.
Naura yang telah mandi dan selesai tadarus segera mengeluarkan motornya
"Bunda tidur saja"
Aku hanya berdehem menjawab omongannya karena aku sedang memejamkan mataku
Suara tadarus dari mushola-mushola dan masjid-masjid begitu lantang terdengar dari kamarku yang berada di lantai atas, aku mengambil hp yang tak jauh dari tempatku berbaring, melihat jamnya
Jam 17.35.
"Ya Rabb, kemana Naura kok belum pulang?" batinku
Segera aku mendial nomornya, tapi tak diangkatnya. Dengan menarik nafas dalam aku meletakkan handphone dan sekuat tenaga berjalan keluar kamar
Dengan pelan aku menuruni tangga. Rumah besar ini tampak sepi karena hanya aku penghuninya
Biasanya umak bapakku jam lima sudah datang, kok sampai detik ini juga belum muncul, dengan menarik nafas dalam aku terus berjalan
Aku mulai menghidupkan lampu di lantai dua, lalu kembali turun kebawah
Sampai di tengah tangga aku seperti mendengar suara orang di bawah. Dengan lamat-lamat aku mendengarkan
"Bahasa Inggris?" batinku
"Itu seperti suara Defne" gumamku yang semakin mempercepat langkahku menuruni tangga
__ADS_1
"That is Mama..."
Aku menutup mulutku ketika Serkan dan Defne menoleh ke arahku
Mereka berdua berebutan berlari saling mendahului. Dan begitu sampai di dekatku mereka segera menubrukku
Kupeluk erat keduanya dengan tak henti-hentinya menciumi pipi mereka berdua.
"Surprise...." teriak keduanya sambil kembali memelukku.
Aku tersenyum dan mengusap pundak keduanya.
Hampir sebulan tidak melihat mereka tentulah aku sangat merindukan mereka
Dengan susah payah aku menggendong Defne yang tubuhnya jauh lebih dari Serkan.
Serkan menggandeng tanganku lalu kami menuruni tangga
"Ukhti said mama was ill" ucap Defne sambil meletakkan pipinya ke keningku
"Mama langsung sehat begitu melihat kalian"
Defne kembali mencium pipiku
Melihatku yang keberatan menggendong Defne, abang naik keatas tangga dengan segera dia mengambil alih Defne dan abang mencium keningku
"Kamu sakit apa sayang?"
Aku tersenyum
"Sakit gegana"
"Apa itu?"
"Gelisah galau merana"
Abang tertawa sambil kembali mencium keningku
Karena Defne telah digendong abang, Serkan mengulurkan tangannya ke arahku
"Oh, mau digendong juga?" ucapku sambil mengangkatnya
Berempat kami turun menuju meja makan, dimana Naura telah menyiapkan menu berbuka dengan umakku
Tak lama terdengarlah suara sirine dari berbagai mushola dan masjid yang menandakan waktu berbuka tiba.
Serkan dan Defne saling pandang
"What sound is mama?"
"Oh, that is sound of signal to us over our fasting today honey, let's we eat"
Seluruh keluargaku segera minum air es, Naura memberiku air hangat kuku
"Biar cepat sehat" ucapnya
Aku mengangguk.
Aku lalu mengisi dua buah mangkuk dengan kolak, memberikannya pada Twins
"This is kolak, you must try it, this is very delicious"
Dengan wajah penasaran mereka menyendok dan memasukkannya kedalam mulut
"Delicious?"
Keduanya mengangguk.
Abang karena dulu pernah empat tahun di Indonesia jadi sedikit banyak dia sudah tahu tradisi menu berbuka Indonesia yang sering memakai kolak dan gorengan
"Kok nggak ngasih tahu kalau mau kesini?"
Abang tersenyum
"Bukan kejutan kalau memberi tahumu sayang"
Aku memandang penuh cinta kepada suami tampanku ini
"Apa cuma aku yang nggak tahu kalau abang dan twins kesini?"
__ADS_1
Umak bapakku dan Naura mengangguk
"Papa yang minta" jawab Naura cepat saat mulutku terbuka hendak mengomelinya