Talak Setelah Shubuh

Talak Setelah Shubuh
Paket Sampai


__ADS_3

"Pos.…"


Teriakan pak Pos disiang bolong hari ini mengagetkanku.


Lalu terdengar suara ketukan pintu. Aku segera mencari jilbab, memasangkan di kepalaku lalu kedepan membuka pintu.


"Iya pak?" tanyaku begitu pintu sudah terbuka


"Ada paket di kantor untuk mbak" jawab pak posnya sambil menyerahkan secarik kertas untuk kutanda tangani.


"Kantor tutup jam lima, sebelum jam lima ambillah kekantor, atau jika tidak diambil hari ini, besok bisa" katanya sebelum pergi


Aku mengucapkan terima kasih lalu masuk kedalam rumah mengambil kunci motor.


"Jagain adek sebentar ya yuk" ucapku pada Naura sebelum pergi


Naura hanya mengangguk lalu aku pergi kekantor pos yang hanya berjarak sekitar tiga menit naik motor dari rumahku.


"Ambil paket pak" ucapku pada petugas kantor pos begitu sampai seraya menyetorkan kertas yang tadi aku tanda tangani.


Setelah menerima kertas dari tanganku, petugas tersebut masuk dan tak lama telah keluar dengan membawa kardus besar bekas lemari es.


"Ini mbak paketnya" ucapnya yang tampak keberatan membawa kardus besar tersebut


Aku menerimanya sambil melongo. Aku lihat kardus tersebut dan aku baca alamat tujuan, benar alamatku. Dan pengirimnya kak Jennifer dari Pekanbaru


Aku geleng-geleng kepala, aku tak bisa berkata apa-apa lagi saking bahagianya.


"Ya Alloh kak Jen" lirihku


Setelah menerima paket tersebut, aku keluar dari kantor pos dengan membawa kardus besar tadi dengan kesulitan. Melihatku kesulitan, pegawai tadi membantuku. Setelah sampai luar, aku mencari becak yang bisa mengantarkan paketku kerumah.


Untunglah ada becak yang lewat, segera kupanggil dan dengan senang hati beliau mengantarkan paketku kerumah.


"Letakkan sini saja Lek, makasih" ucapku setelah memberikan ongkos.


Naura langsung keluar dari dalam rumah ketika mendengar suaraku.


"Apa itu bun?' tanyanya


"Paket dari..." kataku terputus karena aku bingung memberitahu anakku dia harus memanggil Kak Jen apa


"Dari siapa?" tanyanya sambil mengeja nama yang tertera di kardus


"M-A-D-A-M-E Madame"


Aku tertawa geli karena anakku membaca sesuai dengan huruf yang tertulis.


"Madame itu apa bunda?"


"Bukan madame yuk, tapi Madam"


Dia mengangguk. Dan mulai mengeja lagi.


"Siapa dia bun?"


"Teman bunda waktu di Pekanbaru" jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari kardus yang siap untuk aku gunting


Naura nampak serius memperhatikanku. Setelah kardus terbuka, aku terperangah.


Isinya sangatlah penuh. Pantas saja berat.


Aku segera merobohkan kardus besar itu dan sebagian mainan keluar. Melihat begitu banyak mainan di depan matanya, Naura sontak berteriak


"Adeeekkkk ada mainaaannn"


Tak butuh waktu lama kedua anakku berlarian dan sampai di depanku.


Tanpa aba-aba mereka berebutan mengambil mainan yang menumpuk di depan mereka..


Mobil-mobilan, boneka, tembakan, bola, pokoknya banyak banget.


Segera aku masuk dan mendial nomor kak Jen. Tersambung dan langsung diangkat


"Hmmm, eyke sibuk. Napa hah?" suara kak Jen dengan cemprengnya menyambutku begitu tersambung


"Kak...." ucapku terputus karena aku menahan haru


"Hey, jangan bilang kalau yeay berantem lagi dengan suami yeay" jawabnya


"Nggak kak" jawabku


"Lah terus itu suara kamu kenapa kaya nahan nangis, nahan nangis apa nahan kentut itu?"


Aku terpaksa tertawa mendengar kalimat terakhirnya.

__ADS_1


"Kakak ini, orang serius malah dicandain" rajukku


"Lah terus kenapa dodooolll"


"Mainannya sudah sampai, makasih ya kak" ucapku


"Oh, kirain eyke ada apa, bagaimana anak-anak yeay, senang nggak sama mainannya?"


"Banget kak" jawabku riang


"Bagus deh, jadi nggak sia-sia duit bos habis kalau anak-anak yeay suka"


"Jadi yang beliin bang Ari?" tanyaku kaget


"Ya eyke lah, nggak mungkin dia"


"Lah itu tadi kakak ngomong apa?" kejarku


"Eyke yang beli, tapi duitnya duit dia" terdengar kak Jen terbahak


Aku memijit keningku yang tiba-tiba sakit. "Hadeeehhh nambah lagi ni hutang budi aku sama abang" batinku


"Kak, kalau kakak ketemu abang, sampaikan salam sama ucapan terima kasih aku ya kak sama dia, bilang aku hutang budi sama dia" ucapku pelan


"Ya kali ketemu dia, orang dia sudah pulang"


"Pulang?" tanyaku bengong


"Ya iya, balik lagi ke Jakarta"


"Lah, abang bukan orang Pekanbaru kak?"


"Ya bukanlah, dia kesinikan karena ada acara kemarin. Dan eyke rasa nih ya, tu bos ganteng sejagat raya pasti orang penting. Orang dia pulang bareng CEO"


"What? serius kak?"


"Ya serius, udah ah eyke sibuk, nanti eyke yang bakal nelpon yeay. Salam buat ketiga anak yeay, dadah..Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Terima kasih banyak kak" tutupku


Setelah panggilan terputus aku jadi bengong. Menebak kira-kira abang itu siapa. Apa jangan-jangan memang abang orang penting. Dan ini apa pula ini, malah dia membelikan anak-anakku mainan yang tak tanggung-tanggung banyaknya.


Huffff aku menghembus nafas dalam.


Sementara ketiga anakku sibuk bermain, aku malah sibuk memikirkan abang..


...****************...


"Bagus kan Yah?" pamer Adam


Andi mengangguk sekilas lalu beralih ke kardus yang terletak dipojokan. Didekatinya dan dibacanya tulisan yang tertera di sana


"Jennifer" gumamnya


Dia langsung teringat dengan sosok Jennifer. Dan tampak manggut-manggut penuh arti.


"Sudah pulang yah?" tanyaku begitu melihat suamiku


Andi hanya mengangguk dan berjalan masuk, aku ikuti langkahnya ikut masuk kekamar, menyiapkan handuk dan memberikan padanya.


Setelah itu aku kembali kedapur, menghangatkan lauk.


Saat maghrib kami shalat berjamaah. Semuanya berjalan baik-baik saja. Dan semoga akan terus baik-baik saja.


"Banyak sekali Jennifer mengirim hadiah? tanya suamiku ketika kami duduk santai setelah makan malam


"Aku juga kaget yah waktu kak Jen ngasih tahu dia ngirim hadiah untuk anak-anak"


"Yakin itu dari Jennifer?"


"Maksudnya?" jawabku sambil menghadap kearahnya


"Ya... maksudku sih, apa benar itu dari Jennifer. Bisa jadikan itu hanya memakai namanya"


Aku diam, aku tidak ingin suamiku tahu kalau hadiah mainan itu memang bukan dari Jennifer, tapi dari dari abang Ariadi.


"Aku sudah ditepon kak Jen sebelum paket ini sampai"


"Ohh" suamiku menjawab sambil manggut-manggut.


Aku berusaha tenang, aku tak ingin dia mengetahui kebohonganku.


...****************...


"Ndah, hari ini traktir kita ya" teriak Bu Isma ketika aku masuk kekantor sehabis dari kelas

__ADS_1


"Acara apa buk, ada yang ulang tahun ya, mau dong aku ditraktir" jawabku


"Lahhh ni adek, orang mau minta traktir sama dia malah dia yang minta traktir" jawab bu Kris


Aku tertawa. Memang aku sengaja tadi mengelak, dengan pura-pura tidak faham


"Lah iya Buk, traktir dalam rangka apa coba?" sahutku sambil menyeruput teh


"Kan hari ini kami anniversary" jawab bu Isma


Aku melongo kaget dan buru-buru melihat kalender yang tergantung di tembok. Aku menepuk jidatku "Ya Alloh iya, ini anniv saya yang ketujuh" jawabku


"Cie cie yang anniv" goda mereka


"Lah aku malah lupa buk" jawabku terkekeh


"Kita nggak mau tahu, pokoknya pulang sekolah ini kita ke Linggau Plaza, kita makan di sana" celetuk bu Yaya.


Yang lain mengangguk setuju.


"Ada uangnya kan?, adalah masa nggak, kan istri bos" ucap bu Kris lagi


Aku tersenyum kecut, haduuhh mereka tidak tahu bagaimana pelitnya suamiku.


"Ada" jawabku.


"Yeaayyy, yess berangkat kita!" jawab mereka kegirangan


Jadilah akhirnya kami orang delapan nanti akan berangkat ke Linggau Plaza setelah pulang sekolah.


"Untung kemarin aku dapat uang, jadi bisa traktir teman-teman" batinku


Karena jamku sudah habis, jadi aku duduk santai saja di kantor sambil membaca buku.


Tiba-tiba aku teringat suamiku, ahh dia pasti juga lupa bahwa ini annivnya kita. Segera aku mengambil ponsel yang ada dalam tas lalu mendial nomor suamiku


"Ya bun?" jawab suamiku ketika sambungan tersambung


"Happy Aniversary sayang" ucapku begitu mendengar suaranya


Terdengar suara tawa suamiku.


"Oh maaf bun, ayah malah lupa"


"Sama, aku juga lula yah. Ini saja teman sekantor yang mengingatkan"


Lalu kami sama-sama tertawa


"Mau hadiah apa sayang?" tanyanya


"Tidak ada, aku cuma pengen ayah sayang saja sama aku" jawabku


"Cie cieeee" teriak bu Yaya


Aku menoleh padanya sambil menjulurkan lidahku. Yang dibalasnya dengan terkekeh


"So sweetnya" sambung bu Isma.


Aku menutup wajahku malu karena kepergok sayang-sayangan sama suamiku.


"Ya sudah, ayah kerja lagi ya bun, I Love you" tutup suamiku


"Love you too" jawabku


"Cieeeee" kembali mereka menggodaku.


"Udah ah, aku kan jadi maluu" jawabku dengan nada manja


Mereka tertawa. Akhirnya setelah jam pulang berakhir, kami bersiap untuk berangkat ke Linggau Plaza dengan naik motor masing-masing. Kami saling beriringan dan menjalankan motor dengan kecepatan sedang.


Akhirnya setelah setengah jam kami sampai juga di parkiran. Setelah memarkirkan motor, kami semua masuk.


Namanya perempuan, ketika dipusat perbelanjaan pasti tidak bisa menahan hasrat belanjanya. Jadi planning awal hanya makan ayam cepat saji di lantai tiga, berubah menjadi belanja dulu di lantai satu.


Kami melihat outlet skincare, beralih ke perabotan, ke pakaian, ke bahan masakan, sayuran, buahan, semuanya kami datangi. Masing-masing dari kami telah mendapatkan barang yang kami cari.


"Woy, sudah sejam lebih ni mutar-mutar sini, ayo kapan makan" ucap bu Kris sambil melihat jam di tangannya


Barulah kami tersadar jika memang hari sudah menunjukkan jam setengah tiga lewat.


Kami lalu menitipkan barang belanjaan kami ketempat penitipan barang lalu kami naik kelantai tiga.


Kami langsung duduk di kursi yang masih kosong, dan tak lama pesanan kami sampai.


"Ndah itu suami kamu kan?" tunjuk bu Is.

__ADS_1


Mataku langsung mengikuti arah telunjuknya, begitu juga teman-temanku yang lain


__ADS_2